Zakat, Instrumen Perekonomian

Bila ditarik lebih mendasar, zakat yang merupakan bagian dari sedekah memiliki makna penting bagi keberadaan harta benda yang berada di atas dunia ini. Dalam QS Yunus ayat 66 Allah berfirman: ”Ingatlah, milik Allah meliputi siapa yang di langit dan siapa yang di bumi….”. Esensinya seluruh harta adalah milik Allah. Bila ayat ini dihayati secara sungguh-sungguh, maka ajaran sedekah akan mampu menekan aktivitas penimbunan harta, perlombaan mengejar kekayaan, kejahatan ekonomi sampai soal kesenjangan sosial.

Sedekah meliputi sedekah wajib dan sedekah sunah. Sedekah wajib tak lain berupa zakat, terdiri zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta). Sedekah sunah berupa infak, sedekah jariyah, dan wakaf, tak terkecuali sumbangan tenaga dan pemikiran.

Dalam ranah filantropi, zakat identik dengan filantropi Islam. Filantropi Islam berakar dari kepercayaan terhadap Tuhan untuk kepentingan semua manusia. Filantropi Islam bernilai transedental tinggi, tidak menjadi sarana pencucian dosa atau tameng agenda tersembunyi, dan bukan kegiatan kegiatan insidental.

Filantropi Islam memiliki peran penting dalam perekonomian, terutama terkait upaya pengentasan kemiskinan. Yusuf Wibisono, Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEUI (Koran Tempo, 25 Agustus 2009) menjelaskan, instrumen filantropi adalah mekanisme transfer dari kelompok kaya kepada kelompok miskin yang tepat sasaran. Pada saat yang sama, instrumen filantropi Islam berperan sebagai jejaring pengaman sosial yang efektif.
Dengan adanya transfer pendapatan dari kelompok kaya ke kelompok miskin, akan terjadi peningkatan permintaan barang dan jasa dari kelompok miskin, yang umumnya kebutuhan dasar. Permintaan yang lebih tinggi untuk kebutuhan dasar masyarakat terkait dengan filantropi Islam ini akan mempengaruhi komposisi produksi barang jasa yang diproduksi dalam perekonomian sehingga akan membawa alokasi sumber daya menuju ke sektor-sektor yang lebih diinginkan secara sosial. Hal ini akan meningkatkan efisiensi alokatif dalam perekonomian.

Dengan instrumen filantropi yang mentransfer pendapatan orang kaya ke orang miskin, maka permintaan barang dan jasa orang miskin akan meningkat. Dalam konteks ini kita dapat memandang fungsi alokatif filantropi Islam yang merealokasi sumber daya dari orang kaya ke orang orang miskin sebagai cara efektif memerangi kemiskinan.
Senada dengan Nana Mintarti dari The Indonesian Magnificence Zakat (IMZ), Yusuf Wibisono menilai, di Indonesia, potensi filantropi Islam yang sangat besar di Indonesia belum mampu mengangkat kelompok miskin dari jurang kemiskinan. Hal ini sebagaian besar disebabkan oleh perilaku penderma yang masih amat karitatif, berorientasi jangka pendek, desentralistis, dan interpersonal. Filantropi sering dilakukan dalam bentuk konsumtif, individual dan tidak terorganisasi.

Dibutuhkan upaya revitalisasi dengan menggugah kesadaran dan sekaligus mengubah perilaku penderma. Menggugah kesadaran umat sangat penting, karena sampai kini terdapat kesenjangan besar antara potensi dan realisasi dana filantropi Islam. Selain itu dibutuhkan rekonstruksi paradigma sedekah dari sedekah personal-jangka pendek yang bersifat karitatif menjadi sekedah institusional-jangka panjang yang lebih bersifat pemberdayaan. Upaya penting lainnya adalah meningkatkan kapasitas lembaga amil dan pengelola dana filantropi Islam. Selain meningkatkan efektivitas pendayagunaan dana filantropi Islam, hal ini penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pengelola dana filantropi.

Dalam prakteknya, melalui program-program pemberdayaan yang dijalankan Masyarakat Mandiri, dana zakat efektif perannya dalam masalah perekonomian. Zakat disalurkan dalam kegiatan ekonomi produktif yang menjamin nilai keberlanjutan ekonomi masyarakat yang dibantu. Zakat disalurkan sebagai modal kerja sekaligus menjadi asset komunitas yang dibantu dan pada gilirannya manfaatnya meluas pada warga sekitar.

Diposting oleh Hery D. Kurniawan

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan