Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Program Pemberdayaan

KMM Adakan Pelatihan Penguatan Pertanian RegenTa Petani Kopi Muda Lampung

Tanggamus – Karya Masyarakat Mandiri (KMM) menyelenggarakan pelatihan kepada Petani Kopi Tanggamus di Aula Pekon Datarajan, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, Kamis (27/10/2022). Pelatihan berjudul “Penguatan Pertanian Regeneratif Tangguh Kelompok Petani Kopi RegenTa dan Penumbuhan Kelembagaan Petani Kopi Muda” dibuka langsung oleh Jodi H. Iswanto selaku Direktur KMM.

KMM menyelenggarakan dua sesi pelatihan yaitu Penguatan Pertanian Regeneratif Tangguh Kelompok Petani Kopi RegenTa disampaikan Tendy Satrio, Direktur Dompet Dhuafa Niaga. Penumbuhan Kelembagaan Petani Kopi Muda oleh Adhi Nur Hidayat, Manager Program KMM. peserta yang hadir 71 orang, dari masing-masing ketua kelompok tani dan petani muda Tanggamus. Setiap sesi pelatihan diikuti peserta dengan sangat antusias terlihat saat diskusi dengan pemateri.

Pelatihan RegenTa 2

Tema pertanian regeneratif berkaitan dengan keberlanjutan usaha perkebunan kopi petani di Tanggamus. Dengan konsep pertanian regeneratif petani dituntut tidak hanya bertani secara konvensional namun harus selaras dengan alam yang mengutamakan kelestarian lingkungan agar usaha kopi akan terus dilanjutkan dari generasi ke generasi. Hal ini dikuatkan langsung oleh Tendy Satrio. “Budidaya pertanian yang berkelanjutan harus tepat sasaran dan manajemen pengelolaan kebun yang baik. Misal dengan pemupukan yang tepat sesuai dosis dan pemanfaat kearifan lokal yang ada seperti pembuatan pupuk kompos yang baik untuk kesuburan tanah. Sehingga tanaman kopi mampu menghasilkan produksi yang optimal,” tegasnya.

Pelatihan RegenTa 3Dari sisi penumbuhan kelembagaan difokuskan pada petani muda kopi Tanggamus. Sebagai regenerasi petani yang umumnya sudah lanjut usia, petani muda diharapkan mampu memberikan banyak perubahan. “Kelembagaan dalam hal ini menjadi landasan dasar untuk petani muda sebagai acauan dalam membangun manajemen kelompok yang baik. Dalam hal ini petani muda yang tergabung dalam paguyuban mampu memberikan hal positif nantinya kepada petani lainnya khusus di Tanggamus,” ujar Adhi Nur Hidayat dalam sesi kedua pelatihan. [GAM]

AQUA Tanggamus Adakan Pelatihan GAP dan Manajemen Kebun Kopi

TANGGAMUS – Petani Kopi Dampingan Program Pertanian Sehat yang diinisiasi CSR PT Tirta Investama (AQUA) Tanggamus mendapatkan pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Manajemen Kebun Kopi Berbasis Konservasi. Pelatihan sebagai peningkatan kapasitas petani kopi penerima manfaat Program Pertanian Sehat Kerjasama CSR PT Tirta Investama Tanggamus – Karya Masyarakat Mandiri (KMM). Acara berlangsung di Desa Datarajan, Kec. Ulubelu, Kab.Tanggamus, Selasa (25/10/2022).

Pelatihan dikemas dengan konsep sekolah alam. Kegiatan dilakukan di area kebun kopi yang merupakan demplot kebun kopi dengan penerapan Regeneratif Agrikultur. Petani mendapatkan materi GAP budidaya kopi dan Manajemen Kebun Regeneratif Agrikultur. Selain itu juga dilakukan tukar pengalaman dan testimoni petani kopi yaitu Supardi, pemilik kebun demplot di Desa Datarajan, Kecamatan Ulubelu, Kab. Tanggamus.

Pelatihan dan benchmark demplot kebun kopi berlangsung selama satu hari diikuti 4 orang petani kopi dampingan dari Desa Kampung Baru. Hadir juga perwakilan dari CSR PT Tirta Investama Tanggamus, Radit dan Pendamping Program Johan Wahyudi. Narasumber Agam Fadlurrohman (Penanggung Jawab Program Regeneratif Agrikultur – KMM) dan Supardi sebagai Praktisi Petani Kopi.

Diharapkan petani kopi penerima manfaat program mendapatkan pengetahuan baru dalam teknis budidaya kopi secara GAP dengan konsep Regeneratif Agrikultur. Sehingga mampu meningkatkan hasil panen kopi sekaligus hasil kebun lainnya melalui pemanfaatan lahan di kebun kopi dengan pola tumpangsari/polikultur. Selain itu yang terpenting bagaimana pengelolaan kebun kopi mereka berbasis Regeneratif Agrikultur. Dengan adanya rorak, tanaman penutup tanah, tanaman pemecah angin, tumpang sari, penggunaan pupuk kompos dan pengurangan pupuk dan pestisida kimia sehingga kebun kopi menjadi ramah lingkungan dan konservatif. (Hikmat)

Survei Analisis Kebutuhan Program Kampung Ternak Domba Berdaya Subang

SUBANG – Studi tahap awal untuk membuat perencanaan teknis program sebelum dilaksanakan program pemberdayaan yaitu need assessment (analisis kebutuhan). Kegiatan kajian untuk mengumpulkan beberapa informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan pelaksanaan program seperti lokasi program, calon pelaksana teknis program, potensi pasar, pihak-pihak terkait serta semua sumber daya yang mendukung berjalannya program.

Karya Masyarakat Mandiri (KMM) melaksanakan analisis kebutuhan  di Desa Bantarsari Kecamatan Cijambe Kabupaten Subang Jawa Barat. Letak di daerah pegunungan pinggiran Kota Subang dengan sumber daya alam yang masih asri. Desa ini sangat sesuai untuk pengembangan ternak domba. Selain sumber pakan hijauan yang melimpah, masyarakat desa juga sudah terbiasa memelihara domba. Disebabkan pasar di Jawa Barat yang lebih dominan jual beli domba dibandingkan kambing.

Tim KMM memperoleh informasi penting berkaitan dengan usaha peternakan di desa tersebut pada Focus Group Discussion (FGD) dengan para peternak. Hampir seluruh penduduk desa berprofesi sebagai petani dan peternak. Mayoritas penduduk bertani di sawah atau di kebun dan juga memelihara ternak domba sebagai tabungan. Lebih dari 50% peternak berusia muda baik pria maupun wanita.

Jenis domba yang dipelihara umumnya domba garut dan priangan. Beberapa juga ada yang memelihara domba merino dan domba dugul. Ada juga yang memelihara kambing seperti kambing PE dan kambing benggala. Biasanya peternak memelihara domba milik pribadi sebagai tabungan. Ada juga yang memelihara domba milik orang lain dengan skema kerjasama bagi hasil yang disebut “maro”. Sistem pemeliharaan domba yang dilakukan masih secara tradisional, namun para peternak sangat ingin mengetahui cara budidaya ternak domba yang baik serta penerapan teknologi modern dalam budidaya ternak domba.

Kendala yang sering dihadapi peternak yaitu kesulitan memperoleh modal awal untuk melakukan usaha ternak. Biasanya modal awal diperoleh dari tabungan hasil usaha pertanian atau pinjaman dana dari pihak ketiga. Kendala lain yaitu jaringan pasar domba dengan harga sesuai masih sangat kurang. Peternak biasa menjual domba melalui tengkulak dengan harga jauh di bawah harga pasar.

Selanjutnya, usaha peternakan domba yang dilakukan masih individual atau masing-masing. Belum ada kelompok ternak yang terbentuk oleh pemerintah maupun swasta. Ilmu pengetahuan tentang cara budidaya ternak domba yang baik (Good Farming Practice) juga sangat diperlukan. Peternak sangat antusias dan bersemangat untuk mengembangkan usaha budidaya ternak domba di desa sendiri.

Program pemberdayaan ekonomi melalui peternakan domba diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam manajemen usaha peternakan domba terutama bagi para pemuda yang tidak/belum mendapatkan pekerjaan. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan antara lain dengan menjadikan para peternak sebagai subyek perubahan dan membantu mereka agar memperoleh akses sumberdaya permodalan, transfer teknologi, penguatan kelembagaan hingga akses pasar. Program yang berbasis komunitas peternak diharapkan akan mampu meningkatkan daya tawar bagi peternak sendiri. [JAF]

Nestle Kembangkan Program Pertanian RegenTa di Lampung

TANGGAMUS – Sektor pertanian merupakan salah satu sektor strategis yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia yang memiliki peran penting dalam menyediakan makanan segar dan sehat bagi populasi dunia. Namun sebagai salah satu sektor strategis tersebut, salah satu penghasil emisi CO2 terbesar yaitu berasal dari pertanian.

Dikutip dari Sariagri, Kamis (10/03/2022), sektor pertanian adalah salah satu penghasil emisi CO2 terbesar, gas rumah kaca (GRK) yang paling bertanggung jawab atas perubahan dalam iklim saat ini. Bersama dengan kehutanan dan penggunaan lahan lainnya, pertanian bertanggung jawab dibawah 25 persen dari semua emisi GRK yang diciptakan manusia.

Semua pihak sedang berupaya untuk mencari solusi agar mampu menekan efek negatif yang telah diciptakan oleh manusia itu sendiri, salah satunya adalah dengan menerapkan pertanian secara regeneratif. Melansir The Climate Reality Project, pertanian regeneratif adalah sistem prinsip dan praktik pertanian yang berupaya merehabilitasi dan meningkatkan seluruh ekosistem pertanian dengan menempatkan prioritas tinggi pada kesehatan tanah, seperti pengelolaan air, penggunaan pupuk dan banyak lagi.

Nestle mengandeng Karya Masyarakat Mandiri (KMM) berkomitmen menjalankan program pertanian Regeneratif Tangguh (RegenTa) kepada petani kopi di Tanggamus, Lampung. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produksi, dampak lingkungan dan model ekonomi yg optimal untuk petani. Terhitung dari awal bulan Agustus KMM sudah mulai terlibat dalam pendampingan langsung petani kopi di tiga kecamatan di Kabupaten Tanggamus yaitu Kec. Ulu Belu, Kec. Sumberjo, Kec. Pulau Panggung yang terdiri atas 44 kelompok tani dampingan.

Pendampingan yang dilakukan KMM di lapangan mendapat perhatian positif oleh setiap petani kopi yang dikunjungi. Karena setiap pendampingan tim pendamping mendengarkan dengan baik setiap persoalan yang petani hadapi di lapangan dan mampu memberikan berbagai alternatif solusi. Selain itu, tim pendamping tidak terlepas dari peran petani muda yang aktif membantu setiap pertemuan poktan.

Petani muda sebagai generasi penerus memiliki peran yang sangat penting dalam keberlanjutan petani dan keberlanjutan usaha pertanian kopi. Sebagai salah satu fokus program KMM, petani muda akan dibentuk dan dibina dalam bentuk paguyuban. Dengan target terbentuknya petani muda setiap kelompok dan petani muda seleksi untuk menjalankan paguyuban yang nantinya terbentuk. Peran dan fungsi petani muda ini sangat diharapkan dan mampu memberikan kontribusi besar pada kelompok dan keberlanjutan usaha pertanian kopi.

Pendampingan yang intensif kepada petani menjadi salah satu kunci keberhasilan program. Dengan menerapkan 10 poin RegenTa yang menjadi parameter pendukung pertanian regeneratif yang berkelanjutan, diharapkan mampu memberikan hasil pertanian kopi petani yg maksimal dan dampak lingkunga yang sehat. [GAM]

Program CSR AQUA Mekarsari Bangun Posko Tanggap Bencana di Desa Purwasari Cicurug

SUKABUMI – Program Corporate Social Responsibility (CSR) AQUA Mekarsari memberikan bantuan posko tanggap darurat bencana di Desa Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Selasa (23/8/2022). Karya Masyarakat Mandiri (KMM) menjadi pelaksana program CSR tersebut.

Posko dibangun di samping Balai Desa Purwasari. Tujuannya untuk pusat koordinasi para relawan Desa Tanggap Bencana (Destana) Purwasari dan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ketika menghadapi bencana.

Agus Setia Gunawan, Sekretaris Desa Purwasari menjelaskan, “Posko ini dibangun untuk koordinasi ketika ada bencana. Kami pastinya sangat berterima kasih kepada Aqua Mekarsari dalam hal ini.”

Tim CSR AQUA Mekarsari, Beny Satyahadi, menuturkan jika pihaknya siap berkolaborasi dengan Desa Purwasari dan BPBD Kabupaten Sukabumi untuk mitigasi bencana.

“AQUA Mekarsari siap berkolaborasi untuk penanganan mitigasi bencana bersama relawan Destana,” ungkapnya.

AQUA Mekarsari juga memberikan bantuan berupa Alat Pelindung Diri (APD) untuk menunjang kinerja relawan Destana dalam menghadapi bencana dan sebelumnya bersama BPBD Kabupaten Sukabumi telah memberikan pelatihan penanganan bencana kepada relawan Destana untuk meningkatkan skill dan pengetahuan bencana.

Program Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan di Siak, Kolaborasi WI dan Dompet Dhuafa Riau

PEKANBARU – Winrock International (WI) bekerjasama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM) pada tahun 2021 melakukan riset terkait peluang pengembangan nanas sebagai komoditas pertanian yang menunjang sistem budidaya paludikultur yang berkelanjutan di lahan gambut.

Riset dilaksanakan di wilayah Kecamatan Sungai Apit, Kabupatan Siak, Riau pada Mei – Oktober 2021. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa komoditas nanas potensial mendukung sistem pertanian paludikultur ramah gambut dan juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat. Saat ini nanas telah banyak dibudidayakan sebagai tanaman sela oleh para petani dan dapat tumbuh berkembang baik di lahan gambut.

Lahan gambut di Provinsi Riau sebesar 3,89 Juta Ha merupakan lahan gambut terluas di Pulau Sumatera. Sedangkan luasan lahan pertanian Kecamatan Sungai Apit yang telah ditanami nanas diperkirakan sebesar 350 ha dengan jumlah produksi nanas sekitar 7000 ton/tahun. Adanya potensi Lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) di Kecamatan Sungai Apit seluas 2.000 ha lahan gambut bagi masyarakat apabila dikembangkan sebagian untuk komoditas nanas, dapat menambah jumlah produksi hingga mencapai 36.000 ton/tahun. Hal ini cukup besar dan sangat potensial untuk selanjutnya dikembangkan dalam skema industri pengolahan nanas.

Pemanfaatan lahan gambut tersebut oleh masyarakat baik sebagai lahan pertanian maupun perkebunan harus mempertimbangkan kelestariannya sehingga tidak terjadi kerusakan lingkungan. Winrock Internasional, sebagai lembaga pegiat lingkungan, telah memfasilitasi berbagai kegiatan dari hulu hingga hilir untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lahan gambut sebagai bagian dari usaha restorasi dan konservasi secara berkelanjutan. Hal ini juga sekaligus untuk meningkatkan kualitas penghidupan masyarakat melalui pengembangan komoditas alternatif ekonomi lokal lahan gambut yang ramah lingkungan dengan pendekatan paludikultur.

Untuk memperkuat program restorasi lahan gambut, Winrock International menggandeng Dompet Dhuafa (DD) Riau untuk melakukan kolaborasi dalam program pengembangan pertanian nanas di Lahan Gambut khususnya terkait pemanfaatan limbah dan pemasaran hasil industri nanas.

Dompet Dhuafa adalah lembaga Filantropi Islam yang selama ini berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa. Proses penyerahan dukungan program pertanian nanas di lahan gambut secara berkelanjutan dari Dompet Dhuafa Riau ke pihak Winrock International yang dituangkan dalam dokumen nota kesepahaman (Letter of Intens/LoI) dilakukan pada 24 Maret 2022 di Graha Zakat Dompet Dhuafa Riau.

Ketua Riset Pengembangan Pasar Nanas dari WI menuturkan bahwa “Kolaborasi Winrock International dan Dompet Dhuafa Riau menjadi sangat penting untuk keberhasilan program ini. WI berperan dalam pendampingan petani hingga produksi nanas olahan sedangkan DD Riau akan lebih berperan dalam pemanfaatan limbah nanas untuk peternakan petani dampingannya serta pengembangan pasar produk nanas dan turunannya dalam kerangka program pemberdayaan masyarakat. Di mulai dari skala kecil di Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak diharapkan nantinya pembangunan industri pengolahan nanas tersebut akan dimulai.”

Melalui kerjasama ini diharapkan cita-cita pengelolaan lahan gambut yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dapat direalisasikan. Kolaborasi ini juga disambut dengan antusias pihak DD Riau, menurut Hendi Mardika, selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Riau, dengan adanya kerjasama ini diharapkan akan memperkuat keberdayaan masyarakat terutama untuk program-program UMKM yang sedang dan akan terus dikembangkan oleh Dompet Dhuafa Riau. [CAS]

Menumbuhkembangkan Kelembagaan Ekonomi Petani

BOGOR – Pelatihan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cibungbulang Bogor dengan peserta penyuluh dan petani Kec. Cibungbulang, Rabu (17/11/2021). Peserta antusias mengikuti sesi berbagi kelembagaan ekonomi petani dengan pemateri Casdimin dari Karya Masyarakat Mandiri dengan tema “Menumbuhkembangkan Kelembagaan Ekonomi Petani”.

Panitia Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Balitbangtan Kementan mengapresiasi acara ini. Review konsep dan praktek penguatan kelembagaan ekonomi sesuai perkembangan di era ekosistem digital. Semoga semakin menambah manfaat bagi para petani. [dim]

Menteri PPPA Kunjungi Dahlia Batik Genturan Cianjur

CIANJUR – Kelompok Dahlia Batik Genturan Khas Cianjuran mendapat kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E, M.Si. Rombongan diikuti juga Wakil Bupati Cianjur dan dinas-dinas terkait Kabupaten Cianjur, Kamis (2/9/2021).
Ibu Menteri mengapresiasi pemberdayaan yang telah dilakukan para penyandang disabilitas dengan melestarikan budaya yakni batik daerah khas Cianjur. Tak hanya itu, beliau sangat bangga dan terharu melihat semangat yang tinggi dengan keterbatasan fisik yang dimiliki para penyandang disabilitas. “Mereka tetap berjuang dan berkarya melestarikan budaya daerah,” pungkasnya.
Kelompok Dahlia Batik Genturan Khas Cianjuran merupakan pengrajin batik difable yang berada di Cianjur – Jawa Barat. Kelompok pengrajin binaan CSR Aqua Cianjur yang berkerjasama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM). [arf]

Dompet Dhuafa Tebar 11.428 Paket Beras Zakat Fitrah di 8 Provinsi

BOGOR – Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang peduli dengan para mustahik selama ini telah dipercaya oleh masyarakat khususnya para donatur. Pada Ramadhan ini Dompet Dhuafa menyalurkan zakat fitrah melalui Program Tebar Zakat Fitrah (TZF) dengan menjangkau para mustahik di seluruh pelosok negeri.

Sebuah kegiatan yang diharapkan dapat memberikan nilai lebih terhadap kegiatan zakat fitrah. Beras zakat fitrah yang disalurkan sebagian merupakan hasil produksi mitra petani binaan Dompet Dhuafa.

Sejumlah 11.428 paket beras zakat fitrah 2,5kg disalurkan di wilayah Indonesia Timur. Mencakup 118 kelurahan/desa, 57 kecamatan, 23 kabupaten/kota, dan 8 provinsi. Penyaluran dilaksanakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat dan Papua pada 14 – 28 April 2021.

Terimakasih kepada donatur yang mengamanahkan zakat fitrah melaui Dompet Dhuafa, penerima manfaat tak hanya senang menerimanya, juga bersyukur masih ada yang peduli terhadap kondisi mereka. [kus-dik]

Berdayakan Penyadang Difabel dan Budaya Melalui UMKM Batik

CIANJUR – Mendengar batik terbayang Solo, Pekalongan, atau Jogja, ternyata di Cianjur ada batik khas. Batik hasil program penguatan UMKM Batik yang merupakan program pendampingan UMKM lokal oleh Karya Masyarakat Mandiri (KMM) – Dompet Dhuafa selaku pelaksana program bekerjsama dengan CSR PT Tirta Investama Plant Cianjur. Fokus program pada penguatan usaha UMKM Batik yang sudah berjalan namun perlu ada peningkatan.

UMKM Batik ini selain melestarikan budaya lokal dengan batik genturan khas Cianjur-nya, para pengrajin atau pekerjanya merupakan penyandang difabel, sehingga program ini harapannya dapat membantu teman-teman difabel sebagai penerima manfaat program.

Untuk memastikan pencapaian tersebut, program menempatkan pendamping lapang untuk mengawal kegiatan di lapangan berjalan dengan baik. Kegiatan Program Penguatan UMKM Batik tahun 2020 meliputi penguatan pemasaran, melalui pembuatan branding lokasi usaha.

Penguatan produksi dengan perbaikan layout workshop yang aman bagi difabel. Penguatan sarana produksi mitra difable, pelatihan teknis atau teknologis batik. Pelatihan leadership dan motivasi, penguatan manajemen usaha dan pertemuan pendampingan.

“Usaha batik khas Cianjur sudah 10 tahun tepatnya dimulai pada tahun 2010. Sejak tiga tahun terakhir mengakomodir dan memberdayakan teman-teman difabel. Unit usahanya dinamakan Dahlia Batik. Teman-teman difabel berasal dari wilayah Cianjur dan beranggotakan 20 orang,” seperti pesan WhatsApp yang disampaikan Hikmatullah selaku Penyelia Community Development (Comdev) KMM – Dompet Dhuafa, Selasa (6/4/2021).

“Program pendampingan bersama KMM dan Corporate Social Responsibility (CSR) Danone berupa penataan layout ruang produksi dan juga penambahan peralatan produksi yang lebih nyaman bagi teman-teman difabel ketika bekerja. Selain itu pelatihan teknis dan pengembangan usaha untuk meningkatkan kapasitas SDM teman-teman difabel pun sudah dilaksanakan. Tak hanya itu branding dan promosi terkait produk batik pun sudah digencarkan,” jelas Hikmatullah.

Workshop Dahlia Batik Genturan berada di Jalan Raya Sukabumi-Warungkondang, No. 42, Cijoho, Desa Cikaroya, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat. Jumlah produksi kain batik sebelum pandemi Covid-19 per bulan mencapai 300 – 500 lembar kain batik cap dan 150 lembar kain batik tulis. Kondisi pandemi Covid-19 berdampak terhadap penurunan penjualan batik mencapai 70 persen.

“Untuk  konsumen batik mayoritas berasal dari luar wilayah Cianjur dan ada beberapa yang dari negara luar seperti Malaysia, Belanda, dan Jepang,” pungkasnya. [DIK]