Peternak Kendal, jadi Suplier Kurban Nasional

Kendal (9/4). 13 peternak Kendal yang tergabung dalam binaan yayasan Nurul Ummah Kendal merupakan suplier program qurban Dompet Dhuafa.Dompet Dhuafa sendiri merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional yang sudah terdaftar di Kementerian Agama RI.  “Ini merupakan kebanggaan tersendiri, karena dari 35 kabupaten se Jawa Tengah, hanya sekitar 5 kabupaten yang menjadi mitra qurban melalui lembaga mitra yang sudah kerjasama’’ terang Arif Fajar Hidayat selaku Koordinator program Mitra.

Kerjasama suplier program qurban Dompet Dhuafa , dituangkan dalam MoU antara Yayasan Nurul Ummah kendal selaku mitra pemberdayaan dengan Masyarakat Karya Mandiri  selaku vendor suplier program qurban Dompet Dhufa. “Pada tahap awal sudah diakadkan pengadaan qurban sebanyak 115 ekor tambah Arif. Nantiny vendor KMM merupakan satu-satunya penyuplai hewan kurban Dompet Dhuafa. “Jumlah hewan yang diakadkan, jelas sudah langsung terbeli selama sesuai spesifikasi yang sudah diakadkan” terang Arif.

Program Qurban yang digagas oleh Dompet Dhuafa bernama Tebar Hewan Kurban. Program ini merupakan kombinasi antara pemberdayaan dan distribusi hewan kurban di wilayah mitra. “jadi mitra pemberdayaan mendapat amanah untuk memberdayakan peternak lokal untuk supply hewan ternak dan juga mendistribusikannya.” Jelas Arif.

Untuk pemberdayaan peternak sendiri tersebar di 4 kandang di wilayah yang berbeda, yaitu di desa Gonoharjo Kecamatan Limbangan, Desa Kebonharjo Kecamatan Patebon, Desa Sukorejo Kecamatan Sukorejo dan Desa gedong Kecamatan Patean. Adapun jenis hewan yang dipelihara adalah domba dengan 2 spesifikasi. Yaitu domba standar dengan bobot minimal 25-29 kg dan domba premium dengan bobot 30 kg ketas.selain syarat bobot, hewan ternak harus jantan, sehat,tidak cacat, cukup umur dan bebas dari penyakit. Untuk memastikan kondisi hewan ternaknya secara reguler diadakan monitoring hewan ternak langsung darikantor Dompet Dhuafa Pusat.

Program pemberdayaan qurban ini langsung bisa dirasakan manfaatnya. Hal ini dikarenakan peternak yang terlibat dalam program ini akan didampingi dan diberikan pengetahuan manajemen ternak modern. “Kalau tidak mengkuti program pendampingan yang dilakukan, peternak tidak boleh ikut program pemberdayaannnya. Karena Standar Operasional Prosedur sudah ada dan harus dilakukan untuk mengejar spesifikasi yang ada” jelas Arif. Selain itu, dengan mekanisme ini juga menguntungkan para peternak. Harga jual yang ditawarkan juga menguntungkan peternak, karena dihargai dengan harga tinggi. Hal ini terjadi karena program qurban ini bisa memangkas alur distribusi dan langsung mempertemukan peternak dan pembeli dalam jumlah besar.

Untuk distribusi hewan qurban, program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa ini juga sangat menarik. Meskipun dibeli oleh Lembaga Nasional, tetapi untuk pendisribusiannya diamanahkan ke mitra. Dari 115 ekor domba yang dipelihara telah dialokasikan untuk didistribusikan ke beberapa wilayah di Kabupaten Batang, Kabupaten Pemalang dan KabupatenKendal. Adapu kriteria wilayah yang mendapat distribusi hewan qurban, adalah wilayah prioritas yaitu daerah miskin, tertinggal, pedalaman, daerah belum/tidak ada hewan kurban, daerah bencana alam dan tragedi sosial lainnya. Selain daerah prioritas distribusi juga dilakukan untuk  panti jompo, panti asuhan dan masjid-masjid, pesantren dan majelis taklim.

Sementara itu menurut Hasan Isnaeni (46 tahun) salah satu peternak binaan selama 6 tahun mengungkapkan bahwa dirinya dan kelompoknya selain mendapatkan keuntungan ekonomi juga mendapat manfaat lainnya. Diantaranya peningkatan ilmu beternak, jaringan yang bertambah luas dan yang paling penting bisa berbagi sesama. “Selain diamanahi sebagai peternak, juga diamanahi sebar hewan di daerahya sendiri. Sekarang berkat program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa, bisa memancing warganya untuk berkurban selama idul adha” tambah Hasan. (KMM/Arif/Hasan)

Geliat Payung Lukis yang Kian Eksis

Millenium baru menjadi cerita getir pengrajin payung Lukis di Juwiring Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, Payung Lukis yang dulu menjadi kebanggaan dan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat lambat laun mulai terkikis. Hingga 2 tahun yang lalu pengrajin payung lukis tinggal 11 orang yang usaianya pun sudah tidak muda lagi. Mereka bertahan semata, supaya budaya payung lukis ini tetap eksis menjadi kebanggaan.

(Baca juga : Ngadi : “Kami Merasa Seperti Yatim Piatu”)

Namun kini, kondisi tersebut pelan-pelan mulai berubah. Pengrajin payung lukis di Juwiring mulai menggeliat. Tekad dan keuletan mereka selama ini mulai membuahkan hasil.  Pesanan payung mulai kembali berdatangan dan beberapa kali mendapat kunjungan dari berbagai instansi. Tahun 2016 produksi payung lukis meningkat dari 2.244 unit menjadi 4.770 unit atau meningkat 113 %. Peningkatan produksi tentu berimbas pada kenaikan omset dari Rp. 75. 500.000 di akhir 2015 menjadi Rp. 247.622.500 di akhir tahun 2016 atau meningkat 69,5 %. Jumlah Pengrajin payung lukis pun sudah mulai bertambah menjadi 25 orang.

Pengrajin payung Lukis melalui Kelompok Ngudi Rahayu juga memperluas jangkauan pasar dengan membuka spot-spot penjualan  bekerjasama dengan toko dan galeri, seperti took cindera mata di alun-alun solo, Toko Mulyo di Jogja dan Jogja Yanis Gallery. Selain itu Kelompok Ngudi Rahayu juga menjalin kerjasama dengan Solo Mataya art and Heritage (even organizer festival Solo), Stupa Indonesia Jogja dan menjadi suplay tetap payung untuk Keraton Yogyakarta. Ngudi Rahayu juga mendapat pesanan  payung untuk festival payung di Thailand. Perubahan teknologi dan pola marketing juga tidak diabaikan oleh kelompok. Saat ini mereka sedang menyusun strategi untuk memperluas pasar melalui marketing online.

Untuk lebih mengenalkan payung lukis kepada generasi muda, Ngudi Rahayu membuka program Eduwisata. EduWisata ini didasari karena semakin banyaknya orang yang tertarik dalam kegiatan melukis payung, khsususnya lembaga-lembaga pendidikan. Kegiatan Eduwisata tidak sekedar berkunjung, namun pengunjung juga diajarkan tentang tatacara membuat payung lukis. Eduwisata cukup diminati didunia pendidikan, beberapa Sekolah disekitar Klaten sudah mulai berkunjung seperti SD Kanisius-Klaten, menerima kegiatan studi eskursi 14 siswa dari SMA Kolese De Britto-Klaten serta mendapat kunjungan dari wisatawan lainnya.

(Baca juga : Lecut Semangat Pemuda Klaten, Lestarikan Kerajinan Payung Lukis)

 

Kelompok Ngudi Rahayu merupakan kelompok yang diinisiasi oleh Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai pelaksana Program Pemberdayaan Payung Lukis Juwiring yang merupakan Program kerjasama antara Dompet Dhuafa dengan Asuransi Astra Syariah. Program pemberdayaan payung dimulai pada akhir 2015 dan direncanakan selama 2 tahun. Adapun tujuan program adalah mempertahankan eksistensi kerajinan payung lukis sebagai sumber pendapatan dari sektor ekonomi kreatif dan memunculkan usaha baru berbasis komunitas yang mendorong kesejahteraan masyarakat. KMM sendiri merupakan organ Dompet Dhuafa yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat.

Perubahan yang terjadi para pengrajin Payung Lukis tidak begitu saja terjadi. Pemberdayaan yang dilakukan memberikan beberapa pelatihan dan pendampingan secara intensif. Pendampingan dilakukan oleh seorang pendamping lapangan yang bertugas membimbing, mengarahkan dan membuka jaringan untuk akses pemasaran produk kelompok. Model pendampingan efektif merupakan metode yang efektif dalam proses pemberdayaan.

Pemberdayaan masyarakat memberikan solusi untuk peningkatan kesejahteraan jika dilakukan dengan serius dan dengan indikator keberhasilan yang terukur. Karena pada hakekatnya Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi. (SM/KMM)

KMM Presentasikan Program Kerang Hijau di ISEA

Merupakan sebuah kehormatan, Karya Masyarakat Mandiri (KMM) mendapatkan undangan untuk menghadiri Konferensi Pemberdayan Ekonomi Perempuan dan Social Enterprise Tingkat Regional ASEAN yang diselenggarakan oleh ISEA (Institut for Social Enterpreneurship in Asia) bekerja sama dengan Pemerintah Swedia dan Oxfam. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 19 April sampai dengan 22 April 2017 bertempat di AIM Conference Center Makati City Philipina.

Tema yang diangkat dalam konferensi yang baru diadakan pertama kali ini adalah Mempromosikan Kemitraan Yang Tranformasional dan Pemberdayan Perempuan pada Rantai Nilai Kegiatan Pertanian di ASEAN. Konferensi ini merupakan bagian dari inisiatif Mempromosikan Social Enterprise (PROSE/Promoting Social Enterprise)  sebagai bagian dari proyek besar berjudul Transformative Gender dan Investasi Pertanian Yang Bertanggung Jawab di Asia Tenggara.

Proyek ini diprakarsai oleh Oxfam dengan dukungan dari Pemerintah Swedia (SIDA) Sebagai bagian dari program PROSE-GRAISEA  (Promoting Social Enterprise Gender Transformative and Responsible Agrucultural Investment in Southeast Asia).  ISEA bermitra dengan beberapa LSM di 4 negara yakni Bina Swadaya dan Dompet Dhuafa (Indonesia), Center for Social Innovation Promotion (Vietnam) dan Change Fusion (Thailand).

Selain menjadi peserta, KMM juga memprentasikan praktik baik yang dilakukan pada program pemberdayaan ekonomi perempuan. Dari rapid appraisal yang dilakukan program pemberdayaan perempuan pengupas kerang hijau di Kasemen, Serang, Banten. KMM memberikan penjelasan  kepada 60 audiens dari 4 negara tentang bagaimana proses yang berlangsung pada Program Pemberdayaan Pengupas Kerang Hijau di Kasemen yang menyasar kepada 30 penerima manfaat perempuan.

Beberapa poin yang disampaikan adalah bagaimana strategi pencapaian indikator peningkatan pendapatan penerima manfaat hingga mencapai 1.5 Upah Minimum Kabupaten (UMK)  Kota Serang dan Bagaimana dampak yang terjadi pada penerima manfaat setelah diintervensi oleh program dan bagaimana mengukur dampak tersebut. Selain itu juga disampaikan tentang apa yang menjadi faktor kritikal baik internal maupun eksternal, positif maupun negatif yang mempengaruhi keberhasilan program serta apa yang menjadi tantangan utama pada program tersebut.

Keikutsertaan KMM dalan kegiatan konferensi tersebut tentunya diharapkan membawa banyak manfaat bagi lembaga maupun bagi komunitas dampingan. Sejalan dengan tujuan umum dari kegiatan konferensi ini adalah membangun platform yang para pemangku pihak di ASEAN untuk mempromosikan intervensi dan investasi rantai nilai pertanian yang akan membawa perubahan dan memberdayakan laki2 dan perempuan sebagai pelaku usaha sebagai bentuk kontribusi untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan (SDGs).
(Dessy Sonya)

Sekarang Mereka Membayar Zakat

Kampung Rujak Beling, kampung kumuh yang terletak di pesisir banten yang masih termasuk wilayah Kota Serang. Memasuki kampung rujak beling, tampak rumah-rumah kayu berjajar dan perahu nelayan yang bersandar di tepi sungai. Mayoritas penduduk rujak beling adalah nelayan dan pengupas kerang hijau. Rujak Beling yang masih masuk Kecamatan Kasemen ini merupakan salah satu kampung yang tergolong miskin. Ini yang melandasi Dompet Dhuafa menginisiasi program pemberdayaan di Rujak Beling setelah dilakukan survey pendalaman. Program yang bertajuk Mustahik Move to Muzakki (M3) digulirkan tahun 2013 dengan sasaran 37 pengupas kerang yang tergabung dalam ISM Sinar Abadi. Program ini melibatkan Karya Masyarakat Mandiri (KMM) dalam pelaksanaannya. Program M3 menargetkan peningkatan pendapatan penerima manfaat sebesar 1,5 kali UMK.

Pengupas kerang dijadiakan sasaran penerima manfaat karena pendapatan tenaga pengupas tidaklah banyak. Dalam sehari mereka hanya Rp. 16.000,- yang berarti pendapatan mereka dalam sebulan berkisar Rp. 480.000,- , itupun jika pasokan kerang dari bagan banyak. Jika pasokan kerang sedikit pendapatan mereka juga ikut berkurang. Belum jika ada bagan yang rusak karena tersapu angin pasokan akan lebih sedikit lagi. Penurunan pendapatan namun kebutuhan tetap membuat mereka terjerumus kedalam sistem rente untuk memenuhi kebutuhannya.

(Baca juga : Rentenir yang Kian Terpinggir)

Itu dulu, kini kondisi telah berangsur-angsur mulai membaik. Program Pemberdayaan M3 yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa memberikan dampak positif terhadap pendapatan para pengupas kerang. Para pengupas kerang di berikan bantuan produktif berupa bagan, ini diharapkan selain mendapatkan pendapatan dari mengupas kerang juga mendapatkan hasil panen kerang dari bagan yang mereka kelola. Mereka juga tidak ter kawatir lagi akan pasokan kerang, karena pasokan kerang hijau melimpah.
Selain mendapatkan bantuan mereka juga mendapat pendampingan dan pelatihan tentang tatacara pengelolaan koperasi. “Kami dulu di bantu oleh Dompet Dhuafa berupa bagan, Alhamdulillah sekarang hasil yang dapatkan terus meningkat. Selain bantuan kami juga diberikan pendampingan tentang usaha dan pelatihan tentangn tatacara pengelolaan koperasi yang benar” ungkap Wasti, Ketua Koperasi ISM SInar Abadi

(Baca juga : Kini Satem Bisa Merehap Rumahnya).

