Tukang Bakso Ingin Naik Haji

JAKARTA — Kepergian Zainal (60)meninggalkan kampung halaman 39 tahun lalu untuk mencari kehidupan yang baik. Setelah mencoba berbagai pekerjaan, pria tamatan SMP ini memilih untuk berjualan bakso sejak 1985.

Zainal berdagang bakso dengan berkeliling menggunakan gerobak. Biasanya zainal mangkal di Mampang Prapatan dan Pejaten. Para konsumennya adalah karyawan yang berkantor di sana. Zainal memang hanya bisa berjualan bakso, namun dari hasil jualan inilah ia bisa menyekolahkan ketiga anaknya.

Setiap hari, Zainal mampu menjual hingga seratus porsi bakso. Harga jual yang ia patok sebesar Rp 10.000 per porsi. Namun, tidak selalu dijual dengan harga segitu.

“Saya nggak pernah nolak orang beli. Mau beli berapapun saya layani, kasian orang yang ngga punya duit. Mau beli lima ribu, enam ribu, atau sepuluh ribu, aku terima. Tapi targetnya ya sepuluh ribu,” ujar Zainal ketika ditemui di Pulogadung, Jakarta Timur.

Selama tiga puluh tahun berjualan bakso, diakui oleh Zainal, tidak ada hambatan yang berarti. Penghasilan yang terkadang turun dirasa wajar. Zainal pun tidak setiap hari berjualan. Pada hari minggu ia beristirahat, karena biasanya tidak banyak orang yang membeli. Hari Minggu pun Zainal pakai untuk berkumpul dengan anggota keluarganya.

Sebagai pedagang bakso keliling, tentu cita-cita Zainal adalah memiliki tempat berjualan yang tetap. Oleh karena itu, ketika ada tawaran untuk ikut serta dalam pelatihan yang diadakan oleh Dompet Dhuafa dan Miwon. Pelatihan yang akan berlangsung selama satu tahun ini mencakup kewirausahaan, kepemimpinan, keamanan dan kehalalan pangan dan teknologi pengolahan bakso, serta kelembagaan sosial untuk memanajemen koperasi.

Dengan mengikuti pelatihan ini Zainal berharap keuntungannya bisa meningkat sehingga cita-citanya naik haji dapat segera terwujud. (Dompet Dhuafa/Erni)

WAS, Sebuah Kontribusi Jajanan Sehat

Bogor – Sebagai wujud komitmen terhadap jajanan sehat untuk anak, Program Warung Anak Sehat (WAS) wilayah Bogor mengadakan pelatihan Keamanan pangan kepada 30 pedagang jajanan di sekolah di se-Bogor. Pelatihan dilaksanakan Kamis (12/11) di Kawasan Zona Madina, sebuah kawasan komplek pendayagunaan Zakat di daerah Jampang, Kemang, Bogor. Program WAS dilaksanakan atas kerjasama PT Sari Husada dengen Dompet Dhuafa.

Pogram Warung Anak Sehat ini merupakan alternatif jajanan sehat, ditengah maraknya jajanan mengandung zat berbahaya. Program ini menyasar pedagang di lingkungan sekolah, karena  lingkungan sekolah menjadi rentan terhadap konsumsi jajanan tidak sehat karena kurangnya pengawasan terhadap jajanan anak. Belum semua sekolah menyediakan kantin sekolah yang makanannya dapat dikontrol.

Para peserta diharapkan mampu menjadi duta makanan sehat di lingkungannya, karena jajanan sehat ini akan berpengaruh pada anak dalam proses belajarnya. “ibu-ibu ini beruntung karena ikut program ini, karena program ini memberikan edukasi tentang jajanan sehat. Dan ternyata jajanan anak menyumbang 11 % energi anak. Kalo 11 % ini di isi dengan jajanan yang sehat, maka bisa meningkatkan daya serap otak anak’, tutur Dessy Sonyaratri, Manager Marketing Bisnis Masyarakat Mandiri dalam sambutannya.

Tujuan program ini, selain untuk memberikan edukasi tentang jajanan sehat juga diharapkan mampu memberikan dampak terhadap ekonomi. Peningkatan pendapatan akan berdampak pada peningkatan taraf hidup para pedagang. Sehingga bisa menjadi pendorong pedagang yang lain untuk mengikuti jejak mereka, berjualan jajanan sehat. Dan mematahkan ‘mitos’ bahwa jualan jajanan sehat itu tidak menguntungkan.

Selain penyuluhan keamanan pangan, pelatihan ini juga memberikan materi tentang pengelolaan keuangan dan demo masak. Demo masak merupakan salah satu wujud sharing ilmu antar peserta. “Demo masak ini untuk sharing ragam jajanan kepada para peserta. Karena kalo hanya berjualan yang wajib (susu) pendapatan ibu-ibu kecil. Sehingga perlu diberikan alternatif jajanan, yang mampu mendongkrang pendapatan pedagang”, ungkap Sutisna, Koordinator Program WAS.

Penyadaran sebagai wujud ikhtiar dan penyediaan jajanan sehat sebagai alternatif jajanan anak sangat dibutuhkan terutama dilingkungan sekolah. Saat ini tingkat Keprihatinan terhadap jajanan anak cukup tinggi di kalangan orangtua. Bukan rahasia lagi, jika banyak jajanan anak mengandung yang tidak sehat bahkan mengandung zat-zat berbahaya. Mengejar keuntungan yang tinggi membuat pedagang ‘nakal’ gelap mata, tidak berfikir efek yang diakibatkan oleh jajan yang ia buat dan jajakan.

Berharap program ini mampu Berkontribusi terhdap berkurangnya tingkat peredaran jajanan sehat. (Slamet/MM)

Miwon dan Dompet Dhuafa Upayakan Kesejahteraan Pedagang Bakso

JAKARTA — Sebagai wujud komitmen, ungkapan syukur, dan terima kasih kepada masyarakat Indonesia, PT Miwon bekerjasama dengan Dompet Dhuafa menghadirkan program Pedagang Tangguh Miwon. Launching dilaksanakan di Kantor Pusat PT Miwon di Pulo Gadung, Jakarta Timur, pada 9 November 2015.  Program CSR dari Miwon ini sudah menjadi yang keempat kali diadakan.

Yuli Pujihardi, selaku Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, berterima kasih atas kepercayaan yang terus diberikan tiap tahun.

“Kami berharap kedepan kerjasama ini selalu tumbuh dan sukses selalu untuk PT Miwon Indonesia. Juga Dompet Dhuafa sebagai mitra pemberdayaaan semakin tumbuh dan berkembang,” ujarnya.

Sebanyak lima puluh dua pedagang bakso menjadi penerima manfaat dari program ini. Mereka adalah pedagang bakso Pejaten, Mampang, dan Pondok Indah. Mereka dibekali dengan gerobak, kompor gas, tabung gas, juga produk Miwon.

“Selain itu mereka juga mendapatkan tambahan modal sebesar lima ratus ribu rupiah dan pelatihan dari Dompet Dhuafa selama lima kali dalam setahun. Latihan yang diberikan berupa kewirausahaan, kepemimpinan, keamanan dan kehalalan pangan, teknologi pengolahan bakso, serta kelembagaan lokal (manajemen koperasi),” jelas Imam Bukhori selaku pendamping mitra dari Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa.

Dalam acara launching ini diadakan pula simbolisasi penyerahan giant check senilai Rp 472.269.000 untuk program pemberdayaan seartus pedagang bakso yang tergabung dalam “Pedagang Tangguh Miwon IV”.

Ini adalah yang keempat kalinya dilakuan kerjasama antara Miwon dengan Dompet Dhuafa. Bukan tanpa alasan Miwon memilih Dompet Dhuafa sebagai mitra.
“Kita percaya sejak peluncuran Pedagang Tangguh yang pertama. Dari situ kita melihat komitmen Dompet Dhuafa dalam program pembinaan. Oleh karena itu kita terus bekerja sama,” kata I Wayan Maryadi, General Affair Manager Miwon.

Hingga saat ini sudah ada sekitar 250  pedagang bakso di Jakarta yang menerima manfaat dari program ini. Semoga pedagang bakso yang menerima manfaat program ini semakin meningkat kesejahteraannya. Tentu juga semakin tangguh dalam memasarkan bakso bergizi, lezat dan halal. (Dompet Dhuafa/Erni)

Ngadi : “Kami Merasa Seperti Yatim Piatu”

Payung Lukis Juwiring kondisinya semakin memprihatinkan, dulu menjadi kebanggaan namun sekarang dilupakan. Pengrajin yang masih bertahan  tinggal 11 orang, mereka bertahan semata untuk mempertahankan budaya payung lukis yang semakin hari semakin pudar.

Mereka berjuang  sendirian, seolah dilupakan begitu saja. Mereka sering ikut dari  festival ke festival dengan biaya sendiri. Kadang mereka merasa iri dengan daerah lain yang diperhatikan oleh pemerintah setempat.

“Kami kemaren ikut festival di solo. Kalo dari peserta Payung dari Tasikmalaya, tim dinas nya mengawal sampai akomodasi  semua disediakan. Kalo payung Juwiring, Alhamdulillah kami berdua saya dengan pak Heri kesana nyarter motor. Kalo sebagai pengrajin payung, kami merasa seperti yatim piatu”, Ujar Ngadiakur, pengarjin payung dari kelompok Ngudi Rahayu.

Perhatian dari intansi terkait mutlak dibutuhkan, Karena tanpa campur tangan kebijakan maka payung lukis akan semakin meredup. Ngadi berkisah bahwa di festival payung yang diselenggarakan di Solo juga dihadiri oleh Pengrajin dari luar negeri dengan produk yang lebih bagus.

“Kami baru kali ini kami melihat  payung yang bagus sekali, payung dari Cina dan Thailand. Di Cina pemerintah langsung terjun menangani dari pembuatan bahan, kerangka dan desain  menjadi lebih baik sampai layak ekspor” lanjutnya.

Permasalahan regenerasi menjadi permaslahan yang sama. “Kami disana juga bertukar pikiran  dan ternyata mereka mengahdapi masAlah yang sama dengan kita yaitu maslah regenerasi” ungkap ngadi.

Perkembangan jaman yang begitu pesat, teknologi semakin melesat membuat ‘kaum’ muda lebih suka dengan hal-hal yang berbau teknologi dan hal-hal kekinian. Jadi tdak heran mereka enggan berprofesi menjadi tukang payung yang di anggap kuno. Membutuhkan waktu seharian untuk mengerjakannya dengan hasil yang tidak pasti. Mereka lebih memilih kerja di pabrik dengan hasil yang pasti waktu yang sudah pasti dan bisa menghabiskan waktu bermain smartphone. Butuh terobosan supaya ‘kaum’ muda tertarik kembali menggeluti profesi ini.

Dia berharap dengan pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa dan Asuransi Astra Syariah dapat memajukan payung  Juwiring. “Terima kasih atas kepercayaan untuk mengelola amanah yang bagi kami sangat besar ini. InsyaAlloh dengan keyakinan dan doa kita bersama kami bisa mengamban dengan baik. Dengan pendampingan yang diberikan selama 2 tahun oleh mas Teguh kami berharap semoga kedepan payung Juwiring semakin berkembang” tukas ngadi dalam sambutan acara launching Program Pemberdayaan Payung Lukis Juwiring.

Lestarikan Budaya, Astra-Dompet Dhuafa Berdayakan Pengrajin Payung Lukis Juwiring

Payung lukis pernah menjadi primadona di dekade 80an, namun lama-kelamaan mulai tergusur oleh  payung produksi pabrik. Salah satu sentra pembuatan payung lukis yang pernah berjaya adalah desa Tanjung, Kec. Juwiring, Klaten. Namun kondisinya kini semakin terpojok, karena jumlah pengrajinnya terus berkurang dan yang masih rata-rata sudah memasuki usia renta. Mandegnya regenerasi pengrajin payung menjadi permasalahan yang menjadi perhatian serius. Banyak para pengrajin yang sudah meninggal, sedangkan anak mudanya lebih memilih kerja di pabrik dengan hasil yang pasti.

Ditengah ketidakpastian kondisi ini, Asuransi Astra Syariah bekerjasama dengan Dompet Dhuafa melakukan pemberdayaan pengrajin Payung Lukis. Selasa (15/09) dilaksanakan  launching program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis di Balai Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten.

Launching dihadiri langsung oleh Tedi, selaku direktur Asuransi Astra Syariah, Imam Rulyawan selaku Direktur Program Dompet Dhuafa, dan  dari instansi pemerintahan di Kabupaten Klaten.

Pemberdayaan ini sebagai salah upaya yang dilakukan untuk melestarian payung lukis ditengah-tengah pudarnya peminat profesi ini. “Kami menyelenggarakan program usaha pemberdayaan payung lukis. Karena alangkah sayangnya dalam waktu dekat jika kita kehilangan warisan budaya berupa payung lukis. Yang menurut saya ini unik karena hanya sedikit di Indonesia dan di Juwiring main lama makin sedikit” ungkap Tedi dalam sambutannya. Sampai saat ini jumlah pengrajin payung lukis di Juwiring tinggal 11 orang, selainnya sudah beralih profesi.

Dengan Program juga dharapkan mampu mencetak kader-kader baru sebagai penerus estafet kerajinan payung lukis, seperti yang diungkapkan Imam, dalam sambutannya. “Kita semua berharap program ini mampu mencetak kader-kader baru yang akan melestarikan budaya payung lukis ini.

Penerima manfaat program ini sebanyak 25 orang dengan latar belakang usia yang berbeda. Usia termuda adalah 24 dan usia tertua adalah 80 tahun. Selain itu Program Pemberdayaan ini diharapkan mampu menarik minat masyarakat yang lain untuk kembali menekuni.

Harapan besar program adalah mampu memajukan pengrajin payung lukis di wilayah Juwiring ini, sehingga payung lukis juwiring mampu bertahan dan berkembang. Untuk mewujudkannya dibutuhkan komitmen bersama dengan masyarakat karena masyarakatlah yang menjadi pelakunya.  “Kami dari Dompet Dhuafa, Masyarakat Mandiri hanya menjadi pendamping atau fasilitator, program ini tidak ada gunanya kalo bapak dan ibu sebagai penerma manfaat tidak bisa benar-benar menjaga amanah ini”,papar imam dalam sambutannya.

“Mudah-mudahan apa yang kita upayakan akan mendapat manfaat dan kemudian hari kita mendengar seni kerajinan payung lukis menjadi semakin maju” tutup Tedi dalam sambutannya.

Diakhir acara dilakukan penandatanganan komitmen bersama antara donatur, instansi dan perwakilan masyarakat untuk memajukan payung lukis khususnya payung lukis Juwiring.

Sinergi MM-BI Majukan Petani Lampung Selatan

Permberdayaan masyarakat mempunyai banyak tantangan yang harus di hadapi. Dari masalah permodalan hingga maslah karakter. Maka dri itu pemberdayaan tidak bisa dilakukan sendirian dan tidak terprogram dengan baik.

Hal tersebut disadari oleh Masyarakat Mandiri (MM), beberapa program pemberdayaan MM bersinergi dengan pihak lain salah satunya dengan Bank Indonesia (BI). Sinergi dengan BI sudah berjalan selama 7 tahun, dan selama itu banyak komunitas yang terbantu.

Program-program pemberdayaan yang dilakukan fokus pada bidang pertanian, MM berperan dalam penguatan kelembagaan. Program yang sekarang masih berjalan adalah Program Pengembangan Klaster Cabai di Kabupaten Lampung Selatan.

Petani yang tergabung dengan  Program Klaster Cabai berjumlah 37 orang yang tersebar di 7 Kecamatan di Lampung Selatan. Kelembagaan juga sudah terbentuk berbadan hukum koperasi yang terletak di Kecamatan Palas.

Koperasi Siger Agro Mandiri, koperasi baru yang cukup diperhitungakan. Koperasi yang memfasilitasi usaha petani sudah banyak memabngun kerjasama antara lain dengan Dinas Pertanian Propinsi lampung, Universitas Lampung dan LIPI.

Mitra yang tergabung dalam koperasi memperolah banyak manfaat. Selain permodalan para petani juga diberikan fasilitas untuk penerapan teknologi tepat guna green house. Penerapan green house dilatar belakangi berbagai permasalahan yang kerap terjadi pada aspek budidaya, seperti perubahan cuaca yang cukup ekstrim dan diikuti dengan tingginya serangan hama penyakit. Sehingga penerapan teknologi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai contoh serta proses pembelajaran bagi petani sebagai upaya optimalisasi pada aspek produktivitas tanaman.

Selain itu juga, mereka mandapatkan pelatihan penguatan kapasitas. Dari mulai proses budidaya sampai pasca panen dan pemasarannya.

Program yang merupakan program inisiasi BI juga memberikan manfaat tersendiri bagi petani. Banyak informasi tentang program dari perbankkan yang bisa di akses oleh petani, salah satunya adalah Layanan Keuangan Digital (LKD) yang disosialisikan oleh BRI pada hari Kamis, 13 Agustus 2015 atas permintaan BI. Layanan ini mempermudah masyarakat untuk bertransaksi menggunakan layanan BRI. LKD juga bisa dijadikan unit usaha bagi koperasi untuk memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat selain usaha saprotran yang sedang dirintis.

Dibutuhkan komitmen kuat agar program ini mampu memberikan manfaat nyata untuk masyarakat. BI punya komitmen itu, setelah program pengembalnagn klaster cabai ini selesai BI menyiapkan program baru untuk petani namun di wilayah yang berbeda.

Program yang inspiratis yang bisa didubllikasi oleh lembaga lain, karena peran-peran seperti ini tidak semuanya bisa dilakukan oleh pemerintah. Salam Pemberdayaan !

{fcomment}

 

 

 

Sri, Entrepreneur yang lahir dari keluarga entrepreneur

Sri sibuk melayani konsumen yang rata-rata anak usia SD. Hampir setiap hari gerobak merahnya di kerumuni oleh anak-anak. Sri adalah salah satu mitra Program Warung Anak Sehat (WAS) yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Sarihusada.

Sri setiap hari “mangkal” di depan SD Sukadamai 2, Kecamatan Tanah  Sareal, Kota Bogor. Ia awalnya berjualan es jeruk dan es blender di lapak sederhananya.  Dari berdagang es ia tidak banyak meraup untung. Namun ia tidak putus asa sampai ia bertemu penulis yang merupakan pendamping Program WAS wilayah Bogor.

Dengan mengikuti program WAS ini ia mendapatkan beberapa fasilitas  antara lain sebuah gerobak yang good looking dan modal usaha yang diperuntukkan untuk membeli bahan baku pembuatan produk makanan sehat yang memang menjadi syarat untuk mengikuti program ini.

Program WAS tidak hanya sekedar membantu. Namun juga memberdayakan terkait dengan isu pangan sehat. Salah syarat menjadi mitra program adalah bersedia untuk menjual produk-produk makanan yang sehat tanpa menggunakan bahan pengawet dan zat kimia berbahaya.

Perlahan tapi pasti jualannya mulai menampakkan hasil.  Dalam sehari ia bisa menjual 120 cup susu dengan harga Rp. 2000/cup. Jika diuangkan rata-rata omzet hariannya 240rb, ini  lebih tinggi dari pada ketika masih berjualan es.

Bukan tanpa sebab, perempuan beranak satu ini mampu meningkatkan omzet jualannya. Sifat ulet dan pantang menyerahnya ia warisi dari kedua orangtuanya. Ibunya adalah penjual jamu keliling dan bapaknya adalah penjual bakso. Karakter entrerenuership yang ditanamkan sejak kecil membuat ia menjiwai profesinya. Selain punya jiwa wirausaha yang kuat, Sri dan keluarga ini menerapkan prinsip Time Is Money.

Program WAS bertujuan tidak untuk meningkatkan ekonomi penerima manfaat namun juga memberikan edukasi tentang gizi dan pangan sehat. Beruntung Sri dan keluarga sudah lama menerapkan proses pembuatan pangan sehat. Dari Jamu yang di jual ibunya menggunakan bahan alami, mie ayam yang di produksi oleh bapaknya pun  diolah tanpa bahan menggunakan pengawet. Pangan sehat ini selain menyehatkan, juga  mampu menarik konsumen yang semakin kritis tentang pangan yang akan mereka konsumsi.

Jualan Sri diharapkan semakin hari semakin meningkat. Apalagi sekarang disediakan hadiah menarik yang bersifat edukatif bagi anak-anak. Hadiah tersebut berupa stiker sablon dan  peta dunia. Hadiah tersebut menjadi pemikat bagi calon pembeli selain dari bentuk gerobak yang unik. {fcomment}

 

 

 

 

Tunaikan Amanah, ISM Serahkan Bantuan Dari Disnakertrans

     Tangerang- Rabu (1/10) bertempat di Sekretariat ISM Usaha Jaya Mandiri dilakukan serah terima bantuan peralatan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Bantuan berupa peralatan mesin parutan kepala, penggiling tepung dan sealer pembuatan kue dan kerupuk ikan. Bantuan ini adalah bentuk sinergi antara Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dengan Kementerian Tenaga Kerja untuk membangkitkan ekonomi mikro.

    Dengan bantuan ini diharapkan produksi kerupuk dan kue yang digeluti oleh mitra meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam penyerahan ini diberikan pengarahan oleh Agus Randa Saputra  selaku pendamping program. Kelompok yang mendapatkan bantuan alat adalah kelompok mawar dengan mempunyai usaha kue dan kelompok putri tanjung yang mempunyai usaha kerupuk ikan. Serah terima dilakukan oleh Siti Mariya, SE.I selaku ketua ISM kepada para perwakilan mitra.

     ini adalah bagian dari program pemberdayaan yang didijalankan selama 2 tahun di desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang.program ini kerjasama antara Yayasan Yarsi dengan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa. Ada sebanyak 100 mitra dengan bermacam usaha dari penjual nasi uduk sampai nelayan rajungan. Nelayan yang identik dengan kemiskinan diharapkan mampu terangkat perekonomiannya dengan pola-pola pemberdayaan seperti ini. Pola pemberdayaan yang intensif dan by design. #inspirasiuntuknegeri

{fcomment}

 

 

 

Semangat Mandiri dari Pantura

“Usaha jalan tapi sholat jangan ditinggalin, ya pak slamet ya (sambil tersenyum lepas) “, lugas ungkapannya. Tapi itulah mitra-mitra program Pemberdayaan Nelayan Desa Tanjung Pasir, sederhana namun bersahaja.  

Melihat kondisi lingkungan kp. Garapan, memang memprihatinkan. Masih banyak berdiri rumah-rumah bilik berlantai tanah. Bangunan permanen rata-rata temboknya mengelupas terkena abrasi laut. Mayoritas penduduknya adalah nelayan rawe. Menuju kp. Garapan harus memutar melewati empang-empang dan jalan konblok berukuran 2, 5 meter. Terisolir mungkin opini bagi orang yang baru pertama mengunjungi desa tersebut.

Dibalik kondisi lingkungan yang memprihatinkan, ternyata mampu melahirkan jiwa-jiwa tangguh yang bertarung melawan keadaan. Merekalah ibu-ibu tangguh yang setiap hari berjualan ikan, membantu suami dalihnya. Semangat untuk memperbaiki ekonomi, mereka tempuh untuk masa depan yang lebih baik katanya.

Goniah merupakan  salah ibu hebat tersebut. Ia adalah mitra Program pemberdayaan yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri bekerjasama dengan Yayasan YARSI. Setiap hari ia berjualan ikan mentah dan terasi rebon keliling desa. “Tiap hari ya gini (sambil memanggul baskom berisi ikan), emang udah kerjaannya. Klo gak gini dapet tambahan dari mana?”ungkapnya.

Melihat pekerjaannya membuat tercengang . Ia mengisahkan “Biasanya jam 2 pagi ibu pada kumpul di ujung kampung deket jembatan. Nanti ada mobil bak terbuka yang ngejemput ke pasar ikan Kamal”. Harga di Tempat pelelangan ikan di Tanjung Pasir lebih tinggi dari pada tempat lain, membuat ia dan ibu-ibu lainnya harus rela belanja dengan jarak yang cukup jauh supaya mendapatkan harga yang lebih rendah sehingga menjualnya pun lebih mudah. “Klo di Tanjung mah mahal pak, klo beli disana gimana jualnya. Orang sini mah nyari ikan yang harga 5 ribu, 10 ribu gitu pak” ujar, Ibu 2 anak ini.

“Tiap hari pulang dari pasar jam 6 pagi langsung jualan keliling tanjung. Tiap kampung ada yang jualan, udah dibagi-bagi gitu jadi nggak ada yang rebutan”, lanjutnya. Ia berjualan keliling dengan berjalan kaki dari satu rumah kerumah yang lain, dari satu gang-gang yang lain. Uniknya mereka tidak berebut langganan, masing-masing sudah ada langganan sendiri. Biasanya mereka berjualan sampai jam 11 siang. Melihat mereka berjalan dibawah teriknya matahari pesisir, membuat terenyuh. Betapa kuatnya tekad mereka.

Rata-rata pendapatan yang Goniah dapatkan 50.000-100.000 rb. Pendapatan mereka bisa habis dalam sehari mengingat budaya konsumtif masyarakat pesisir yang tinggi. “Uangnya buat belanja buat jajan anak buat bayar pinjaman (rente) buat bayar sekolah. Jajan anak aja kadang 10 ribu kadang 20 ribu sehari”, lanjutnya. setalah mendapat modal bergulir dari program ia pergunakan untuk modal menembah barang dagangan. “Alhamdulillah dapet bantuan modal bergulir dari program buat tambah beli ikan. Dulu paling belanja 4-5 kilo gak ada duitnya, sekarang bisa sampai 7 kilo. Kadang 10 kilo lagi ada yang pesen”, ujar wanita paruh baya ini.

Awalnya kondisi yang memaksa, namun kondisi itu mereka mampu bertahan dan berjuang lebih keras untuk menjadikan dirinya mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Program yang digulirkan MM-DD dengan Yayasan Yarsi tidak serta merta mampu merubah secara ekonomi dan pola fikir. Namun dengan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, berharap ada perubahan yang mitra dapatkan.

{fcomment}

 

 

 

Tebar Manfaat Warung Anak Sehat

     “Alhamdulillah, sehari bisa menjual 200-250 cup sehari” ujar epi, salah satu mitra program warung anak sehat yang mangkal di depan SDN 1 Kandang Panjang, Tajur Halang, Bogor. Sebelum ikut program WAS ia berjualan jajanan anak menggunakan meja biasa.setelah mengikuti program , ia mendapat fasilitas gerobak. Gerobak ini menjadi salah satu faktor yag membuat anak-anak tertarik selain bentuknya yang unik (beda dari pedagang sekitar) juga terlihat lebih bersih. “kata anak-anak gerobaknya menarik, jadi pingin belinya disini aja”, Ungkap perempuan beranak satu ini.

     Dengan harga jual susu Rp. 1.500/cup ia mampu meraih pendapatan Rp. 125.000/hari , itu masih dimungkinkan untuk bertambah setiap harinya karena tingginya minat anak-anak untuk membeli susu. Bahkan ketika sudah habis pun masih ada anak-anak menyerbu gerobak menanyakan susu.

Setali tiga uang dengan ibu Suryani mitra WAS Wilayah Jampang. Ia setiap harinya berjualan di SDN 1 Jampang, Kemang, Kab. Bogor. Ia mampu menjual sampai 300 cup per harinya. Gerobaknya selalu dikerumuni anak baik ketika istirahat maupun pulang sekolah.

     Program WAS memberikan menu berupa susu cup yang diolah dengan bahan baku susu bubuk bermerek. Susu ini selain rasanya enak juga mengandung nutrisi yang baik buat anak. Sebelumnya mitra diberikan pelatihan tentang tata cara pembuatan susu/jajanan sehat dan higienis  dan mendapatkan pendampingan rutin selama mengikuti program. Inilah salah satu tujuan program untuk memberikan edukasi kepada pedagang tentang pentingnya menjual jajanan sehat.

     Program WAS sudah dimulai sejak tahun 2011 yang meliputi wilayah JABODETABEK, Banten dan NTB. Dan sudah lebih dari 200 mitra yang merasakan manfaatnya. Program WAS merupakan sinergi antara Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dengan PT Sari Husada. Diharapkan kedepan lebih banyak orang yang menerima manfaat ini, selain menambah pendapatan juga bisa berperan dalam ‘kampanye” pangan sehat.

{fComment}