Tekad Mursalim menyekolahkan anak-anak mitra dengan gula

Dalam proses pendampingan ada saja kisah yang unik dan inspiratif. Kali ini kisah dari pulau seberang Sulawesi tepatnya Jeneponto,Sulawesi Selatan. Berikut adalah kisah Mursalim dalam mendampingi masyarakat.

Kisah perjalanan saya dalam  pendampingan di awal program hingga sekarang baik yang di Taba maupun yang di Parang Lambere dimana pemahaman masyarakat sebelum program berjalan dan disaat awal program masih sangat minim dan gampang dikendalikan oleh seseorang yang punya modal atau di sebut  saja tengkulak.

Pada saat awal program saya selalu diliputi rasa cemas karena saking banyaknya  issu bahwa para tengkulak tidak setuju adanya program pemberdayaan masyarakat di Taba. Mereka  merasa usaha mereka bisa turun, ketika  saya mulai mengadakan pertemuan-pertemuan baik dari pertemuan saat pembentukan kelompok mitra maupun Latihan Wajib Kelompok dan pembentukan Induk  selalu ada orang yang mengikuti saya dan bertanya dengan maksud ingin melemahkan  program.

Saya masih ingat ketika salah satu tengkulak bilang dengan gaya bahasa di kampung yaitu “kenapa kita mau kasihki uang itu pemasak gula na saya ada tonji uangku untuk kasihki, Biar berapana minta ku kasih kanji (kenapa kamu ngasih-ngasih uang ke pembuat gula. Saya ada banyak uang untuk dikasihkan, berapapun minta saya kasih)” bentaknya dengan nada tinggi.

Saya jelaskan bahwa program bertujuan untuk mengurangi beban ibu dan bapak karena kami tidak mengambil semua gulanya namun hanya untuk beberapa biji untuk angsuran mitra saja  dan selain dari itu semua tetap di berikan kepada ibu dan bapak. Program mangajak bapak dan ibu untuk kerja sama untuk membantu mitra Taba agar mitra bisa menyekolahkan anak-anak mereka dan bisa membeli kebutuhan hidup mereka. Sampai sekarang pun mereka (tengkulak) masih berusaha melemahkan program dan memprovokasi mitra untuk tidak mengikuti program. ada saja mitra yang dapat dipengaruhinya sehingga tidak mengikuti aturan kelompoknya..

Selama saya mendampingi mitra Taba dan Parang Lambere suka dan duka memang tidak lepas dari pekerjaan sebagai pendamping di mana mitra kebanyakan hanya lulusan SD bahkan ada juga yg tidak pernah sekolah sama sekali, sehingga ada yang cepat paham dan ada juga yang sangat susah menerima apa yang disampaikan. Ada mitra juga yang kurang bisa mendengar (tuna rungu), ada yang tidak bisa membaca dan menulis dan ada juga yang tidak mengerti bahasa indonesia.

Aturan-aturan yang menggunakan bahasa lokal termasuk dalam pembacaan ikrar mitra saja sudah diubah dengan memakai bahasa daerah. Itupun masih ada yang kesulitan untuk menghafalnya. tapi, ada yang membuat bahagia ketika bertemu mitra dalam setiap pertemuan sering bercanda layaknya sebuah keluarga jauh yang lama tidak bertemu, senang rasanya melihat mereka tersenyum dan ketawa bersama dan melupakan sejenak problem-problem yang ada dalam keluarga mereka.

Ada juga keunikan mitra kita di Taba yang membuat saya kagum dengan keseriusan mitra tersebut, yaitu seorang mitra yang penglihatan tidak normal. Setiap hari ia memanjat puluhan pohon lontar untuk mengambil air nira, istrinya membantu memasak gula. Pernah suatu ketika ia jatuh dari pohon saat mengambil nira sampai harus dirawat, setelah sembuh dia tetap melakukan profesinya sebagai pemasak gula. Tanggung jawab sebagai kepala keluargalah yang membuat ia tidak pernah menyerah, untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.

Selama program berjalan masih ada beberapa mitra yang masih kadang tidak mengikuti aturan ada juga dia mengikuti aturan tapi terkesan bandel karena membayar angsuran dengan ukuran gulanya sengaja di perkecil. Setiap pertemuan selalu disampaikan ke mitra agar  menstandarkan ukuran gula lontar. Besarnya pengaruh tengkulak ke mitra yang  seakan-akan mereka tidak ingin pemasak gula lontar bisa dari jeratan piutang agar tengkulak tetap bisa mengendalikan harga semaunya dengan mendapatkan keuntungan yang besar, dan pengaruh itu masih berjalan  hingga saat ini.

Dalam mendampingi mitra Taba dan Parang lambere saya punya kebijakan tersendiri untuk tidak mengekang mitra agar para tengkulak bisa menyadari bahwa program hadir bukan untuk mempersulit mitra tapi untuk membantu memandirikan atau menopang ekonomi mereka sehingga bisa mandiri.

Masyarakat Taba sudah semakin percaya akan program Masyarakat Mandiri dan Dompet Dhuafa. Beberapa bantuan telah diberikan untuk meningkatkan produksi dan pemasaran gula lontar, diantaranya telah diberikan berupa kendaraan roda 3 sebagai alat pengangkut gula lontar, pembatas wajang, bambu untuk tangga pohon. Tempat produksi di perbaiki agar lebih higienis untuk meningkatkan gula lontar Mitra Taba.  Masyarakat  berharap agar MM dan DD selalu hadir untuk membantu masyarakat Jeneponto dengan program-program untuk pemberdayakan masyarakat golongan bawah(miskin). Mereka bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi sehingga bisa membawa perubahan bagi masyarakat Jeneponto.

{fcomment}

 

 

 

 

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan