Zakat Recovery Ekonomi Korban Bencana

Filantropi makin popular. Zakat makin familiar. Keduanya identik dengan pemberian langsung, terutama saat terjadi bencana. Jangan heran, saat musibah usai, bantuan mengalir deras. Ingat usai bencana Situ Gintung. Seorang bapak tua warga korban situ di wilayah Tangerang Selatan itu diwawancara seorang reporter televisi. Ia mengaku, bantuan logistik di posko-posko berlebih, bahkan jadi mubazir. Orang tak menyangka narasumber itu memiliki pandangan jauh. Ia berpendapat, segala bantuan yang datang semua berorientasi pada “kebutuhan” korban hari ini, kok tidak hari-hari selanjutnya, bukan sekadar kebutuhan darurat.

Pemikiran si bapak tersebut jarang ditangkap mereka yang bergerak di dunia filantropi dan perzakatan. Maka, apakah ini pertanda dunia filantropi dan perzakatan kita masih pada fase memahami kebutuhan penerima manfaat jangka pendek? Dalam kasus korban bencana, banyak alasan mengapa perlu program-program pemulihan (recovery) ekonomi untuk membantu mengembalikan tenaga dan materi untuk melanjutkan produktivitas para korban pascabencana. Sekali lagi produktivitas.

Beberapa bulan lalu saya bertemu Cak Shodik (40) di Sidoarjo. Laki-laki ini bagian dari korban Lumpur Sidoarjo itu mengaku bisa bangkit karena dana zakat dari Dompet Dhuafa dengan program pemulihan ekonomi dijalankan oleh Masyarakat Mandiri. Cak Shodik adalah bagian dari ratuan perajin tas, dompet dan asesoris berbasis kulit di Kedung Bendo Sidoarjo. Ia adalah salah satu warga produktif yang tak lagi punya modal akibat sempat terlunta-lunta di pengungsian, Pasar Porong. Modal habis untuk kebutuhan darurat, tak ada kesempatan bekerja membuat dompet beberapa bulan, dan langganan dari berbagai kota pun terputus komunikasi. Kasus Lumpur membuat citra Tanggulangin sebagai kota belanja tas dan dompet turut tenggelam.

Cak Shodik terus bertutur. Masa paling sedih bagi dia dan warga umumnya adalah saat sebelum mereka ngontrak rumah. Terlebih masa mengungsi di Pasar Porong, sembari menunggu realisasi uang kontrak. Selama dua bulan, Shodik hanya bisa merenungi rumahnya yang tenggelam oleh Lumpur panas. Anak-anak kehilangan kebahagiaan karena tak bisa bermain, sekolah dan mengaji seperti biasanya, belum lagi ancaman kesehatan. Seseudah melewati alur hidup mengalir penuh lonjakan dan turunan tajam, Cak Shodik masuk “kehidupan kedua” . Istilah kehidupan kedua dia ciptakan sendiri untuk menggambarkan kehidupan baru setelah bencana. Bagi dia, isteri dan anak-anaknya, memang banyak hal baru yang akan mereka tempuhi.

Korban bencana umumnya digenggam rasa tidak pasti. Seperti warga korban bencana lumpur panas, sebagian warga memiliki kesiapan psikologis menghadapi “kehidupan kedua”. Namun, banyak juga yang hanyut dalam lara karena rasa kehilangan sesuatu berharga yang pernah dimilikinya, dan ada perasaan ‘suramnya masa esok’. Di sinilah pentingnya pendampingan, secara moral dan secara ekonomi. Barangkali sebagian filantrop, amil zakat atau kaum dermawan menganggap membantu orang ‘kok ribet amat sih’. Di situlah ego serta kecerdasan pemberi dan penolong diuji. Seberapa sanggup dan pintar membantu orang dengan cara yang lebih berdampak jangka panjang bagi korban bencana.

Alih-alih berpikir manfaat yang bernilai lebih bagi yang dibantu, jangan-jangan pemberian-pemberian untuk para korban hanya bertujuan publikasi, menunjukkan bahwa pemberi begitu peduli. Kita ingat benar, posko partai politik dengan bendera digeber gede-gedean di area bencana Situ Gintung atau iklan-iklan di TV berisi bantuan perusahaan.

Saya hanya berharap, kita semua bisa belajar menolong dengan cara cerdas. Karena saya yakin para pemberi dan penolong itu memiliki modal lebih pada soal kecerdasan, satu langkah di depan kepedulian. Terlebih dalam mendayagunakan dana zakat!

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan