Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Program Pemberdayaan

Geliat Payung Lukis yang Kian Eksis

Millenium baru menjadi cerita getir pengrajin payung Lukis di Juwiring Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bagaimana tidak, Payung Lukis yang dulu menjadi kebanggaan dan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat lambat laun mulai terkikis. Hingga 2 tahun yang lalu pengrajin payung lukis tinggal 11 orang yang usaianya pun sudah tidak muda lagi. Mereka bertahan semata, supaya budaya payung lukis ini tetap eksis menjadi kebanggaan.

(Baca juga : Ngadi : “Kami Merasa Seperti Yatim Piatu”)

Namun kini, kondisi tersebut pelan-pelan mulai berubah. Pengrajin payung lukis di Juwiring mulai menggeliat. Tekad dan keuletan mereka selama ini mulai membuahkan hasil.  Pesanan payung mulai kembali berdatangan dan beberapa kali mendapat kunjungan dari berbagai instansi. Tahun 2016 produksi payung lukis meningkat dari 2.244 unit menjadi 4.770 unit atau meningkat 113 %. Peningkatan produksi tentu berimbas pada kenaikan omset dari Rp. 75. 500.000 di akhir 2015 menjadi Rp. 247.622.500 di akhir tahun 2016 atau meningkat 69,5 %. Jumlah Pengrajin payung lukis pun sudah mulai bertambah menjadi 25 orang.

Pengrajin payung Lukis melalui Kelompok Ngudi Rahayu juga memperluas jangkauan pasar dengan membuka spot-spot penjualan  bekerjasama dengan toko dan galeri, seperti took cindera mata di alun-alun solo, Toko Mulyo di Jogja dan Jogja Yanis Gallery. Selain itu Kelompok Ngudi Rahayu juga menjalin kerjasama dengan Solo Mataya art and Heritage (even organizer festival Solo), Stupa Indonesia Jogja dan menjadi suplay tetap payung untuk Keraton Yogyakarta. Ngudi Rahayu juga mendapat pesanan  payung untuk festival payung di Thailand. Perubahan teknologi dan pola marketing juga tidak diabaikan oleh kelompok. Saat ini mereka sedang menyusun strategi untuk memperluas pasar melalui marketing online.

Untuk lebih mengenalkan payung lukis kepada generasi muda, Ngudi Rahayu membuka program Eduwisata. EduWisata ini didasari karena semakin banyaknya orang yang tertarik dalam kegiatan melukis payung, khsususnya lembaga-lembaga pendidikan. Kegiatan Eduwisata tidak sekedar berkunjung, namun pengunjung juga diajarkan tentang tatacara membuat payung lukis. Eduwisata cukup diminati didunia pendidikan, beberapa Sekolah disekitar Klaten sudah mulai berkunjung seperti SD Kanisius-Klaten, menerima kegiatan studi eskursi 14 siswa dari SMA Kolese De Britto-Klaten serta mendapat kunjungan dari wisatawan lainnya.

(Baca juga : Lecut Semangat Pemuda Klaten, Lestarikan Kerajinan Payung Lukis)

 

Kelompok Ngudi Rahayu merupakan kelompok yang diinisiasi oleh Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai pelaksana Program Pemberdayaan Payung Lukis Juwiring yang merupakan Program kerjasama antara Dompet Dhuafa dengan Asuransi Astra Syariah. Program pemberdayaan payung dimulai pada akhir 2015 dan direncanakan selama 2 tahun. Adapun tujuan program adalah mempertahankan eksistensi kerajinan payung lukis sebagai sumber pendapatan dari sektor ekonomi kreatif dan memunculkan usaha baru berbasis komunitas yang mendorong kesejahteraan masyarakat. KMM sendiri merupakan organ Dompet Dhuafa yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat.

Perubahan yang terjadi para pengrajin Payung Lukis tidak begitu saja terjadi. Pemberdayaan yang dilakukan memberikan beberapa pelatihan dan pendampingan secara intensif. Pendampingan dilakukan oleh seorang pendamping lapangan yang bertugas membimbing, mengarahkan dan membuka jaringan untuk akses pemasaran produk kelompok. Model pendampingan efektif merupakan metode yang efektif dalam proses pemberdayaan.

Pemberdayaan masyarakat memberikan solusi untuk peningkatan kesejahteraan jika dilakukan dengan serius dan dengan indikator keberhasilan yang terukur. Karena pada hakekatnya Pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi. (SM/KMM)

Sekarang Mereka Membayar Zakat

Kampung Rujak Beling, kampung kumuh yang terletak di pesisir banten yang masih termasuk wilayah Kota Serang. Memasuki kampung rujak beling, tampak rumah-rumah kayu berjajar dan perahu nelayan yang bersandar di tepi sungai. Mayoritas penduduk rujak beling adalah nelayan dan pengupas kerang hijau. Rujak Beling yang masih masuk Kecamatan Kasemen ini merupakan salah satu kampung yang tergolong miskin. Ini yang melandasi Dompet Dhuafa menginisiasi program pemberdayaan di Rujak Beling setelah dilakukan survey pendalaman. Program yang bertajuk Mustahik Move to Muzakki (M3) digulirkan tahun 2013 dengan sasaran 37 pengupas kerang yang tergabung dalam ISM Sinar Abadi. Program ini melibatkan Karya Masyarakat Mandiri (KMM) dalam pelaksanaannya. Program M3 menargetkan peningkatan pendapatan penerima manfaat sebesar 1,5 kali UMK.

Pengupas kerang dijadiakan sasaran penerima manfaat karena pendapatan tenaga pengupas tidaklah banyak. Dalam sehari mereka hanya Rp. 16.000,- yang berarti pendapatan mereka dalam sebulan berkisar Rp. 480.000,- , itupun jika pasokan kerang dari bagan banyak. Jika pasokan kerang sedikit pendapatan mereka juga ikut berkurang. Belum jika ada bagan yang rusak karena tersapu angin pasokan akan lebih sedikit lagi. Penurunan pendapatan namun kebutuhan tetap membuat mereka terjerumus kedalam sistem rente untuk memenuhi kebutuhannya.

(Baca juga : Rentenir yang Kian Terpinggir)

Itu dulu, kini kondisi telah berangsur-angsur mulai membaik. Program Pemberdayaan M3 yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa memberikan dampak positif terhadap pendapatan para pengupas kerang. Para pengupas kerang di berikan bantuan produktif berupa bagan, ini diharapkan selain mendapatkan pendapatan dari mengupas kerang juga mendapatkan hasil panen kerang dari bagan yang mereka kelola. Mereka juga tidak ter kawatir lagi akan pasokan kerang, karena pasokan kerang hijau melimpah.
Selain mendapatkan bantuan mereka juga mendapat pendampingan dan pelatihan tentang tatacara pengelolaan koperasi. “Kami dulu di bantu oleh Dompet Dhuafa berupa bagan, Alhamdulillah sekarang hasil yang dapatkan terus meningkat. Selain bantuan kami juga diberikan pendampingan tentang usaha dan pelatihan tentangn tatacara pengelolaan koperasi yang benar” ungkap Wasti, Ketua Koperasi ISM SInar Abadi

(Baca juga : Kini Satem Bisa Merehap Rumahnya).

Kini mereka karena sudah mampu membayar zakat. Zakat tersebut mereka salurkan melalui Dompet Dhuafa Cabang Banten secara kolektif lewat Koperasi ISM Sinar Abadi senilai Rp. 4.117.000,-. Penyerahan dilakukan bersamaan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2016 yang serahkan langsung kepada pimpinan DD Banten pada kamis 30/03/2017 di Rujak Beling. Zakat tersebut merupakan wujud rasa syukur wasti dan anggota koperasi lainnya atas Sisa Hasil Usaha (SHU) yang mencapai Rp. 30 juta. Selain membayar zakat Koperasi juga menyisihkan Rp. 1.999.800 ,- untuk pembangunan kantor desa setempat.
(SM/KMM)

KMM Latih 50 Pedagang Bakso

Jakarta – Karya Masyarakat Mandiri melakukan pelatihan keamanan pangan kepada 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Aula Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan Kamis (09/03). Ini merupakan bagian dari program pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa (DD) dan PT Miwon Indonesia (Miwon). Nama Program ini adalah Pedagang Tangguh Miwon (PTM) yang menyasar pedagang-pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Pelatihan menghadirkan dari Sub Dinas Kesehatan Jakarta selatan dan Puskesmas Pasar Minggu. Pada pelatihan kali ini juga dilakukan pengujian terhadap bakso yang dijual para pedagang bakso. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman arti penting menjual bakso yang sehat dan aman. Setelah pelatihan akan ditindaklanjuti  pendampingan bersama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.

Selain keamanan pangan juga di berikan pelatihan pembuatan bakso sehat. Pelatihan menggunakan bahan baku yang diijinkan oleh Badan POM dan halal. Pelatihan dilakukan dengan praktek langsung oleh para pedagang agar pedagang faham setiap proses pembuatan bakso yang sehat. Pelatihan ini juga diperkenalkan beberapa Bahan Tambahan Pangan yang boleh dan tidak boleh dalam pembuatan bakso.

Siapa yang tidak mengenal bakso, makanan khas dengan berjuta penikmat. Bakso berbentuk bulat terbuat dari daging sapi atau ayam disajikan dengan mie, sayur dan kuah kaldu dengan bumbu rempah sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Pedagang bakso mulai banyak bermunculan baik di desa dan di kota, apalagi di Jakarta. Hampir di setiap sudut jalanan ibukota ada penual bakso baik yang mankal maupun keliling. Hal ini menimbulkan persaingan ketat yang membuat beberapa pedagang bakso memilih jalan pintas dengan menggunakan bahan haram d alam baksonya demi mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Jalan pintas yang jelas sangat merugikan penikmat bakso. Mulai dari isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya seperti borak, formalin hingga penggunakan daging tikus dan babi.  Isu yang meresahkan, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Tidak hanya konsumen yang dirugikan namun pedagang bakso yang lain pun juga ikut dirugikan.

Fenomena yang hampir setiap tahun berulang, walaupun pemerintah sudah sering memberikan penyuluhan sampai melakukan razia. Penyadaran menjadi penting, penyadaran yag tidak hanya di dapatkan dari penyuluhan sehari dua hari. Proses penyadaran harus dilakukan secara berkesinambungan, Dompet Dhuafa memilih jalan pemberdayaan untuk penyadaran dengan memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan secara kontinyu. Pemberdayaan dengan pendampingan adalah jalannya. (SM/KMM)

Saburai, Primadona dari Tanggamus

Saburai nama yang masih asing bagi kabanyakan peternak di Indonesia. Saburai adalah jenis kambing baru hasil persilangan antara Peranakan Ettawa (PE) dengan Kambing Boer. Saburai dihasilkan dari metode inseminasi buatan yang dilakukan oleh inseminator di Kecamatan Gisting, Tanggamus pada tahun 2000.  Kambing ini mempunyai perawakan tinggi dan gemuk, ini merupakan bentuk turunan dari kambing PE yang tinggi dan Kambing Boer yang gemuk. Kambing saburai mempunayi bobot lahir rata-rata 2.5-3.5 Kg dan bias mencapai bobot 60 Kg ketika mencapai umur satu tahun.

Kambing Saburai juga memberikan keuntungan lebih di banding kambing kacang maupun kambing PE. Banyaknya kandungan daging yang membuat harganya melejit melewati harga tetuanya. Usia 8- 10 bulan, bobot kambing saburai bias mencapai 45 kg dengan nilai jual mencapai 1 juta rupiah. Hal inilah yang membuatnya lebih di senangi oleh para peternak di Lampung.

Perkembangan kambing saburai yang menggembirakan mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Lampung. Kambing Saburai telah di akui secara nasional debagai rumpun baru di indoensia. Ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertainian No. 359/Kpts/PK.040/6/2015 tanggal 08 Juni 2015. Berkat itu pula Pemerintah Propinsi Lampung mendapat penghargaan Budhipura” dari Kementerian Riset dan Teknologi, ini sebagai bukti pengakuan bahwa kambing saburai sebagai hasil inovasi bidang pertanian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dukungan terhadap pengembangan kambing Saburai juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang menelurkan program Pemberdayaan Peternak Dalam Rangka Pengembangan Klaster Kambing Saburai di Kabupaten Tanggamus. Program ini lebih menekankan pada pada penguatan kelembagaan, aplikasi teknologi budidaya hingga merode marketing. Program ini memberikan pendampingan kepada  8 kelompok ternak di tiga (3) kecamatan yaitu Kec. Gisting, Kec. Sumber Rejo dan Kota agung. Populasi ternak kelompok dampingan ssat ini mencapai 2.515 ekor dari 176 anggota.

Secara kelembagaan telah di bentuk Koperasi Peternak Saburai yang di bentuk bersama asponak (Asosiasi Kelompok Peternak). Asponak sendiri merupakan asosiasi yang di bentuk atas fasilitas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selain kelembagaan, program pemberdayaan ini juga memberikan pelatihan aplikatif penerapan teknologi di bidang budidaya seperti pelatihan pengolahan hasil ternak, pakan, dan pelatihan kewirausahaan. dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, BI Bekerja sama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM). Kerjasama dengan antara BI dan KMM sudah berjalan selama 4 tahun di Berbagai daerah di Lampung. KMM sendiri merupakan Corporate Enterprise yang bergerak di bidang pemberdayaan.

 (SM/KMM)

rat-koperasi-pandeglang

Koperasi Sarendeg Saigeul yang Mandiri dan Profesional

PANDEGLANG – Koperasi Sarendeg Saigeul melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tutup buku 2016 di balai pertemuan petani Kp. Turalak Desa Ramea Kec. Mandalawangi Kab. Pandeglang, Rabu (11/01/2017).

RAT pertama dilaksanakan pada tahun tutup buku 2016, dengan berkomitmen menjadikan Koperasi Sarendeg Saigeul yang mandiri dan profesional. RAT membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan yang lama dihadiri 60 orang anggota terdiri dari 50 orang perwakilan anggota kelompok dan sisanya pengurus, pengawas, dan manajer koperasi.

Hadir dalam acara tersebut unsur dari aparat pemerintahan Desa Ramea dan pendamping program Community Farming Dompet Dhuafa, Wahyudin. Dalam sambutanya mengatakan, Koperasi Sarendeg Saigeul harus giat berinovasi dalam mengembangkan bisnis yang berkaitan dengan pertanian maupun dengan pihak luar, banyak prospek bisnis yang bisa dikembangkan seperti yang sudah dilaksanakan. Seperti jual beli hasil bumi, penjualan beras merah, penjualan saprotan dan lain-lain.

Dalam RAT muncul pertanyaan, usulan, dan kritik dari anggota, meskipun begitu tetap dalam suasana saling menghormati. Berbagai masalah yang dikemukakan anggota tentunya untuk meningkatkan kinerja koperasi sesuai semboyan nama koperasi yaitu Sarendeg Saigeul yang artinya susah senang selalu bersama-sama dalam mencapai tujuan. [WYD/DIK]

Launching Pedagang Tangguh Miwon 5

JAKARTA. Kerjasama antara PT. Miwon Indonesia dengan Dompet Dhuafa untuk memberdayakan pedagang Bakso kembali berlanjut. Pemberdayaan sudah dilakukan untuk yang ke 5 kalinya. Program yang Bertajuk Pedagang Tangguh Miwon 5 ini dilaunching berbarengan dengan Ulang tahun miwon ke 43. Acara Launching dilakukan di Kantor PT. Miwon Indonesia tepatnya di Pulo Gadung, Jakarta Timur pada hari Kamis (09/11). Acara ini dihadiri oleh Presiden PT. Miwon Indonesia, Kim Du Rean dan Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A. Said.

Kim Du Rean menyatakan bahwa PT. Miwon Indonesia tetap berkomitmen untuk menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu masyarakat ekonomi lemah dengan program-program CSRnya. Salah satunya adalah pemberdayaan Pedagang Tangguh Miwon yang sudah dilakukan selama 5 tahun. “Kami (PT. Miwon Indonesia) berharap Para Pedagang Tangguh Miwon yang telah mengikuti program ini dapat meningkat kesejahteraannya” lanjut Kim, dalam sambutannya.

PT. Miwon Indonesia menggandeng Dompet Dhuafa sebagai partner dalam melaksanakan program pemberdayaan ini karena dinilai sudah berpengalaman dalam memberdayakan masyarakat. Dompet Dhuafa memberikan apresiasi atas momitmen atas Kepedulian yang dilakukan oleh PT. Miwon Indonesia. “PT. Miwon Indonesia luar biasa perhatiannya kepada masyarakat kecil. Pedagang tangguh ini salah satunya. Terimakasih kepada PT. Miwon Indonesia, Kami bangga  pada hari ini kami masih dipercaya untuk melakukan program Pedagang Tangguh 5.” Ungkap Ismail A. Said selaku Ketua Yayasan dompet Dhuafa.

Diakui oleh Ismail, memberdayakan pedagang tangguh tidak mudah apalagi sekarang sudah mencapai angka 300 pedagang. Dompet Dhuafa melakukan seleksi terhadap calon pedagang bakso, supaya penerima manfaat adalah mereka yang benar-benar sungguh-sungguh. Program Pedagang tangguh Miwon 5 ini memberikan modal berjualan bakso berupa gerobak, kompor, tabung gas dan perlatan berjualan lainnya yang semuanya didanai oleh PT. Miwon Indonesia. Dompet Dhuafa berperan memberikan pengarahan dan pembinaan dalam hal peningkatan kapasitas usaha dan penyediaan jajanan bakso yang sehat. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada konsumen agar tidak khawatir akan kehalahan dan kesehatan bakso para pedagang bakso tangguh.

Program ini juga menggandeng Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai konsultan pelaksana program. KMM sudah mendampingi sejak awal program ini dilaksanakan. KMM sudah sejak tahun 2000 berperan sebagai konsultan pelaksana program-program pemberdayaan yang di lakukan oleh Dompet dhuafa  dan juga program-program CSR yang dilakukan perusahaan salah satunya Program Pedagang Tangguh Miwon ini.  (KMM/Slamet Mulyanto)

Al Hidayah, Gapokter Berprestasi dari Ciamis

Pagi-pagi ada notifikasi instragram di smartphone, terlihat gambar sebuah piagam penghargaan kepada Gabungan Kelompok Ternak (Gapokter) Al-Hidayah sebagai juara ke 3 lomba agribisnis komoditi Sapi Potong Tingkat Propinsi Jawa Barat 2016. Kaget sekaligus kagum atas prestasi yang telah dicapai oleh Gapokter Al-Hidayah, Gapokter yang terhitung masih muda karena baru berdiri pada 2014. Gapokter ini di bentuk berawal dari program Sentra Ternak Sapi Rancah yang dilakukan oleh Kampoeng Ternak (sekarang Karya Masyarakat Mandiri) dan  Dompet Dhuafa.

Sentra sapi rancah ini merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis peternakan. Program ini bertujuan meningkatkan populasi sapi rancah, meningkatkan pendapatan mitra peternak, dan membangun manajemen perbibitan sapi rancah.  Sapi rancah Sendiri merupakan sapi lokal khas Jawa Barat. Sapi rancah berkembang di masyarakat sepanjang wilayah Priangan Utara dan wilayah Pesisir Selatan Jawa Barat. Populasi sapi rancah yang murni kini mulai berkurang, keberadaannya di tengah masyarakat tersisihkan oleh sapi impor. Untuk menjaga populasi sapi rancah dan melestarikan flasma nutfah asli Jawa Barat ini, Gubernur Jawa Barat melaui Dinas Peternakan Jawa Barat melakukan pengembangan sapi rancah. Hal tersebut pulalah yang mendorong Dompet Dhuafa untuk ambil bagian, dengan memberikan 30 ekor sapi rancah  dan 90 ekor kambing.

Sejak terbentuk, Gapokter banyak menunjukkan kemajuan. Terbukti dari 30 ekor sapi yang diberikan di awal program dalam kini telah berkembang menjadi 60 ekor. Gapokter juga sering mengikuti kontes sapi baik atas nama Gakpokter maupun anggotanya. Kontes yang pernah diikuti antara lain Pesta Patok yang merupakan ajang khusus hewan yang diselanggarakan oleh PemKab Ciamis, kontes Ratu Bibit, Kontes Sapi Potong Lokal dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak kontes yang diikuti delapan (8) diantaranya memperoleh predikat juara. Diantaranya : Juara 3 Lomba Ratu Bibit Kabupaten Ciamis pada tahun 2014, Juara 2 Pejantan Tingkat Kabupaten Ciamis di tahun 2015, Juara 1 Bibit Lokal tahun 2015, Juara 3 Kontes Sapi Potong Se-Jawa barat tahun 2016,  Juara 1 Pejantan Lokal Kabupaten Ciamis 2016, Juara 2dan 3 Sapi Bibit Kabupaten Ciamis dan yang terbaru adalah menjadi juara 3  Lomba Agribisnis Komoditi Sapi Potong Propinsi Jawa Barat.

Sebuah kebanggaan bisa mendampingi mereka, peternak- peternak yang punya semangat dan etos kerja  tinggi. Tahun ini Program berakhir dan akan dilakuan aset reform, selanjutnya Gapokter akan berjalan mandiri namun tetap dibuka komunikasi. Pemkab Ciamis juga berkomitmen bersama masyarakat untuk mengembangkan Gapokter  dengan Sapi Rancahnya. Harapan besar Gapokter terus berkembang sehingga mampu berprestasi lebih tinggi dan lebih banyak memberikan manfaat. Semoga (KMM/SM)

Silih Asih Gerakkan Perekonomian Wanoja

Wanoja sebuah desa yang terletak di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Brebes, Jawa Tangah. Wanoja terdiri dari tiga desa ini terdiri dari 6 kampung yaitu Wanoja, Panawuan, Babakan, Kandayakan, Ciwindu,dan Bandawati. Berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat dan kecamatan Banjarharjo di sebelah utara, desa Pasirpanjang disebelah timur, Desa Windusakti/Tembongraja sebelah selatan dan sebelah barat dengan Desa Capar.

Mayoritas penduduk Wanoja bermata pencaharian agraris, dengan padi sebagai sumber utama dan juga menyadap getah pinus. Kondisi sosiologi dan Potensi yang besar bidang pertanian yang menjadikan Dompet Dhuafa tertarik membuat program pemberdayaan berbasis masyarakat pedesaan. Tahun 2009, Dompet Dhuafa bersama Pertanian Sehat Indonesia (sekarang Karya Masyarakat Mandiri) menggelontorkan program Lumbung desa di Desa Wanoja.Program Lumbung desa  menawarkan cara pandang mengenai desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Lumbung desa mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat desa terus meningkat, kemiskinan terkurangi, menguatnya aset desa, meningkatnya produktifitas lahan dan semakin menguatkanya kapasitas masyarakat desa dalam berbagai hal.

Sejak digulirkannya, program telah banyak mengalami perkembangan. Salah satu yang telihat nyata adalah berdirinya Koperasi Silih Asih atas inisiatif masyarakat. Selam ini Koperasi Silih Asih berperan dalam penyediaan saprotan hingga pasca panen. Sejarah panjang mengiringi berdirinya koperasi yang berawal dari program pemberdayaan pertanian, proses pendampingan dan penyadaran hingga proses terbentuk. Koperasi Silih Asih kini menjelma menjadi motor penggerak ekonomi petani di Wanoja.

Koperasi Berperan besar dalam penyerapan (membeli) gabah petani dengan konsep lumbung desa. Adi yang diserap tidak di jual semua namun sebagian di simpan sebagai sebagai cadangan pangan desa. Hasil penjulan beras pada akhirnya akan menjadi pendapatan tambahan bagi petani anggota yang akan di bagikan setiap tahun dalam Rapat Anggota Tahunan sebagai Sisa Hasil Usaha (SHU). Total penyerapan panen mencapai 75 ton mitra petani dan 20 ton dari luar. Omset koperasi mencapai Rp. 472.056.500,- dengan laba bersih Rp. 25.299.666,-.

Keberhasilan Koperasi Tidak lepas dari proses pendampingan intensif yang dilakukan. Pendampingan ini menempatkan seorang pendamping (filed officer) yang tinggal bersama masyarakat. Pendamping berperan menyadarkan, mengarahkan dan sebagai problem sover ketika terjadi permasalahan. Proses penyadaran membutuhkan waktu, namun dengan keberadaan pendamping di wilayah dampingan membuat proses berjalan lebih cepat. (KMM/SM)

 

Pemberdayaan, Ikhtiar Sejahterakan Masyarakat Halmahera

Pengembangan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat perlu dikembangkan dan mendapat perhatian. Pemberdayaan mengembangan pola partisipatif atau atas dasar kesadaran masyarakat sehingga perubahan ekonomi lebih mudah dicapai. Proses penyadaran terhadap masyarakat ini lah yang manjadi acuan karena perubahan akan berjalan dengan baik jika ada keinginan kuat dari masyarakat untuk berubah. Ini menjadi titik tekan yang harus fahami setiap instansi yang ingin melakukan pemberdayaan kepada masyarakat.

Perkembangan ekonomi di daerah timur Indonesia mulai bergeliat, namun terkesan lambat jika dibandingkan wilayah lain. Upaya sudah dilakukan pemerintah dengan program-program pengembangan ekonomi masyarakat. Mulai bantuan hibah, bantuan bergulir hingga program-program berlabel pemberdayaan. Tidak hanya pemerintah, NGO dan swasta pun  turut terjun untuk memberdayakan masyarakat dengan bermacam model dan bidang yang dibutuhkan masyarakat.

Karya Masyarakat Mandiri (DD) bersama Dompet Dhuafa (DD) tidak ketinggalan dengan menggulirkan program-program pemberdayaan di wilayah timur Indonesia. Salah satu program yang saat ini sedang berjalan adalah program pemberdayaan berbasis peternakan di Desa Tafasoho, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara. Program memberika Permodalan, produksi ternak, distribusi, manajemen usaha kelompok dan koperasi peternak, peningkatan keterampilan, sikap, dan perilaku peternak, mediator akses sarana dan prasarana ekonomi, dan pemasaran produk. Modal usaha disalurkan dalam bentuk pembiayaan bagi pengembangan peternakan masyarakat yang dikelola secara terpola, terpadu dan berkesinambungan sehingga menumbuhkan iklim kewirausahaan masyarakat.

Tujuan utama dari program ini merupakan program pengembangan ternak sapi Bali. Dengan menjadikan masyarakat sebagai sasaran. Ini memerlukan strategi agar program bisa berlanjut meskipun sudah dimandirikan. KMM-DD menerapkan strategi pendampingan intensif dengan menempatkan pendamping (field officer) yang memiliki kemampuan manajerial yang baik, mampu membangun komunikasi dengan masyarakat dan faham mengenai budidaya ternak. Dengan penempatan pendamping diharapkan pola pemberdayaan akan lebih terarah. Ketika terjadi permasalahan pun, pendamping bisa langsung mengambil perannya sebagai problem solver.

Selain pendampingan intensif, strategi yang lakukan sistem perbibitan di masyarakat atau dikenal dengan istilah village breeding system (VBS). Dalam VBS memiliki ciri khas dan persyaratan berupa pencatatan (recording) yang ketat. Strategi lainnya adalah sistem pemeliharaan secara intensif (di dalam kandang) dengan kandang koloni. Ini untuk memudahkan pengontrolan perkembangan ternak.

Program yang digulirkan tahun 2014 ini, manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Dari 43 ekor sapi bali yang digulirkan di awal program sekarang sudah berkembang menjadi 56 ekor sapi bali yang tersebar di 3 kelompok dengan melibatkan 30 KK.  Dukungan masyarakat pemerintah menjadi modal tambahan bagi program untuk berkembang. Pemerintah Desa Tafasoho menyediakan lahan untuk Kandang koloni. Lokasi kandang tersebut sekaligus menjadi pusat kegiatan mitra, mulai dari pertemuan kelompok, rekording, pengolahan pakan, pusat pelatihan dan menerima tamu. Di lokasi sekitar kandang ditanam hijauan sebagai pakan ternak yang dalam budidayanya memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk alami.  Masing-masing mitra diberikan tanggung jawab terhadap ‘jatah’ lahan yang diberikan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, sampai pemanenan.

Saat hari raya Idul Adha, Mitra mendapat kepercayaan untuk pengadaan dan penyaluran program Tebar Hewan Qurban (THK) yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa sejak tahun 2015. Tahun 2016 Gabungan Kelompok Ternak (GAPOKTER) mendapat kuota sebanyak 13 ekor naik 8 ekor disbanding tahun 2015 yang hanya 5 ekor. Kepuasan terhadap kondisi hewan kurban yang menjadikan DD percaya dan memberikan penambahan kuota. Hasil keuntungan dari penjualan hewan tidak dibagi namun digunakan kembali untuk menambah populasi. Komitmen yang dibangun bersama secara partisipatif oleh anggota.

Kesadaran tidak begitu saja terbangun, namun membutuhkan waktu lama dengan dinamika yang terjadi dalam kelompok. Namun semua berhasil dilewati, sekarang masyarakat mulai menikmati hasil sedikit demi sedikit. Masih diperlukan proses yang panjang, namun komitmen masyarakat dan stakeholder terkait untuk meneruskan program ini menumbuhkan optimisme baru bahwa kelak Tafasoho akan dikenal sebagai sentra sapi Bali. Semoga… (Saiful/Slamet)

 

 

 

 

Sarendeg Saigeul Gelar Pelatihan Pasca Panen Padi Merah

PANDEGLANG-Anggota Paguyuban Sarendeg Saigeul yang merupakan mitra dampingan Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa mendapatkan pelatihan penanganan pasca panen padi merah. Acara yang di gelar pada (14/10) di Balai Pertemuan Petani  yang berlokasi di Kampung Turalak, Desa Ramea Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten di mulai pukul 13.00 WIB. Pelatihan  di ikuti 20 peserta anggota paguyuban yang merupakan perwakilan  dari 10 kelompok.

Pelatihan dibimbing oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Padeglang. Pelatihan meliputi teori dan praktek pengukuran kadar air pada gabah, sanitasi, pengaturan sirkulasi ruangan gudang dan pengemasan. Melalui pelatihan ini di harapkan  para petani anggota Paguyuban Sarendeg Saigeul mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang  tata produksi padi menjadi beras muai dari waktu panen hingga pemasaran.

Tujuan pelatihan sendiri adalah untuk meningkatkan pengetahuan anggota paguyuban sarendeg saigeul tentang tatakelola produksi dan penanganan pasca panen padi merah. Selain itu diharapkan juga  adanya peningkatan mutu produksi padi merah menjadi beras yang berkualitas dan bermutu tinggi sehingga mampu bersaing di pasaran. Penyimpanan pada pasca panen berperan penting dalam mempertahankan kualitas hasil pertanian, pengaturan kelembaban dan temperatur  ruangan penyimpanan di butuhkan untuk memperlambat penurunan kualitas pada padi merah. (KMM)