Pendamping Mandiri, Makhluk Anti Mainstream

Dalam proses pemberdayaan yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD) sudah menjadi aturan lembaga untuk menyediakan pendamping mandiri (PM). PM akan menjalankan fungsi pendampingan langsung di tengah-tengah masyarakat. PM direkrut dengan spesifikasi khusus salah satunya adalah mampu memotivasi, menjadi teladan, agamanya bagus. Karena PM ini akan akan menjadi ‘tokoh’ yang banyak di sorot di masyarakat, apalagi ia harus tinggal bersama-sama masyarakat. Setiap gerak-geriknya menjadi perhatian.

PM yang sudah lolos seleksi akan dilakukan penempatan di lokasi dilaksanakannya program. inilah yang menarik karena PM harus datang ke lokasi dengan hanya membawa diri, bekal baju dan surat-surat ijin/pemberitahuan kepada pemerintah setempat. PM belum tentu tahu lokasi, karakter masyarakat di lokasi nanti. Setiap PM hanya di bekali pemahaman tentang program dan biasanya satu no handphone/telepon tokoh atau kontak masyarakat di lokasi.

Bagaikan ‘diasingkan’ di negeri antah berantah, kalo tidak kuat mental pasti setelah tiga bulan biasanya mengundurkan diri atau menghilang tanpa jejak. Semangat pengabdian yang menjadikan mereka tetap bertahan.

PM menjadi sosok anti manstream. Ketika hari ini lulusan perguruan tinggi berfikir untuk bekerja dikantoran dengan gaji besar menjadi prestise. Hidup di kota dengan update teknologi,suka nongrong di mall, makan di tempat bonafide nan beken menjadi trend. Tapi PM harus tinggal di daerah dampingan yang kebanyakan kantong kemiskinan, kumuh dan pelosok tanah air indonesia. Jangankan mall, toko sembako saja jarang. jangankan cafe, warung makan saja jauh.

Seperti yang dialami Rudi, pendamping program di Pacitan. Ia datang ke sebuah desa yang tidak pernah ia bayangkan. Desa Wora wari kecamatan Kebon agung Kab. Pacitan. Wilayah desa yang berbukit dan susah dilalui kendaraan bermotor. Jarak antar desa berupa hutan, jalan yang becek sinyal Handphone pun susah, kalo ada harus mencari di puncak bukit. “Dulu jalan di sini gak sebagus ini, pernah pake motor win jatuh. Kalo pertemuan mitra harus jalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam dari tempat kostan, yang itu masih satu desa” Rudi, menceritakan proses pendampingan di Pacitan. “klo mau mengirim laporan, lewat SMS karena di sini belum ada internet. Itupun harus ke Bukit (yang orang disini menyeutnya gunung limo) untuk nyari sinyalnya, biasanya janjian dengan Gito (PM Desa Mantren)”, Lanjutnya

Beda lagi dengan Luluk, sosok PM perempuan asli Jombang ini pernah melanglang buana menggawangi program di Wilayah Pesisir Sidoarjo kemudian dipindahkan untuk mendampingi progam klaster mandiri di Kabupaten Tuban. Ia tinggal di desa yang gak ada sinyal HP. Ia tinggal ditengah masyarakat yang jaraknya 30 kilo meter dari Kota Tuban, jauh dari keramaian kota. Tapi ia mampu bertahan dan mendapat jodoh di sana.

Masih banyak PM lain yang mengalami kondisi seperti itu. Semangat pengubah, membuat mereka ikhlas meninggalkan keramaian dan kenyamanan yang mungkin bisa mereka raih. Pilihan yang mereka pilih menjadian mereka lebih mampu survive dan mempunyai rasa empati terhadap kondisi negeri. Mereka ingin merubah kondisi masyarakat menjadi lebih maju. Tidak heran ketika program telah usai, beberapa pendamping memilih untuk tetap tinggal di lokasi menjadi warga setempat. Mereka mengembangkan potensi di wilayah tersebut, untuk kemudian dijadikannya mata pencaharian yang mampu menghidupi kebutuhannya dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat.

Dijaman yang yang harta menjdai tolak ukur keberhasilan, bagi mereka pengadian menjaid prinsip. Mereka bukan pegawai negeri, semangatnya melebihi pegawai negeri dalam mengurusi masyarakat. Mereka pendatang, tekad merubah masyarakat melebihi tekad orang lokal. Pengabdian yang luar bisa, namun mereka tidak pernah menuntut untuk menjadi pegawai negeri, mereka tidak menuntut sertifikasi, mereka tidak pernah meminta bayaran dari masyarakat. Inilah anomali jaman, dijaman ini ternyata masih ada orang-orang yang peduli dan mau mengabdi dengan setulus hati. Mereka memang makhluk pilihan, makhluk anti mainstream.

{fcomment}

 

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan