Pemberdayaan Tuna Netra : “Merekapun Bisa Mandiri”

“Bagaimana cara mereka berpergian? Bagaimana cara mereka bisa hidup? Apa yang bisa mereka lakukan? Kenapa mereka hanya bisa mengamen dan mengemis? Kenapa Pemerintah tidak mengurus mereka?”

     Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin sering kita dengar ketika melihat tunanetra, terutama saat dalam perjalanan. Sekilas pertanyaan diatas menunjukkan simpati orang terhadap kehidupan para tunanetra, tetapi disisi lain pertanyaan tersebut juga menunjukkan bahwa kita masih belum mengetahui tentang kehidupan para tunanetra dan tidak memberikan solusi atas kesulitan yang mereka hadapi. Hal ini dikarenakan kita masih sering memandang mereka sebelah mata dan meragukan kemampuan serta potensi diri yang mereka miliki.

     Program “Tunanetra Berdaya” yang digulirkan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dengan melakukan kegiatan pemberdayaan dengan membentuk kelompok-kelompok usaha para tunanetra. Berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh pendamping dalam kegiatan ini, mulai dari koordinasi untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan hingga proses pembahasan yang dilakukan pada saat pertemuan.

     Mengumpulkan para tunanetra bukanlah hal yang mudah, kendala utama yang dihadapi ketika akan mengumpulkan mereka adalah keterbatasan mobilitas dan finansial mereka. Lokasi tempat tinggal yang berjauhan merupakan kendala utama untuk mengumpulkan mereka, karena apabila mereka berpergian biasanya menggunakan angkot dengan waktu tempuh yang lama dan kurang aman atau ojek dengan biaya yang lebih besar. Selain itu, faktor hilangnya pendapatan harian juga menjadi penyebab sulitnya mereka untuk berkumpul. Kendala tersebut dapat diatasi dengan mengadakan pertemuan kelompok sesuai dengan jadwal rutin mereka sehingga mereka tidak perlu banyak melakukan perjalanan yang dapat membebani keuangan dan mengancam keselamatan mereka. Adapun kegiatan pertemuan yang dapat mendatangkan para tunanetra dengan waktu yang bebas biasanya memberikan uang transport untuk mereka sehingga mereka tidak memikirkan biaya untuk berpergian.

      Pertemuan kelompok tidak serta merta akan berjalan lancar setelah mereka berkumpul, tetapi proses pembahasan dapat menjadi tantangan utama bagi pendamping. Pembahasan yang dilakukan ketika pertemuan kelompok tunanetra sedikit berbeda dengan pertemuan kelompok biasanya. Pada pertemuan ini pendamping harus dapat mengarahkan pembahasan agar jelas dan tidak keluar dari bahasan, serta mengajak para tunanetra untuk tetap fokus dalam pembahasan.

      Tunanetra yang mengobrol, berbicara sendiri, atau menerima telepon dan berbicara kencang akan sering ditemui ketika pertemuan kelompok. Bahkan ada cerita dari mereka yang mengatakan setiap pertemuan yang melibatkan banyak tunanetra pembahasan yang dilakukan semalaman tidak menghasilkan apapun. Melihat hal itu, maka dibuatlah sedikit perubahan dalam pelaksanaan pertemuan kelompok. Pembahasan yang biasanya dilakukan bersama-sama diubah dengan membentuk kelompok kecil (biasanya pengurus kelompok) yang membahas terlebih dahulu dengan membuat rancangan apa yang ingin disepakati pada saat pertemuan. Setelah itu, rancangan tersebut kemudian disampaikan ke kelompok pada saat pertemuan kelompok sehingga kelompok hanya bertugas untuk mengoreksi lalu menyepakati rancangan yang ada.

      Kemampuan para tunanetra untuk bekerja ternyata tidak terbatas pada usaha pijat dan berdagang kerupuk. Beberapa dari mereka ada yang memiliki kemampuan untuk membuat suatu kerajinan tangan, seperti keset, anyaman, dan kemoceng. Kemampuan itu biasanya mereka dapatkan ketika “bersekolah” dulu, namun kendala utama mereka adalah tidak adanya modal, akses pemasaran dan persaingan dengan produk-produk lainnya.

      Berinteraksi dengan tunanetra ternyata tidak hanya menantang, tetapi juga menarik. Banyak hal yang diluar dugaan yang dapat saya ketahui mengenai kehidupan mereka, terutama rasa penasaran mengenai bagaimana mereka melakukan perjalanan sendiri, bagaimana mereka dapat berkumpul dan membentuk suatu organisasi sendiri, bagaimana cara mereka menggunakan telepon genggam untuk menghubungi temannya, bagaimana mereka memilih pasangan hidup dan lain sebagainya. Jawaban dari hal-hal tersebut seharusnya dapat membuat kita tidak memandang mereka sebelah mata dan membuka hati agar terus bersyukur karena telah diberikan kesempurnaan fisik. Tunanetra bisa….

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan