Studi Banding Kelembagaan Petani

Perjalanan panjang untuk belajar ditempuh puluhan petani anggota koperasi Agro Siger Mandiri. Rabu malam 13 Maret 2013, para mitra klaster cabe Lampung Selatan ini berangkat menuju Cianjur. Berkendara belasan jam menempuh jarak ratusan kilometer untuk melakukan studi banding. Kegiatan ini mengikutsertakan pihak Bank Indonesia serta Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan dan Propinsi Lampung.

Lembaga studi banding yang dituju kali ini adalah Mitra Tani Parahyangan (MTP). Tentu selain karena prestasinya, MTP juga berhasil mengembangkan kapasitas secara kelembagaan. Kini ada 3 lembaga yang eksis di MTP : kelompok tani yang merupakan cikal bakal, koperasi dengan beragam usaha dan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S). Ketiganya berkembang dan tumbuh dari bawah secara alamiah dengan prinsip khas ekonomi kerakyatan : dari, oleh dan untuk anggota.

Banyak pengalaman yang dibagi oleh para pengurus MTP kepada para mitra dampingan Masyarakat Mandiri. Di unit agribisnis yang sekaligus sekretariat, narasumber MTP menjelaskan peran kelembagaan koperasi utamanya adalah memberi kemudahan dan kesederhanaan dalam proses, sehingga petani terjamin dan tertarik menjadi anggota. Koperasi mengusahakan penyediaan sarana dan prasarana, misal pupuk, transportasinya, bahkan penanganan pasca panen dan pemasaran. Dengan begitu, petani bisa fokus menjaga dan meningkatkan kuantitas, kualitas, kontinuitas produk. Tentu petani juga dididik dulu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai kapasitas dan standar pasar yang dituju. Disini koperasi juga berperan dalam negosiasi dengan pihak pembeli, termasuk tentang standar dan kriteria produk yang dapat diterima. Koperasi pun bertindak menjaga harga jual dengan membeli produk petani di kisaran harga yang lebih baik dari harga pasar. Prinsip mendapat keuntungan yang dipadu dengan kesejahteraan dan maslahat bersama menjadikan koperasi maju.

Selanjutnya, narasumber MTP juga menegaskan pentingnya pengurus koperasi yang ikhlas, jujur dan amanah perlu ditunjang kemampuan yang mendukung. Diantaranya adalah kemampuan merencanakan kegiatan secara musyawarah, memupuk dan memanfaatkan modal secara rasional, melaksanakan perjanjian dengan pihak lain, meningkatkan koneksi yang melembaga serta menerapkan teknologi yang sesuai. Mencapainya dapat dengan duduk bersama, tak hanya dengan mitra petani, namun  juga pihak – pihak terkait (stakeholder) lintas sektoral untuk komunikasi, konsultasi dan koordinasi.

Esoknya, di unit usaha simpan pinjam koperasi, para mitra langsung ditantang dengan simulasi ‘rasa memiliki bersama’. Hasilnya lumayan, para mitra tergerak untuk berkontribusi, termasuk dari BI dan pendamping Masyarakat Mandiri. Simulasi ini menunjukkan, bahwa kepedulian dan kebersamaanlah yang menghidupkan gerak lembaga koperasi. Simulasi juga nyata memperlihatkan, bahwa modal tak berat didapat bila anggota telah peduli dan bersama bergerak.

Studi banding menjadi upaya pembelajaran yang difasilitasi Masyarakat Mandiri untuk meningkatkan kapasitas mitra dan kelembagaan pemberdayaan yang dibentuk. Beragam pertanyaan yang diajukan petani mitra selama studi banding,  menunjukkan niat yang kuat untuk maju bersama. Kini saatnya untuk mewujudkan kemandirian itu dengan langkah nyata yang lebih tertata. Saatnya mengaplikasikan pelajaran.

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan