ZIS yang Mengubah Warna Hidup

Sosok Khairul Huda sebelumnya bukanlah tokoh dianggap penting bagi perubahan ekonomi desa. Pria itu seorang pembuat gula kelapa di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, lebih dari 10 tahun. Di Desa Buanajaya, Tanjungsari Bogor ada Yuyun. Ibu tiga anak ini awalnya hanya ibu rumah tangga biasa, sembari bekerja di kebun orang. Tapi kini, di Desa Buanajaya, siapa yang tidak kenal Yuyun? Bahkan hingga di kalangan Dinas Koperasi Kabupaten Bogor pun tidak asing dengan nama Ketua Koperasi Buanajaya itu. Adalagi Masitoh yang memiliki mimpi besar di Ciamis, Ayi lokomotif koperasi wanita syariah ‘anti-macet’ di Cianjur. Dan ratusan kader lokal yang tumbuh dan ‘menjadi’ di berbagai propinsi dengan ikhtiar pemberdayaan masyarakat.

Ribuan mitra telah berubah menjadi tokoh istimewa bagi keluarganya, sebagian yang lain telah menjadi bagian penting dari dusun dan desanya. Sebagian lain memiliki pengaruh hingga lintas kabupaten. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka pun terus belajar bersama kelompok mandiri, kapasitas mereka sedikit demi sedikit meningkat. Mereka telah kenal manajemen keuangan, pembukuan, team work, visi misi, membangun jaringan dan sebagainya. Semua diberikan Pendamping Mandiri di lapangan. Meski tiada kami pungkiri terdapat mitra dampingan yang hingga kini, masih berselimut dengan kemiskinannya.

Keberhasilan para mustahik di atas tentu tidak lepas dari peran para Muzakki yang telah mendermakan dananya di lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa yang kemudian oleh MM diolah menjadi program pemberdayan ekonomi. Semua dana diserahkan kepada komunitas yang didampingi. Peran MM adalah membantu mengelola bersama komunitas untuk peningkatan ekonomi mereka. Buah dari kerja keras ini, kini masyarakat dampingan (mustahik), telah memiliki lembaga lokal berbadan hukum. Sebanyak 21 koperasi kini telah berdiri. Di luar itu, ada belasan komunitas memiliki lembaga nonkoperasi. Mereka mengelola pembiayaan untuk mereka sendiri dengan akad-akad bagi hasil dan murabahah. Beberapa dari mereka yang memiliki potensi kepemimpinan menonjol dilatih untuk mampu memimpin dan mengurus lembaga ini, sebagian yang lain dilatih pembukuan, ada yang dicoba untuk mencari pasar agar mampu menjual secara kolektif produk mereka dengan harapan mendapatkan harga yang bersaing.

Memang tidak mudah mengubah pola hidup mereka yang selama ini untuk mengurusi diri mereka dan keluarganya sendiri. Mereka yang terpilih seperti nama-nama di atas kini harus meluangkan waktunya di antara kesibukan mencari nafkah untuk mengelola lembaga keuangan di desa. Mereka harus mengelola pertemuan dengan anggotanya, menandatangai usulan pembiayaan dari mitra layanan dan seabrek kesibukan lainnya.

Kami berharap semoga kami akan tetap mampu menjaga semangat mereka agar mereka tetap tegar untuk berusaha, sebagaimana para donatur tetap tegar berinfak dan bersedekah meski di masa-masa sulit. Kami juga berharap doa untuk para mustahik (mitra MM) agar tetap semangat dan amanah dalam mengelola dana yang telah mereka terima untuk meningkatkan kehidupan ekonomi keluarga mereka, meski itu adalah hak mereka. Kami juga berharap datangnya tangan-tangan kebaikan untuk secara bersama-sama memberikan penguatan kepada mereka. Semakin banyak sosok kader penggerak, secara perlahan kemiskinan di negeri ini akan berkurang. Dan, betapa makin bermaknanya peran para donator yang telah mendermakan zakat, infak, dan sedekahnya. Sumbangan mereka mengubah warna hidup banyak orang, tentu saja warna yang memberi harapan lebih baik.

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah : 162)

{fcomment}

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan