Social Worker vs Social Entrepreneur

Seorang rekan bertanya tentang ACT (Aksi Cepat Tanggap) yang banyak bergelut ke daerah bencana. “Untuk sosial apa harus kerja sekeras itu? Lantas anda dikatakan social entrepreneur. kira-kira apa relevansinya dengan ACT?”

Ada dua hal terkandung di balik pertanyaan ini. Pertama tentang kegiatan sosial. Kedua perbedaan antara social worker (SW) dengan social entrepreneur (SE). Ada dua kata yang sama, yakni social tapi berbeda maknanya. Di samping ada dua kata yang berbeda yang berbeda pula maknanya.

Arti social worker memang pekerja atau pegiat sosial. Makna social worker ituah sesuai dengan istilahnya, menjalankan kegiatan yang sifatnya sosial. Arti social dalam padanan entrepreneur berbeda. Dia tidak melulu mengacu pada kegiatan sosial. Dengan padanan kata entrepreneur, arti social telah berkembang maknanya menjadi persoalan masyarakat. Sama-sama social tapi berbeda makna sesuai padanan kata di belakangnya.

Kata worker dan entrepreneur memang berbeda. Arti dan maknanya antara bumi dan langit. Yang worker memang pekerja, yang entrepreneur pencipta kerja. Pelaku yang terjun di derah bencana, merekalah para pegiat sosial. Tetapi yang membuat ACT, itulah entrepreneur. Namun ACT itu pun hanya jadi lembaga pegiat sosial bila hanya rutin membantu korban bencana. Harus ada strategi agar penerima bantuan bisa berubah nasib. Bagaimana caranya, itulah wilayah social entrepreneur.

Kelebihan pembuat kerja banyak. Makin banyak buat bisnis, lapangan kerja pun tercipta banyak. Lebih-lebih bila pengusaha itu visioner. Yang dimaksud visioner tak lain kembangkan ekonomi. Usaha bisnis beda dengan ekonomi. Persamaan bisnis dan ekonomi, aspeknya sama-sama luas, wilayahnya bisa tak terbendung dan jelajahnya kemana-mana.

Bedanya terletak di kepemilikan dan manfaat. Bisnis cetak laba untuk pemilik, pekerja dan mitra. Bila harus bersaing hingga ada yang terjungkal, itulah bisnis. Logika ekonomi berbeda. Ekonomi memang harus dikembangkan dengan prinsip entrepreneurial. Maka bisnis bagian dari ekonomi. Membangun ekonomi adalah membangun semua sektor usaha. Bangun bisnis, labanya hanya untuk pemilik dan operasional. Sedang bangun ekonomi, labanya untuk banyak pihak. Bahkan kepemilikan dikembangkan untuk setiap orang yang melakukan usaha, yang bekerja dan menghidupkan beragam aktivis bisnis di dalamnya.

Membangun ekonomi tak bisa dilakukan pengusaha. Ini wilayah negara. Karena itu dalam membuat kebijakan, negara harus adil dan benar. Jika ada pengusaha yang katakan bangun ekonomi, apakah memang dia tak ingin nikmati laba sendirian. System franchaisee misalnya, andai mitra atau pengambil franchaisee diberi laba 80 bahkan 90%, itu lah membangun ekonomi. Tetapi jika pemilik franchaisee tetap lebih besar prosentase bagi hasilnya, ya itulah bisnis. Padahal dengan berbagi hasil 10% saja, pemilik franchaisee tetap kaya raya. Mengapa? Karena dialah bandarnya.

Kembali ke social worker, memang beda dengan social entrepreneur. Setiap social entrepreneur pastilah social worker. Tapi tak semua social worker adalah social entrepreneur. Tapi baik social worker dan social entrepreneur sama-sama terbatas. Kerja mereka hanya terbatas di grassroot dan pemberdayaan. Advokasi yang dilakukan pun seringkali tertumbur-tumbur.

Bekerja untuk pihak lain memang tak diminati. Jangankan pengusaha, pejabat negara pun banyak tak paham makna negarawan. Tetapi juga jangankan pejabat, banyak pegawai pemerintah barangkali juga tak paham posisi, tugas, fungsi dan perannya. Mereka berkerja rutin adminsitratif hingga terjuluki birokrat formal. Sebagian mereka tak paham akan perannya untuk membangun bangsa. Mereka memang baru bekerja administratif di pemerintahan, belum bekerja untuk bangsa.

Kini yang dibutuhkan pejabat negara, syukur-syukur para pengusaha adalah spirit social entrepreneurship mengatasi persoalan masyarakat dengan prinsip entrepreneurial. Bila pegawai pemerintah dan pejabat negara ingin jadi negarawan, kenali dan latihlah sifat-sifat social entrepreneurship. Kebijakan yang dibuat tentu akan melihat benefit, kepentingan rakyat banyak.

Membuat masyarakat hidup dan mandiri, bukankah membuat masyarakat jadi kuat. Artinya secara ekonomi, mereka juga telah tumbuh menjadi kekuatan pasar yang siap jadi pembeli baru atas barang-barang yang dihasilkan para pengusaha. Secara berbangsa dan negara, bukankah ini penguatan hankamrata, pertahanan keamanan rakyat semesta? Wallahu’alam.

Post DIPOSTING OLEH eriesudewo PADA 30 November 2009 di eriesudewo.niriah.com

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan