Peternak Kendal, jadi Suplier Kurban Nasional

Kendal (9/4). 13 peternak Kendal yang tergabung dalam binaan yayasan Nurul Ummah Kendal merupakan suplier program qurban Dompet Dhuafa.Dompet Dhuafa sendiri merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional yang sudah terdaftar di Kementerian Agama RI.  “Ini merupakan kebanggaan tersendiri, karena dari 35 kabupaten se Jawa Tengah, hanya sekitar 5 kabupaten yang menjadi mitra qurban melalui lembaga mitra yang sudah kerjasama’’ terang Arif Fajar Hidayat selaku Koordinator program Mitra.

Kerjasama suplier program qurban Dompet Dhuafa , dituangkan dalam MoU antara Yayasan Nurul Ummah kendal selaku mitra pemberdayaan dengan Masyarakat Karya Mandiri  selaku vendor suplier program qurban Dompet Dhufa. “Pada tahap awal sudah diakadkan pengadaan qurban sebanyak 115 ekor tambah Arif. Nantiny vendor KMM merupakan satu-satunya penyuplai hewan kurban Dompet Dhuafa. “Jumlah hewan yang diakadkan, jelas sudah langsung terbeli selama sesuai spesifikasi yang sudah diakadkan” terang Arif.

Program Qurban yang digagas oleh Dompet Dhuafa bernama Tebar Hewan Kurban. Program ini merupakan kombinasi antara pemberdayaan dan distribusi hewan kurban di wilayah mitra. “jadi mitra pemberdayaan mendapat amanah untuk memberdayakan peternak lokal untuk supply hewan ternak dan juga mendistribusikannya.” Jelas Arif.

Untuk pemberdayaan peternak sendiri tersebar di 4 kandang di wilayah yang berbeda, yaitu di desa Gonoharjo Kecamatan Limbangan, Desa Kebonharjo Kecamatan Patebon, Desa Sukorejo Kecamatan Sukorejo dan Desa gedong Kecamatan Patean. Adapun jenis hewan yang dipelihara adalah domba dengan 2 spesifikasi. Yaitu domba standar dengan bobot minimal 25-29 kg dan domba premium dengan bobot 30 kg ketas.selain syarat bobot, hewan ternak harus jantan, sehat,tidak cacat, cukup umur dan bebas dari penyakit. Untuk memastikan kondisi hewan ternaknya secara reguler diadakan monitoring hewan ternak langsung darikantor Dompet Dhuafa Pusat.

Program pemberdayaan qurban ini langsung bisa dirasakan manfaatnya. Hal ini dikarenakan peternak yang terlibat dalam program ini akan didampingi dan diberikan pengetahuan manajemen ternak modern. “Kalau tidak mengkuti program pendampingan yang dilakukan, peternak tidak boleh ikut program pemberdayaannnya. Karena Standar Operasional Prosedur sudah ada dan harus dilakukan untuk mengejar spesifikasi yang ada” jelas Arif. Selain itu, dengan mekanisme ini juga menguntungkan para peternak. Harga jual yang ditawarkan juga menguntungkan peternak, karena dihargai dengan harga tinggi. Hal ini terjadi karena program qurban ini bisa memangkas alur distribusi dan langsung mempertemukan peternak dan pembeli dalam jumlah besar.

Untuk distribusi hewan qurban, program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa ini juga sangat menarik. Meskipun dibeli oleh Lembaga Nasional, tetapi untuk pendisribusiannya diamanahkan ke mitra. Dari 115 ekor domba yang dipelihara telah dialokasikan untuk didistribusikan ke beberapa wilayah di Kabupaten Batang, Kabupaten Pemalang dan KabupatenKendal. Adapu kriteria wilayah yang mendapat distribusi hewan qurban, adalah wilayah prioritas yaitu daerah miskin, tertinggal, pedalaman, daerah belum/tidak ada hewan kurban, daerah bencana alam dan tragedi sosial lainnya. Selain daerah prioritas distribusi juga dilakukan untuk  panti jompo, panti asuhan dan masjid-masjid, pesantren dan majelis taklim.

Sementara itu menurut Hasan Isnaeni (46 tahun) salah satu peternak binaan selama 6 tahun mengungkapkan bahwa dirinya dan kelompoknya selain mendapatkan keuntungan ekonomi juga mendapat manfaat lainnya. Diantaranya peningkatan ilmu beternak, jaringan yang bertambah luas dan yang paling penting bisa berbagi sesama. “Selain diamanahi sebagai peternak, juga diamanahi sebar hewan di daerahya sendiri. Sekarang berkat program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa, bisa memancing warganya untuk berkurban selama idul adha” tambah Hasan. (KMM/Arif/Hasan)

KMM Presentasikan Program Kerang Hijau di ISEA

Merupakan sebuah kehormatan, Karya Masyarakat Mandiri (KMM) mendapatkan undangan untuk menghadiri Konferensi Pemberdayan Ekonomi Perempuan dan Social Enterprise Tingkat Regional ASEAN yang diselenggarakan oleh ISEA (Institut for Social Enterpreneurship in Asia) bekerja sama dengan Pemerintah Swedia dan Oxfam. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 19 April sampai dengan 22 April 2017 bertempat di AIM Conference Center Makati City Philipina.

Tema yang diangkat dalam konferensi yang baru diadakan pertama kali ini adalah Mempromosikan Kemitraan Yang Tranformasional dan Pemberdayan Perempuan pada Rantai Nilai Kegiatan Pertanian di ASEAN. Konferensi ini merupakan bagian dari inisiatif Mempromosikan Social Enterprise (PROSE/Promoting Social Enterprise)  sebagai bagian dari proyek besar berjudul Transformative Gender dan Investasi Pertanian Yang Bertanggung Jawab di Asia Tenggara.

Proyek ini diprakarsai oleh Oxfam dengan dukungan dari Pemerintah Swedia (SIDA) Sebagai bagian dari program PROSE-GRAISEA  (Promoting Social Enterprise Gender Transformative and Responsible Agrucultural Investment in Southeast Asia).  ISEA bermitra dengan beberapa LSM di 4 negara yakni Bina Swadaya dan Dompet Dhuafa (Indonesia), Center for Social Innovation Promotion (Vietnam) dan Change Fusion (Thailand).

Selain menjadi peserta, KMM juga memprentasikan praktik baik yang dilakukan pada program pemberdayaan ekonomi perempuan. Dari rapid appraisal yang dilakukan program pemberdayaan perempuan pengupas kerang hijau di Kasemen, Serang, Banten. KMM memberikan penjelasan  kepada 60 audiens dari 4 negara tentang bagaimana proses yang berlangsung pada Program Pemberdayaan Pengupas Kerang Hijau di Kasemen yang menyasar kepada 30 penerima manfaat perempuan.

Beberapa poin yang disampaikan adalah bagaimana strategi pencapaian indikator peningkatan pendapatan penerima manfaat hingga mencapai 1.5 Upah Minimum Kabupaten (UMK)  Kota Serang dan Bagaimana dampak yang terjadi pada penerima manfaat setelah diintervensi oleh program dan bagaimana mengukur dampak tersebut. Selain itu juga disampaikan tentang apa yang menjadi faktor kritikal baik internal maupun eksternal, positif maupun negatif yang mempengaruhi keberhasilan program serta apa yang menjadi tantangan utama pada program tersebut.

Keikutsertaan KMM dalan kegiatan konferensi tersebut tentunya diharapkan membawa banyak manfaat bagi lembaga maupun bagi komunitas dampingan. Sejalan dengan tujuan umum dari kegiatan konferensi ini adalah membangun platform yang para pemangku pihak di ASEAN untuk mempromosikan intervensi dan investasi rantai nilai pertanian yang akan membawa perubahan dan memberdayakan laki2 dan perempuan sebagai pelaku usaha sebagai bentuk kontribusi untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan (SDGs).
(Dessy Sonya)
rat-koperasi-pandeglang

Koperasi Sarendeg Saigeul yang Mandiri dan Profesional

PANDEGLANG – Koperasi Sarendeg Saigeul melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tutup buku 2016 di balai pertemuan petani Kp. Turalak Desa Ramea Kec. Mandalawangi Kab. Pandeglang, Rabu (11/01/2017).

RAT pertama dilaksanakan pada tahun tutup buku 2016, dengan berkomitmen menjadikan Koperasi Sarendeg Saigeul yang mandiri dan profesional. RAT membahas laporan pertanggungjawaban kepengurusan yang lama dihadiri 60 orang anggota terdiri dari 50 orang perwakilan anggota kelompok dan sisanya pengurus, pengawas, dan manajer koperasi.

Hadir dalam acara tersebut unsur dari aparat pemerintahan Desa Ramea dan pendamping program Community Farming Dompet Dhuafa, Wahyudin. Dalam sambutanya mengatakan, Koperasi Sarendeg Saigeul harus giat berinovasi dalam mengembangkan bisnis yang berkaitan dengan pertanian maupun dengan pihak luar, banyak prospek bisnis yang bisa dikembangkan seperti yang sudah dilaksanakan. Seperti jual beli hasil bumi, penjualan beras merah, penjualan saprotan dan lain-lain.

Dalam RAT muncul pertanyaan, usulan, dan kritik dari anggota, meskipun begitu tetap dalam suasana saling menghormati. Berbagai masalah yang dikemukakan anggota tentunya untuk meningkatkan kinerja koperasi sesuai semboyan nama koperasi yaitu Sarendeg Saigeul yang artinya susah senang selalu bersama-sama dalam mencapai tujuan. [WYD/DIK]

Tulang Punggung yang (masih) Terabaikan

Hari yang cerah berubah mencekam, asap mengepul dimana-mana, penjarahan, kerusuhan menjadi berita sehari-hari. Kisah suram akan terus melekat di benak rakyat Indonesia. Ketimpangan ekonomi, jomplangnya kesenjangan dan perkenomian negeri yang tidak menentu karena meroketnya harga pangan diikuti melemahnya nilai rupiah terhadap dollar. Sekelumit Peristiwa kita kenal sebagai “Krisis Moneter” 1998. Krisis yang memporak-porandakan perekonomian nasional, mengakibatkan perusahaan multinasional koleps dan memilih menarik Investasinya dari Indonesia.

Perlu waktu untuk bangkit dari keterpurukan, disinilah Usaha Mikro Kecil Mengah (UMKM)  menunjukkan tajinya. UMKM menjadi ‘Pahlawan’ Kebangkitan ekonomi, disaat perusahaan besar bangkrut UMKM terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Krisis moneter tidak mampu mematikan UMKM justru terus berkembang hingga sekarang.  Mudradjad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2008 mengemukakan bahwa UMKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive karena, pertama, UMKM tidak memiliki utang luar negeri. Kedua, tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable. Ketiga, menggunakan input lokal. Keempat, tidak berorientasi ekspor.

Sampai saat ini UMKM menjadi usaha yang mampu berkembang secara konsisten sehingga menjadi salah satu wadah terciptanya lapangan kerja. UMKM masih memegang peranan penting dalam perbaikan perekonomian Indonesia, dengan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB). Data Kementerian Koperasi dan UMKM (2013) memperlihatkan UMKM memberikan sumbangsih Rp. 5.440.007,9 Milyar terhadap PDB nasional dan berkontribusi 96,9% terhadap penyerapan tenaga kerja. Jumlah UMKM tahun 2013 berjumlah 57.895.721, meningkat 2,41% dari tahun sebelumnya.

Diakui atau tidak, besarnya sumbangsih yang diberikan menjadikan UMKM sebagai ‘tulang punggung’ perekonomian Indonesia. Tulang punggung yang tegak menopang pergerakan ekonomi nasional. Namun Besarnya peran UMKM tidak sertamerta membuat UMKM mendapat tempat terhormat di negeri ini. Ada beberapa permasalahan yang sering dialami pelaku UMKM  antara lain : Permodalan, SDM, dan Pemasaran. Masalah-masalah menjadi permasalahan klasik yang tidak bisa terselesaikan.

  1. Permodalan

‘Mas kita butuh tambahan modal biar usahanya bisa gede’ keluh kesah yang disampikan ibu-ibu di Desa Tanjung Pasir, Kab. Tangerang ketika penulis masih menjadi pendamping program pemberdayaan disana. Hampir semua menyatakan memubutuhkan modal, modal dan modal. Tidak hanya di Desa Tanjung Pasir hampir semua UMKM akan menjawab butuh modal ketika ditanya mengenai pengembangan usaha.

Pemerintah sadar bahwa banyak pelaku UMKM yang mengeluhkan modal sebagai masalah untuk mengembangkan usahanya. Beberapa langkah sudah dilakukan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan menggandeng bank-bank pemerintah. Permasalahan muncul adalah kabanyakan UMKM tidak Bankable (tidak layak). Belum lagi ditambah beban bunga serta adanya agunan yang harus diserahkan kepada bank panyalur. Agunan yang bisa jadi lebih besar nilainya dari pada jumlah modal yang di pinjam. Mereka yang sanggup memenuhi persayartan bank penyalur harus gigit jari, akhirnya menjatuhkan pilihan ke rentenir. Proses yang lebih mudah tidak berbelit-belit menjadi solusi termudah yang bisa didapatkan karena sehari bisa langsung cair hanya dengan modal KTP atau KK atau BPKB kendaraan yang dimiliki. Solusi sesaat namun pahit kemudian karena jika tidak bisa melunasi tepat waktu mendapat denda berlipat-lipat. Bukannya udaha berkembang asset pun bisa ikut hilang. Permasalahan rumit yang harus segera di urai.

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)

UMKM rata-rata menggunakan sistem kekeluargaan dalam mengelola usahanya. SDM yang terlibatpun tidak membutuhkan spesifikasi  khusu, yang penting mau aja. Al hasil beberapa permasalahan dikemudian hari ketika UMKM mulai besar dan membutuhkan tambahan modal besar. Pencatatan keluar-masuk barang yang tidak rapi, pencatatan keuangan yang ‘tidak ada’ membuat investor atau bank menjadi ragu akan propek usaha UMKM. Ini lah faktor yang membuat UMKM dinyatakan unbankble.

Belum lagi permaslahan inovasi produk dan inovasi strategi pemasaran. Pelaku Usaha mikrod rata-rata suah puas dengan produknya, dan enggan untuk berinovasi. Penulis teringat ketika masih mendampingi di desa Tanjung Pasir, sewaktu ada kunjungan dari dosen sebuah Universitas di Jakarta. “Bu, kalo produk ibu ini (kripik sukun) rasanya ditambahan jadi ada rasa pedas, manis, orginal. Bagus lho bu” usulan salah satu dosen yang hadir. “nggak ah pak entar klo di macem-macemin rasa jadi nggak laku. Gini ajah udah laku banyak” jawab ibu mitra program. “ohhh..” jawab dosen (manggut-manggut sambil tersenyum).

Kejadian lain juga pernah penulis alami saat pertemuan kelompok dengan ibu-ibu pembuat terasi rebon. “Ibu, terasi rebon buatan ibu-ibu itu sudah enak tapi kurang lembut. Gimana kalo saya kasih penggilingan tangan yang kecil supaya terasinya lebih lembut dan ibu tidak capek numbuk, hasilnyapun lebih banyak” penulis menyampaikan di pertemuan mengenai produk merelka. “nggak ah pak, gini aja sudah enak lakunya juga banyak. Kalo pake mesih nanti rasanya beda, enakkan yang di tumbuk.” Jawab ibu Goniah, salah satu ibu-ibu yang hadir.

Permasalahan yang nyata terjadi tapi kadang luput dari perhatian. Pola fikir SDM mempengaruhi pengembangan UMKM. Pengubahan pola fikir ini seharusnya menjadi titik kritis yang harus diselesaikan untuk pengembangan UMKM.

  1. Pemasaran

Perkembangan teknologi semakin pesat, inovasi berkembang hampir setiap hari. Perubahan ini harus direspon baik oleh pelaku UMKM terutaman untuk masalah pemasaran produk. Saat ini masih banyak pelaku UMKM masih enggan untuk memanfaatkan teknologi. Mereka masih menggunakan cara-cara konvensional, karena sudah terbiasa dengan cara-cara tersebut. Dalam pemasaran pun UMKM masih menggunakan cara-cara konvensional, padahal pemasran online sangat menjajikan. Dari data survey yang dirilis pandi 82, 2 juta pengguna internet memanfaatkannya untuk kepentingan komersil.

Dengan penggunaan teknologi akan memudahkan konsumen menemukan produk UMKM. Penggunaan  teknologi smartphone sudah menyentuh semua lapisan masyarakat. UMKM juga harus belajar banyak dari perusahaan-perusahaan jepang yang kolep karena lambat berinovasi. Kerangka berfikir mengenai pemasaran juga harus di buka, sehingga dalam benak pelaku UMKM tidak hanya berkutat pada wilayah dimana ia malakukan usaha. Di luar sana masih banyak peluang untuk melakukan ekspansi produknya. Kendala jarak bisa diperpendek dengan teknologi internet, untuk pengiriman bisa mengunakan jasa pengiriman. Lagi-lagi perubahan pola berfikir yang harus ditekankan.

Permasalahan-permasalahan yang dialami membuat UMKM seakan terabaikanTerobosan-terobosan harus cerdas harus segera dilakukan, tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan kemudian ditinggal atau dibrikan pelatihan setahun sekali kemudian di biarkan. Pola lama yang sudah terbukti using dan tidak memberikan perubahan secara menyeluruh. Perlu inovasi baru untuk memberikan perubahan, UMKM bangkit, supaya tulang tunggung ekonomi tetap tegak.

Berdayakan mereka

Program perencanaan pengembangan UMKM sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah dari mulai bentuan modal, pelatihan hingga studi banding, namun semuanya belum berdampak nyata. Ketidakakurat nya data menjadi salah satu pemicu ketidakberhasilan program. banyak program berlabel pemberdayaan UMKM baik bantuan alat, pemberian modak dan pelatihan, namun sasarannya bukan pelaku UMKM. Kebijakan lokal kadang tidak berpihak pada pelaku UMKM, sehingga banyaknya program menyasar kepada siapa yang dekat dengan pemerintah lokal saat itu. Salah sasaran yang beruang-ulang ini yang membuat pelaku UMKM sesungguhnya harus gigit jari. Akhirnya banyaknya program yang dilakukan oleh pemerintah terkesan menguap entah kemana.

Ada yang unik ketika awal penulis menjadi pendamping di Desa Tanjung Pasir. Setiap penulis datang ke warga, pasti mereka langsung berkata ‘Bapak mau ngasih bantuan ya?’. Begitu juga ketika penulis mengantar tamu yang ingin melihat potensi UMKM dampingan penulis, pertanyaan itu pasti terlontar dari lisan warga. Menurut penuturan beberapa warga karena sejak tahun 90an desa Tanjung Pasir tiap tahun  mendapat bantuan pemerintah. Seiap proposal yang di ajukan desa rata-rata disetujui oleh pemerintah, karena Tanjung Pasir dianggap sebagai desa nelayan yang miskin. Ternyata perilaku tersebut membuat masyarakat menjadi “manja” dengan bantuan, jadi setiap orang ‘asing’ berpakaian rapi yang datang pasti disangka mau memberikan bantuan. Dan sayangnya setiap bantuan yang diberikan hilang tak berbekas, sehingga Desa Tanjung Pasir tetap saja menjadi desa yang terkesan miskin.

Beberapa lembaga zakat maupun lembaga kemanusiaan sejak tahun 200-an sudah masuk ke ranah pemberdayaan. Konsep pemberdayaan yang dilakukanpun berbeda dengan apa yang dilakukan pemerintah karena lembaga-lembaga ini menggunakan dana-dana masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan. Transparansi menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan pun dilakukan dengan visi yang jelas dan konsep yang riil disesuaikan dengan kondisi dinamika masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah pengawasan program dilapangan. Pelaku UMKM banyak yang bingung ketika menerima bantuan modal, kalo tidak dilakukan pengontrolan bisa-bisa bantuan yang diberikan tidak dipergunakan untuk pengembangan usaha namun untuk kepetingan pribadi. Diperlukan pendampingan khusus oleh lembaga agar program yang diberikan dapat benar-benar dipergunakan untuk usaha.

Masyarakat harus terlibat langsung dalam program bukan hanya sebagai penerima manfaat namun juga terlibat dalam pengembangan program di masyarakat. Bagaimanapun masyarakat lokal lebih memahami karakter dan dinamika lingkungannya, peran mereka sangat vital dalam program. Masyarakat akan lebih mudah diarahkan ketika mereka merasa sudah memiliki program, pelibatan-pelibatan masyarakat secara intens akan memunculkan rasa kepemilikan apalagi kalo mereka merasakan lansung manfaatnya.

Yang tidak kalah penting adalah kesadaran masyarakat bahwa program ini untuk membantu mereka agar usaha mereka meningkat yang akan berdampak pada peningkatan taraf hidup mereka. Kesadaran yang diikuti oleh kemauan masyarakat untuk merubah diri mereka sendiri, karena tanpa kemauan usahanya tidak akan berkembang. Peran pendamping sangat krusial, oleh sebab itu seorang pendamping harus bersedia tinggal ditengah-tengah masyarakat. Dengan tinggal ditengah masyarakat, pendamping akan lebih mudah memahami karakter masyarakat dan memudahkan komunikasi dengan masyarakat sehingga penyadaran bisa dilakukan lebih cepat. Keberadaan pendamping juga bisa memberikan solusi mengenai permasalahan yang dialami dengan lebih cepat sekaligus untuk memastikan program tetap berjalan pada koridor yang telah ditentukan.

Pendampingan, pelibatan masyarakat dan kesadaran masyarakat menjadi ‘trisula’ sebuah program pemberdayaan. jika ketiga hal tersebut ini bisa berjalan dengan baik kemungkinan keberhasilan program akan lebih besar. Hal yang juga harus diperhatikan pada setiap program pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah. Kebehasilan sebuah program pemberdayaan tidak hanya bergantung pada seberapa besar dana yang di gulirkan namun berapa besar dampak yang diakibatkan oleh sebuah program. dan ini tidak bisa hanya analisa di balik  meja, namun harus faham dinamika dan dinamika itu ada di lapangan.

Penulis berharap kedepan akan banyak sinergi yang tersusun rapi antara instansi baik pemerintah, swata maupun NGO untuk menegakkan untuk ‘tulang punggung’ perekonomian negeri.  (Slamet Mulyanto)

Al Hidayah, Gapokter Berprestasi dari Ciamis

Pagi-pagi ada notifikasi instragram di smartphone, terlihat gambar sebuah piagam penghargaan kepada Gabungan Kelompok Ternak (Gapokter) Al-Hidayah sebagai juara ke 3 lomba agribisnis komoditi Sapi Potong Tingkat Propinsi Jawa Barat 2016. Kaget sekaligus kagum atas prestasi yang telah dicapai oleh Gapokter Al-Hidayah, Gapokter yang terhitung masih muda karena baru berdiri pada 2014. Gapokter ini di bentuk berawal dari program Sentra Ternak Sapi Rancah yang dilakukan oleh Kampoeng Ternak (sekarang Karya Masyarakat Mandiri) dan  Dompet Dhuafa.

Sentra sapi rancah ini merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis peternakan. Program ini bertujuan meningkatkan populasi sapi rancah, meningkatkan pendapatan mitra peternak, dan membangun manajemen perbibitan sapi rancah.  Sapi rancah Sendiri merupakan sapi lokal khas Jawa Barat. Sapi rancah berkembang di masyarakat sepanjang wilayah Priangan Utara dan wilayah Pesisir Selatan Jawa Barat. Populasi sapi rancah yang murni kini mulai berkurang, keberadaannya di tengah masyarakat tersisihkan oleh sapi impor. Untuk menjaga populasi sapi rancah dan melestarikan flasma nutfah asli Jawa Barat ini, Gubernur Jawa Barat melaui Dinas Peternakan Jawa Barat melakukan pengembangan sapi rancah. Hal tersebut pulalah yang mendorong Dompet Dhuafa untuk ambil bagian, dengan memberikan 30 ekor sapi rancah  dan 90 ekor kambing.

Sejak terbentuk, Gapokter banyak menunjukkan kemajuan. Terbukti dari 30 ekor sapi yang diberikan di awal program dalam kini telah berkembang menjadi 60 ekor. Gapokter juga sering mengikuti kontes sapi baik atas nama Gakpokter maupun anggotanya. Kontes yang pernah diikuti antara lain Pesta Patok yang merupakan ajang khusus hewan yang diselanggarakan oleh PemKab Ciamis, kontes Ratu Bibit, Kontes Sapi Potong Lokal dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak kontes yang diikuti delapan (8) diantaranya memperoleh predikat juara. Diantaranya : Juara 3 Lomba Ratu Bibit Kabupaten Ciamis pada tahun 2014, Juara 2 Pejantan Tingkat Kabupaten Ciamis di tahun 2015, Juara 1 Bibit Lokal tahun 2015, Juara 3 Kontes Sapi Potong Se-Jawa barat tahun 2016,  Juara 1 Pejantan Lokal Kabupaten Ciamis 2016, Juara 2dan 3 Sapi Bibit Kabupaten Ciamis dan yang terbaru adalah menjadi juara 3  Lomba Agribisnis Komoditi Sapi Potong Propinsi Jawa Barat.

Sebuah kebanggaan bisa mendampingi mereka, peternak- peternak yang punya semangat dan etos kerja  tinggi. Tahun ini Program berakhir dan akan dilakuan aset reform, selanjutnya Gapokter akan berjalan mandiri namun tetap dibuka komunikasi. Pemkab Ciamis juga berkomitmen bersama masyarakat untuk mengembangkan Gapokter  dengan Sapi Rancahnya. Harapan besar Gapokter terus berkembang sehingga mampu berprestasi lebih tinggi dan lebih banyak memberikan manfaat. Semoga (KMM/SM)

Pemberdayaan, Ikhtiar Sejahterakan Masyarakat Halmahera

Pengembangan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat perlu dikembangkan dan mendapat perhatian. Pemberdayaan mengembangan pola partisipatif atau atas dasar kesadaran masyarakat sehingga perubahan ekonomi lebih mudah dicapai. Proses penyadaran terhadap masyarakat ini lah yang manjadi acuan karena perubahan akan berjalan dengan baik jika ada keinginan kuat dari masyarakat untuk berubah. Ini menjadi titik tekan yang harus fahami setiap instansi yang ingin melakukan pemberdayaan kepada masyarakat.

Perkembangan ekonomi di daerah timur Indonesia mulai bergeliat, namun terkesan lambat jika dibandingkan wilayah lain. Upaya sudah dilakukan pemerintah dengan program-program pengembangan ekonomi masyarakat. Mulai bantuan hibah, bantuan bergulir hingga program-program berlabel pemberdayaan. Tidak hanya pemerintah, NGO dan swasta pun  turut terjun untuk memberdayakan masyarakat dengan bermacam model dan bidang yang dibutuhkan masyarakat.

Karya Masyarakat Mandiri (DD) bersama Dompet Dhuafa (DD) tidak ketinggalan dengan menggulirkan program-program pemberdayaan di wilayah timur Indonesia. Salah satu program yang saat ini sedang berjalan adalah program pemberdayaan berbasis peternakan di Desa Tafasoho, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Propinsi Maluku Utara. Program memberika Permodalan, produksi ternak, distribusi, manajemen usaha kelompok dan koperasi peternak, peningkatan keterampilan, sikap, dan perilaku peternak, mediator akses sarana dan prasarana ekonomi, dan pemasaran produk. Modal usaha disalurkan dalam bentuk pembiayaan bagi pengembangan peternakan masyarakat yang dikelola secara terpola, terpadu dan berkesinambungan sehingga menumbuhkan iklim kewirausahaan masyarakat.

Tujuan utama dari program ini merupakan program pengembangan ternak sapi Bali. Dengan menjadikan masyarakat sebagai sasaran. Ini memerlukan strategi agar program bisa berlanjut meskipun sudah dimandirikan. KMM-DD menerapkan strategi pendampingan intensif dengan menempatkan pendamping (field officer) yang memiliki kemampuan manajerial yang baik, mampu membangun komunikasi dengan masyarakat dan faham mengenai budidaya ternak. Dengan penempatan pendamping diharapkan pola pemberdayaan akan lebih terarah. Ketika terjadi permasalahan pun, pendamping bisa langsung mengambil perannya sebagai problem solver.

Selain pendampingan intensif, strategi yang lakukan sistem perbibitan di masyarakat atau dikenal dengan istilah village breeding system (VBS). Dalam VBS memiliki ciri khas dan persyaratan berupa pencatatan (recording) yang ketat. Strategi lainnya adalah sistem pemeliharaan secara intensif (di dalam kandang) dengan kandang koloni. Ini untuk memudahkan pengontrolan perkembangan ternak.

Program yang digulirkan tahun 2014 ini, manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Dari 43 ekor sapi bali yang digulirkan di awal program sekarang sudah berkembang menjadi 56 ekor sapi bali yang tersebar di 3 kelompok dengan melibatkan 30 KK.  Dukungan masyarakat pemerintah menjadi modal tambahan bagi program untuk berkembang. Pemerintah Desa Tafasoho menyediakan lahan untuk Kandang koloni. Lokasi kandang tersebut sekaligus menjadi pusat kegiatan mitra, mulai dari pertemuan kelompok, rekording, pengolahan pakan, pusat pelatihan dan menerima tamu. Di lokasi sekitar kandang ditanam hijauan sebagai pakan ternak yang dalam budidayanya memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk alami.  Masing-masing mitra diberikan tanggung jawab terhadap ‘jatah’ lahan yang diberikan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, sampai pemanenan.

Saat hari raya Idul Adha, Mitra mendapat kepercayaan untuk pengadaan dan penyaluran program Tebar Hewan Qurban (THK) yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa sejak tahun 2015. Tahun 2016 Gabungan Kelompok Ternak (GAPOKTER) mendapat kuota sebanyak 13 ekor naik 8 ekor disbanding tahun 2015 yang hanya 5 ekor. Kepuasan terhadap kondisi hewan kurban yang menjadikan DD percaya dan memberikan penambahan kuota. Hasil keuntungan dari penjualan hewan tidak dibagi namun digunakan kembali untuk menambah populasi. Komitmen yang dibangun bersama secara partisipatif oleh anggota.

Kesadaran tidak begitu saja terbangun, namun membutuhkan waktu lama dengan dinamika yang terjadi dalam kelompok. Namun semua berhasil dilewati, sekarang masyarakat mulai menikmati hasil sedikit demi sedikit. Masih diperlukan proses yang panjang, namun komitmen masyarakat dan stakeholder terkait untuk meneruskan program ini menumbuhkan optimisme baru bahwa kelak Tafasoho akan dikenal sebagai sentra sapi Bali. Semoga… (Saiful/Slamet)

 

 

 

 

Tebar Aqiqah Bantu Korban Banjir Garut

Garut– Banjir bandang yang menerjang Garut Rabu (21/09) meninggalkan luka yang mendalam. Menurut data BNPB (Bandan Nasional Penanggulangan Bencana) jumlah korban meninggal akibat banjir bandang di Garut mencapai 23 orang dan 18 lainnya masih dalam pencarian. Dan 2.049 rumah rusak yang meliputi 283 rumah hanyut, 605 rumah rusak berat, 200 rumah rusak sedang dan 961 rumah rusak ringan.

Bencana yang mengiris hati siapapun yang mendengarnya. Masyarakat bahu-membahu membantu baik secara fisik hadir maupun mambantu dengan mengirimkan peralatan dan bahan pangan kebutuhan harian melalui lembaga-lembaga kemanusiaan. Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak di seluruh indonesia.

Salah satunya adalah Nasin warga Bekasi, keinginannya untuk berbagi mambantu korban bencana diwujudkan saat akikah anaknya Narsih Nurhayati. Ia mendistribusikan hewan aqiqahnya kepada para pengungsi tepatnya di Balai Badminton Inten Dewata, Desa Pakuwon, Kecamatan Garut Kota Kabupaten Garut, Jumat (14/10). Penerima manfaat sebanyak 55 KK yang terdiri dari orang tua, anak-anak dan Ibu Hamil.

Penyaluran aqiqah dilakukan oleh Tebar Aqiqah yang mempunyai  Layanan Aqiqah Peduli yang bertujuan menjembatani nilai sosial dan kepedulian peaqiqah terhadap dhuafa di daerah. Sesuai dengan salah satu fungsi aqiqah sebagai ibadah sosial, maka Tebar Aqiqah memberikan peluang kepada peaqiqah untuk mendistribusikan paket aqiqahnya ke daerah kantong kemiskinan dan wilayah yang terkena bencana di Indonesia. (KMM/Ucup).

 

Tebar Aqiqah
Parung Hijau I, Jl. Mangga Raya Kav. 46
Kemang-Bogor-16310

CP: Mohamad Yusup
Telp : 0812 82757215

/WA: 0857 7598 8235
Email : [email protected]

Gurihnya Beternak Jangkrik di Sragen

Heru Riyanto (41 tahun) merupakan satu dari tiga puluh orang penerima manfaat Program pemberdayaan TKI Purna di Kabupaten Sragen. Ia tinggal di Desa Jenggrik Kecamatan Kedawung, Sragen. Sehari-hari bapak tiga anak ini   bekerja sebagai buruh bangunan. Ia  pernah merantau mengadu nasib ke Malaysia bekerja di pabrik plywood selama belasan tahun. Sekarang ia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Malaysia dan memulai usaha ternak jangkrik. Keinginan heru untuk memulai usaha jangkrik didukung oleh sang istri Tumiasih. Ketika Heru sedang bekerja menjadi buruh bangunan, maka istrinya yang mengelola usaha jangkrik dengan memperhatikan manajemen pemberian pakannya.

Pada awal program pemberdayaan dimulai, Heru hanya mempunyai  satu kandang berukuran 1,25 m x 2,5 m x 0,60 m. Kapasitas panen jangkrik yang bisa ditampung dalam kandang tersebut adalah 25-30 kg, yang dihasilkan dari penetasan  2 ons telur. Seiring berjalannya waktu, Heru menambah jumlah kandangnya  menjadi lima unit. Hasil panen jangkrik yang pernah dicapai Pak heru mencapai 23 kg dan 18 kg. “Budidaya Jangkrik merupakan usaha yang prospeknya cukup baik karena permintaan pasarnya cukup tinggi.  permasalahannya pasokan telur yang masih terbatas dan harga pakan (voor) yang cukup mahal” Jelas Heru. “Pernah nyoba mengurangi voor dan memperbanyak sayur-sayuran untuk pakan seperti daun papaya, dan limbah sayur dari pasar, tapi pertumbuhannya malah lambat” lanjut Heru

Selain Heru mitra yang membudidayakan jangkrik adalah Wagianto (43 th) yang juga adlah rekan heru ketika bekerja di Malaysia. Wagianto,yang juga Ketua Koperasi KAMI (Keluarga Migran Indonesia) Mandiri sudah memiliki 11 unit kandang jangkrik di garasi rumahnya. Mulai dengan dari nol sekarang Wagianto sudah mampu memanen 29 Kg jangkrik dari 2 ons telur setiap panennya. Masih susahnya pasokan telur membuat ia mulai. menekuni usaha pembibitan dengan melakukan perkawinan induk jangkrik. Selama ini suplai telur jangkrik diambil dari Kota Solo karena kualitasnya cukup baik dibandingkan dari kota lainnya. Pak Wagianto pernah mengambil telur jangkrik dari Purwodadi, namun telur yang dihasilkan banyak yang gagal menetas.

Wagianto menjadi ketua Koperasi KAMI Mandiri sejak Maret 2015. Inisiasi pembentukan lembaga lokal tersebut dari anggota KAMI yang terinspirasi untuk memiliki koperasi. Wagianto menginisiasi pengadaan telur jangkrik dan pakannya dengan memperkuat peran koperasi sebagai kelembagaan lokal yang memfasilitasi kebutuhan anggota.  Dari pengadaan telur jangkrik dan pakan diharapkan akan ada keuntungan yang bisa didapatkan oleh koperasi.

(Darmansyah)

 

“Du Crija” Jamur Crispy Khas Sragen

Anik Purwanti (34) merupakan seorang sosok wanita yang bisa menjadi contoh buat kaum ibu yang ingin berwirausaha. Wanita yang pernah mengadu nasib menjadi TKW di beberapa negara antara lain Singapura pada tahun 2003-2004 (2 tahun) dan Hongkong pada tahun 2004-2009 (5 tahun) sekarang sudah bisa tersenyum manis. Kerja kerasnya selama ini mulai memberikan hasil dan membuka harapan untuk masa depan keluarganya.

Rumah produksi Jamur Crispy milik Bu Ani terletak di Kedung Panas, RT 18 RW 09 Kecamatan Ngrampal Sragen, Jawa Tengah. Rumah produksi ini merupakan hasil inisiasi PT KMM-Dompet Dhuafa melalui program pendampingan BMI Sragen. Tidak hanya rumah produksi, sertifikasi PIRT (Pangan industri Rumah Tangga) dan sertifikasi Halal pun sudah dikantongi ibu satu anak ini. Tentunya bantuan program ini sangat membantu sekali dalam meningkatkan penjualan jamur crispy hasil olahan Bu Anik.

Usaha crispy jamur yang dikelola oleh Mbk Anik perkembangannya cukup baik yaitu tiap hari mampu memproduksi jamur crispy sebanyak 12 kg bahkan sampai 20 kg ketika mendekati hari raya. Satu kemasan produk jamur crispy “Du Crija” mempunyai berat bersih 80 gram  dijual ke konsumen dengan harga Rp 8.000 per pcs. Jamur crispy Du Crija dapat dinikmati dengan beberapa varian rasa antara lain lada hitam, original, pedas, sapi panggang, dan rasa keju. Sampai Bulan Agustus 2016, omset usaha jamur crispy Bu Anik telah menembus omset 9 juta rupiah.

Upaya pemasaran produk ini dilakukan melalui beberapa cara antara lain promosi melalui internet (facebook), mengikuti pameran-pameran, dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang tertarik untuk menjadi reseller. Beberapa sampel produk Jamur Crispy telah memasuki wilayah Tiongkok dan Hongkong untuk penjajakan pemasaran disana. (KMM/Budi/marisd)

KMM Manfaatkan Teknologi Aplikasi Untuk Sejahterakan Petani

Kemajuan teknologi informasi telah dirasakan manfaatnya dan berkembang di segala bidang termasuk pertanian. Teknologi informasi diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada sektor budidaya pertanian terutama informasi harga, pasar dan teknologi budidaya. Kehadiran aplikasi teknologi informasi untuk petani diharapkan mampu memberikan solusi dan efisiensi usaha budidaya pertanian.

Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai Corporate Enterprise yang konsen dalam pemberdayaan pertanian menyadari bahwa pemberdayaan termasuk bidang pertanian perlu terintegrasi dengan teknologi.  KMM menjalin kerjasama dengan Eragano, salah satu vendor penyedia aplikasi teknologi informasi. Aplikasi eragano menyediakan fitur yang bisa dimanfaatkan petani untuk melakukan budidaya. Fitur-fitur tersebut antara lain  Fitur jadwal tanam yang mengatur jadwal kegiatan budidaya, dosis penggunaan pupuk dan pestisida dan jadwal panen. Fitur pembelian berguna untuk membantu petani mendapatkan sarana produksi dan aplikasi pelaporan jika terdapat kendala hama dan penyakit melalui aplikasi. Saat ini aplikasi Eragano sampai dengan saat ini berjumlah 100 orang, terkonsentrasi di daerah Pangalengan – Bandung

KMM tahun ini mulai menerapkan penggunaan aplikasi eragano untuk program Green Horti –Mustahik Move to Muzakki (M3) Program Kerjasama antara KMM dan Dompet Dhuafa di wilayah Cipanas, Cianjur. Sosialisasi telah dilakukan Rabu(24/08) di bertempat di Desa Sindang Jaya, Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur. Sosialisasi dihairi langsung oleh Aris Hendrawan selaku co Founder eragano. setelah sosialisasi akan dilakukan ujicoba penggunaan aplikasi pada 10 petani anggota Paguyuban Sumbar Jaya Tani Dampingan KMM.

Dengan pemanfaatan teknologi ini diharapkan petani mampu meningkat produksinya dengan kualitas yang baik. Permasalahan pemasaran yang selama ini masih menjadi kendala dapat teratasi karena eragano akan menyerap komoditas yang proses penanamannya memanfaatkan  fitur yang ada di aplikasi eragano. (KMM/Zahrul/Asep)