Angin Kencang Rusak Saung Program M3 Cianjur

CIANJUR – Hujan dan angin kencang melanda Desa Sindangjaya, Kec. Cipanas, Cianjur, Rabu malam (29/11/2017). Desa yang menjadi lokasi program M3 (Mustahik Move to Muzakki) Green-Horti Dompet Dhuafa.

Maman menuturkan, “Setiap tahun ketika masuk musim penghujan Desa Sindangjaya yang berada di bawah Gunung Gede selalu dilanda angin kencang.” Namun tahun ini angin terasa lebih kencang, mengakibatkan saung program tempat kumpul petani dan pengemasan sayur terhempas atap dan beberapa pondasinya.

Alhamdulillah tidak ada yang terluka pada kejadian itu. Tidak hanya saung program, Green House – rumah tanam sayur dan beberapa rumah wargapun terkena dampaknya. Atap rumah mereka terhempas terbawa angin. Semoga diberikan kesabaran dan kekuatan. [AHB]

Pedagang Tangguh VI Berdayakan Pedagang Bakso

Jakarta – Untuk keenam kalinya PT Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa meluncurkan program Pedagang Tangguh VI di Jakarta, Kamis (9/11/2017). Bertepatan dengan 44 tahun Miwon berdiri.

Pada peluncuran tersebut diserahkan secara simbolisasi giant check senilai Rp 779.160.525 untuk program pemberdayaan pedagang bakso yang tergabung dalam “Pedagang Tangguh VI”.

Pedagang Tangguh  adalah program pemberdayaan masyarakat yang digagas sejak tahun 2011. Sasaran masih  sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu para pedagang bakso. Total mitra pedagang yang sudah dibina dari awal hingga kini sebanyak 350 orang.

Ismail A Said, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, menyampaikan “Penerima manfaat di tahun keenam kali ini berjumlah 50 pedagang bakso yang terdiri dari 30 pedagang di wilayah Jakarta Selatan dan 20 pedagang bakso di Surabaya.”

Menurut Ismail, inisiasi Pedagang Tangguh dilatarbelakangi kepedulian Miwon dan Dompet Dhuafa terhadap kondisi para pedagang bakso skala mikro yang masih terbatas dalam aspek produksi, manajerial, dan pemasaran. Sehingga berkomitmen untuk membantu menguatkan keberadaan para pedagang bakso agar tetap bertahan, mandiri, dan dipercaya publik.

Bantuan yang diberikan berupa penyaluran modal usaha (1 set gerobak dorong dan peralatan penunjang), penguatan kapasitas mitra serta pendampingan usaha reguler selama satu tahun. Penguatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan yang dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mitra mengenai aspek keamanan pangan, strategi pengembangan wirausaha, pengelolaan keuangan dan penguatan kelembagaan lokal.

Dompet Dhuafa sebagai mitra pelaksana program melakukan seleksi pedagang, pengadaan perlengkapan usaha, hingga pendampingan intensif.

“Agar program tepat sasaran, kami memiliki prosedur terkait seleksi dan verifikasi mitra, melalui assessment yang komprehensif. Dengan terpilihnya mitra yang tepat, efektivitas dan keberhasilan program berupa kemandirian ekonomi dapat terwujud,” tutur Ismail.

“Kami berharap para pedagang bakso dapat lebih mandiri secara finansial, sehingga para pedagang dapat memperbaiki taraf hidup keluarga sambil tetap menyajikan makanan sehat dan layak konsumsi yaitu makanan yang bebas boraks, formalin, dan pewarna tekstil,” ujar Vice President Director PT Miwon Indonesia, Mr. Lee Dong Won.

LWK Program Pedagang Tangguh Miwon 6

Jagakarsa – Karya Masyarakat Mandiri sebagai jejaring Dompet Dhuafa melaksakan Latihan Wajib Kelompok (LWK) untuk para calon mitra pedagang bakso Program Pedagang Tangguh Miwon 6 (PTM) di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (2/11/2017). Karena PTM 6 calon mitra tersebar di Kelurahan Jagakarsa, Ciganjur, Cipedak dan Srengseng Sawah, bagian dari wilayah Kecamatan Jagakarsa. Dompet Dhuafa menggandeng CSR PT. Miwon Indonesia  sejak tahun 2011 sampai saat ini. Tahun ini memasuki tahun ke-6 program pedagang tangguh Miwon dengan 30 pedagang bakso keliling.

LWK adalah rangkaian dari proses seleksi para calon mitra yang  akan tergabung dalam program PTM 6. Dari tahapan  wawancara, pengisian SKM, kelengkapan administrasi  dan LWK. Tujuannya untuk lebih memahamkan kepada calon mitra pedagang tujuan program PTM, output, kegiatan-kegiatan, maupun inputnya, sehingga calon mitra memahami dan bisa bekerjasama dengan baik sehingga cita-cita besar program bisa berjalan sesuai  dengan perencanaan.

LWK dihadiri Sekcam Jagakarsa, Mundari, Eva Silvia (Kasi Ekbanglit), dan 21  mitra pedagang  bakso calon mitra baru program PTM. Mundari menyambut baik program PTM ini dan berpesan kepada calon mitra, “Benar – benar mengikuti semua kegiatan yang ada di program, dijaga kualitas dan yang terpenting juga jangan berjualan di tempat – tempat yang tidak dibolehkan seperti di atas trotoar.” (STN)

Peternak Kendal, jadi Suplier Kurban Nasional

Kendal (9/4). 13 peternak Kendal yang tergabung dalam binaan yayasan Nurul Ummah Kendal merupakan suplier program qurban Dompet Dhuafa.Dompet Dhuafa sendiri merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional yang sudah terdaftar di Kementerian Agama RI.  “Ini merupakan kebanggaan tersendiri, karena dari 35 kabupaten se Jawa Tengah, hanya sekitar 5 kabupaten yang menjadi mitra qurban melalui lembaga mitra yang sudah kerjasama’’ terang Arif Fajar Hidayat selaku Koordinator program Mitra.

Kerjasama suplier program qurban Dompet Dhuafa , dituangkan dalam MoU antara Yayasan Nurul Ummah kendal selaku mitra pemberdayaan dengan Masyarakat Karya Mandiri  selaku vendor suplier program qurban Dompet Dhufa. “Pada tahap awal sudah diakadkan pengadaan qurban sebanyak 115 ekor tambah Arif. Nantiny vendor KMM merupakan satu-satunya penyuplai hewan kurban Dompet Dhuafa. “Jumlah hewan yang diakadkan, jelas sudah langsung terbeli selama sesuai spesifikasi yang sudah diakadkan” terang Arif.

Program Qurban yang digagas oleh Dompet Dhuafa bernama Tebar Hewan Kurban. Program ini merupakan kombinasi antara pemberdayaan dan distribusi hewan kurban di wilayah mitra. “jadi mitra pemberdayaan mendapat amanah untuk memberdayakan peternak lokal untuk supply hewan ternak dan juga mendistribusikannya.” Jelas Arif.

Untuk pemberdayaan peternak sendiri tersebar di 4 kandang di wilayah yang berbeda, yaitu di desa Gonoharjo Kecamatan Limbangan, Desa Kebonharjo Kecamatan Patebon, Desa Sukorejo Kecamatan Sukorejo dan Desa gedong Kecamatan Patean. Adapun jenis hewan yang dipelihara adalah domba dengan 2 spesifikasi. Yaitu domba standar dengan bobot minimal 25-29 kg dan domba premium dengan bobot 30 kg ketas.selain syarat bobot, hewan ternak harus jantan, sehat,tidak cacat, cukup umur dan bebas dari penyakit. Untuk memastikan kondisi hewan ternaknya secara reguler diadakan monitoring hewan ternak langsung darikantor Dompet Dhuafa Pusat.

Program pemberdayaan qurban ini langsung bisa dirasakan manfaatnya. Hal ini dikarenakan peternak yang terlibat dalam program ini akan didampingi dan diberikan pengetahuan manajemen ternak modern. “Kalau tidak mengkuti program pendampingan yang dilakukan, peternak tidak boleh ikut program pemberdayaannnya. Karena Standar Operasional Prosedur sudah ada dan harus dilakukan untuk mengejar spesifikasi yang ada” jelas Arif. Selain itu, dengan mekanisme ini juga menguntungkan para peternak. Harga jual yang ditawarkan juga menguntungkan peternak, karena dihargai dengan harga tinggi. Hal ini terjadi karena program qurban ini bisa memangkas alur distribusi dan langsung mempertemukan peternak dan pembeli dalam jumlah besar.

Untuk distribusi hewan qurban, program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa ini juga sangat menarik. Meskipun dibeli oleh Lembaga Nasional, tetapi untuk pendisribusiannya diamanahkan ke mitra. Dari 115 ekor domba yang dipelihara telah dialokasikan untuk didistribusikan ke beberapa wilayah di Kabupaten Batang, Kabupaten Pemalang dan KabupatenKendal. Adapu kriteria wilayah yang mendapat distribusi hewan qurban, adalah wilayah prioritas yaitu daerah miskin, tertinggal, pedalaman, daerah belum/tidak ada hewan kurban, daerah bencana alam dan tragedi sosial lainnya. Selain daerah prioritas distribusi juga dilakukan untuk  panti jompo, panti asuhan dan masjid-masjid, pesantren dan majelis taklim.

Sementara itu menurut Hasan Isnaeni (46 tahun) salah satu peternak binaan selama 6 tahun mengungkapkan bahwa dirinya dan kelompoknya selain mendapatkan keuntungan ekonomi juga mendapat manfaat lainnya. Diantaranya peningkatan ilmu beternak, jaringan yang bertambah luas dan yang paling penting bisa berbagi sesama. “Selain diamanahi sebagai peternak, juga diamanahi sebar hewan di daerahya sendiri. Sekarang berkat program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa, bisa memancing warganya untuk berkurban selama idul adha” tambah Hasan. (KMM/Arif/Hasan)

Geliat Payung Lukis yang Kian Eksis

Millenium baru menjadi cerita getir pengrajin payung Lukis di Juwiring Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, Payung Lukis yang dulu menjadi kebanggaan dan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat lambat laun mulai terkikis. Hingga 2 tahun yang lalu pengrajin payung lukis tinggal 11 orang yang usaianya pun sudah tidak muda lagi. Mereka bertahan semata, supaya budaya payung lukis ini tetap eksis menjadi kebanggaan.

(Baca juga : Ngadi : “Kami Merasa Seperti Yatim Piatu”)

Namun kini, kondisi tersebut pelan-pelan mulai berubah. Pengrajin payung lukis di Juwiring mulai menggeliat. Tekad dan keuletan mereka selama ini mulai membuahkan hasil.  Pesanan payung mulai kembali berdatangan dan beberapa kali mendapat kunjungan dari berbagai instansi. Tahun 2016 produksi payung lukis meningkat dari 2.244 unit menjadi 4.770 unit atau meningkat 113 %. Peningkatan produksi tentu berimbas pada kenaikan omset dari Rp. 75. 500.000 di akhir 2015 menjadi Rp. 247.622.500 di akhir tahun 2016 atau meningkat 69,5 %. Jumlah Pengrajin payung lukis pun sudah mulai bertambah menjadi 25 orang.

Pengrajin payung Lukis melalui Kelompok Ngudi Rahayu juga memperluas jangkauan pasar dengan membuka spot-spot penjualan  bekerjasama dengan toko dan galeri, seperti took cindera mata di alun-alun solo, Toko Mulyo di Jogja dan Jogja Yanis Gallery. Selain itu Kelompok Ngudi Rahayu juga menjalin kerjasama dengan Solo Mataya art and Heritage (even organizer festival Solo), Stupa Indonesia Jogja dan menjadi suplay tetap payung untuk Keraton Yogyakarta. Ngudi Rahayu juga mendapat pesanan  payung untuk festival payung di Thailand. Perubahan teknologi dan pola marketing juga tidak diabaikan oleh kelompok. Saat ini mereka sedang menyusun strategi untuk memperluas pasar melalui marketing online.

Untuk lebih mengenalkan payung lukis kepada generasi muda, Ngudi Rahayu membuka program Eduwisata. EduWisata ini didasari karena semakin banyaknya orang yang tertarik dalam kegiatan melukis payung, khsususnya lembaga-lembaga pendidikan. Kegiatan Eduwisata tidak sekedar berkunjung, namun pengunjung juga diajarkan tentang tatacara membuat payung lukis. Eduwisata cukup diminati didunia pendidikan, beberapa Sekolah disekitar Klaten sudah mulai berkunjung seperti SD Kanisius-Klaten, menerima kegiatan studi eskursi 14 siswa dari SMA Kolese De Britto-Klaten serta mendapat kunjungan dari wisatawan lainnya.

(Baca juga : Lecut Semangat Pemuda Klaten, Lestarikan Kerajinan Payung Lukis)

 

Kelompok Ngudi Rahayu merupakan kelompok yang diinisiasi oleh Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai pelaksana Program Pemberdayaan Payung Lukis Juwiring yang merupakan Program kerjasama antara Dompet Dhuafa dengan Asuransi Astra Syariah. Program pemberdayaan payung dimulai pada akhir 2015 dan direncanakan selama 2 tahun. Adapun tujuan program adalah mempertahankan eksistensi kerajinan payung lukis sebagai sumber pendapatan dari sektor ekonomi kreatif dan memunculkan usaha baru berbasis komunitas yang mendorong kesejahteraan masyarakat. KMM sendiri merupakan organ Dompet Dhuafa yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat.

Perubahan yang terjadi para pengrajin Payung Lukis tidak begitu saja terjadi. Pemberdayaan yang dilakukan memberikan beberapa pelatihan dan pendampingan secara intensif. Pendampingan dilakukan oleh seorang pendamping lapangan yang bertugas membimbing, mengarahkan dan membuka jaringan untuk akses pemasaran produk kelompok. Model pendampingan efektif merupakan metode yang efektif dalam proses pemberdayaan.

Pemberdayaan masyarakat memberikan solusi untuk peningkatan kesejahteraan jika dilakukan dengan serius dan dengan indikator keberhasilan yang terukur. Karena pada hakekatnya Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi. (SM/KMM)

KMM Presentasikan Program Kerang Hijau di ISEA

Merupakan sebuah kehormatan, Karya Masyarakat Mandiri (KMM) mendapatkan undangan untuk menghadiri Konferensi Pemberdayan Ekonomi Perempuan dan Social Enterprise Tingkat Regional ASEAN yang diselenggarakan oleh ISEA (Institut for Social Enterpreneurship in Asia) bekerja sama dengan Pemerintah Swedia dan Oxfam. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 19 April sampai dengan 22 April 2017 bertempat di AIM Conference Center Makati City Philipina.

Tema yang diangkat dalam konferensi yang baru diadakan pertama kali ini adalah Mempromosikan Kemitraan Yang Tranformasional dan Pemberdayan Perempuan pada Rantai Nilai Kegiatan Pertanian di ASEAN. Konferensi ini merupakan bagian dari inisiatif Mempromosikan Social Enterprise (PROSE/Promoting Social Enterprise)  sebagai bagian dari proyek besar berjudul Transformative Gender dan Investasi Pertanian Yang Bertanggung Jawab di Asia Tenggara.

Proyek ini diprakarsai oleh Oxfam dengan dukungan dari Pemerintah Swedia (SIDA) Sebagai bagian dari program PROSE-GRAISEA  (Promoting Social Enterprise Gender Transformative and Responsible Agrucultural Investment in Southeast Asia).  ISEA bermitra dengan beberapa LSM di 4 negara yakni Bina Swadaya dan Dompet Dhuafa (Indonesia), Center for Social Innovation Promotion (Vietnam) dan Change Fusion (Thailand).

Selain menjadi peserta, KMM juga memprentasikan praktik baik yang dilakukan pada program pemberdayaan ekonomi perempuan. Dari rapid appraisal yang dilakukan program pemberdayaan perempuan pengupas kerang hijau di Kasemen, Serang, Banten. KMM memberikan penjelasan  kepada 60 audiens dari 4 negara tentang bagaimana proses yang berlangsung pada Program Pemberdayaan Pengupas Kerang Hijau di Kasemen yang menyasar kepada 30 penerima manfaat perempuan.

Beberapa poin yang disampaikan adalah bagaimana strategi pencapaian indikator peningkatan pendapatan penerima manfaat hingga mencapai 1.5 Upah Minimum Kabupaten (UMK)  Kota Serang dan Bagaimana dampak yang terjadi pada penerima manfaat setelah diintervensi oleh program dan bagaimana mengukur dampak tersebut. Selain itu juga disampaikan tentang apa yang menjadi faktor kritikal baik internal maupun eksternal, positif maupun negatif yang mempengaruhi keberhasilan program serta apa yang menjadi tantangan utama pada program tersebut.

Keikutsertaan KMM dalan kegiatan konferensi tersebut tentunya diharapkan membawa banyak manfaat bagi lembaga maupun bagi komunitas dampingan. Sejalan dengan tujuan umum dari kegiatan konferensi ini adalah membangun platform yang para pemangku pihak di ASEAN untuk mempromosikan intervensi dan investasi rantai nilai pertanian yang akan membawa perubahan dan memberdayakan laki2 dan perempuan sebagai pelaku usaha sebagai bentuk kontribusi untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan (SDGs).
(Dessy Sonya)

Sekarang Mereka Membayar Zakat

Kampung Rujak Beling, kampung kumuh yang terletak di pesisir banten yang masih termasuk wilayah Kota Serang. Memasuki kampung rujak beling, tampak rumah-rumah kayu berjajar dan perahu nelayan yang bersandar di tepi sungai. Mayoritas penduduk rujak beling adalah nelayan dan pengupas kerang hijau. Rujak Beling yang masih masuk Kecamatan Kasemen ini merupakan salah satu kampung yang tergolong miskin. Ini yang melandasi Dompet Dhuafa menginisiasi program pemberdayaan di Rujak Beling setelah dilakukan survey pendalaman. Program yang bertajuk Mustahik Move to Muzakki (M3) digulirkan tahun 2013 dengan sasaran 37 pengupas kerang yang tergabung dalam ISM Sinar Abadi. Program ini melibatkan Karya Masyarakat Mandiri (KMM) dalam pelaksanaannya. Program M3 menargetkan peningkatan pendapatan penerima manfaat sebesar 1,5 kali UMK.

Pengupas kerang dijadiakan sasaran penerima manfaat karena pendapatan tenaga pengupas tidaklah banyak. Dalam sehari mereka hanya Rp. 16.000,- yang berarti pendapatan mereka dalam sebulan berkisar Rp. 480.000,- , itupun jika pasokan kerang dari bagan banyak. Jika pasokan kerang sedikit pendapatan mereka juga ikut berkurang. Belum jika ada bagan yang rusak karena tersapu angin pasokan akan lebih sedikit lagi. Penurunan pendapatan namun kebutuhan tetap membuat mereka terjerumus kedalam sistem rente untuk memenuhi kebutuhannya.

(Baca juga : Rentenir yang Kian Terpinggir)

Itu dulu, kini kondisi telah berangsur-angsur mulai membaik. Program Pemberdayaan M3 yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa memberikan dampak positif terhadap pendapatan para pengupas kerang. Para pengupas kerang di berikan bantuan produktif berupa bagan, ini diharapkan selain mendapatkan pendapatan dari mengupas kerang juga mendapatkan hasil panen kerang dari bagan yang mereka kelola. Mereka juga tidak ter kawatir lagi akan pasokan kerang, karena pasokan kerang hijau melimpah.
Selain mendapatkan bantuan mereka juga mendapat pendampingan dan pelatihan tentang tatacara pengelolaan koperasi. “Kami dulu di bantu oleh Dompet Dhuafa berupa bagan, Alhamdulillah sekarang hasil yang dapatkan terus meningkat. Selain bantuan kami juga diberikan pendampingan tentang usaha dan pelatihan tentangn tatacara pengelolaan koperasi yang benar” ungkap Wasti, Ketua Koperasi ISM SInar Abadi

(Baca juga : Kini Satem Bisa Merehap Rumahnya).

Kini mereka karena sudah mampu membayar zakat. Zakat tersebut mereka salurkan melalui Dompet Dhuafa Cabang Banten secara kolektif lewat Koperasi ISM Sinar Abadi senilai Rp. 4.117.000,-. Penyerahan dilakukan bersamaan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2016 yang serahkan langsung kepada pimpinan DD Banten pada kamis 30/03/2017 di Rujak Beling. Zakat tersebut merupakan wujud rasa syukur wasti dan anggota koperasi lainnya atas Sisa Hasil Usaha (SHU) yang mencapai Rp. 30 juta. Selain membayar zakat Koperasi juga menyisihkan Rp. 1.999.800 ,- untuk pembangunan kantor desa setempat.
(SM/KMM)

KMM Latih 50 Pedagang Bakso

Jakarta – Karya Masyarakat Mandiri melakukan pelatihan keamanan pangan kepada 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Aula Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan Kamis (09/03). Ini merupakan bagian dari program pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa (DD) dan PT Miwon Indonesia (Miwon). Nama Program ini adalah Pedagang Tangguh Miwon (PTM) yang menyasar pedagang-pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Pelatihan menghadirkan dari Sub Dinas Kesehatan Jakarta selatan dan Puskesmas Pasar Minggu. Pada pelatihan kali ini juga dilakukan pengujian terhadap bakso yang dijual para pedagang bakso. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman arti penting menjual bakso yang sehat dan aman. Setelah pelatihan akan ditindaklanjuti  pendampingan bersama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.

Selain keamanan pangan juga di berikan pelatihan pembuatan bakso sehat. Pelatihan menggunakan bahan baku yang diijinkan oleh Badan POM dan halal. Pelatihan dilakukan dengan praktek langsung oleh para pedagang agar pedagang faham setiap proses pembuatan bakso yang sehat. Pelatihan ini juga diperkenalkan beberapa Bahan Tambahan Pangan yang boleh dan tidak boleh dalam pembuatan bakso.

Siapa yang tidak mengenal bakso, makanan khas dengan berjuta penikmat. Bakso berbentuk bulat terbuat dari daging sapi atau ayam disajikan dengan mie, sayur dan kuah kaldu dengan bumbu rempah sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Pedagang bakso mulai banyak bermunculan baik di desa dan di kota, apalagi di Jakarta. Hampir di setiap sudut jalanan ibukota ada penual bakso baik yang mankal maupun keliling. Hal ini menimbulkan persaingan ketat yang membuat beberapa pedagang bakso memilih jalan pintas dengan menggunakan bahan haram d alam baksonya demi mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Jalan pintas yang jelas sangat merugikan penikmat bakso. Mulai dari isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya seperti borak, formalin hingga penggunakan daging tikus dan babi.  Isu yang meresahkan, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Tidak hanya konsumen yang dirugikan namun pedagang bakso yang lain pun juga ikut dirugikan.

Fenomena yang hampir setiap tahun berulang, walaupun pemerintah sudah sering memberikan penyuluhan sampai melakukan razia. Penyadaran menjadi penting, penyadaran yag tidak hanya di dapatkan dari penyuluhan sehari dua hari. Proses penyadaran harus dilakukan secara berkesinambungan, Dompet Dhuafa memilih jalan pemberdayaan untuk penyadaran dengan memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan secara kontinyu. Pemberdayaan dengan pendampingan adalah jalannya. (SM/KMM)

Saburai, Primadona dari Tanggamus

Saburai nama yang masih asing bagi kabanyakan peternak di Indonesia. Saburai adalah jenis kambing baru hasil persilangan antara Peranakan Ettawa (PE) dengan Kambing Boer. Saburai dihasilkan dari metode inseminasi buatan yang dilakukan oleh inseminator di Kecamatan Gisting, Tanggamus pada tahun 2000.  Kambing ini mempunyai perawakan tinggi dan gemuk, ini merupakan bentuk turunan dari kambing PE yang tinggi dan Kambing Boer yang gemuk. Kambing saburai mempunayi bobot lahir rata-rata 2.5-3.5 Kg dan bias mencapai bobot 60 Kg ketika mencapai umur satu tahun.

Kambing Saburai juga memberikan keuntungan lebih di banding kambing kacang maupun kambing PE. Banyaknya kandungan daging yang membuat harganya melejit melewati harga tetuanya. Usia 8- 10 bulan, bobot kambing saburai bias mencapai 45 kg dengan nilai jual mencapai 1 juta rupiah. Hal inilah yang membuatnya lebih di senangi oleh para peternak di Lampung.

Perkembangan kambing saburai yang menggembirakan mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Lampung. Kambing Saburai telah di akui secara nasional debagai rumpun baru di indoensia. Ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertainian No. 359/Kpts/PK.040/6/2015 tanggal 08 Juni 2015. Berkat itu pula Pemerintah Propinsi Lampung mendapat penghargaan Budhipura” dari Kementerian Riset dan Teknologi, ini sebagai bukti pengakuan bahwa kambing saburai sebagai hasil inovasi bidang pertanian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dukungan terhadap pengembangan kambing Saburai juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang menelurkan program Pemberdayaan Peternak Dalam Rangka Pengembangan Klaster Kambing Saburai di Kabupaten Tanggamus. Program ini lebih menekankan pada pada penguatan kelembagaan, aplikasi teknologi budidaya hingga merode marketing. Program ini memberikan pendampingan kepada  8 kelompok ternak di tiga (3) kecamatan yaitu Kec. Gisting, Kec. Sumber Rejo dan Kota agung. Populasi ternak kelompok dampingan ssat ini mencapai 2.515 ekor dari 176 anggota.

Secara kelembagaan telah di bentuk Koperasi Peternak Saburai yang di bentuk bersama asponak (Asosiasi Kelompok Peternak). Asponak sendiri merupakan asosiasi yang di bentuk atas fasilitas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selain kelembagaan, program pemberdayaan ini juga memberikan pelatihan aplikatif penerapan teknologi di bidang budidaya seperti pelatihan pengolahan hasil ternak, pakan, dan pelatihan kewirausahaan. dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, BI Bekerja sama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM). Kerjasama dengan antara BI dan KMM sudah berjalan selama 4 tahun di Berbagai daerah di Lampung. KMM sendiri merupakan Corporate Enterprise yang bergerak di bidang pemberdayaan.

 (SM/KMM)

Temu Mitra, Ikhtiar Sukseskan THK

Tebar Hewan Kurban (THK), program yang di inisiasi oleh Dompet Dhuafa untuk memudahkan para pekurban dalam menunaikan kurbannya. Program THK tahun 2016 menyalurkan 13.000 ekor hewan kurban ke wilayah-wilayah pelosok dan rawan pangan di Indonesia. Jauh-jauh hari persiapan dilakukan agar pelaksanaan THK lebih baik, salah satunya dengan mengadakan pertemuan mitra peternak dari seluruh Indonesia.

Pertemuan mitra dilakukan selama 3 hari mulai tanggal 8 hingga 10 Februari 2017 di Hotel Quins Colombo, Kalasan, Propinsi Yogyakarta. Pertemuan di hadiri 85 mitra peternak dari seluruh Indonesia. Mitra-mitra tersebut merupakan mitra peternak program-program pemberdayaan bidang peternakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertemuan mitra dimaksudkan untuk menyamakan persepsi dan mensosialisasikan kebijakan terkait THK. Menjadi mitra THK berarti siap menerima sebuah amanah yang besar, karena THK tidak hanya berorientasi bisnis. MItra bertanggung jawab mulai dari penerimaan hingga penyaluran. Mitra memegang amanah untuk menyampaikan hewan kurban kepada yang berhak menerima, mitra juga ‘harus’ memastikan hewan yang disembelih juga sah secara syar’i.

Program THK dirasakan sangat membantu mitra dalam pemesaran ternak-ternak mereka. Mereka tidak lagi khawatir ternaknya tidak laku di jual, karena ternak-ternak mereka ‘dijualkan’ oleh Dompet Dhuafa. Program THK juga diharapkan mampu mendongkrak pendapatan mitra-mitra pemberdayaan.