Tiwul, Ironi Pangan dan Kemiskinan

Tiwul Maut, begitu beberapa media menyebut penyebab kasus meninggalnya enam anak pasangan Jamhamid dan Siti Sunayah di Jepara, Jawa tengah, beberapa waktu lalu. Media menyebut, enam bersaudara itu meninggal karena diduga keracunan tiwul sebagai pengganti menu beras yang harganya semakin mahal. Dari kasus keluarga Jamhamid ini, kita menemukan dua hal. Masalah kemiskinan dan masalah pangan.

Keluarga Jamhamid seperti dilansir di media termasuk keluarga tak mampu dengan banyak tanggungan. Jangankan untuk biaya pendidikan, untuk mencukupi kebutuhan makan saja dia sudah kewalahan. Jamhamid hanya bekerja sebagai buruh jahit dengan penghasilan sangat minim. Istrinya ikut menopang hidup dengan ngasak atau mencari sisa panen singkong dari kebun tetangga untuk dibuat gaplek dan tepung pati.

Makin tingginya harga beras membuat bahan pokok itu kian jauh dari jangkauan keluarga Jamhamid. Seperti warga miskin lainnya, mereka memilih tiwul sebagai pengganjal perut. Tiwul dibuat dari gaplek buatan istrinya. Di masa duka itu, Siti mengalami ketakutan luar biasa, karena ada pemberitaan media yang memojokkannya, mengatakannya telah meracuni keenam anaknya. Ibarat sudah jatuh, Siti tertimpa tangga pula. Kemiskinan tak beranjak dari kehidupan keluarganya, disusul meninggalnya enam anggota keluarga secara hampir bersamaan. Derita bertambah lagi dengan pemberitaan media yang tak bijak mengabarkan tragedi “tiwul maut”.

Media massa mengangkat kasus keluarga Jamhamid dari Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Jepara itu sebagai persoalan kemiskinan. Ada saja cerita derita anak bangsa di tengah keyakinan pemerintahnya bahwa angka kemiskinan berangsur menipis. Akan tetapi, tampaknya media kita juga tak cukup jeli melihat masalah tiwul. Tiwul dipersepsi sebagai makanan yang hanya dikonsumsi karena keterpaksaan karena tidak mampu membeli beras. Harga tiwul memang jauh lebih murah dari harga beras. Citra tiwul mewakili ketertinggalan. Tiwul dianggap tidak cukup bergengsi.

Pencitraan terhadap tiwul yang tidak setara dengan citra pangan beras rupanya punya sejarah. Suatu ketika di masa Presiden Soeharto, ada kebijakan swasembada beras yang mengajak petani menanam padi. Tanpa melihat keanekaragaman pangan Indonesia, kebijakan politik itu diterapkan pukul rata pada semua daerah.

Semua petani “diwajibkan” menanam padi untuk kebutuhan swasembada beras. Alih-alih memenuhi swasembada beras, namun sejatinya kebijakan itu untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang selera lidahnya beras. Padahal tidak semua daerah mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok. Ada yang makan singkong, sagu, dan berbagai ubi-ubian.

Sekali lagi tiwul adalah bagian dari keanekaragaman pangan kita. Kasus keracunan tiwul di Jepara tidak bisa dihindari makin menyudutkan citra tiwul sebagai bagian dari keanekaragaman itu. Tiwul seakan-akan sebuah ironi pangan kita. Terlepas apa penyebab kematian anak-anak Jamhamid, yang jelas warga lain tetangga Jamhamid juga biasa mengkonsumsi tiwul.

Di beberapa daerah lain, tiwul menjadi santapan sehari-hari warga. Seperti di Pacitan, Trenggalek, Wonogiri, Lampung, dan daerah lainnya, tiwul bisa menjadi pilihan atau selingan menu pengganti nasi. Warga juga menyukai tiwul sebagai penganan atau jajanan pagi yang mudah ditemui di pasar-pasar tradisional.

Tiwul tak hanya bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional, namun kini pasar swalayan juga mulai menawarkan tiwul instan. Salah satu produsen yang menyediakan tiwul instan bisa ditemui di Desa Tambah Subur, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur. Di daerah ini dijalankan program pemberdayaan petani singkong dan usaha turunan oleh Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa.

Kelompok Jaya Makmur hampir setahun ini membuat tiwul instan. Prakarsa produksi tiwul instan ini tak lepas dari budaya dan sejarah warga Desa Tambah Subur. Warga transmigrasi dari Jawa mulanya menanam singkong saja sebelum datangnya kebijakan politik menanam padi. Praktis warga akrab dengan tiwul sebagai makanan pokok. Namun, dominasi nasi membuat warga menjadikan tiwul hanya sebagai menu selingan saja.

Faktanya, tak ada orang sakit karena makan tiwul. Bahkan, tiwul cocok dikonsumsi para penderita diabetes. Ragam pangan berikut ini memang dianjurkan sebagai pengganti nasi bagi penderita diabetes. Singkong, beras merah, kentang, talas, ubi jalar, dan beberapa jenis lainnya mengandung karbohidarat kompleks yang mudah diserap tubuh. Tidak sedikit konsumen dan orang-orang dari luar Desa Tambah Subur menjadi langganannya. Beberapa di antaranya mengaku memiliki anggota keluarga yang menderita diabetes.

Ikhtiar inovatif para petani singkong untuk membuat tiwul instan itu tak lepas dari kerinduan akan tiwul yang sebagian warga sudah meninggalkannya. Kerinduan ini bisa mewakili kecintaan anak negeri ini pada keanekaragaman pangan kita. Keanekaragaman ini adalah potensi. Dan tiwul, tentu bukan ironi.

Diposting oleh Hery D. Kurniawan

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan