Berdayakan Penyadang Difabel dan Budaya Melalui UMKM Batik

CIANJUR – Mendengar batik terbayang Solo, Pekalongan, atau Jogja, ternyata di Cianjur ada batik khas. Batik hasil program penguatan UMKM Batik yang merupakan program pendampingan UMKM lokal oleh Karya Masyarakat Mandiri (KMM) – Dompet Dhuafa selaku pelaksana program bekerjsama dengan CSR PT Tirta Investama Plant Cianjur. Fokus program pada penguatan usaha UMKM Batik yang sudah berjalan namun perlu ada peningkatan.

UMKM Batik ini selain melestarikan budaya lokal dengan batik genturan khas Cianjur-nya, para pengrajin atau pekerjanya merupakan penyandang difabel, sehingga program ini harapannya dapat membantu teman-teman difabel sebagai penerima manfaat program.

Untuk memastikan pencapaian tersebut, program menempatkan pendamping lapang untuk mengawal kegiatan di lapangan berjalan dengan baik. Kegiatan Program Penguatan UMKM Batik tahun 2020 meliputi penguatan pemasaran, melalui pembuatan branding lokasi usaha.

Penguatan produksi dengan perbaikan layout workshop yang aman bagi difabel. Penguatan sarana produksi mitra difable, pelatihan teknis atau teknologis batik. Pelatihan leadership dan motivasi, penguatan manajemen usaha dan pertemuan pendampingan.

“Usaha batik khas Cianjur sudah 10 tahun tepatnya dimulai pada tahun 2010. Sejak tiga tahun terakhir mengakomodir dan memberdayakan teman-teman difabel. Unit usahanya dinamakan Dahlia Batik. Teman-teman difabel berasal dari wilayah Cianjur dan beranggotakan 20 orang,” seperti pesan WhatsApp yang disampaikan Hikmatullah selaku Penyelia Community Development (Comdev) KMM – Dompet Dhuafa, Selasa (6/4/2021).

“Program pendampingan bersama KMM dan Corporate Social Responsibility (CSR) Danone berupa penataan layout ruang produksi dan juga penambahan peralatan produksi yang lebih nyaman bagi teman-teman difabel ketika bekerja. Selain itu pelatihan teknis dan pengembangan usaha untuk meningkatkan kapasitas SDM teman-teman difabel pun sudah dilaksanakan. Tak hanya itu branding dan promosi terkait produk batik pun sudah digencarkan,” jelas Hikmatullah.

Workshop Dahlia Batik Genturan berada di Jalan Raya Sukabumi-Warungkondang, No. 42, Cijoho, Desa Cikaroya, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat. Jumlah produksi kain batik sebelum pandemi Covid-19 per bulan mencapai 300 – 500 lembar kain batik cap dan 150 lembar kain batik tulis. Kondisi pandemi Covid-19 berdampak terhadap penurunan penjualan batik mencapai 70 persen.

“Untuk  konsumen batik mayoritas berasal dari luar wilayah Cianjur dan ada beberapa yang dari negara luar seperti Malaysia, Belanda, dan Jepang,” pungkasnya. [DIK]

Isi Waktu Produktif Kala Pandemik Covid-19 dengan Hidroponik

CIANJUR – PT. Tirta Investama Plant Cianjur (AQUA) mengadakan pelatihan hidroponik. Sekitar 100 orang perwakilan berbagai divisi karyawan mengikuti acara di gedung serbaguna (aula) perusahaan, Sabtu (25/04/2020).

Usep Warsono (55) sebagai ketua pelaksana menegaskan pelatihan bertujuan agar karyawan memiliki keahlian tambahan, yang mungkin bisa menghasilkan tambahan sumber ekonomi di kemudian hari. Kegiatan tersebut bisa dilakukan di rumah setelah pulang kerja, atau saat sedang WFH (Work from Home).

Narasumber pelatihan, Agam Fadhlur R dari Karya Masyarakat Mandiri (KMM) – Dompet Dhuafa. “Hidroponik merupakan jenis usaha yang menjanjikan. Namun demikian jika tidak dilakukan dengan serius, maka usaha ini bisa merugi dalam jumlah besar, sebab investasi di awal cukup menguras biaya,” jelasnya.

Lebih lanjut, menurutnya output utama dari pelatihan adalah bagaimana peserta bisa  memulai pertanian hidroponik dengan skala kecil terlebih dahulu. Memanfaatkan halaman rumah seadanya, selagi mengisi waktu jika sedang terjadwal WFH.

“Tetapi jika ada diantara peserta yang tertarik untuk terjun berwirausaha hidroponik, tentunya pelatihan ini tidaklah cukup. Dan harus mengikuti pelatihan lainnya yang berjenjang dan berkelanjutan,” urainya.

Pelatihan berjalan komunikatif. Peserta yang hadir mendapatkan sesi tanya jawab serta praktek langsung bercocok tanam sistem hidroponik arahan dari tim KMM – Dompet Dhuafa.

Agam - Pelatihan Hidroponik

Agam Fadhlur R | Pemateri Pelatihan Hidroponik

Di tengah pandemik seperti saat ini, diperlukan solusi agar kita bisa bertahan dengan makanan yang kita punya di rumah. Tetapi tentunya harus tetap memperhatikan asupan makanan yang kita konsumsi.

Salah satu alternatif yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga adalah dengan bercocok tanam sendiri, dan satu diantara dengan bercocok tanam sistem hidroponik.

“Pandemik Covid 19 ini berakhir singkat, atau mungkin  panjang, kita dirumahkan atau tidak oleh perusahaan, pelatihan ini saya rasa akan tetap memberi nilai positif. Jika kita tidak sempat melakukannya sendiri. Maka ilmu yang kita dapat hari ini, bisa kita tularkan kepada saudara kita. Siapa tahu justru mereka sukses sebagai pengusaha hidroponik. Terima kasih dan selamat mencoba,” tutup Usep pada pelatihan tersebut. [Dede Suryana]

Pedagang Tangguh VI Berdayakan Pedagang Bakso

Jakarta – Untuk keenam kalinya PT Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa meluncurkan program Pedagang Tangguh VI di Jakarta, Kamis (9/11/2017). Bertepatan dengan 44 tahun Miwon berdiri.

Pada peluncuran tersebut diserahkan secara simbolisasi giant check senilai Rp 779.160.525 untuk program pemberdayaan pedagang bakso yang tergabung dalam “Pedagang Tangguh VI”.

Pedagang Tangguh  adalah program pemberdayaan masyarakat yang digagas sejak tahun 2011. Sasaran masih  sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu para pedagang bakso. Total mitra pedagang yang sudah dibina dari awal hingga kini sebanyak 350 orang.

Ismail A Said, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, menyampaikan “Penerima manfaat di tahun keenam kali ini berjumlah 50 pedagang bakso yang terdiri dari 30 pedagang di wilayah Jakarta Selatan dan 20 pedagang bakso di Surabaya.”

Menurut Ismail, inisiasi Pedagang Tangguh dilatarbelakangi kepedulian Miwon dan Dompet Dhuafa terhadap kondisi para pedagang bakso skala mikro yang masih terbatas dalam aspek produksi, manajerial, dan pemasaran. Sehingga berkomitmen untuk membantu menguatkan keberadaan para pedagang bakso agar tetap bertahan, mandiri, dan dipercaya publik.

Bantuan yang diberikan berupa penyaluran modal usaha (1 set gerobak dorong dan peralatan penunjang), penguatan kapasitas mitra serta pendampingan usaha reguler selama satu tahun. Penguatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan yang dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mitra mengenai aspek keamanan pangan, strategi pengembangan wirausaha, pengelolaan keuangan dan penguatan kelembagaan lokal.

Dompet Dhuafa sebagai mitra pelaksana program melakukan seleksi pedagang, pengadaan perlengkapan usaha, hingga pendampingan intensif.

“Agar program tepat sasaran, kami memiliki prosedur terkait seleksi dan verifikasi mitra, melalui assessment yang komprehensif. Dengan terpilihnya mitra yang tepat, efektivitas dan keberhasilan program berupa kemandirian ekonomi dapat terwujud,” tutur Ismail.

“Kami berharap para pedagang bakso dapat lebih mandiri secara finansial, sehingga para pedagang dapat memperbaiki taraf hidup keluarga sambil tetap menyajikan makanan sehat dan layak konsumsi yaitu makanan yang bebas boraks, formalin, dan pewarna tekstil,” ujar Vice President Director PT Miwon Indonesia, Mr. Lee Dong Won.

LWK Program Pedagang Tangguh Miwon 6

Jagakarsa – Karya Masyarakat Mandiri sebagai jejaring Dompet Dhuafa melaksakan Latihan Wajib Kelompok (LWK) untuk para calon mitra pedagang bakso Program Pedagang Tangguh Miwon 6 (PTM) di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (2/11/2017). Karena PTM 6 calon mitra tersebar di Kelurahan Jagakarsa, Ciganjur, Cipedak dan Srengseng Sawah, bagian dari wilayah Kecamatan Jagakarsa. Dompet Dhuafa menggandeng CSR PT. Miwon Indonesia  sejak tahun 2011 sampai saat ini. Tahun ini memasuki tahun ke-6 program pedagang tangguh Miwon dengan 30 pedagang bakso keliling.

LWK adalah rangkaian dari proses seleksi para calon mitra yang  akan tergabung dalam program PTM 6. Dari tahapan  wawancara, pengisian SKM, kelengkapan administrasi  dan LWK. Tujuannya untuk lebih memahamkan kepada calon mitra pedagang tujuan program PTM, output, kegiatan-kegiatan, maupun inputnya, sehingga calon mitra memahami dan bisa bekerjasama dengan baik sehingga cita-cita besar program bisa berjalan sesuai  dengan perencanaan.

LWK dihadiri Sekcam Jagakarsa, Mundari, Eva Silvia (Kasi Ekbanglit), dan 21  mitra pedagang  bakso calon mitra baru program PTM. Mundari menyambut baik program PTM ini dan berpesan kepada calon mitra, “Benar – benar mengikuti semua kegiatan yang ada di program, dijaga kualitas dan yang terpenting juga jangan berjualan di tempat – tempat yang tidak dibolehkan seperti di atas trotoar.” (STN)

KMM Latih 50 Pedagang Bakso

Jakarta – Karya Masyarakat Mandiri melakukan pelatihan keamanan pangan kepada 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Aula Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan Kamis (09/03). Ini merupakan bagian dari program pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa (DD) dan PT Miwon Indonesia (Miwon). Nama Program ini adalah Pedagang Tangguh Miwon (PTM) yang menyasar pedagang-pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan dan sekitarnya.

Pelatihan menghadirkan dari Sub Dinas Kesehatan Jakarta selatan dan Puskesmas Pasar Minggu. Pada pelatihan kali ini juga dilakukan pengujian terhadap bakso yang dijual para pedagang bakso. Pelatihan dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman arti penting menjual bakso yang sehat dan aman. Setelah pelatihan akan ditindaklanjuti  pendampingan bersama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu.

Selain keamanan pangan juga di berikan pelatihan pembuatan bakso sehat. Pelatihan menggunakan bahan baku yang diijinkan oleh Badan POM dan halal. Pelatihan dilakukan dengan praktek langsung oleh para pedagang agar pedagang faham setiap proses pembuatan bakso yang sehat. Pelatihan ini juga diperkenalkan beberapa Bahan Tambahan Pangan yang boleh dan tidak boleh dalam pembuatan bakso.

Siapa yang tidak mengenal bakso, makanan khas dengan berjuta penikmat. Bakso berbentuk bulat terbuat dari daging sapi atau ayam disajikan dengan mie, sayur dan kuah kaldu dengan bumbu rempah sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Pedagang bakso mulai banyak bermunculan baik di desa dan di kota, apalagi di Jakarta. Hampir di setiap sudut jalanan ibukota ada penual bakso baik yang mankal maupun keliling. Hal ini menimbulkan persaingan ketat yang membuat beberapa pedagang bakso memilih jalan pintas dengan menggunakan bahan haram d alam baksonya demi mendapatkan bahan baku yang lebih murah. Jalan pintas yang jelas sangat merugikan penikmat bakso. Mulai dari isu Bahan Tambahan Pangan (BTP) berbahaya seperti borak, formalin hingga penggunakan daging tikus dan babi.  Isu yang meresahkan, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Tidak hanya konsumen yang dirugikan namun pedagang bakso yang lain pun juga ikut dirugikan.

Fenomena yang hampir setiap tahun berulang, walaupun pemerintah sudah sering memberikan penyuluhan sampai melakukan razia. Penyadaran menjadi penting, penyadaran yag tidak hanya di dapatkan dari penyuluhan sehari dua hari. Proses penyadaran harus dilakukan secara berkesinambungan, Dompet Dhuafa memilih jalan pemberdayaan untuk penyadaran dengan memberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan secara kontinyu. Pemberdayaan dengan pendampingan adalah jalannya. (SM/KMM)

Saburai, Primadona dari Tanggamus

Saburai nama yang masih asing bagi kabanyakan peternak di Indonesia. Saburai adalah jenis kambing baru hasil persilangan antara Peranakan Ettawa (PE) dengan Kambing Boer. Saburai dihasilkan dari metode inseminasi buatan yang dilakukan oleh inseminator di Kecamatan Gisting, Tanggamus pada tahun 2000.  Kambing ini mempunyai perawakan tinggi dan gemuk, ini merupakan bentuk turunan dari kambing PE yang tinggi dan Kambing Boer yang gemuk. Kambing saburai mempunayi bobot lahir rata-rata 2.5-3.5 Kg dan bias mencapai bobot 60 Kg ketika mencapai umur satu tahun.

Kambing Saburai juga memberikan keuntungan lebih di banding kambing kacang maupun kambing PE. Banyaknya kandungan daging yang membuat harganya melejit melewati harga tetuanya. Usia 8- 10 bulan, bobot kambing saburai bias mencapai 45 kg dengan nilai jual mencapai 1 juta rupiah. Hal inilah yang membuatnya lebih di senangi oleh para peternak di Lampung.

Perkembangan kambing saburai yang menggembirakan mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kabupaten Lampung. Kambing Saburai telah di akui secara nasional debagai rumpun baru di indoensia. Ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertainian No. 359/Kpts/PK.040/6/2015 tanggal 08 Juni 2015. Berkat itu pula Pemerintah Propinsi Lampung mendapat penghargaan Budhipura” dari Kementerian Riset dan Teknologi, ini sebagai bukti pengakuan bahwa kambing saburai sebagai hasil inovasi bidang pertanian yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dukungan terhadap pengembangan kambing Saburai juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang menelurkan program Pemberdayaan Peternak Dalam Rangka Pengembangan Klaster Kambing Saburai di Kabupaten Tanggamus. Program ini lebih menekankan pada pada penguatan kelembagaan, aplikasi teknologi budidaya hingga merode marketing. Program ini memberikan pendampingan kepada  8 kelompok ternak di tiga (3) kecamatan yaitu Kec. Gisting, Kec. Sumber Rejo dan Kota agung. Populasi ternak kelompok dampingan ssat ini mencapai 2.515 ekor dari 176 anggota.

Secara kelembagaan telah di bentuk Koperasi Peternak Saburai yang di bentuk bersama asponak (Asosiasi Kelompok Peternak). Asponak sendiri merupakan asosiasi yang di bentuk atas fasilitas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selain kelembagaan, program pemberdayaan ini juga memberikan pelatihan aplikatif penerapan teknologi di bidang budidaya seperti pelatihan pengolahan hasil ternak, pakan, dan pelatihan kewirausahaan. dalam melaksanakan program pemberdayaan ini, BI Bekerja sama dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM). Kerjasama dengan antara BI dan KMM sudah berjalan selama 4 tahun di Berbagai daerah di Lampung. KMM sendiri merupakan Corporate Enterprise yang bergerak di bidang pemberdayaan.

 (SM/KMM)

Launching Pedagang Tangguh Miwon 5

JAKARTA. Kerjasama antara PT. Miwon Indonesia dengan Dompet Dhuafa untuk memberdayakan pedagang Bakso kembali berlanjut. Pemberdayaan sudah dilakukan untuk yang ke 5 kalinya. Program yang Bertajuk Pedagang Tangguh Miwon 5 ini dilaunching berbarengan dengan Ulang tahun miwon ke 43. Acara Launching dilakukan di Kantor PT. Miwon Indonesia tepatnya di Pulo Gadung, Jakarta Timur pada hari Kamis (09/11). Acara ini dihadiri oleh Presiden PT. Miwon Indonesia, Kim Du Rean dan Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A. Said.

Kim Du Rean menyatakan bahwa PT. Miwon Indonesia tetap berkomitmen untuk menyisihkan sebagian keuntungan untuk membantu masyarakat ekonomi lemah dengan program-program CSRnya. Salah satunya adalah pemberdayaan Pedagang Tangguh Miwon yang sudah dilakukan selama 5 tahun. “Kami (PT. Miwon Indonesia) berharap Para Pedagang Tangguh Miwon yang telah mengikuti program ini dapat meningkat kesejahteraannya” lanjut Kim, dalam sambutannya.

PT. Miwon Indonesia menggandeng Dompet Dhuafa sebagai partner dalam melaksanakan program pemberdayaan ini karena dinilai sudah berpengalaman dalam memberdayakan masyarakat. Dompet Dhuafa memberikan apresiasi atas momitmen atas Kepedulian yang dilakukan oleh PT. Miwon Indonesia. “PT. Miwon Indonesia luar biasa perhatiannya kepada masyarakat kecil. Pedagang tangguh ini salah satunya. Terimakasih kepada PT. Miwon Indonesia, Kami bangga  pada hari ini kami masih dipercaya untuk melakukan program Pedagang Tangguh 5.” Ungkap Ismail A. Said selaku Ketua Yayasan dompet Dhuafa.

Diakui oleh Ismail, memberdayakan pedagang tangguh tidak mudah apalagi sekarang sudah mencapai angka 300 pedagang. Dompet Dhuafa melakukan seleksi terhadap calon pedagang bakso, supaya penerima manfaat adalah mereka yang benar-benar sungguh-sungguh. Program Pedagang tangguh Miwon 5 ini memberikan modal berjualan bakso berupa gerobak, kompor, tabung gas dan perlatan berjualan lainnya yang semuanya didanai oleh PT. Miwon Indonesia. Dompet Dhuafa berperan memberikan pengarahan dan pembinaan dalam hal peningkatan kapasitas usaha dan penyediaan jajanan bakso yang sehat. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan rasa aman kepada konsumen agar tidak khawatir akan kehalahan dan kesehatan bakso para pedagang bakso tangguh.

Program ini juga menggandeng Karya Masyarakat Mandiri (KMM) sebagai konsultan pelaksana program. KMM sudah mendampingi sejak awal program ini dilaksanakan. KMM sudah sejak tahun 2000 berperan sebagai konsultan pelaksana program-program pemberdayaan yang di lakukan oleh Dompet dhuafa  dan juga program-program CSR yang dilakukan perusahaan salah satunya Program Pedagang Tangguh Miwon ini.  (KMM/Slamet Mulyanto)

Masyarakat Mandiri Latih Keamanan Pangan Pedagang Bakso se-Jaksel

Jakarta -Berita mengenai keamanan dan kehalalan pangan hampir setiap hari menghiasai media massa.  Tingginya intensitas pemberitaan menggugah membuka berbagai pihak tentang kenyataan akan rapuhnya kondisi keamanan pangan kita. Beberapa macam komponen makanan yang sering disalah gunakan antara lain  pewarna sintetis, pemanis buatan, bahan pengawet seperti boraks dan formalin zat tersebut tidak bisa digunakan sembarangan apalagi untuk makanan karena dapat membahayakan kesehatan manusia. Bukan hanya bahan tambahan makanan, maraknya daging yang tidak halal yang dijual ‘bebas’ membuat masyarakat tambah resah.

PT. Miwon dengan Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa memiliki concern terhadap permasalahan yang dihadapi para pedagang makanan. Salah satu komitmennya adalah dengan mengadakan  Pelatihan Keamanan  dan Kehalalalan Pangan yang dilaksanakan pada Selasa(17/05) bertempat di Kelurahan Pasar Minggu  Jakarta Selatan. Pelatihan ini menhadirkan Dinas Kesehatan dan LPPOM MUI Jakarta. Pelatihan dihari 50 pedagang bakso se Jakarta Selatan yang sudah menjadi mitra program pedagang tangguh. Program Pedagang Tangguh merupakan salah satu program pemberdayaan yang salah satu tujuannya dalah memberikan edukasi kepada para pedagang mengenai pentingnya menjajakan dagangan yang sehat dan halal.

Program Pedagang yang sudah berjalan selama 4 tahun ini adalah program kerjasama PT Miwon dengan Dompet Dhuafa yang pelaksanaannya dilakukan oleh Karya Masyarakat Mandiri sebagai salah satu corporate enterprise yang bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat. Program pedagang tangguh ini menyasar kepad pedagang bakso keliling di Jakarta Selatan. Pedagng bakso memang riskan terkait isu-isu keamanan dan kehalalan pangan tertama terkait kehalalan. Banyak ditemukan oknum pedagang bakso yang menggunakn daging non-halal ikut berimbas kepada pedagang bakso lain.

Dengan pelatihan ini diharapkan para pedagang bakso sadar atas keinginan sendiri untuk tidak menggunakan bahan tambahan makanan berbahaya dan tidak menggunakan bahan baku non halal untuk memproduksi baksonya. Kesadaran yang akan merubah manusia menjadi lebih baik. (KMM/Slamet/Tisna)

KMM Sertifikasi Kader Teknis Veteriner

Garut-Perkembangan suatu lembaga pemberdayaan masyarakat sangat tergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia sebagai motor penggerak dinamisasi dari suatu program yang telah direncanakan. Dengan adanya kualitas SDM yang berkualitas maka akan berbanding lurus terhadap manfaat positif yang dihasilkan.

Hal tersebut yang mendasari Karya Masyarakat Mandiri (KMM) melakukan pelatihan dan sertifikasi Kader Teknis Veteriner Tingkat Pratama. Pelatihan ini diikuti 15 orang Kader Teknis Veteriner yang berasal dari Sukabumi Jawa Barat. Pelatihan dilaksanakan selama  4 (empat) hari mulai 2 hingga 4 Maret 2016 di Kantor Sekretariat Paguyuban Al Awwaliyah Garut, Jl. Raya Pasirwangi, KP. Babakan Pala Rt.004 Rw.001 Desa Karya Mekar, Kec. Pasirwangi  Kabupaten Garut.

Pelatihan ini, diharapkan melahirkan kader lokal dengan dengan kapasitas kader pratama. Hal tersebut penting untuk meningkatkan pengatahuan dan pemahaman terkait kesehatan ternak, recording serta mampu mengaplikasikan penggunaan teknologi dalam proses recording ternak

Manfaat juga dirasakan peserta, “Alhamdulillah pelatihan ini dirasa sangat kurang, karena hanya 3 hari. Namun sangat bermanfaat bagi kami, selaku peternak yang akan mempraktikan langsung di lapangan. Terlebih lagi kami yang ikut pelatihan ini, merupakan perwakilan masing-masing kelompok, maka beban yang akan kami bawa adalah bagaimana informasi ini dapat kami transformasikan ke anggota yang lain” ujar Kang Agus, salah satu peserta

Selain pemaparan materi dan praktikum langsung, peserta juga diajak langsung ke Pasar Hewan Bayongbong, hal ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan terkait pemilihan bibit yang baik dan harga pasar yang perlu diketahui langsung oleh peserta. Pelatihan dan Sertifikasi Kader ini ditutup dengan ujian tertulis dan praktikum. Dimana sebanyak 15 orang kader diuji terkait materi dan praktikum yang telah disampaikan, apakah 15 orang kader layak atau tidak sebagai kader Teknis Veteriner Tingkat Pratama. (Salman)

 

Sinergi dengan DD, BNI Syariah Bantu Gapoktan Al-Ikhwan

Cianjur-Pemberdayaan menjadi komitmen Dompet Dhuafa (DD) dan Karya Masyarakat Mandiri (MM) sebagai salah upaya mengentaskan kemiskinan. Program pemberdayaan yang dilakukan dengan mendayagunakan dana zakat, infak dan shodaqoh (ZIS). Selain memanfaatkan dana ZIS, DD juga bekerja sama dengan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Salah satunya adalah dengan Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah.

Rabu (16/03) dilakukan Penyerahan Mesin pengemas beras kepada Gakpoktan Al-Ikhwan Desa Sukaraharja yang tergabung dalam Koperasi Gapoktan Al Ikhwan. Penyerahan dilakukan oleh Bambang Sutrisno, selaku Ketua Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah. “Bantuan ini merupakan bagian dari dana zakat yang kami himpun dari seluruh karyawan BNI Syariah” jelas bambang dalam sambutannya. “Kami berharap bantuan mesin ini mampu meningkatkan produktivitas petani sehingga mempau meningkatkan kesejahteraan petani di Gapoktan Al-Ikhwan ini” lanjutnya.

Penyerahan mesin pengemas beras menjadi bagian dari upaya DD dan para donaturnya untuk memperkuat nilai tambah produk petani sehingga menghasilkan kualitas beras yang bernilai jual tinggi. Mesin pengemas beras yang diberikan mampu mengemas 5 pack/menit, ini lebih efisien dibanding dengan cara manual yang memakan waktu 1 menit per pack.

“Saya kaget dan baru tahu kalo DD mempunyai dampingan pertanian dengan sistem terpadu. Mulai dari produksi, penggilingan sampai pemasaran. Semoga bantuan yang sedikit ini mampu memberikan barokah buat kita semua”, tutur Bambang mengapresiasi. Sejak tahun 2010 Dompet Dhuafa hadir di Desa Sukarharja melalui Program Pemberdayaan Petani Sehat selama 2 tahun.  Program tersebut kemudian diperbesar dan diperkuat dengan implementasi Program Lumbung Desa agar kesejahteraan masyarakat desa meningkat.

“Program lumbung desa di Sukaraharja, Cianjur sudah mulai sejak tahun 2010. Alhamdulillah terus berkembang berkembang menjadi seperti sekarang ini. Kami dari DD berterimakasih sekali kepada Yayasan Hasanah Titik, atas bantuan mesin pengemas beras ini. Dengan mesin ini petani bisa meningkatkan sekla usaha mereka terutama dalam hal pemasaran beras” tutur Tendy Satrio, GM Ekonomi Dompet Dhuafa.

Pemberdayaan dengan konsep lumbung desa menawarkan cara pandang baru posisi desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat desa. Ada 200 KK petani yang saat ini didampingi, mereka tergabung dalam 20 Kelompok Tani (Poktan) dan tergabung dalam satu wadah Koperasi Gapoktan Al-Ikhwan. (Slamet/Pak Kus)