Cianjur tak hanya menyimpan luka, tetapi juga harapan yang terus tumbuh. Di tengah reruntuhan dan air mata pasca gempa bumi yang mengguncang wilayah ini, kini perlahan-lahan senyum mulai kembali menghiasi wajah para petani—terutama para petani jamur. Salah satu di antaranya adalah Pak Dede (46th), petani jamur tiram Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, yang sempat kehilangan segalanya: rumah, peralatan usaha, dan harapan.





Namun, pagi itu berbeda. Dengan tangan penuh hasil panen dan mata berbinar, Dede mengucap syukur, “Dulu saya pikir semuanya sudah berakhir. Tapi sekarang, saya bisa tersenyum lagi,” ujarnya sambil menunjukkan rak-rak kumbung yang dipenuhi jamur segar siap panen.
Kebangkitan ini tak datang begitu saja. Program pemulihan ekonomi pasca gempa yang digulirkan YWIB – Dompet Dhuafa menjadi titik balik kehidupan para petani. Bantuan sarana dan prasarana budidaya jamur berupa bibit jamur, pembangunan ulang kumbung jamur, serta sarana prasarana produksi baglog serta peningkatan kapasitas petani menjadi penyulut semangat baru. Tak hanya itu, pendampingan intensif serta akses ke pasar turut membuka jalan agar hasil panen bisa bernilai ekonomi tinggi. Program pemulihan ekonomi ini menyasar petani jamur yang terkena dampak gempa Cianjur, dimana pasca gempa kondisi mereka ada yang sudah tidak lagi bertani jamur dan beberapa masih bertani jamur dengan segala keterbatasan.
Dalam kesempatan monitoring program, Karya Masyarakat Mandiri (KMM) selaku mitra pelaksana program mengunjungi semua petani penerima manfaat untuk memastikan bantuan dan kegiatan program berjalan dengan baik. Dalam kurun waktu 4 bulan saja, hasilnya mulai terlihat nyata. Produksi jamur meningkat dibanding sebelum gempa. Bahkan kini kelompok jamur mampu secara mandiri membuka jaringan memasarkan hasil panen, dan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Kami tidak hanya diberi bantuan, tapi juga diberi harapan,” kata Gilang (35 th), petani jamur sekaligus ketua kelompok jamur KTH Babakan. “Seperti mimpi, dulu tidak terbayangkan akan bisa bangkit dan punya usaha jamur yang lebih baik seperti sekarang ini, kini kami bisa menghidupi keluarga dan yang terpenting: kami punya masa depan.”
Senyum para petani jamur di Cianjur adalah simbol kebangkitan. Di balik tragedi, ada semangat gotong royong yang menyala. Di balik kehancuran, ada keteguhan hati yang tak pernah padam.
Cianjur masih menyimpan banyak cerita duka. Tapi hari ini, mari kita rayakan satu cerita bahagia tentang mereka yang bangkit, bertani, dan kembali tersenyum. (Hikmat, SPV Program KMM)





