Pit-Stop Saat Ramadhan dengan Peduli Dhuafa

Motivator Jamil Azzaini menuturkan advice : ‘Sekali waktu tontonlah sampai tuntas adu balap mobil Formula Satu di televisi. Semua pembalap berlomba memenangkan pertandingan, memacu mobil sekencang-kencangnya. Ternyata, hal terpenting dalam strategi untuk memenangkan perlombaan adalah pit-stop, masuk ke jalur atau kawasan di mana mobil akan disegarkan kembali. Ditambah bahan bakarnya dan diganti bannya bila perlu. Di pit-stop pula biasanya strategi balap diatur. Setahu saya belum pernah ada juara lomba formula satu yang tidak melakukan pit-stop’.

‘Apabila ingin memenangkan perlombaan dalam kehidupan, Anda juga harus melakukan pit-stop. Dalam kehidupan sehari-hari, pit-stop dapat mewujud dalam berbagai bentuk. Mengikuti pelatihan, membaca buku, berdoa dengan penuh kesungguhan, bercengkerama dengan sahabat dan keluarga, serta aktivitas lain yang keluar dari rutinitas harian. Pit-stop membantu kita meraih kehidupan yang utuh’.

Bulan Ramadhan telah hadir kembali. Seluruh umat Islam di seluruh pelosok bumi, telah siaga menyambutnya dari waktu-waktu sebelumnya. Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan ibadah, tak ayal jika banyak yang telah bersiap dengan mulai dari membeli atribut ibadah hingga kembali membuka fiqh-fiqh yang bekaitan dengan ibadah puasa, zakat, taraweh dan lainnya. Dalam perjalanan waktu selama satu tahun, bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk melakukan pit-stop terhadap diri kita. Kita sedang melakukan perlombaan yang sangat panjang tanpa tahu kapan berhentinya.

Dalam hal kepedulian kita terhadap kaum dhuafa, beberapa hal terkait dengan aktivitas sosial yang banyak hal yang diperintahkan kemudian dapat kita ambil hikmahnya. Pertama : salah satu filosofi dari puasa adalah agar sebagian dari kaum muslimin merasakan lapar dan haus sebagaimana kaum dhuafa merasakannya setiap hari, sepanjang hidupnya. Setela puasa diharapkan tumbuhnya empati kepada mereka, untuk mengentaskan kedhuafaannya.

Kedua : bagi yang tidak berpuasa atau berhalangan (secara syar’i), harus mengganti dengan memberi makan kepada fakir miskin dengan makanan setara yang biasa dia makan. Hal ini menunjukkan, kita harus benar-benar rela hati memberikan yang terbaik yang kita makan untuk diberikan kepada orang dhuafa. Kita sedang diajarkan memberi yang terbaik. Kemampuan terbaik, waktu terbaik, dan seterusnya.

Ketiga: setelah puasa usai, umat Islam yang mampu diwajibkan membayar zakat fitrah dan saling memberikan maaf. Zakat ini dimaksudkan agar pada Hari Raya Idul Fitri (lebaran), para dhuafa mampu merayakan hari ied tanpa kekurangan makanan. Dengan kebahagiaan inilah, dapat dirasakan bersama antara orang kaya dengan dhuafa. Kemudian mereka saling membeikan maaf. Tumbuhnya kesetaraan di hari fitri menjadikan mereka dekat dan saling berbagi.

Seharusnya untuk berbagi dengan dhuafa tidak perlu menunggu bulan Ramadhan. Bila hasil akhir dari penggemblengan bulan Ramadhan adalah meningkatnya kepedulian, maka kita berharap kepedulian ini tidak hanya dalam bentuk memberikan santunan. Kepedulian dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan skill, agar dhuafa memiliki skill yang mumpuni.

Kepedulian juga dengan dapat dengan memberikan akses kerja agar hasil produksi industri mikro dan kecil milik dhuafa lebih meningkat. Merekapun beroleh keuntungan yang meningkat dari sebelumnya. Kepedulian juga dapat diwujudkan dengan memberikan akses dana, agar dhuafa mampu berusaha memperbesar skala usaha dengan dana yang mudah dan halal. Kepedulian pun dapat dilakukan dnegan memberikan akses teknologi agar produk dhuafa mampu bersaing dengan pasar. Tak hanya itu, kepedulian juga dapat diberikan dengan advokasi, yakni dengan memberikan kebijakan yang baik terhadap para dhuafa yang susah-payah berusaha. Dan, masih banyak kepedulian yang lain yang mampu kita ciptakan.

Alangkah indahnya, apabila kepedulian yang kita lakukan membuahkan kemandirian. Dhuafa yang telah kita berikan cinta dengan bentuk kepedulian, suatu saat tidak lagi membutuhkan kita lagi. Bahkan kita harapakan mereka suatu saat akan juga berbagi kepedulian dan kemandirian. Kemudian, Kita harapkan ramadhan tahun depan mereka akan menjadi tim kita dalam berbagai kepedulian dan kemandirian.

Pit-stop, dalam bulan ramadhan tidak berarti diam. Tetapi harus lebih banyak bergerak, dikejar, dan diraih kemuliaannya. Karena Tuhan Semesta Alam, juga menjanjikan hadiah yang besar khusus di bulan Ramadhan.

Diposting oleh Ponco Nugroho

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan