Pedagang Tangguh VI Berdayakan Pedagang Bakso

Jakarta – Untuk keenam kalinya PT Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa meluncurkan program Pedagang Tangguh VI di Jakarta, Kamis (9/11/2017). Bertepatan dengan 44 tahun Miwon berdiri.

Pada peluncuran tersebut diserahkan secara simbolisasi giant check senilai Rp 779.160.525 untuk program pemberdayaan pedagang bakso yang tergabung dalam “Pedagang Tangguh VI”.

Pedagang Tangguh  adalah program pemberdayaan masyarakat yang digagas sejak tahun 2011. Sasaran masih  sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu para pedagang bakso. Total mitra pedagang yang sudah dibina dari awal hingga kini sebanyak 350 orang.

Ismail A Said, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, menyampaikan “Penerima manfaat di tahun keenam kali ini berjumlah 50 pedagang bakso yang terdiri dari 30 pedagang di wilayah Jakarta Selatan dan 20 pedagang bakso di Surabaya.”

Menurut Ismail, inisiasi Pedagang Tangguh dilatarbelakangi kepedulian Miwon dan Dompet Dhuafa terhadap kondisi para pedagang bakso skala mikro yang masih terbatas dalam aspek produksi, manajerial, dan pemasaran. Sehingga berkomitmen untuk membantu menguatkan keberadaan para pedagang bakso agar tetap bertahan, mandiri, dan dipercaya publik.

Bantuan yang diberikan berupa penyaluran modal usaha (1 set gerobak dorong dan peralatan penunjang), penguatan kapasitas mitra serta pendampingan usaha reguler selama satu tahun. Penguatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan yang dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mitra mengenai aspek keamanan pangan, strategi pengembangan wirausaha, pengelolaan keuangan dan penguatan kelembagaan lokal.

Dompet Dhuafa sebagai mitra pelaksana program melakukan seleksi pedagang, pengadaan perlengkapan usaha, hingga pendampingan intensif.

“Agar program tepat sasaran, kami memiliki prosedur terkait seleksi dan verifikasi mitra, melalui assessment yang komprehensif. Dengan terpilihnya mitra yang tepat, efektivitas dan keberhasilan program berupa kemandirian ekonomi dapat terwujud,” tutur Ismail.

“Kami berharap para pedagang bakso dapat lebih mandiri secara finansial, sehingga para pedagang dapat memperbaiki taraf hidup keluarga sambil tetap menyajikan makanan sehat dan layak konsumsi yaitu makanan yang bebas boraks, formalin, dan pewarna tekstil,” ujar Vice President Director PT Miwon Indonesia, Mr. Lee Dong Won.

LWK Program Pedagang Tangguh Miwon 6

Jagakarsa – Karya Masyarakat Mandiri sebagai jejaring Dompet Dhuafa melaksakan Latihan Wajib Kelompok (LWK) untuk para calon mitra pedagang bakso Program Pedagang Tangguh Miwon 6 (PTM) di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (2/11/2017). Karena PTM 6 calon mitra tersebar di Kelurahan Jagakarsa, Ciganjur, Cipedak dan Srengseng Sawah, bagian dari wilayah Kecamatan Jagakarsa. Dompet Dhuafa menggandeng CSR PT. Miwon Indonesia  sejak tahun 2011 sampai saat ini. Tahun ini memasuki tahun ke-6 program pedagang tangguh Miwon dengan 30 pedagang bakso keliling.

LWK adalah rangkaian dari proses seleksi para calon mitra yang  akan tergabung dalam program PTM 6. Dari tahapan  wawancara, pengisian SKM, kelengkapan administrasi  dan LWK. Tujuannya untuk lebih memahamkan kepada calon mitra pedagang tujuan program PTM, output, kegiatan-kegiatan, maupun inputnya, sehingga calon mitra memahami dan bisa bekerjasama dengan baik sehingga cita-cita besar program bisa berjalan sesuai  dengan perencanaan.

LWK dihadiri Sekcam Jagakarsa, Mundari, Eva Silvia (Kasi Ekbanglit), dan 21  mitra pedagang  bakso calon mitra baru program PTM. Mundari menyambut baik program PTM ini dan berpesan kepada calon mitra, “Benar – benar mengikuti semua kegiatan yang ada di program, dijaga kualitas dan yang terpenting juga jangan berjualan di tempat – tempat yang tidak dibolehkan seperti di atas trotoar.” (STN)

KMM Latih 50 Pedagang Bakso

Jakarta – Karya Masyarakat Mandiri melakukan pelatihan keamanan pangan kepada 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Aula Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan Kamis (09/03). Ini merupakan bagian dari program pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa (DD) dan PT Miwon Indonesia (Miwon). Nama Program ini adalah Pedagang Tangguh Miwon (PTM) yang menyasar pedagang-pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Pelatihan menghadirkan dari Sub Dinas Kesehatan Jakarta selatan dan Puskesmas Pasar Minggu. Pada pelatihan kali ini juga dilakukan pengujian terhadap bakso yang dijual para pedagang bakso. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman arti penting menjual bakso yang sehat dan aman. Setelah pelatihan akan ditindaklanjuti  pendampingan bersama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.

Selain keamanan pangan juga di berikan pelatihan pembuatan bakso sehat. Pelatihan menggunakan bahan baku yang diijinkan oleh Badan POM dan halal. Pelatihan dilakukan dengan praktek langsung oleh para pedagang agar pedagang faham setiap proses pembuatan bakso yang sehat. Pelatihan ini juga diperkenalkan beberapa Bahan Tambahan Pangan yang boleh dan tidak boleh dalam pembuatan bakso.

Siapa yang tidak mengenal bakso, makanan khas dengan berjuta penikmat. Bakso berbentuk bulat terbuat dari daging sapi atau ayam disajikan dengan mie, sayur dan kuah kaldu dengan bumbu rempah sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Pedagang bakso mulai banyak bermunculan baik di desa dan di kota, apalagi di Jakarta. Hampir di setiap sudut jalanan ibukota ada penual bakso baik yang mankal maupun keliling. Hal ini menimbulkan persaingan ketat yang membuat beberapa pedagang bakso memilih jalan pintas dengan menggunakan bahan haram d alam baksonya demi mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Jalan pintas yang jelas sangat merugikan penikmat bakso. Mulai dari isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya seperti borak, formalin hingga penggunakan daging tikus dan babi.  Isu yang meresahkan, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Tidak hanya konsumen yang dirugikan namun pedagang bakso yang lain pun juga ikut dirugikan.

Fenomena yang hampir setiap tahun berulang, walaupun pemerintah sudah sering memberikan penyuluhan sampai melakukan razia. Penyadaran menjadi penting, penyadaran yag tidak hanya di dapatkan dari penyuluhan sehari dua hari. Proses penyadaran harus dilakukan secara berkesinambungan, Dompet Dhuafa memilih jalan pemberdayaan untuk penyadaran dengan memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan secara kontinyu. Pemberdayaan dengan pendampingan adalah jalannya. (SM/KMM)

Saburai, Primadona dari Tanggamus

Saburai nama yang masih asing bagi kabanyakan peternak di Indonesia. Saburai adalah jenis kambing baru hasil persilangan antara Peranakan Ettawa (PE) dengan Kambing Boer. Saburai dihasilkan dari metode inseminasi buatan yang dilakukan oleh inseminator di Kecamatan Gisting, Tanggamus pada tahun 2000.  Kambing ini mempunyai perawakan tinggi dan gemuk, ini merupakan bentuk turunan dari kambing PE yang tinggi dan Kambing Boer yang gemuk. Kambing saburai mempunayi bobot lahir rata-rata 2.5-3.5 Kg dan bias mencapai bobot 60 Kg ketika mencapai umur satu tahun.

Kambing Saburai juga memberikan keuntungan lebih di banding kambing kacang maupun kambing PE. Banyaknya kandungan daging yang membuat harganya melejit melewati harga tetuanya. Usia 8- 10 bulan, bobot kambing saburai bias mencapai 45 kg dengan nilai jual mencapai 1 juta rupiah. Hal inilah yang membuatnya lebih di senangi oleh para peternak di Lampung.

Perkembangan kambing saburai yang menggembirakan mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Lampung. Kambing Saburai telah di akui secara nasional debagai rumpun baru di indoensia. Ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertainian No. 359/Kpts/PK.040/6/2015 tanggal 08 Juni 2015. Berkat itu pula Pemerintah Propinsi Lampung mendapat penghargaan Budhipura” dari Kementerian Riset dan Teknologi, ini sebagai bukti pengakuan bahwa kambing saburai sebagai hasil inovasi bidang pertanian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dukungan terhadap pengembangan kambing Saburai juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang menelurkan program Pemberdayaan Peternak Dalam Rangka Pengembangan Klaster Kambing Saburai di Kabupaten Tanggamus. Program ini lebih menekankan pada pada penguatan kelembagaan, aplikasi teknologi budidaya hingga merode marketing. Program ini memberikan pendampingan kepada  8 kelompok ternak di tiga (3) kecamatan yaitu Kec. Gisting, Kec. Sumber Rejo dan Kota agung. Populasi ternak kelompok dampingan ssat ini mencapai 2.515 ekor dari 176 anggota.

Secara kelembagaan telah di bentuk Koperasi Peternak Saburai yang di bentuk bersama asponak (Asosiasi Kelompok Peternak). Asponak sendiri merupakan asosiasi yang di bentuk atas fasilitas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selain kelembagaan, program pemberdayaan ini juga memberikan pelatihan aplikatif penerapan teknologi di bidang budidaya seperti pelatihan pengolahan hasil ternak, pakan, dan pelatihan kewirausahaan. dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, BI Bekerja sama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM). Kerjasama dengan antara BI dan KMM sudah berjalan selama 4 tahun di Berbagai daerah di Lampung. KMM sendiri merupakan Corporate Enterprise yang bergerak di bidang pemberdayaan.

 (SM/KMM)

Launching Pedagang Tangguh Miwon 5

JAKARTA. Kerjasama antara PT. Miwon Indonesia dengan Dompet Dhuafa untuk memberdayakan pedagang Bakso kembali berlanjut. Pemberdayaan sudah dilakukan untuk yang ke 5 kalinya. Program yang Bertajuk Pedagang Tangguh Miwon 5 ini dilaunching berbarengan dengan Ulang tahun miwon ke 43. Acara Launching dilakukan di Kantor PT. Miwon Indonesia tepatnya di Pulo Gadung, Jakarta Timur pada hari Kamis (09/11). Acara ini dihadiri oleh Presiden PT. Miwon Indonesia, Kim Du Rean dan Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A. Said.

Kim Du Rean menyatakan bahwa PT. Miwon Indonesia tetap berkomitmen untuk menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu masyarakat ekonomi lemah dengan program-program CSRnya. Salah satunya adalah pemberdayaan Pedagang Tangguh Miwon yang sudah dilakukan selama 5 tahun. “Kami (PT. Miwon Indonesia) berharap Para Pedagang Tangguh Miwon yang telah mengikuti program ini dapat meningkat kesejahteraannya” lanjut Kim, dalam sambutannya.

PT. Miwon Indonesia menggandeng Dompet Dhuafa sebagai partner dalam melaksanakan program pemberdayaan ini karena dinilai sudah berpengalaman dalam memberdayakan masyarakat. Dompet Dhuafa memberikan apresiasi atas momitmen atas Kepedulian yang dilakukan oleh PT. Miwon Indonesia. “PT. Miwon Indonesia luar biasa perhatiannya kepada masyarakat kecil. Pedagang tangguh ini salah satunya. Terimakasih kepada PT. Miwon Indonesia, Kami bangga  pada hari ini kami masih dipercaya untuk melakukan program Pedagang Tangguh 5.” Ungkap Ismail A. Said selaku Ketua Yayasan dompet Dhuafa.

Diakui oleh Ismail, memberdayakan pedagang tangguh tidak mudah apalagi sekarang sudah mencapai angka 300 pedagang. Dompet Dhuafa melakukan seleksi terhadap calon pedagang bakso, supaya penerima manfaat adalah mereka yang benar-benar sungguh-sungguh. Program Pedagang tangguh Miwon 5 ini memberikan modal berjualan bakso berupa gerobak, kompor, tabung gas dan perlatan berjualan lainnya yang semuanya didanai oleh PT. Miwon Indonesia. Dompet Dhuafa berperan memberikan pengarahan dan pembinaan dalam hal peningkatan kapasitas usaha dan penyediaan jajanan bakso yang sehat. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada konsumen agar tidak khawatir akan kehalahan dan kesehatan bakso para pedagang bakso tangguh.

Program ini juga menggandeng Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai konsultan pelaksana program. KMM sudah mendampingi sejak awal program ini dilaksanakan. KMM sudah sejak tahun 2000 berperan sebagai konsultan pelaksana program-program pemberdayaan yang di lakukan oleh Dompet dhuafa  dan juga program-program CSR yang dilakukan perusahaan salah satunya Program Pedagang Tangguh Miwon ini.  (KMM/Slamet Mulyanto)

Masyarakat Mandiri Latih Keamanan Pangan Pedagang Bakso se-Jaksel

Jakarta -Berita mengenai keamanan dan kehalalan pangan hampir setiap hari menghiasai media massa.  Tingginya intensitas pemberitaan menggugah membuka berbagai pihak tentang kenyataan akan rapuhnya kondisi keamanan pangan kita. Beberapa macam komponen makanan yang sering disalah gunakan antara lain  pewarna sintetis, pemanis buatan, bahan pengawet seperti boraks dan formalin zat tersebut tidak bisa digunakan sembarangan apalagi untuk makanan karena dapat membahayakan kesehatan manusia. Bukan hanya bahan tambahan makanan, maraknya daging yang tidak halal yang dijual ‘bebas’ membuat masyarakat tambah resah.

PT. Miwon dengan Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa memiliki concern terhadap permasalahan yang dihadapi para pedagang makanan. Salah satu komitmennya adalah dengan mengadakan  Pelatihan Keamanan  dan Kehalalalan Pangan yang dilaksanakan pada Selasa(17/05) bertempat di Kelurahan Pasar Minggu  Jakarta Selatan. Pelatihan ini menhadirkan Dinas Kesehatan dan LPPOM MUI Jakarta. Pelatihan dihari 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan yang sudah menjadi mitra program pedagang tangguh. Program Pedagang Tangguh merupakan salah satu program pemberdayaan yang salah satu tujuannya dalah memberikan edukasi kepada para pedagang mengenai pentingnya menjajakan dagangan yang sehat dan halal.

Program Pedagang yang sudah berjalan selama 4 tahun ini adalah program kerjasama PT Miwon dengan Dompet Dhuafa yang pelaksanaannya dilakukan oleh Karya Masyarakat Mandiri sebagai salah satu corporate enterprise yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat. Program pedagang tangguh ini menyasar kepad pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan. Pedagng bakso memang riskan terkait isu-isu keamanan dan kehalalan pangan tertama terkait kehalalan. Banyak ditemukan oknum pedagang bakso yang menggunakn daging non-halal ikut berimbas kepada pedagang bakso lain.

Dengan pelatihan ini diharapkan para pedagang bakso sadar atas keinginan sendiri untuk tidak menggunakan bahan tambahan makanan berbahaya dan tidak menggunakan bahan baku non halal untuk memproduksi baksonya. Kesadaran yang akan merubah manusia menjadi lebih baik. (KMM/Slamet/Tisna)

KMM Sertifikasi Kader Teknis Veteriner

Garut-Perkembangan suatu lembaga pemberdayaan masyarakat sangat tergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia sebagai motor penggerak dinamisasi dari suatu program yang telah direncanakan. Dengan adanya kualitas SDM yang berkualitas maka akan berbanding lurus terhadap manfaat positif yang dihasilkan.

Hal tersebut yang mendasari Karya Masyarakat Mandiri (KMM) melakukan pelatihan dan sertifikasi Kader Teknis Veteriner Tingkat Pratama. Pelatihan ini diikuti 15 orang Kader Teknis Veteriner yang berasal dari Sukabumi Jawa Barat. Pelatihan dilaksanakan selama  4 (empat) hari mulai 2 hingga 4 Maret 2016 di Kantor Sekretariat Paguyuban Al Awwaliyah Garut, Jl. Raya Pasirwangi, KP. Babakan Pala Rt.004 Rw.001 Desa Karya Mekar, Kec. Pasirwangi  Kabupaten Garut.

Pelatihan ini, diharapkan melahirkan kader lokal dengan dengan kapasitas kader pratama. Hal tersebut penting untuk meningkatkan pengatahuan dan pemahaman terkait kesehatan ternak, recording serta mampu mengaplikasikan penggunaan teknologi dalam proses recording ternak

Manfaat juga dirasakan peserta, “Alhamdulillah pelatihan ini dirasa sangat kurang, karena hanya 3 hari. Namun sangat bermanfaat bagi kami, selaku peternak yang akan mempraktikan langsung di lapangan. Terlebih lagi kami yang ikut pelatihan ini, merupakan perwakilan masing-masing kelompok, maka beban yang akan kami bawa adalah bagaimana informasi ini dapat kami transformasikan ke anggota yang lain” ujar Kang Agus, salah satu peserta

Selain pemaparan materi dan praktikum langsung, peserta juga diajak langsung ke Pasar Hewan Bayongbong, hal ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan terkait pemilihan bibit yang baik dan harga pasar yang perlu diketahui langsung oleh peserta. Pelatihan dan Sertifikasi Kader ini ditutup dengan ujian tertulis dan praktikum. Dimana sebanyak 15 orang kader diuji terkait materi dan praktikum yang telah disampaikan, apakah 15 orang kader layak atau tidak sebagai kader Teknis Veteriner Tingkat Pratama. (Salman)

 

Sinergi dengan DD, BNI Syariah Bantu Gapoktan Al-Ikhwan

Cianjur-Pemberdayaan menjadi komitmen Dompet Dhuafa (DD) dan Karya Masyarakat Mandiri (MM) sebagai salah upaya mengentaskan kemiskinan. Program pemberdayaan yang dilakukan dengan mendayagunakan dana zakat, infak dan shodaqoh (ZIS). Selain memanfaatkan dana ZIS, DD juga bekerja sama dengan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Salah satunya adalah dengan Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah.

Rabu (16/03) dilakukan Penyerahan Mesin pengemas beras kepada Gakpoktan Al-Ikhwan Desa Sukaraharja yang tergabung dalam Koperasi Gapoktan Al Ikhwan. Penyerahan dilakukan oleh Bambang Sutrisno, selaku Ketua Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah. “Bantuan ini merupakan bagian dari dana zakat yang kami himpun dari seluruh karyawan BNI Syariah” jelas bambang dalam sambutannya. “Kami berharap bantuan mesin ini mampu meningkatkan produktivitas petani sehingga mempau meningkatkan kesejahteraan petani di Gapoktan Al-Ikhwan ini” lanjutnya.

Penyerahan mesin pengemas beras menjadi bagian dari upaya DD dan para donaturnya untuk memperkuat nilai tambah produk petani sehingga menghasilkan kualitas beras yang bernilai jual tinggi. Mesin pengemas beras yang diberikan mampu mengemas 5 pack/menit, ini lebih efisien dibanding dengan cara manual yang memakan waktu 1 menit per pack.

“Saya kaget dan baru tahu kalo DD mempunyai dampingan pertanian dengan sistem terpadu. Mulai dari produksi, penggilingan sampai pemasaran. Semoga bantuan yang sedikit ini mampu memberikan barokah buat kita semua”, tutur Bambang mengapresiasi. Sejak tahun 2010 Dompet Dhuafa hadir di Desa Sukarharja melalui Program Pemberdayaan Petani Sehat selama 2 tahun.  Program tersebut kemudian diperbesar dan diperkuat dengan implementasi Program Lumbung Desa agar kesejahteraan masyarakat desa meningkat.

“Program lumbung desa di Sukaraharja, Cianjur sudah mulai sejak tahun 2010. Alhamdulillah terus berkembang berkembang menjadi seperti sekarang ini. Kami dari DD berterimakasih sekali kepada Yayasan Hasanah Titik, atas bantuan mesin pengemas beras ini. Dengan mesin ini petani bisa meningkatkan sekla usaha mereka terutama dalam hal pemasaran beras” tutur Tendy Satrio, GM Ekonomi Dompet Dhuafa.

Pemberdayaan dengan konsep lumbung desa menawarkan cara pandang baru posisi desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. Ada 200 KK petani yang saat ini didampingi, mereka tergabung dalam 20 Kelompok Tani (Poktan) dan tergabung dalam satu wadah Koperasi Gapoktan Al-Ikhwan. (Slamet/Pak Kus)

 

Sari Sang Ibu Tangguh, Berjualan Bakso Demi Membantu Suami

Bagi Sari (35) yang hanya lulusan sekolah dasar, tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia tekuni selain membantu suaminya, Warto (45), berjualan bakso yang sudah ditekuninya lebih dulu. Ibu tangguh ini berujar bahwa ia membantu suami berjualan bakso agar usahanya semakin berkembang.

“Saya mulai bantu suami bekerja sejak kami menikah. Saya kasihan kalo lihat suami banting tulang keliling dagang bakso. Makanya, saya minta ijin sama suami saya supaya saya bisa bantu dia, paling tidak meringankan beban dia,” ujar ibu tangguh yang dikenal rajin dan ulet ini.

Sari melanjutkan, ia mulai membantu suami ketika harga bakso seporsi masih lima ribu rupiah hingga sekarang dengan harga bakso sepuluh ribu rupiah seporsi. Biasanya, dalam satu gerobak hanya ada satu jenis makanan yang dijual. Tapi tidak untuk Sari dan suaminya.

Selain bakso, mereka juga berjualan mi ayam. Setiap harinya mereka bisa menjual hingga lima belas mangkok bakso. Dahulu mereka berjualan secara berkeliling. Tetapi kini mereka mempunyai tempatmangkal  sendiri. Setiap harinya mereka berdagang di di dekat gedung sebuah asuransi di Mampang. Menjelang siang, tempat berjualannya pun bergeser di sekitar Museum Satriamandala, Jakarta.

“Alhamdulillah, setelah saya dan suami giat bekerja, kami bisa mencukupi kebutuhan kami dan sedikit bisa menyisihkan penghasilan untuk tabungan masa depan,” paparnya.

Ya, Sari dan Warto adalah dua dari 52 penerima manfaat  Dompet Dhuafa bersinergi dengan PT Miwon dalam program“Pedagang Tangguh Miwon”.  Melalui sinergi ini pedagang bakso menerima berbagai kebutuhan untuk berdagang seperti gerobak, alat masak, kompor dan gas, juga bumbu penyedap.

Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan tambahan modal usaha, juga pelatihan dari Dompet Dhuafa selama lima kali setahun berupa kewirausahaan, kepemimpinan, keamanan dan kehalalan pangan,teknologi pengolahan bakso, dan kelembagaan lokal (managemen koperasi).

Melalui bantuan ini Sari dan suaminya mempunyai dua gerobak untuk berjualan. Sari merencanakan dirinya akan ikut berjualan menggunakan gerobak yang berbeda.

“Saya jualan sendiri pakai gerobak lama, bapak paka gerobak baru. Mudah-mudahan bermanfaat. Jadi kita sama-sama berusaha”, pungkas  ibu dari satu anak ini. (Dompet Dhuafa/Uyang)

sumber : www.dompetdhuafa.org

Jadi Pelukis Payung Hias, Raka Bangga Lestarikan Warisan Budaya

“Pemuda saat ini jauh dari kata kreatif. Sekalinya kreatif, tapi yang dihasilkan belum tentu bermanfaat. Makanya, alhamdulillah saya bangga dianugerahi Allah sebuah potensi keterampilan, menjadi pelukis payung hias saat ini,” ujar Baharudin Raka, pemuda asal Pledan, Klaten, Jawa Tengah, saat ditemui dalam acara Pameran Produk Pemberdayaan Lokal Dompet Dhuafa beberapa waktu lalu.

Raka, demikian sapaan akrab pemuda berusia 23 tahun ini menceritakan, keahliannya dalam melukis payung hias (payung lukis), yang merupakan warisan budaya di wilayah Klaten ini, sudah ditekuninya sejak 3 tahun yang lalu. Selesai menamatkan pendidikan pada Jurusan Pelayaran, ia memantapkan hati untuk hijrah dalam dunia pelayaran dan memilih menjadi pelukis payung hias (payung lukis).

“Kala itu saya hanya berfikir, selain mencari uang untuk kebutuhan hidup, dari keterampilan yang saya miliki, saya juga bisa melestarikan warisan budaya di daerah Klaten ini, karena saya bangga jadi pemuda Klaten yang bermanfaat,” ungkapnya.

Ia mengaku, keterampilan seni yang dimilikinya mengalir dari darah kesenian sang ayah yang juga merupakan pengrajin batik di Solo. Sejak kecil, Raka sering menyaksikan sang ayah memproduksi kerajinan batik. Mulai dari situ, ketertarikannya dalam dunia melukis mulai dirasakannya.

“Awalnya sih lihatnya kayak rumit, tapi lama-lama seru juga. Dan nggak nyangka sekarang bisa punya keterampilan lukis ini,” papar Raka yang hobi bermain futsal ini.

Untuk memantapkan keterampilan lukis yang dimilikinya, Raka pun bergabung dengan sebuah Komunitas Lukis di wilayah tempat tinggalnya. Hingga pada akhirnya, Pak Ngadi (55) salah seorang Pengrajin Payung Lukis asal Klaten yang merupakan penerima manfaat jejaring Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa ini, tertarik melihat bakat yang dimiliki Raka, dan mengajaknya untuk bergabung di Komunitas Pengrajin Payung Lukis.

“Alhamdulillah, dengan senang hati saya menerima tawaran Pak Ngadi. Di Komunitas Pengrajin Payung Lukis tersebut, saya semakin bisa berkreasi dengan keterampilan saya,” ujar Raka tersenyum.

Diakui Raka, memiliki bakat keterampilan melukis tidaklah mudah. Meski sudah terbiasa melukis, ia mengaku ada saja kesulitan-kesulitan yang ditemuinya ketika mulai mengkreasikan ide kreatifnya tersebut.

“Tingkat paling kesulitan saat melukis payung hias ini adalah ketika merangkai motifnya. Sedikit rumit dibagian ini, karena butuh konsentrasi tinggi dalam penyempurnaan lukisan,” jelasnya sambil mempraktikkan keterampilan melukisnya.

Diakhir perbincangan, Raka membagikan beberapa pesan dan motivasi bagi generasi muda sepertinya. Ia berharap, generasi muda saat ini mampu melestarikan warisan budaya serta produk lokal yang menjadi ciri khas masing-masing daerah dengan turut berpartisipasi meneruskan kekayaan milik negeri tersebut.

“Kita harus bangga jadi pemuda Indonesia yang bisa meneruskan warisan budaya lokal. Ini salah satu bentuk perjuangan dan pengabdian untuk bangsa ini. Jadi, tidak perlu malu atau ragu untuk melestarikannya,” pesannya. (Dompet Dhuafa/Uyang). sumber ww.dompetdhuafa.org