Kini mereka karena sudah mampu membayar zakat. Zakat tersebut mereka salurkan melalui Dompet Dhuafa Cabang Banten secara kolektif lewat Koperasi ISM Sinar Abadi senilai Rp. 4.117.000,-. Penyerahan dilakukan bersamaan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2016 yang serahkan langsung kepada pimpinan DD Banten pada kamis 30/03/2017 di Rujak Beling. Zakat tersebut merupakan wujud rasa syukur wasti dan anggota koperasi lainnya atas Sisa Hasil Usaha (SHU) yang mencapai Rp. 30 juta. Selain membayar zakat Koperasi juga menyisihkan Rp. 1.999.800 ,- untuk pembangunan kantor desa setempat.
(SM/KMM)

KMM Latih 50 Pedagang Bakso

Jakarta – Karya Masyarakat Mandiri melakukan pelatihan keamanan pangan kepada 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Aula Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan Kamis (09/03). Ini merupakan bagian dari program pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa (DD) dan PT Miwon Indonesia (Miwon). Nama Program ini adalah Pedagang Tangguh Miwon (PTM) yang menyasar pedagang-pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Pelatihan menghadirkan dari Sub Dinas Kesehatan Jakarta selatan dan Puskesmas Pasar Minggu. Pada pelatihan kali ini juga dilakukan pengujian terhadap bakso yang dijual para pedagang bakso. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman arti penting menjual bakso yang sehat dan aman. Setelah pelatihan akan ditindaklanjuti  pendampingan bersama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.

Selain keamanan pangan juga di berikan pelatihan pembuatan bakso sehat. Pelatihan menggunakan bahan baku yang diijinkan oleh Badan POM dan halal. Pelatihan dilakukan dengan praktek langsung oleh para pedagang agar pedagang faham setiap proses pembuatan bakso yang sehat. Pelatihan ini juga diperkenalkan beberapa Bahan Tambahan Pangan yang boleh dan tidak boleh dalam pembuatan bakso.

Siapa yang tidak mengenal bakso, makanan khas dengan berjuta penikmat. Bakso berbentuk bulat terbuat dari daging sapi atau ayam disajikan dengan mie, sayur dan kuah kaldu dengan bumbu rempah sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Pedagang bakso mulai banyak bermunculan baik di desa dan di kota, apalagi di Jakarta. Hampir di setiap sudut jalanan ibukota ada penual bakso baik yang mankal maupun keliling. Hal ini menimbulkan persaingan ketat yang membuat beberapa pedagang bakso memilih jalan pintas dengan menggunakan bahan haram d alam baksonya demi mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Jalan pintas yang jelas sangat merugikan penikmat bakso. Mulai dari isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya seperti borak, formalin hingga penggunakan daging tikus dan babi.  Isu yang meresahkan, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Tidak hanya konsumen yang dirugikan namun pedagang bakso yang lain pun juga ikut dirugikan.

Fenomena yang hampir setiap tahun berulang, walaupun pemerintah sudah sering memberikan penyuluhan sampai melakukan razia. Penyadaran menjadi penting, penyadaran yag tidak hanya di dapatkan dari penyuluhan sehari dua hari. Proses penyadaran harus dilakukan secara berkesinambungan, Dompet Dhuafa memilih jalan pemberdayaan untuk penyadaran dengan memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan secara kontinyu. Pemberdayaan dengan pendampingan adalah jalannya. (SM/KMM)

Saburai, Primadona dari Tanggamus

Saburai nama yang masih asing bagi kabanyakan peternak di Indonesia. Saburai adalah jenis kambing baru hasil persilangan antara Peranakan Ettawa (PE) dengan Kambing Boer. Saburai dihasilkan dari metode inseminasi buatan yang dilakukan oleh inseminator di Kecamatan Gisting, Tanggamus pada tahun 2000.  Kambing ini mempunyai perawakan tinggi dan gemuk, ini merupakan bentuk turunan dari kambing PE yang tinggi dan Kambing Boer yang gemuk. Kambing saburai mempunayi bobot lahir rata-rata 2.5-3.5 Kg dan bias mencapai bobot 60 Kg ketika mencapai umur satu tahun.

Kambing Saburai juga memberikan keuntungan lebih di banding kambing kacang maupun kambing PE. Banyaknya kandungan daging yang membuat harganya melejit melewati harga tetuanya. Usia 8- 10 bulan, bobot kambing saburai bias mencapai 45 kg dengan nilai jual mencapai 1 juta rupiah. Hal inilah yang membuatnya lebih di senangi oleh para peternak di Lampung.

Perkembangan kambing saburai yang menggembirakan mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Lampung. Kambing Saburai telah di akui secara nasional debagai rumpun baru di indoensia. Ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertainian No. 359/Kpts/PK.040/6/2015 tanggal 08 Juni 2015. Berkat itu pula Pemerintah Propinsi Lampung mendapat penghargaan Budhipura” dari Kementerian Riset dan Teknologi, ini sebagai bukti pengakuan bahwa kambing saburai sebagai hasil inovasi bidang pertanian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dukungan terhadap pengembangan kambing Saburai juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang menelurkan program Pemberdayaan Peternak Dalam Rangka Pengembangan Klaster Kambing Saburai di Kabupaten Tanggamus. Program ini lebih menekankan pada pada penguatan kelembagaan, aplikasi teknologi budidaya hingga merode marketing. Program ini memberikan pendampingan kepada  8 kelompok ternak di tiga (3) kecamatan yaitu Kec. Gisting, Kec. Sumber Rejo dan Kota agung. Populasi ternak kelompok dampingan ssat ini mencapai 2.515 ekor dari 176 anggota.

Secara kelembagaan telah di bentuk Koperasi Peternak Saburai yang di bentuk bersama asponak (Asosiasi Kelompok Peternak). Asponak sendiri merupakan asosiasi yang di bentuk atas fasilitas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selain kelembagaan, program pemberdayaan ini juga memberikan pelatihan aplikatif penerapan teknologi di bidang budidaya seperti pelatihan pengolahan hasil ternak, pakan, dan pelatihan kewirausahaan. dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, BI Bekerja sama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM). Kerjasama dengan antara BI dan KMM sudah berjalan selama 4 tahun di Berbagai daerah di Lampung. KMM sendiri merupakan Corporate Enterprise yang bergerak di bidang pemberdayaan.

 (SM/KMM)

Temu Mitra, Ikhtiar Sukseskan THK

Tebar Hewan Kurban (THK), program yang di inisiasi oleh Dompet Dhuafa untuk memudahkan para pekurban dalam menunaikan kurbannya. Program THK tahun 2016 menyalurkan 13.000 ekor hewan kurban ke wilayah-wilayah pelosok dan rawan pangan di Indonesia. Jauh-jauh hari persiapan dilakukan agar pelaksanaan THK lebih baik, salah satunya dengan mengadakan pertemuan mitra peternak dari seluruh Indonesia.

Pertemuan mitra dilakukan selama 3 hari mulai tanggal 8 hingga 10 Februari 2017 di Hotel Quins Colombo, Kalasan, Propinsi Yogyakarta. Pertemuan di hadiri 85 mitra peternak dari seluruh Indonesia. Mitra-mitra tersebut merupakan mitra peternak program-program pemberdayaan bidang peternakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertemuan mitra dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan mensosialisasikan kebijakan terkait THK. Menjadi mitra THK berarti siap menerima sebuah amanah yang besar, karena THK tidak hanya berorientasi bisnis. MItra bertanggung jawab mulai dari penerimaan hingga penyaluran. Mitra memegang amanah untuk menyampaikan hewan kurban kepada yang berhak menerima, mitra juga ‘harus’ memastikan hewan yang disembelih juga sah secara syar’i.

Program THK dirasakan sangat membantu mitra dalam pemesaran ternak-ternak mereka. Mereka tidak lagi khawatir ternaknya tidak laku di jual, karena ternak-ternak mereka ‘dijualkan’ oleh Dompet Dhuafa. Program THK juga diharapkan mampu mendongkrak pendapatan mitra-mitra pemberdayaan.

 

 

Pelatihan organisasi petani nanas Subang

Pengesahan Kelompok Petani Barokah Lestari Subang

SUBANG – Pelatihan manajemen organisasi dan pengesahan kelompok petani nanas Desa Cirangkong, Kec. Cijambe, Kab. Subang diikuti oleh sekitar 20 petani diselenggarakan Karya Masyarakat Mandiri (KMM), Kamis (12/01). Kegiatan berlangsung dari siang hingga malam hari dengan keputusan pembentukan kelompok petani dengan nama “Kelompok Petani Barokah Lestari”.

Salah satu peserta menuturkan nama tersebut memiliki maksud kelompok yang dibentuk selalu mendapat barokah dari Allah SWT serta kebarokahan itu senantiasa lestari, terjaga sepanjang hayat sampai diwariskan ke anak cucu.

Ajat Sudarjat mewakili KMM mengesahkan pembentukan kelompok tersebut sekaligus memberi motivasi. Hadir pula Adhi Nurhidayat sebagai manajer program KMM, Hikmatullah selaku koordinator program, dan Erri D Herdianto mewakili Dompet Dhuafa. (ak)

rat-koperasi-pandeglang

Koperasi Sarendeg Saigeul yang Mandiri dan Profesional

PANDEGLANG – Koperasi Sarendeg Saigeul melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tutup buku 2016 di balai pertemuan petani Kp. Turalak Desa Ramea Kec. Mandalawangi Kab. Pandeglang, Rabu (11/01/2017).

RAT pertama dilaksanakan pada tahun tutup buku 2016, dengan berkomitmen menjadikan Koperasi Sarendeg Saigeul yang mandiri dan profesional. RAT membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan yang lama dihadiri 60 orang anggota terdiri dari 50 orang perwakilan anggota kelompok dan sisanya pengurus, pengawas, dan manajer koperasi.

Hadir dalam acara tersebut unsur dari aparat pemerintahan Desa Ramea dan pendamping program Community Farming Dompet Dhuafa, Wahyudin. Dalam sambutanya mengatakan, Koperasi Sarendeg Saigeul harus giat berinovasi dalam mengembangkan bisnis yang berkaitan dengan pertanian maupun dengan pihak luar, banyak prospek bisnis yang bisa dikembangkan seperti yang sudah dilaksanakan. Seperti jual beli hasil bumi, penjualan beras merah, penjualan saprotan dan lain-lain.

Dalam RAT muncul pertanyaan, usulan, dan kritik dari anggota, meskipun begitu tetap dalam suasana saling menghormati. Berbagai masalah yang dikemukakan anggota tentunya untuk meningkatkan kinerja koperasi sesuai semboyan nama koperasi yaitu Sarendeg Saigeul yang artinya susah senang selalu bersama-sama dalam mencapai tujuan. [WYD/DIK]

Tulang Punggung yang (masih) Terabaikan

Hari yang cerah berubah mencekam, asap mengepul dimana-mana, penjarahan, kerusuhan menjadi berita sehari-hari. Kisah suram akan terus melekat di benak rakyat Indonesia. Ketimpangan ekonomi, jomplangnya kesenjangan dan perkenomian negeri yang tidak menentu karena meroketnya harga pangan diikuti melemahnya nilai rupiah terhadap dollar. Sekelumit Peristiwa kita kenal sebagai “Krisis Moneter” 1998. Krisis yang memporak-porandakan perekonomian nasional, mengakibatkan perusahaan multinasional koleps dan memilih menarik Investasinya dari Indonesia.

Perlu waktu untuk bangkit dari keterpurukan, disinilah Usaha Mikro Kecil Mengah (UMKM)  menunjukkan tajinya. UMKM menjadi ‘Pahlawan’ Kebangkitan ekonomi, disaat perusahaan besar bangkrut UMKM terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Krisis moneter tidak mampu mematikan UMKM justru terus berkembang hingga sekarang.  Mudradjad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2008 mengemukakan bahwa UMKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive karena, pertama, UMKM tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, tidak berorientasi ekspor.

Sampai saat ini UMKM menjadi usaha yang mampu berkembang secara konsisten sehingga menjadi salah satu wadah terciptanya lapangan kerja. UMKM masih memegang peranan penting dalam perbaikan perekonomian Indonesia, dengan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB). Data Kementerian Koperasi dan UMKM (2013) memperlihatkan UMKM memberikan sumbangsih Rp. 5.440.007,9 Milyar terhadap PDB nasional dan berkontribusi 96,9% terhadap penyerapan tenaga kerja. Jumlah UMKM tahun 2013 berjumlah 57.895.721, meningkat 2,41% dari tahun sebelumnya.

Diakui atau tidak, besarnya sumbangsih yang diberikan menjadikan UMKM sebagai ‘tulang punggung’ perekonomian Indonesia. Tulang punggung yang tegak menopang pergerakan ekonomi nasional. Namun Besarnya peran UMKM tidak sertamerta membuat UMKM mendapat tempat terhormat di negeri ini. Ada beberapa permasalahan yang sering dialami pelaku UMKM  antara lain : Permodalan, SDM, dan Pemasaran. Masalah-masalah menjadi permasalahan klasik yang tidak bisa terselesaikan.

  1. Permodalan

‘Mas kita butuh tambahan modal biar usahanya bisa gede’ keluh kesah yang disampikan ibu-ibu di Desa Tanjung Pasir, Kab. Tangerang ketika penulis masih menjadi pendamping program pemberdayaan disana. Hampir semua menyatakan memubutuhkan modal, modal dan modal. Tidak hanya di Desa Tanjung Pasir hampir semua UMKM akan menjawab butuh modal ketika ditanya mengenai pengembangan usaha.

Pemerintah sadar bahwa banyak pelaku UMKM yang mengeluhkan modal sebagai masalah untuk mengembangkan usahanya. Beberapa langkah sudah dilakukan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan menggandeng bank-bank pemerintah. Permasalahan muncul adalah kabanyakan UMKM tidak Bankable (tidak layak). Belum lagi ditambah beban bunga serta adanya agunan yang harus diserahkan kepada bank panyalur. Agunan yang bisa jadi lebih besar nilainya dari pada jumlah modal yang di pinjam. Mereka yang sanggup memenuhi persayartan bank penyalur harus gigit jari, akhirnya menjatuhkan pilihan ke rentenir. Proses yang lebih mudah tidak berbelit-belit menjadi solusi termudah yang bisa didapatkan karena sehari bisa langsung cair hanya dengan modal KTP atau KK atau BPKB kendaraan yang dimiliki. Solusi sesaat namun pahit kemudian karena jika tidak bisa melunasi tepat waktu mendapat denda berlipat-lipat. Bukannya udaha berkembang asset pun bisa ikut hilang. Permasalahan rumit yang harus segera di urai.

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)

UMKM rata-rata menggunakan sistem kekeluargaan dalam mengelola usahanya. SDM yang terlibatpun tidak membutuhkan spesifikasi  khusu, yang penting mau aja. Al hasil beberapa permasalahan dikemudian hari ketika UMKM mulai besar dan membutuhkan tambahan modal besar. Pencatatan keluar-masuk barang yang tidak rapi, pencatatan keuangan yang ‘tidak ada’ membuat investor atau bank menjadi ragu akan propek usaha UMKM. Ini lah faktor yang membuat UMKM dinyatakan unbankble.

Belum lagi permaslahan inovasi produk dan inovasi strategi pemasaran. Pelaku Usaha mikrod rata-rata suah puas dengan produknya, dan enggan untuk berinovasi. Penulis teringat ketika masih mendampingi di desa Tanjung Pasir, sewaktu ada kunjungan dari dosen sebuah Universitas di Jakarta. “Bu, kalo produk ibu ini (kripik sukun) rasanya ditambahan jadi ada rasa pedas, manis, orginal. Bagus lho bu” usulan salah satu dosen yang hadir. “nggak ah pak entar klo di macem-macemin rasa jadi nggak laku. Gini ajah udah laku banyak” jawab ibu mitra program. “ohhh..” jawab dosen (manggut-manggut sambil tersenyum).

Kejadian lain juga pernah penulis alami saat pertemuan kelompok dengan ibu-ibu pembuat terasi rebon. “Ibu, terasi rebon buatan ibu-ibu itu sudah enak tapi kurang lembut. Gimana kalo saya kasih penggilingan tangan yang kecil supaya terasinya lebih lembut dan ibu tidak capek numbuk, hasilnyapun lebih banyak” penulis menyampaikan di pertemuan mengenai produk merelka. “nggak ah pak, gini aja sudah enak lakunya juga banyak. Kalo pake mesih nanti rasanya beda, enakkan yang di tumbuk.” Jawab ibu Goniah, salah satu ibu-ibu yang hadir.

Permasalahan yang nyata terjadi tapi kadang luput dari perhatian. Pola fikir SDM mempengaruhi pengembangan UMKM. Pengubahan pola fikir ini seharusnya menjadi titik kritis yang harus diselesaikan untuk pengembangan UMKM.

  1. Pemasaran

Perkembangan teknologi semakin pesat, inovasi berkembang hampir setiap hari. Perubahan ini harus direspon baik oleh pelaku UMKM terutaman untuk masalah pemasaran produk. Saat ini masih banyak pelaku UMKM masih enggan untuk memanfaatkan teknologi. Mereka masih menggunakan cara-cara konvensional, karena sudah terbiasa dengan cara-cara tersebut. Dalam pemasaran pun UMKM masih menggunakan cara-cara konvensional, padahal pemasran online sangat menjajikan. Dari data survey yang dirilis pandi 82, 2 juta pengguna internet memanfaatkannya untuk kepentingan komersil.

Dengan penggunaan teknologi akan memudahkan konsumen menemukan produk UMKM. Penggunaan  teknologi smartphone sudah menyentuh semua lapisan masyarakat. UMKM juga harus belajar banyak dari perusahaan-perusahaan jepang yang kolep karena lambat berinovasi. Kerangka berfikir mengenai pemasaran juga harus di buka, sehingga dalam benak pelaku UMKM tidak hanya berkutat pada wilayah dimana ia malakukan usaha. Di luar sana masih banyak peluang untuk melakukan ekspansi produknya. Kendala jarak bisa diperpendek dengan teknologi internet, untuk pengiriman bisa mengunakan jasa pengiriman. Lagi-lagi perubahan pola berfikir yang harus ditekankan.

Permasalahan-permasalahan yang dialami membuat UMKM seakan terabaikanTerobosan-terobosan harus cerdas harus segera dilakukan, tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan kemudian ditinggal atau dibrikan pelatihan setahun sekali kemudian di biarkan. Pola lama yang sudah terbukti using dan tidak memberikan perubahan secara menyeluruh. Perlu inovasi baru untuk memberikan perubahan, UMKM bangkit, supaya tulang tunggung ekonomi tetap tegak.

Berdayakan mereka

Program perencanaan pengembangan UMKM sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah dari mulai bentuan modal, pelatihan hingga studi banding, namun semuanya belum berdampak nyata. Ketidakakurat nya data menjadi salah satu pemicu ketidakberhasilan program. banyak program berlabel pemberdayaan UMKM baik bantuan alat, pemberian modak dan pelatihan, namun sasarannya bukan pelaku UMKM. Kebijakan lokal kadang tidak berpihak pada pelaku UMKM, sehingga banyaknya program menyasar kepada siapa yang dekat dengan pemerintah lokal saat itu. Salah sasaran yang beruang-ulang ini yang membuat pelaku UMKM sesungguhnya harus gigit jari. Akhirnya banyaknya program yang dilakukan oleh pemerintah terkesan menguap entah kemana.

Ada yang unik ketika awal penulis menjadi pendamping di Desa Tanjung Pasir. Setiap penulis datang ke warga, pasti mereka langsung berkata ‘Bapak mau ngasih bantuan ya?’. Begitu juga ketika penulis mengantar tamu yang ingin melihat potensi UMKM dampingan penulis, pertanyaan itu pasti terlontar dari lisan warga. Menurut penuturan beberapa warga karena sejak tahun 90an desa Tanjung Pasir tiap tahun  mendapat bantuan pemerintah. Seiap proposal yang di ajukan desa rata-rata disetujui oleh pemerintah, karena Tanjung Pasir dianggap sebagai desa nelayan yang miskin. Ternyata perilaku tersebut membuat masyarakat menjadi “manja” dengan bantuan, jadi setiap orang ‘asing’ berpakaian rapi yang datang pasti disangka mau memberikan bantuan. Dan sayangnya setiap bantuan yang diberikan hilang tak berbekas, sehingga Desa Tanjung Pasir tetap saja menjadi desa yang terkesan miskin.

Beberapa lembaga zakat maupun lembaga kemanusiaan sejak tahun 200-an sudah masuk ke ranah pemberdayaan. Konsep pemberdayaan yang dilakukanpun berbeda dengan apa yang dilakukan pemerintah karena lembaga-lembaga ini menggunakan dana-dana masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan. Transparansi menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan pun dilakukan dengan visi yang jelas dan konsep yang riil disesuaikan dengan kondisi dinamika masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah pengawasan program dilapangan. Pelaku UMKM banyak yang bingung ketika menerima bantuan modal, kalo tidak dilakukan pengontrolan bisa-bisa bantuan yang diberikan tidak dipergunakan untuk pengembangan usaha namun untuk kepetingan pribadi. Diperlukan pendampingan khusus oleh lembaga agar program yang diberikan dapat benar-benar dipergunakan untuk usaha.

Masyarakat harus terlibat langsung dalam program bukan hanya sebagai penerima manfaat namun juga terlibat dalam pengembangan program di masyarakat. Bagaimanapun masyarakat lokal lebih memahami karakter dan dinamika lingkungannya, peran mereka sangat vital dalam program. Masyarakat akan lebih mudah diarahkan ketika mereka merasa sudah memiliki program, pelibatan-pelibatan masyarakat secara intens akan memunculkan rasa kepemilikan apalagi kalo mereka merasakan lansung manfaatnya.

Yang tidak kalah penting adalah kesadaran masyarakat bahwa program ini untuk membantu mereka agar usaha mereka meningkat yang akan berdampak pada peningkatan taraf hidup mereka. Kesadaran yang diikuti oleh kemauan masyarakat untuk merubah diri mereka sendiri, karena tanpa kemauan usahanya tidak akan berkembang. Peran pendamping sangat krusial, oleh sebab itu seorang pendamping harus bersedia tinggal ditengah-tengah masyarakat. Dengan tinggal ditengah masyarakat, pendamping akan lebih mudah memahami karakter masyarakat dan memudahkan komunikasi dengan masyarakat sehingga penyadaran bisa dilakukan lebih cepat. Keberadaan pendamping juga bisa memberikan solusi mengenai permasalahan yang dialami dengan lebih cepat sekaligus untuk memastikan program tetap berjalan pada koridor yang telah ditentukan.

Pendampingan, pelibatan masyarakat dan kesadaran masyarakat menjadi ‘trisula’ sebuah program pemberdayaan. jika ketiga hal tersebut ini bisa berjalan dengan baik kemungkinan keberhasilan program akan lebih besar. Hal yang juga harus diperhatikan pada setiap program pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah. Kebehasilan sebuah program pemberdayaan tidak hanya bergantung pada seberapa besar dana yang di gulirkan namun berapa besar dampak yang diakibatkan oleh sebuah program. dan ini tidak bisa hanya analisa di balik  meja, namun harus faham dinamika dan dinamika itu ada di lapangan.

Penulis berharap kedepan akan banyak sinergi yang tersusun rapi antara instansi baik pemerintah, swata maupun NGO untuk menegakkan untuk ‘tulang punggung’ perekonomian negeri.  (Slamet Mulyanto)