Tiga Perempuan Kondang dari Warung Kondang

Ibu selalu mengisi dunia dengan beribu makna. Dalam dimensi sosial, kaum ibu banyak memberi warna. Tak sedikit jejak kiprah para ibu tak sekadar memiliki arti bagi keluarga. Ini cerita tiga perempuan sederhana yang memberikan waktu, tenaga dan pikirannya bagi komunitas di desanya. Barangkali tak banyak perempuan seberuntung Ai, Lilis dan Nani dalam soal kepercayaan. Ketiga wanita desa itu dipercaya menjadi pengendali koperasi yang diisi barisan perempuan.

Adalah Ayi Siti Zulaikha, Lilis Mulyanah dan Nani Suryani, tiga perempuan dari Desa Cisarandi, Kecamatan Warung Kondang, Cianjur. Ketiganya menganggap diri mereka dahulunya bukan siapa-siapa. Wanita desa yang memilih menjadi pedagang di kampung sendiri, di saat perempuan lain berduyun-duyun menjadi TKW ke luar negeri. Kepercayaan orang membuat ketiga perempuan itu kini cukup kondang melampaui wilayah Warung Kondang.

Boleh dibilang, Ai, Lilis, dan Nani tengah memetik kepercayaan. Warga cukup akrab dengan tiga perempuan ‘koperasi’ itu. Ya, warga menyebut mereka dengan sebutan ‘orang koperasi’. Dulu mereka hanya mengenal mereka sebagai pedagang ‘kriditan barang’.

Sejak dulu, ketiganya memang memiliki pekerjaan menjual bermacam barang dengan cara kredit. Sampai kinipun, pekerjaan itu masih dijalani, meski mereka memiliki tugas baru sebagai pengurus Koperasi Wanita Syariah UMMI (Usaha Migran Mandiri) Cianjur. Kurang dari setahun, koperasi bisa memiliki mitra 80 orang. Para anggota tersebar di tiga kecamatan: Warung Kondang, Cianjur, dan Gekbrong. Praktis, mereka sudah kondang tak hanya di wilayah Warung Kondang. Capaian-capaian ini membuat ketiga perempuan ini terus bergiat, meski mereka merasa masih minim pengetahuan.

“Saya takut kalau dikejar-kejar wartawan, takut salah ngomong,” begitu pengakuan polos ketua koperasi, Ayi Siti Zulaikha yang ditemui redaksi belum lama ini. Ayi paling takut kalau bertemu WTS, kepanjangan dari Wartawan Tanpa Surat kabar – ia sudah fasih menyebut istilah itu. Menurut ibu dua anak ini, WTS sering mencari-cari kesalahan. Nani yang sekretaris menambahkan, “Kami ini takut ngomong pada wartawan karena keterbatasan ilmu. Apa yang kita omongkan kan harus bisa dipertanggungjawabkan.”

Betapapun kini mereka sudah memanen kepercayaan, menurut Ayi, urusan keluarga tetap yang harus diutamakan. Sejak dulu dirinya sudah berdagang barang kreditan seperti alat elektronik, pakaian dan alat-alat rumah tangga. Pilihan itu tentu berangkat dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk menyekolahkan anak-anak.

“Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan ngurus koperasi asalnya terasa repot, kini mulai bisa membagi waktu. Sering capek, tapi ada keinginan maju, ya jadi capek itu hilang sendiri,” kata Ayi. Bagaimanapun, kata Ayi, ada banyak hikmah dari pekerjaan mengelola koperasi. Menurutnya, jadi banyak kesempatan silaturahmi dan bisa menambah wawasan.

Lilis ikut urun pendapat. Bagi dia dan teman-temannya, ada beberapa kepuasan mengurus koperasi. Semua anggota dan mitra layanan adalah perempuan, kebanyakan adalah eks-TKI dan keluarga TKI. Perempuan di daerahnya memang banyak memilih bekerja, dengan beragam usaha. Mengapa mereka bergabung dengan koperasi UMMI? “Kata mereka sih, koperasi kami menawarkan pinjaman dengan proses mudah, tidak mencekik seperti bank atau koperasi lain, dan menggunakan model kelompok,” jawab ibu yang tengah mengandung anak kedua ini.

Selama ini, Koperasi Wanita Syariah UMMI sudah melayani simpan dan pinjaman menggunakan sistem syariah dengan akad murabahah dan mudharabah. Sistem ini bagi mereka memudahkan dan berkah. Tak sedikit yang ikut menikmati modal bergulir itu. Mitra mereka terdiri perajin rajutan peci, barang pedagang kreditan, jagung manis, dan aneka usaha. Ayi mengaku sangat puas dengan capaian dalam mengurus lembaga ekonominya, terutama soal angsuran pinjaman pembiayaan yang hampir tak ada yang macet. “Hanya 2% macet, itupun mereka hanya menunda angsuran lantaran pergi lagi ke Arab Saudi jadi TKW,” tutur Ayi bungah.

Kecilnya kemacetan tak lepas dari faktor sisi perempuan para anggota. Perempuan suka ngerumpi. Perempuan juga cenderung malu kalau punya utang, apalagi kalau sampai rahasia utang bocor saat ngerumpi. Hal itu tentu saja menguntungkan Ayi dan teman-temannya, dampak positifnya mereka lancar angsuran. Sebagai pengelola, ketiganya tergolong cerdas, di antaranya mampu menutup peluang ‘penyakit’ satu kelompok agar tak menular pada kelompok yang lain.

Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa Republika selama tiga tahun mengenalkan model kelompok dalam pengadaan lembaga ekonomi di wilayah kantong asal pekerja migran itu. Lilis menuturkan, model kelompok memperkecil kesulitan. Kalau ada masalah, tinggal menunjuk ketua kelompok. Karenanya, mereka mencari anggota yang cukup bertanggung jawab, yang bisa dipercaya. Bila pembiayaan dari koperasi dicairkan, kelompok diterapkan sistem tanggung-renteng. Kalau angsuran mitra wajib (AMW) tak lunas, kelompok tak dibiayai lagi untuk permohonan peminjaman berikutnya.

Kemajuan ekonomi di daerahnya menjadi impian mereka. Kini mereka menanam angan-angan kuat membuat usaha yang bisa memberdayakan masyarakat banyak, produk dibutuhkan orang terus-menerus, dan juga tak banyak saingan. Tentu saja itu angan-angan mulia dari para perempuan desa yang masih langka. Namun, sangat tampak di sinar mata mereka, keyakinan itu begitu kuat. Ayi, Lilis dan Nani melangkah dengan energi dan semangat untuk kemandirian banyak orang. Ayi berucap sungguh-sungguh, “Sekarang maju mundur koperasi tergantung kita.”

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan