Sukhayati: Potret Jernih di Kawasan Remang-Remang

Di Surabaya ada Gang Dolly. Tak perlu dijelaskan, orang pastilah mengenal daerah apa ini. Selain Dolly, ada Bangun Sari. Tak perlu pula dijelaskan daerah apa ini. Kata kunci memasuki daerah ini adalah kata wisma. Kata ini popular untuk menyebut tempat karaoke dan panti pijat remang-remang. Suasana ‘remang’ bisa ditangkap dari tampilan ibu-ibu atau mbak-mbak yang pada duduk depan wisma, berdadan menor, sembari menghisap rokok.

Melihat daerah ini pasti kita akan menuntun kita pada satu persepsi yang sama. Daerah pelacuran. Wajar. Sepuluh tahun lalu, Bangun Sari dan Bangun Rejo sempat menjadi arena prostitusi kondang dan termasuk terbesar di Surabaya. Namun Bangun Rejo lebih dulu bersih dari praktik prostitusi. Banyak warga di daerah ini menjadi mitra dampingan program pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa. Lebih dari 150 orang rata-rata perempuan pelaku usaha mikro menjadi pemetik manfaat program.

Sebagian mitra dampingan Masyarakat Mandiri berdomisili di Bangun Sari, daerah di mana wewangian aneh menguar di malam hari, berbaur liarnya asap rokok. Sebagian wilayah Bangun sari sudah berubah. Wisma-wisma banyak yang tutup berkat usaha masyarakat dan pemerintah membina para “Wanita Harapan”, begitu Dinsos memberi label pada mereka. Mereka sering diberi penyuluhan tentang Aids/HIV. Mereka diberi pembekalan berbagai ketrampilan agar kembali ke daerah asal dan membuka usaha, sehingga meninggalkan pekerjaan menjadi pelayan para om-om hidung belang.

Masyarakat kini mulai bernafas lega. Orang bisa membedakan komunitas ‘remang’ dengan warga umumnya dari identitas. Mungkin hanya di daerah Bangun Sari orang melakukan hal ini. Warga yang tidak terlibat dalam urusan prostitusi memasangi rumahnya dengan tulisan “RUMAH TANGGA”. Tujuannya tentu agar orang-orang bisa membedakan mana wisma dan rumah tangga.

Seperti ibarat ikan di air laut belum tentu asin rasanya. Adalah Sukhayati, seorang mitra dampingan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa. Rumahnya dekat dengan wisma-wisma remang. Namun subhanallah, pergaulan yang ada tidak mempengaruhi perilaku dirinya dan anak-anaknya. Miris juga sebenarnya, anak-anak harus tumbuh dekat dengan lingkungan seperti itu. Keluarga itu menjadi potret jernih di antara potret buram di sekitarnya. Mereka tetap bertahan dengan kehidupan yang berbeda dari di lingkungan sekitarnya. Anak-anak perempuannya memakai jilbab semua. Mereka tidak keluar rumah tanpa ada keperluan. Anak-anak laki-lakinya pun sholeh-sholeh senang membantu orang tuanya usaha warungan.

Rumah Sukhayati sekarang dihuni oleh anak-anaknya dan beberapa cucu-cucunya. Seorang anaknya memiliki usaha susu kedelai yang dititipkan ke beberapa warung dan toko. Sukhayati menanamkan arti kerja keras dan kebersahajaan. Sukhayati juga berusaha menancapkan kokoh pondasi agama dalam keluarga agar tidak terwarnai lingkungannya. Beberapa meter dari warungnya berdiri sebuah wisma panti pijat. Akan tetapi, ia mampu pagari keluarganya dari pengaruh buruk lingkungan. Ia pagari juga diri dengan ibadah. Sembari menunggu pelanggan nasi jualannya, ia selalu memanfaatkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Sehari bisa melahap rata-rata tiga juz. “Saya membaca 1 juz lebih dalam 1 jam,” cerita Sukhayati. Seandainya semua orang di sela kesibukannya seperti Sukhayati yang suka menghidupkan Al-Qur’an di manapun.

Perempuan shalihah ini juga memiliki semangat kuat menyekolahkan anak-anaknya. Tanpa suami di sisinya lagi, ia bisa mengantarkan anak-anaknya bersekolah sampai SMA. Dengan segala keterbatasan, Sukhayati mampu menyekolahkan anak keempatnya di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Bersyukur ia memiliki anak-anak patuh dan rajin. Sejak remaja, mereka membantu orang tua di warung. Anaknya yang kini kuliah berusaha menambah pemasukan dengan memberikan les privat pada anak-anak sekolah.

Ulul Awaliani

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan