Sepenuh Hati dari Titik Awal

Lima bulan pasca-erupsi Merapi. Bantuan masih mengalir kepada para korban melewati tangan-tangan petugas dan relawan. Puspita Dwi Anggraini, seorang sarjana Teknik Sipil UGM datang membawa misi berbeda. Ia membawa identitas sebagai seorang pendamping masyarakat. Tugas yang diembannya tak lain bagian dari program pemulihan ekonomi. Bagi Puspita, mencari korban erupsi menjadi pemetik manfaat program, ternyata tak mudah. Dari bagaimana memilih di mana lokasi yang tepat sampai memilah-pilah korban yang layak. Belum lagi, tak sedikit korban yang malah menolak tawaran program recovery ekonomi.

Umumnya program pasca-bencana, hibah tunai memang paling popular. Pemetik manfaat acapkali ‘kebanjiran’ bantuan.Tak heran, pendamping macam Puspita kadang menemui kesulitan menawarkan program pendampingan ekonomi disertai pembiayaan. Di lapangan Puspita merasakan realitas, warga seperti dimanjakan oleh banjirnya bantuan. Padahal program yang dibawa Puspita dari Dompet Dhuafa intinya juga hibah yang digulirkan dengan tujuan merangsang produktivitas warga. Di masa mengenalkan program inilah, tak sedikit kendala ditemui. Tapi, di situ pula seni seorang pendamping mengawal sebuah program sehingga diterima masyarakat dan berbagai pihak terkait.

Puspita sempat kesulitan ketika awal-awal menginjakkan kaki di Merapi. “Harus mulai dari mana?”, pertanyaan yang sering muncul ketika itu. Tidak cukup sehari dua hari, ia menemukan calon pemetik manfaat program. Setelah menemukan pun, sebagai pendamping ia harus memverifikasi data warga yang layak menjadi pemetik manfaat program. Walhasil, sejak April 2011, ia berhasil mengajak 99 warga Umbul Harjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman menjadi mitra dampingan. Agar memudahkan komunikasi, ia memilih tinggal di kawasan Kaliurang yang bila ditempuh dengan mengendarai motor hanya butuh waktu 15 menit.

Mendampingi dengan sepenuh hati. Kredo itulah yang dipegang kuat oleh pendamping semacam Puspita. Bahkan, ia hidupkan sebagai prinsip pendampingan sejak mula program berjalan. “Saya memang suka bersosialisasi. Aktivitas saya sebagai pendamping mengharuskan saya bisa dekat dengan masyarakat. Alhamdulillah, sekarang sudah akrab dengan warga yang saya dampingi,” ungkap gadis ini.

Potret program Merapi adalah konsep pendampingan sepenuh hati. Pendamping ditanam di tengah komunitas. Seperti Puspita, dia bisa menghadiri pertemuan kelompok mitra dampingan dalam sehari bisa 2-3 kali. Siang di kelompok A, sore di kelompok B, dan malam di kelompok C. Mengingat kebutuhan mitra dampingan untuk memperbaiki keadaan, seorang pendamping menyediakan waktu siang malam untuk mendampingi mereka. Pemberdayaan bukan bertumpu pada permodalan, namun bagaimana juga menguatkan modal sosial untuk mengantarkan sebuah komunitas lebih memiliki keswadayaan. Menopang ikhtiar tersebut, seorang pendamping pun mempunyai tugas membantu para mitra dampingan memiliki kemampuan lebih dari sebelumnya. Beragam kegiatan pengembangan kapasitas dijalankan dalam setiap pertemuan, selain beberapa pelatihan dan magang untuk menguatkan skill-skill individu dan kelompok.

Mendampingi warga dampingan agar lebih berswadaya, tak akan efektif tanpa kesungguhan. Karena itu, pendamping hadir juga sebagai teman bagi warga, membantu memecahkan masalah komunitas. Kadang ia menjadi guru karena peran edukasinya, tapi ia juga menjadi saudara yang ikut merasakan problem sehari-hari mitra.

Awal Oktober, hujan mengguyur kawasan Bangunrejo Kota Surabaya. Pukul 02.00 dinihari, Ulul Pendamping di Surabaya terbangun membantu Bu Komariyah menyelamatkan barang-barang dagangan dari air yang menggenangi lantai toko. Kebetulan Ulul sedang menginap di sekretariat Koperasi Makmur Bersama, milik komunitas dampingan Ulul. Bersyukur Ulul dan Bu Komariyah bisa menyelamatkan dagangan toko yang baru berumur sebulan itu.

Ulul menjadi teman bagi banyak perempuan di kawasan Bangun Rejo. Setidaknya 196 orang di Kecamatan Bubutan, Krembangan dan Asemrowo menjadi mitra dampingannya. Ya, Ulul tak hanya fasilitator program, namun harus bisa menemani komunitas membangun usaha bersama. Nah, toko sembako dan kebutuhan sehari-hari itulah yang menjadi fokus pekerjaan koperasi yang menaungi para ibu-ibu itu. Koperasi ISM Makmur Bersama mereka bentuk dalam program Kelompok Pedagang Makanan Sehat yang saat ini dijalankan oleh Masyarakat Mandiri.

Diposting oleh Hery D. Kurniawan

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan