Pemberdayaan dan Momentum Amal Kebajikan

Demi masa. Sungguh manusia itu berada dalam kerugian. Begitulah Allah SWT dalam firman-Nya Surat Al-Ashr ayat 1-2 menggambarkan kondisi manusia di dunia berada dalam keadaan merugi.

Allah memberikan waktu untuk seluruh manusia dengan durasi dan kesempatan yang sama. Allah memberikan kita waktu 24 jam yang sama, berarti kita mempunyai kesempatan yang sama pula. Kalau seperti itu, lalu bagaimana dengan orang yang Allah janjikan surga dan neraka? Beruntung atau merugi? Bahagia atau susah?

Padahal kita mempunyai waktu dan kesempatan yang sama. Sebenarnya jawabannya cukup mudah, hal itu tergantung bagaimana orang itu dapat menggunakan waktu yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya dan kemauan untuk mengambil setiap kesempatan.

Salah satu cara implementasi dari penggunaan waktu dan kesempatan itu adalah beramal sholeh. Demikianlah Allah telah memberikan kesempatan untuk menjadi orang yang tidak merugi. Oleh karena itu, setiap orang dengan berbagai kondisi dalam kehidupannya mempunyai potensi untuk melakukan amal sholeh.

Begitupun bagi para pegiat zakat yang melakukan pemberdayaan, ia rela menelusuri jalan sampai ke perkampungan yang notabene masyarakatnya adalah fakir dan miskin, rela meluangkan waktu untuk berpikir menyusun strategi penyaluran dana zakat supaya tepat sasaran, sesungguhnya apa yang sedang dilakukannya adalah dalam rangka implementasi penggunaan waktu dengan sebaik-baiknya untuk amal kebajikan.

Dan ketika ia niatkan ikhlas karena Allah, maka ia telah mengambil kesempatan terbaiknya dari waktu yang telah Allah sediakan.

Momentum amal sholeh bagi orang-orang yang diberikan harta berlebih adalah kewajibanya membayar zakat, karena harta itulah yang menjadi ujian. Bagi orang-orang yang berkekurangan harta terdapat momentum amal sholeh untuk bersabar dan ikhtiar, karena kesulitan hidupnyalah menjadi ujian. Begitu pula bagi para pegiat zakat sebagai mediasi antara si miskin dan si kaya terdapat momentum amal sholeh dengan melakukan penyaluran zakat, karena amanah yang dipikulnya adalah ujian.

Penting kita perhatikan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih cukup besar. Indonesia dalam hitungan angka kemiskinan versi World Bank meski mengalami penurunan tingkat kemiskinan, tapi tingkat penurunannya terus melambat hanya 0.7 persen untuk tahun 2012-2013, tingkat penurunan terkecil dalam satu dekade terakhir.

Ketimpangan juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir yang berpotensi menciptakan konflik sosial. Hal ini akan  mengurangi manfaat dari tingginya pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir,  pertumbuhan yang pada dasarnya mengurangi tingkat kemiskinan menjadi 11,3%  pada tahun 2014, dibandingkan dengan 24% pada tahun 1999.  Sekitar 68 juta penduduk Indonesia tetap rentan untuk jatuh miskin. Pendapatan mereka hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga miskin.  Guncangan ekonomi seperti jatuh sakit, bencana atau kehilangan pekerjaan, dengan mudah dapat membuat mereka kembali jatuh miskin (Sumber : World Bank).

Potret kemiskinan di Indonesia tersebut menjadi sebuah “Pekerjaan Rumah” yang serius dan menjadi mega proyek pemerintah dalam pengentasan kemiskinan. Setidaknya problematika kemiskinan ini akan bisa terkurangi ketika diperhatikan dengan action yang nyata bukan hanya sebatas wacana.

Ada momentum amal kebajikan bagi orang-orang yang tidak mau menyia-nyiakannya, karena Indonesia adalah negara dengan umat muslim terbanyak di dunia, berarti harus ada harapan kebangkitan ekonomi syariah di negeri ini.

Menurut Irfan Syauqi Beik, Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB berpendapat, bahwa perekonomian syariah akan berkembang ketika tiga pilar yang menopangnya ikut berkembang. Ketiganya adalah sektor riil, sektor keuangan dan sektor ZISWAF (zakat, infak, sedekah dan wakaf).

Salah satu pilar yang menopang perekonomian adalah zakat, instrumen yang berperan menciptakan keadilan distribusi, pemerataan pembangunan, dan sekaligus menjadi alat pemberdayaan sosial ekonomi kelompok miskin serta kelompok termarjinalkan lainnya.

Kalau kita liat perkembangan potensi zakat dengan target nasional penghimpunan zakat yang telah ditetapkan BAZNAS, yaitu Rp 4,2 trilyun pada 2015. Ada peningkatan target penghimpunan zakat dari tahun sebelumnya sekitar Rp3,2 triliun. Angka itu masih kecil dibanding potensi zakat Indonesia berdasarkan riset Baznas bersama IPB dan Islamic Development Bank (IDB) yang bisa mencapai  Rp217 triliun tiap tahun (Sumber : BAZNAS).

Dari data potensi zakat di atas sebenarnya kita masih punya harapan untuk kebangkitan ekonomi Indonesia. Allah SWT berfirman : “Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu” (QS. Al-Hasyr : 7). Oleh karena itu, ketika berbicara tentang zakat dan pemberdayaan ekonomi, maka disana ada momentum untuk ikut berkontribusi membangun bangsa. Setidaknya ikut membantu mengangkat derajat kaum dhuafa.

Target program penyaluran zakat tidak lagi hanya sebatas bantuan sosial, tetapi jauh ke depan harus mampu merubah mindset orang-orang fakir miskin dari pola pikir sebatas bertahan hidup (konsumtif) menjadi berfikir dapat hidup produktif.

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan