Untold Story : “Ditolak Karena Nggak Berbunga”

Dering handphone membuatku kaget “assalamu’alaykum” aku menyapa. “wa’alaykumsalam” suara diujung telpon membalas salamku. “mas slamet ini munip (manager program), mas slamet nanti jadi pendamping di Tanjung Pasir ya”, ia melanjutkan obrolan. Kaget memang, karena waktu itu masih menjadi pendamping program di sukabumi dan harus pindah lokasi yang lagi-lagi tidak ku kenal. Memang sudah menjadi konsekuensi pendamping untuk di pindah ke lokasi pendampingan.

Tanjung pasir, negeri antah berantah di ujung utara tangerang yang berbatasan langsung dengan laut jawa. Desa kecil yang terkenal karena sering mendapat kunjungan pejabat negeri ini, setidaknya itulah gambaran yang aku dapatkan ketika menelisik di internet tentang calon tempat tinggal baru ku. Setelah berpikir akhirnya aku menerima tantangan tersebut, walaupun aku tidak tau persis seperti apa lokasinya.

Tepatnya tanggal 20 September 2012, waktunya telah tiba untuk memulai program di Desa Tanjung Pasir. Berangkat dari Bogor berbekal surat pemberitahuan yang ditujukan kepada pemerintah setempat dan Nomor handphone kontak disana yang dierikan oleh Tim Survey yang ditugaskan mensurvey kelayakan wilayah Desa Tanjung pasir sebelum program dilaksanakan. “Mas, nanti sampai sana hubungi bang agus ini nomornya” papar Dhani, Anggota tim survey. Bang agus ini dulu yang bantuin, waktu survey”, lanjutnya.

Berbekal informasi dari google maps dan dibantu plang penunjuk arah, ku susuri jalanan Bogor-Tangerang yang terkenal rawan macet. Tidak terasa 2 jam telah ku lalui di atas motor kesayangan di bawah teriknya matahari siang itu. Akhirnya ku lihat penunjuk arah bertuliskan Tanjung pasir, lega rasanya.

Sampai di Desa Tanjung Pasir istirahat untuk membeli minuman, lokasi dipinggir pantai membuat kulit trasa terbakar. Efek pantulan panas dari air laut menyebabkan suhu udara menjadi duakli lebih panas dari daerah lainnya. Belum hilang rasa lelah, ku coba menghubungi bang agus, ‘alhamdulillah, nyambung nih “, kata ku.

“hallo” terdengar suara dari ujung telpon.

‘Asslamu’alaykum bang, saya slamet dari MM temannya mas dani”, jawabku.

“oh iya, mas lagi dimana” jawabAagus.

“saya udah di Tanjung Pasir di depan minimart. lagi sibuk nggak?bisa ketemu” tanya ku

“nggak mas, bisa ketemu di bawah tower aja mas, dekat minimarket” jawab Agus

Nunggu agak lama, muncul sosok pemuda berbadan kurus memakai baju kotak-kotak.

“Itu bukan ya?kok kecil gini” pikirku

Ragu-ragu aku pun bertanya, “bang agus?”

“Mas Slamet”? jawabnya. Ketawa dalam hati jadi terfikir kayak film india aja.

Muda, idealis dan visioner kesan pertama bertemu dengan bang agus. Ia lah yang membantuku untuk beradaptasi dengan wilayah baru yang akhirnya nanti ia menggantikan ku menjadi pendamping di desa kelahirannya.

Memulai program di Tanjung Pasir tidak mudah, tidak seperti wilayah dampingan sebelumnya dimana pemerintahan setempat menyambut baik program.

“Mas kalo mau  ke Desa besok pagi aja antara jam 08.00-09.00. Selain jam-jam itu tutup. Tau tuh aparatnya” kata Agus dengan nada kesal. Ia bercerita panjang lebar tentang lingkungan dan kondisi desanya, membuatku mengerti kenapa ia kesal dengan kondisi desanya. Semangatnya untuk memperbaiki desanya sungguh luar biasa, cara berfikir yang berbeda dengan pemuda-pemuda seumurannya. Jadi pantas tim survey memberikan rekomendasi untuk menemui beliau sebelum memulai program. Dia juga yang menemaniku berkeliling menemui tokoh-tokoh desa.

Sebulan sudah aku memulai program, namun belum satupun warga yang bisa ku ajak menjadi mitra program. yang membuat ku bingung alasan yang ku anggap tidak masuk akal, hanya karena pembiayaan yang diberikan program tidak ada ‘bunganya’. Program menggunakan sistem syariah yang tidak mengenal istilah bunga. Program yang sifatnya membantu menggunakan akad qordhul hasan (pinjaman kebaikan) yang memang tidak membebankan bunga, karena sasaran program adalah para dhuafa. Harapannya dengan pembiayaan ini masyarakat dhufa mampu meningkat secara ekonominya dengan berjalannya usaha tanpa harus memikirkan ‘bunga’ pembiayaan yang harus di bayar.

Pernah waktu melakukan sosialisasi di kp. Garapan, masih termasuk Desa Tanjung pasir ketika saya menjelaskan tentang program dan jenis pembiayaan, ada yang heran.

‘lho bapak untung dari mana?’ tanya sorang ibu-ibu yang akhirnya ku ketahui namanya Boni

Kaget, bingung tapi gak pake bengong.  Tapi coba saya jelaskan tentang program serta mengajak ibu-ibu untuk menjadi mitra. Ternyata pertanyaan itu berulang-ulang ditanyakan di setiap tempat dilakukannya sosialisasi. Baru aku faham kenapa mereka seperti itu setelah banyak berdiskusi dengan agus dan Pak budi. Pak Budi, anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut berpangkat Sersan Mayor yang belakangan menjadi ‘lawan’ diskusi tentang kondisi desa dan sejarah desa.

Menjamurnya rentenir dan pinjaman/pembiayaan dari lembaga yang membebani dengan bunga 15-25% ternyata telah menanamkan mindset minjem ‘harus’ berbunga. Pernah ketika diskusi dengan sekretaris desa, ia menyebutkan lembaga-lembaga simpan-pinjam yang masuk ke desa tanjung pasir, iseng-iseng ku hitung ada 7 lembaga belum lagi bank keliling, Yang membuat aku kaget, katanya satu orang bisa mempunyai 3-4 pinjaman ke lembaga yang berbeda.  Keadaan  dan budaya yang membuat mereka melakukan hal tersebut.

Mata pencaharian sebagai nelayan tidak bisa menjamin meraka dalam satu tahun bisa melaut tiap hari. Istilah mereka musim barat adalah waktu dimana meraka libur melaut. Kondisi ini yang membuat mereka meminjam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena tidak melaut berarti tidak ada pendapatan. Budaya konsumerisme yang cukup tinggi memperburuk keadaan, dalam budaya msyarakat ada istilah biar tekor asal ke sohor. Sikap tidak mau menabung juga menjadi budaya, bagi mereka rejeki hari ini ya untuk hari ini, rejeki besok sudah ada yang mengatur. ‘siapa dulu ya pertama kali mengajari mereka seperti ini”gumamku dalam hati.

Semakin hari semakin jelas tantangan yang harus dilewati untuk melaksanakan program. jadi berfikir ‘gimana caranya mengajak masyarakat untuk mengikut program”….

{fcomment}

 

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan