Sumbangsih pada Keamanan Pangan

Tak dapat dipungkiri pangan adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia yang harus dipenuhi sehari-hari. Pangan yang sehat akan memberikan dampak yang baik bagi tubuh, begitupun sebaliknya. Salah satu bentuk pangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat dari berbagai lapisan adalah pangan jajanan atau makanan jajanan. Pangan jajanan berperan penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak-anak usia sekolah.

Hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2008 ditemukan bahwa pangan jajanan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi sebesar 3l,l% dan protein sebesar 27,4%. Hasil survei juga menyatakan bahwa sejumlah 78% anak sekolah jajan di lingkungan sekolah, baik di kantin maupun dari penjaja sekitar sekolah sehingga demikian pentingnya jajanan yang sehat bagi anak sekolah maka tak heran Wakil Presiden Boediono melakukan Pencanangan Gerakan Menuju Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu dan Bergizi serta Satuan Tugas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal, bertepatan Ulang Tahun Badan POM ke-10, di Istana Wapres pada tanggal 31 Januari 2011 lalu.

Hasil pengawasan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang dilakukan secara rutin oleh Badan POM pada lima tahun terakhir (2006-2010), menunjukkan bahwa 40% – 44% jajanan anak sekolah tidak memenuhi syarat kesehatan. Hal ini akan menjadi tragedi bagi bangsa ini jika anak sekolah, penerus bangsa ini mengkonsumsi pangan atau makanan jajanan yang tidak sehat. Badan POM menyatakan bahwa Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan jika menggunakan bahan berbahaya yang dilarang digunakan untuk pangan seperti formalin, boraks, sacarin, zat pewarna rhodamin B dan methanyl yellow. Jajanan yang tidak sehat mengakibatkan timbulnya risiko bagi kesehatan dan memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap pembentukan generasi bangsa. Meski masalah jajanan anak sekolah tampaknya hanya masalah kecil, namun dampaknya besar terhadap kelangsungan bangsa di masa depan. Untuk itu Masyarakat Mandiri sebagai salah satu jejaring Dompet Dhuafa telah ikut serta memberikan sumbangsih terhadap keamanan pangan negeri ini melalui program-program yang langsung menyentuh komunitas pengusaha makanan jajanan, terutama pengusaha mikro yang tergolong masyarakat kurang mampu.

Upaya pemberdayaan pelaku usaha mikro makanan jajanan kami rintis saat kasus bakso berformalin dan boraks merebak tahun 2006. Saat itu masyarakat takut mengkonsumsi bakso. Banyak pedagang yang omsetnya menurun, bahkan bangkrut dan pulang kampung. Kasus ini juga membuka kasus-kasus penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) berbahaya lain seperti pewarna rhodamin B dan methanyl yellow serta pemanis buatan berbahaya. Hasil observasi kami di Jabodetabek didapatkan bahwa penggunaaan BTP berbahaya sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan pengusaha makanan jajanan akan arti pangan yang sehat dan kurangnya modal usaha. Hal inilah yang menginspirasi untuk mendampingi mereka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan memproduksi makanan jajanan yang sehat, aman dan halal. Keterbatasan modal mereka kami fasilitasi dengan pendampingan pembiayaan usaha, peningkatan pengetahuan manajemen usaha dan pengelolaan keuangan sederhana. Ratusan pedagang makanan jajanan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Surabaya telah kami damping, tapi ini belumlah apa-apa jika dibandingkan jumlah mereka yang ribuan bahkan mungkin puluhan ribu di kota-kota di seluruh Indonesia. Pemberdayaan ini masih jauh dari selesai.

Upaya terus digiatkan. Pendampingan terhadap pedagang kecil ini juga diikuti dengan penyuluhan tentang keamanan pangan (jajanan) terutama pada anak sekolah. Mereka inilah kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif pangan jajanan yang tidak sehat. Ratusan siswa Sekolah Dasar di Jakarta dan Semarang kami ajak untuk bersama-sama sadar dalam memilih pangan jajanan yang sehat. Beberapa perusahaan dan lembaga yang peduli digandeng untuk bersama-sama berpartisipasi dalam program ini. Ini adalah tugas kita bersama kita, untuk negeri kita.

Masih dalam upaya-upaya diatas, kamipun menggerakkan masyarakat untuk kembali mendukung produksi pangan yang sehat. Pengembangan agroindustri tepung ubi jalar berbasis komunitas di Kuningan telah memfasilitasi berdirinya rumah produksi tepung milik komunitas. Pemberdayaan petani singkong di Way Bungur, Lampung mendorong komunitas untuk berinovasi dalam produk pangan alternatif salah satunya Tiwul Instan. Pemberdayaan Perajin Gula Kelapa di Pacitan (Jawa Timur) telah menumbuhkan Griya Gula Kelapa milik Komunitas. Selain itu kami juga melakukan penguatan terhadap usaha mikro kecil Industri Rumah Tangga (IRT) Makanan Ringan di Ciamis & Cianjur (Jawa Barat), Serang (Banten), Kendal & Batang (Jawa Tengah), serta Bantaeng (Sulawesi Selatan). Pemberdayaan IRT ini lebih ditekankan dalam soal mutu dan keamanan makanan dengan standar PIRT, penggunaan bahan baku standar, pengawasan secara swadaya, ketersediaan bahan baku yang kontinyu serta tumbuhnya jaringan kelompok pengusaha mikro makanan jajanan halal dan sehat.

Apa yang telah dilakukan belum bisa membuat kami bertepuk dada. Masih banyak kekurangan di sana sini. Stakeholder yang terlibat dalam upaya ini masih jauh dari yang diharapkan. Jumlah pemetik masyarakat yang didampingipun masih belum signifikan jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat kita. Di masa yang akan datang, kami ini ingin lebih menggiatkan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat khususnya terkait pangan yang sehat untuk penggalakan program pangan sehat untuk negriku!

Diposting oleh Armie Robi

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan