Social Entrepreneur: Tidak Sekedar Beri Kail

Untuk melakukan pemberdayaan orang miskin jangan berikan padanya ikan. Berilah kail. Kenapa kail? Kail sinonim dengan alat. Yakni alat untuk mencari ikan. Bentuk kail bermacam-macam dapat berupa pancing, jala, rumpon atau sejenisnya yang mampu menghasilkan ikan. Harapannya sederhana, dengan alat itu orang miskin mampu bekerja sehingga mendapatkan ikan dari hasil keringatnya sendiri. Kerja yang dilakukan sendiri, cenderung lebih sustain dibanding meminta-minta, dan tentu lebih terhormat. Hasil kerja dari usaha sendiri jauh lebih berharga dari sekadar meminta-minta. Sebagaimana riwayat Rasulullah yang telah memberikan kapak kepada orang miskin peminta-minta. Kemudian orang miskin, tersebut pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.

Bila kita cermati lebih mendalam, permasalahan orang miskin kian hari kian rumit. Dulu orang miskin hanya masalah modal atau masalah minimnya skill. Dengan modal mereka mampu mengakses sumber daya alam di sekitar mereka dengan keahlian yang telah mereka miliki. Kini, masalah orang miskin tidak sesederhana kondisi dahulu. Sumber daya alam yang selama ini menjadi akses sumber penghasilan mulai tidak menghasilkan. Hutan-hutan gundul. Kalau masih ada tanaman, kemungkinan besar telah dikuasai konglomerat. Bagi orang miskin yang memiliki skill berjualan di pasar tradisional, kini mengurut dada karena kalah bersaing pamor dan harga dengan swalayan yang mulai masuk ke desa-desa. Indonesia yang pernah menyebut dirinya adalah negara agraris, petani yang mayoritas orang miskin bingung karena perubahan musim yang tidak mampu diprediksli oleh ahli iklim. Ramalan cuaca kadang meleset dengan alasan perubahan iklim global. Petani cukup sulit menentukan tanaman apa yang tepat. Giliran hasil panennya melimpah, mereka dilahap oleh bandar, rentenir atau bahkan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga pupuk. Petanipun tidak mampu tanam untuk musim berikutnya.

Pemberdayaan masyarakat memang harus mampu menumbuhkan jiwa entrepreneur orang miskin. Banyak yang masih menyangsikan, apakah bisa atau tidak. Bila cara pandang kita adalah memberikan kail, maka kita harus bersiap untuk mengurut dada, karena mereka akan bersaing dengan konglomerat lokal yang kadang nurani sosialnya lebih tipis dari pada nurani bisnisnya. Pilihannya, adalah bagi para pejuang pemberdayaan tidak sekedar memberikan kail tetapi membekali orang miskin untuk dapat memilih jenis kail yang tepat. Mereka juga dibekali ilmu untuk memilih lokasi atau sumber ikan yang diduga mampu menghasilkan ikan, sehingga hasilnya mampu dibawa pulang. Mereka juga harus dibekali pengetahuan tentang pasar agar mengetahui jerih payahnya dihargai berapa. Mereka harus juga diberikan seorang pendamping, yang mampu untuk memberikan motivasi kepada mereka, sehingga dalam memiliki teman untuk bercerita ketika susah, membantu problem yang mereka alami untuk dicarikan solusi. Lebih dari itu, kehadiran pendamping program bias membantu untuk merencanakan kehidupan di masa depan.

Masyarakat Mandiri ingin menguatkan posisinya sebagai lembaga pendampingan komunitas. Masyarakat mandiri menyakini bahwa kail-kail yang diberikan di masyarakat kadang kala tidaklah cukup efektif untuk meningkatkan taraf hidup mereka apalagi harus lebih sustain. Kita perlu memastikan bahwa mereka telah memiliki kemampuan untuk menggunakan kail dengan tepat, merawatnya, dan serta menumbukan keyakinan bahwa kail ini adalah bagian dari ikhtiar yang mulia. Waallahu ‘alam

Diposting oleh Ponco Nugroho

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan