Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Khasanah

Rayakan Hari Bumi Setiap Hari

Hari ini, tanggal 22 April diperingati penduduk dunia sebagai Hari Bumi. Moment ini merupakan suatu gerakan global untuk mengampanyekan peningkatan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Gagasan Hari Bumi muncul ketika seorang senator Amerika Serikat, Gaylorfd Nelson menyaksikan betapa kotor dan tercemarnya bumi oleh ulah manusia. Dari keprihatinan tersebut kemudian muncul inisiatif gerakan bersama para aktivis di beberapa LSM untuk mencurahkan satu hari bagi ikhtiar penyelamatan bumi dari kerusakan.

Di Indonesia sendiri peringatan Hari Bumi tidak sepopuler Hari Lingkungan Hidup. Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni diadakan untuk memperingati Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm di tahun 1972. Namun demikian walaupun berbeda sejarah kelahiran, namun esensi dari keduanya sama pentingnya yakni sebagai bentuk ajakan kebaikan untuk merawat bumi agar tak bertambah rusak.

Karena bumi adalah satu-satunya planet tempat manusia hidup maka sudah selayaknya manusia merawat dan menjaganya demi kelangsungan hidup bersama. Maka merawat bumi tidak hanya penting diperingati sebatas seremonial spada tanggal 22 April atau 5 Juni saja, tetapi perlu dilakukan aksi nyata setiap hari. Beberapa aksi nyata yang dapat kita lakukan antara lain mengurangi penggunaan plastik, menghemat penggunaan energi, menanam pohon, dan membeli produk lokal. Karya Masyarakat Mandiri (KMM)  salah satu Community Enterprise dimana aspek keberlanjutan adalah hal penting maka komitmen merawat bumi agar tetap lestari merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang kami lakukan. Sebagai contoh KMM telah melakukan pendampingan petani dengan konsep pertanian sehat dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu masih banyak aksi nyata lain yang bisa dilakukan sebagai wujud kepeduliaan kita kepada generasi penerus dengan menyediakan tempat tinggal yang baik. Dan aksi tersebut tak harus selalu berupa aksi besar. Langkah kecil seperti membuang sampah pada tempatnya mempunyai dampak besar bagi bumi. Maka jangan takut untuk beraksi dengan langkah kecilmu untuk menyelamatkan bumi. Sayangi bumi bagian dari menjaga Amanah Ilahi, sayangi bumi selamatkan generasi. And Everyday is Earth Day.

Selamat Hari Bumi! (Dessy)

 

Jaga Kualitas Hewan Kurban, KMM Latih Tim Quality Control

Ciputat. Dalam rangka menjaga kualitas ternak kurban program Tebar Hewan Kurban (THK) 1437 H, Karya Masyarakat Mandiri (KMM) Dompet Dhuafa (DD) menurunkan Tim Quality Control (QC) ke 18 wilayah pemberdayaan program (PP) THK. Hal ini disampaikan oleh Yuyu Rahayu sebagai Steriing Commite (SC) program pemberdayaan THK 1437 H pada pertemuan Tim QC di Kantor KMM 1 Ciputat  (12/05). “Tim QC yang akan diterjunkan ke lapangan, akan melakukan penimbangan dan pencatatan kuota ternak yang sudah diakadkan kepada mitra, dan DD mempercayakan kepada KMM untuk ikut aktif dalam proses QC tadi ke 18 wilayah pemberdayaan DD”, terang GM Bisnis Karya Masyarakat Mandiri.

Kegiatan QC ini akan dilaksanakan selama 2 minggu dimulai dari tanggal 26 April – 11 Mei 2016. Adapun wilayah yang akan dilakukan QC diantaranya adalah Sukabumi, Bogor, Bekasi, Tasikmalaya, Mamuju, Ponorogo, Pacitan, Halmahera, Sumbawa, Rote Ndau, Lampung, Lebak, Cianjur, Ciamis dan Brebes.

Sebelum tim QC diturunkan maka tim QC dilatih untuk menyamakan presepsi dalam pelaksanaan QC nanti. Adapun materi yang  disampaikan terkait acuan dan tools yang akan menjadi pegangan tim untuk melakukan QC, diantaranya harga ternak, spesifikasi ternak, dan cara QC. “Bagi saya pertemuan ini sangat bermanfaat dan menjadi pegangan nantinya ketika dilapangan, apalagi saya baru pertama kali ikut dalam pelaksanaan QC” jelas Yusuf salah QC THK

Semua aktivitas QC merupakan salah satu upaya KMM untuk menjaga amanah dari Dompet Dhuafa terutama dalam kualitas ternak yang sesuai spesifikasi, dan semoga saja pelaksanaan QC dan Program Tebar Hewan Kurban tahun ini berjalan lancar. Amin. (Salman).

 

 

 

 

Lumbung Padi Pengendali Inflasi

Di lumbung kita menabung.

Datang paceklik kita tak bingung.

Penggalan lirik lagu “Desa” karya Iwan Fals di atas sesuai dengan kenyataan yang dijalankan oleh warga Kasepuhan Banten Kidul Sinar Resmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Ketika kita memasuki kawasan tersebut terlihat deretan bangunan mungil nan eksotik dari kayu dengan atap menggunakan ijuk pohon aren. Bangunan tersebut menjadi penting bagi masyarakat kasepuhan karena di situlah tempat mereka menabung bahan makanan utama, tempat menyimpan ratusan pocong (ikat) padi yang telah kering siap tumbuk. Warga Kasepuhan Sinar Resmi menamakan dengan sebutan “Leuit Pare” atau lumbung padi.

Setiap panen raya warga akan menyimpan minimal 365 pocong padi sebagai tabungan untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok sehari-hari selama satu tahun ke depan. Menurut perhitungan mereka setiap hari membutuhkan satu pocong padi untuk makan satu keluarga (5 orang). Pada saat musim panen warga akan berusaha memenuhi persediaan padi sebanyak itu. Apabila persediaan belum mencapai 365 pocong mereka akan berusaha mencari tambahan dari sumber lain agar persediaan terpenuhi. Tambahan yang dimaksud bisa berupa singkong, ubi, jagung, atau bahan makanan pokok lainnya yang bisa menggantikan padi.

Budaya masyarakat kasepuhan ini sekilas terlihat sederhana, namun jika kita kaji lebih dalam sungguh mengandung dampak sosial dan ekonomi yang sangat strategis. Dengan menabung padi di lumbung sejumlah kebutuhan setahun mereka tidak akan pernah kekurangan bahan makanan pokok beras, termasuk pada saat musim paceklik atau gagal panen. Masyarakat tidak akan merasakan susahnya beli beras, tidak perlu mencicipi rasanya beras “raskin” dengan kualitas rendah, dan tidak akan terbebani mahalnya harga beras. Semua sudah tersedia padi (beras) dengan kualitas terbaik dan sehat serta harga yang murah. Kondisi sosial masyarakat seperti itu sudah barang tentu berada pada posisi ideal. Masyarakat yang merasa hidupnya serba terpenuhi akan melahirkan masyarakat yang produktif dan selalu berfikir positif, yang pada gilirannya akan mampu menciptakan masyarakat madani yang berkeadilan sosial.

Dari sisi ekonomi, lumbung padi menjadi sangat strategis keberadaannya karena akan mampu mengendalikan inflasi. Dalam ilmu ekonomi pembangunan, salah satu penyebab inflasi adalah berkurangnya suplay bahan makanan pokok. Ketika suplay berkurang dengan demand yang tetap atau bahkan naik akan menyebabkan kenaikan harga. Kenaikan harga dalam waktu yang relatif lama dan tetap akan menyebabkan inflasi. Inflasi semacam itu biasanya terjadi pada saat musim paceklik atau gagal panen. Di Kasepuhan Sinar Resmi sangat kecil terjadi inflasi yang disebabkan oleh kegagalan panen atau musim paceklik karena masyarakat memiliki persediaan yang cukup untuk menghadapi masa tersebut.

Dengan penjelasan di atas nyatalah “manajemen” Lumbung Padi mampu menjaga stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat. Jika saja sistem ini bisa diterapkan di berbagai wilayah akan dengan sendirinya mampu menjaga dan mengatur stabilitas sosial, ekonomi, bahkan politik negara ini. (Ajat Sudarjat)

Melalui MM Dompet Dhuafa, Tokopedia Wujudkan Mimpi Rukamanah

Hari itu Jumat (27/11), mentari belum terasa terik. Kantor Masyarakat Mandiri (MM) kedatangan laki-laki dan perempuan yang kira-kira usianya 50 an tahun.

“Assalamu’alaykum. Maaf pak mau bertemu siapa?” sapaku.

“Wa’alaykumsalam, ini saya pak mo ngajuin proposal”, Jawab bapaknya, sambil menyodorkan selembar kertas.

“Oiyaa silakan duduk dulu”, jawabku

Pasangan tersebut ditemui oleh  Manager HRD, Keuangan dan Operasional. Dituturkan bahwa kedua orang tersebut mengajukan bantuan untuk mesin jahit. Bapaknya bekerja sebagai pengajar honorer di Yayasan Darul Aitam dengan Honor 280 ribu per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka juga di bantu oleh anaknya, namun kebutuhan hidup yang semakin meningkat membuatnya kebingungan untuk menutupi kekurangan kebutuhan hidupnya. Dalam pemenuhan kebutuhan akan kesehatanpun mereka di bantu oleh Dompet Dhuafa melalui Rumah Sehat Terpadu (RST) yang memberikan pelayanan kesehatan secara gratis.

Rukamanah sang istri mempunyai keahlian menjahit. Ia ingin sekali membatu suaminya, tapi ia tidak mempunyai mesin jahit. Ketika berobat di RST, mereka diarahkan ke kantor MM.

Hari itu, mereka datang ke kantor MM dengan membawa selembar proposal, KTP dan KK. Mereka tinggal di Desa Cibeuteung Muara, Kecamatan Ciseeng Bogor yang notabene adalah tetangga kecamatan dimana kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa berada tempat kantor MM.

Masyarakat Mandiri merupakan jejaring ekonomi Dompet Dhuafa yang bergerak di Pemberdayaan Masyarakat yang fokus di bidang UMKM. Dalam melaksanakan program pemberdayaan, semua base pada komunitas miskin di indonesia yang sudah dilakukan survey terlebih dahulu. Untuk pemberdayaan individu, Dompet Dhuafa mendirikan Social Trust Fund (STF). STF inilah yang memberikan bantuan permodalan bagi individu kurang mampu yang butuh permodalan untuk usaha. Begitulah penjelasan yang diberikan setiap kali ada yang datang ke kantor untuk meminta batuan usaha.

Seminggu berlalu pasangan itu datang kembali ke kantor MM, mereka menanyakan proposal yang mereka titipkan kepada Soni, Manajer HRD, Keuangan dan Operasional. “Mo nanyain proposal, tadi sudah ketemu sama pak Didik” jelas bapaknya.

Didik adalah Kordinator bagian bisnis yang diminta untuk menindaklanjuti proposal keduanya. “Bapak Ibu sebenarnya kami tidak memberikan bantuan untuk perorangan, semua program kami sudah terencana dan fokus kepada komunitas masyarakat” jelas Didik. “Tapi Mungkin ini sudah menjadi rezeki bapak atau ibu……..”. ”Maksudnya gimana pak” sergah bapaknya memotong perkataan Didik. “Begini pak bu, waktu hari jumat pagi bapak menitipkan proposal, siangnya datang bantuan mesin jahit, donasi dari Tokopedia” Jelas Didik.

“Alhamdulillah” ungkap si ibu sambil menitihkan airmata.

Siang itu, setelah pasangan tersebut pulang, datang mobil membawa mesin jahit sebanyak 55 buah dan mesin obras donasi dari Tokopedia untuk mitra dampingan Dompet Dhuafa.

“Saya terasa mimpi. Bertahun-tahun pingin punya mesin jahit, baru hari ini terkabul, Alhamdulillah. Lemes kaki saya, masih nggak percaya” ungkap Rukamanah sembari terus berucap syukur. Hari itu mungkin menjadi hari paling membahagiakan bagi rukamanah, apa yang diimpikan menjadi kenyataan.

“Terima kasih kepada Dompet Dhuafa dan Tokopedia atas mesin jahit yang diberikan kepada saya. Semoga Dompet Dhuafa dan Tokopedia semakin maju, dan mesin jahit ini menjadi keberkahan buat saya” , tutur Rukamanah.

Sederhana dan mungkin tidak seberapa bagi kita namun begitu berharga bagi mereka. Bantuan yang mereka inginkan untuk merajut mimpi-mimpi mereka untuk merasakan yang namanya hidup sejahtera.

(Slamet Mulyanto)

Tekan Kemiskinan dengan Pemberdayaan Perempuan

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemrov Jatim) terus berupaya mencari solusi agar dapat menekan angka kemiskinan.

Seperti diketahui data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim per September 2015 mencatat hingga Triwulan I jumlah penduduk miskin di Jatim mencapai lebih dari 4,7 juta jiwa atau sekitar 12,3 persen dari total penduduk Jatim.

Sebab itu, menurut Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Pemprov Jatim, Herwanto Ananda mengatakan salah satu upaya untuk menekan kemiskinan tersebut yakni dengan memberdayakan perempuan di Jawa Timur.

“Bagaimana upaya pemerintah Jawa Timur untuk menanggulani kemiskinan. Kami komitmen mengajak kaum perempuan agar angka kemiskinan ini cepat turun. Sebab kita memandang perempuan ini pemegang atau pelaku ekonomi yang tangguh,” kata Herwanto kepada Republika.co.id usai di Surabaya, Kamis (19/11) siang.

Dengan memberdayakan perempuan melalui sejumlah program  yang di gagas Pemprov Jatim seperti Pemberdayaan dan Pengembangan Perempuan Ekonomi Lokal (P3EL), Feminimisme, serta Koperasi dan UKM diharapkan perempuan mampu mendongkrak perekonomian di Jawa Timur lebih baik lagi. Untuk diketahui pertumbuhan ekonomi Jatim hingga triwulan III tercatat berada di kisaaran 5,44 persen.

Untuk memancing semangat perempuan agar mau berwira usaha, kata Herwanto Pemprov Jatim sudah membuat program berupa pemberian modal bagi kaum perempuan yang berkeinginan untuk memulai Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Di mana kata dia setiap Koperasi Wanita (Kopwan) yang baru memulai akan diberikan bantuan modal sebesar Rp 25 Juta. Dan jika koperasi tersebut berkembang dengan baik maka Pemprov Jatim pun akan menambah modal tersebut.

“Kalau koperasi itu berkembang, kita akan diberikan suntikan modal tambahan sebesar Rp 25 juta lagi,” tuturnya.

Tak hanya itu, kaum perempuan pun diberikan pelatihan untuk mengelola bisnis dan usahanya. Sekitar enam ratus perempuan yang memiliki UKM kata Herwanto diberikan pelatihan manajemen bisnis dan usaha. Dengan itu pula dia berharap adanya pemerataan ekonomi di setiap Kota dan Kabupaten di Jawa Timur.

“Setiap Kabupaten/Kota bisa mengusulkan siapa saja untuk mendapat perlatihan ini, kami tidak membatasi,” tuturnya. (Sumber : www.republika.co.id)

Menjadi sebuah catatan tentang pemberdayaan perempuan sebagai penopang ekonomi keluarga. yuk baca juga artikel tentang pemberdayaan di masyarakatmandiri.co.id.

Dompet Dhuafa Raih Indonesia Original Brand Award

JAKARTA – Untuk kelima kalinya Majalah SWA menghadirkan Indonesia Original Brand (IOB) Award. Penghargaan yang dibuat untuk melakukantracking dinamikamerekasli Indonesia dalamhalkepuasan, loyalitasdanadvokasi. Selain itu juga memberikanpenghargaanuntukmerek-merekasliIndonesia yang memilikikinerjaterbaik.

“SWA bersama mitranya tidak hanya membuat award ini untuk mendorong perkembangan merek-merek di Indonesia. Harapannya SWA bisa mendapat umpan balik kepada pemilik dan pengelola merek tentang kondisi merek mereka masing-masing,” kata Kemal  Effendi Gani, Group Chief Editor SWA, dalam sambutannya pada malam penghargaan IOB di Mid Plaza, Rabu (26/8).

Lebih lanjut Kemal mengatakan bahwa peberian penghargaan ini diharapkan dapat mendorong dan menyemangati para pemilik atau pengelola merek untuk terus melakukan langkah-langkah perbaikan dari waktu ke waktu. Baik perbaikan untuk upaya pengembangan strategi maupun penguatan merek.

Hal yang menarik dari penghargaan ini adalah tidak hanya perusahaan yang berkaitan dengan konsumsi dan jasa. Namun juga lembaga pengumpul zakat, infaq, sedekah, dan waqaf (ZISWAF). Dompet Dhuafa, lembaga yang telah 22 tahun hadir dan berkecimpung dalam mengumpulkan serta menyalurkan zakat menjadi salah satu penerima pengharagaan di bidang ZISWAF.

Setelah pada Juni silam berhasil meraih penghargaan Indonesia Middle-Class Brand Champion (IMBC) 2015 dalam kategori lembaga amal zakat, infaq, sedekah nasional, kini Dompet Dhuafa berhasil meraih penghargaan kembali. Setelah dipercaya oleh kalangan masyarakat melalui IMBC, semalam kembali hadir penghargaan untuk Dompet Dhuafa, yaitu melalui Indonesia Original Brand Award.

“Melalui penghargaan-penghargaan ini membuktikan bahwa masih banyak orang yang percaya kepada Dompet Dhuafa. Kami berharap, semoga kedepannya Dompet Dhuafa semakin terus dapat diterima di kalangan masyarakat Indonesia,” harap Ahmad Juwaini, Presiden Direktur  Dompet Dhuafa.

Sebuah Catatan : “Hari Terakhir Bersama Mbak Munip”

Hari ini tepat tujuh hari (alm) mbak Munipah Direktur Eksekutif Masyarakat Mandiri (MM) menghadap sang Illahi. Seakan tidak percaya, beliau begitu cepat meninggalkan kami semua.

Hari itu Selasa (11/08), selepas sholat subuh, menyalakan hp seperti biasa ramai dengan grup social media. Tiba ada pesan masuk dari mas Dede Sukiaji, sepertinya pesan yang tertunda dari semalem “Temen2 ba’da sholat subuh langsung ke rumah duka saja”, kaget sekaligus bingung siapa yang meninggal. Kemudian coba lihat grup lembaga ternaya sudah banyak pesan Innalillahi wa innailaihi roji’un, semakin penasaran.

Manjat chat sampai pada pesan dari Mabk Yuni (SDM MM) “Assalamualaikum Innalillahiwainnalillahirojiun, telah meninggal dunia mba munipah di rs sentra medika cibinong bogor sekitar jam setengah 1 dini hari. Mohon doa nya semoga diterima amal ibadah nya disisi Allah swt Aamiin”. Kaget dan terdiam dalam hati “benernggak ya berita ini”,  tidak berpikir panjang lagi langsung berangkat menuju rumah duka. Sampai dirumah duka beberapa teman kantor sudah berdatangan. Seakan mimpi, namun itulah kenyataannya.

Masih melekat diingatan hari senin (10/08) melihat beliau masih memimpin rapat dalam kondisi sehat. Tidak ada firasat tidak pesan khusus yang beliau sampaikan.

Beliau membuka rapat seperti biasa. ‘Assalamu’alaikum kita buka rapat pada hari ini dengan mambaca basmalah bersama “Bismillahirrohmanirrohim” dilanjutkan dengan tilawah oleh mas Aep”, sambil tersenyum. ‘jangan surat annisa lagi ya’, pintanya.

Beliau memberikan materi tentang mindset sebagai hasil dari pelatihan yang seminggu lalu didapatkan dari pelatihan pimpinan jejaring. Seperti biasa beliau menyamaikan  dengan semangat senyum khas nya. “Boleh gontok gontokan di ruang rapat, tapi klo setelah itu bisa aja lagi” pesan beliau sebelum menutup materi

Kepada penulis ia menyampaikan tentang perbaikan website, ”mas, nama web diganti aja jadi Masyarakat Mandiri karena itu adalah jualan kita. Semua brand lembaga dirubah menjadi Masyarakat Mandiri saja”. Kemudan beliau melanjutkan “Temen-temen kalo kelapangan jangan hanya selfie, tapi juga kirim foto kegiatan. Biar diolah mas Slamet sebagai bahan komunikasi lembaga, untuk temen-temen pendamping supaya membuat tulisan sebagai bahan web, nanti dibuatkan Internal Memo dari lembaga”, tukasnya.

Diterakhir menjelang rapat berakhir beliau menyampaikan bahwa sebentar lagi akan cuti karena usia kandungannya sudah mendekati HPL. “Saya sudah mengajukan cuti ke direksi Dompet Dhuafa. Dan direksi sudah setuju. Tapi mulainya kapan belum tau, Hari Perkiraan Lahir (HPL) tanggal 28 tapikan bisa maju 2 minggu bisa mundur 2 minggu” ungkapnya. “Nanti kalo saya cuti untuk masalah kedirekturan yang menanggani mbak Dessy (Manajer Marketing Bisnis), kalo masalah program langsung ke mas Dede (Manajer Program), kalo maslah keuangan dan opersaional lembaga langsung ke mas Soni (Manajer Keuangan dan Opersaional)” pesannya.

Di hari itu tidak pesan khusus yang beliau sampaikan, semua berjalan seperti biasa. Beliau pulang lebih awal karena harus memeriksakan kandungan ke dokter.

Sampai di pagi buta itu tiba-tiba mendapat kabar kepergian beliau yang begitu mendadak setelah melahirkan. Selamat Jalan mBak. Srikandi, yang telah mengabdikan selama 15 tahun di dunia pemberdayaan. Selama 15 tahun merintis dan membesarkan Masyarakat Mandiri. Terima kasih atas dedikasi, keikhlasan, pengorbanan, pengabdian dan ilmu yang telah diberikan kepada kami.

”Allohummagfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha.”

 

Jampang, 18 Agustus 2015

Slamet Mulyanto

(Staff Komunikasi)

 

{fcomment}

 

 

 

Raih Penghargaan, Dompet Dhuafa Kembali Dipercaya Sebagai Lembaga Zakat Pilihan Masyarakat Kelas Menengah

JAKARTA-Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan terkemuka di Indonesia berhasil meraih penghargaan sebagai Indonesia Middle-Class Brand Champion 2015 dalam kategori lembaga amal zakat, infaq, sodaqoh nasional, yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6). Indonesia Middle-Class Brand Champion (IMBC) 2015 merupakan ajang dimana apresiasi diberikan kepada pemegang dan pemilik merek yang mereknya terbaik dan terpercaya di kelas menengah bedasarkan survei “Perilaku Kelas Menengah dan Scorecard Index 2015”.

Ikhwan Alim, selaku panitia acara menjelaskan, ada tiga karakteristik kelas menengah. Pertama adalah knowledge ability, social connection(melek teknologi informasi), dan resource atau daya beli yang berlebih. Tiga karakteristik inilah yang yang menjadi tantangan dalam menggarap segmen kelas menengah.

Ada beberapa jenis segmen pasar, salah satunya adalah kelas menengah. Masyarakat yang termasuk di dalam kelas menengah adalah mereka yang berpengeluaran dua hingga US$ 2-20 sehari (versi Asian Development Bank/ADB). Pengeluaran tidak hanya berupa barang konsumtif atau hiburan tetapi juga dalam bentuk amal.

“Penghargaan ini diberikan pada perusahaan yang mampu menggarap segmen kelas menengah dengan baik. Dalam hal ini Dompet Dhuafa berhasil menciptakan awarness dan hubungan dengan muzaki”, ungkapnya.

Penghargaan yang diraih Dompet Dhuafa berdasarkan hasil survey pada masyarakat kelas menengah pada sembilan kota besar di Indonesia periode Maret hingga April 2015. Beberapa kota besar di antaranya Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Medan, Makasar, Semarang, Palembang, Balikpapan, dan Denpasar. Survei ini pertama kali dilakukan oleh SWA berkolaborasi dengan Inventure pada 2012 dan terus berlangsung hingga tahun ini.

“Penghargaan ini merupakan masukan untuk kami dalam mengelola kepercayaan dari donatur”,  ucap Salman Alfarisi, Senior Manager Corporate Secretary Communication Dompet Dhuafa. 

 Editor: Uyang

{fcomment}

 

 

 

Zakat Dengan Pendampingan Berikan Perubahan

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Pemberian zakat, terutama yang diiringi pendampingan dari lembaga pengelola zakat, memberi perubahan bagi mustahik. Meski yang terlihat jelas adalah perbaikan pendapatan, pendampingan diharapkan bisa memperbaiki aspek spiritual dan kesehatan.

Dalam paparan hasil penelitian yang dilakukan bersama Caesar Pratama tentang pengaruh zakat terhadap kesejahteraan mustahik, peneliti ekonomi syariah IPB Irfan Syauqi Beik mengatakan, selama ini pendekatan ukuran masyarakat miskin masih materi.

BKKBN membagi kriteria keluarga miskin dalam kategori pra sejahtera dan sejahtera 1 serta tidak miskin di kelompok sejahtera 2. Kemampuan melaksanakan spiritual ada di ciri keluarga sejahtera 2.

”Jika 15,5 juta keluarga yang setara sekitar 70 juta jiwa pra sejahtera dan sejahtera 1 (kelompok miskin) tidak punya ciri beribadah, bagaimana membentuk mentalitasnya?” ungkap Irfan dalam diskusi hasil penelititian pilihan Forum Ekonomi Keuangan Syariah (FREKS) 2015 beberapa waktu lalu.

Menggunakan model CIBEST, ada empat masyarakat dibagi dalam empat, yakni sejahtera, miskin material, miskin spiritual, dan miskin absolut. Selain materi, indikator yang digunakan juga mencakup spiritual berupa kemampuan menjalankan ibadah wajib serta pengaruh eksternal lingkungan atau kebijakan pemerintah yang menghambat ibadah.

Dari 121 responden mustahik di empat desa di Kecamatan Jampang, Ciseeng, dan Parung Kabupaten Bogor di bawah program pemberdayaan zakat LAZ Dompet Dhuafa, pendapatan mustahik meningkat 147,14 persen dalam setahun program dari rata-rata Rp874 ribu per rumah tangga per bulan menjadi Rp2,160 juta per rumah tangga per bulan.

Batas kemiskinan spiritual dari uji ini minimal pada skor tiga. Sebelum penelitian, batas kemiskinan spiritual mustahik sudah 3,5.

Melalui program pemberdayaan yang dilakukan, garis miskin spiritual naik dari 3,5 menjadi 4,3. ”Program pembinaan dengan pendampingan spiritual membawa perbaikan,” kata Irfan.

Semua komponen kemiskinan pun turun. Kemiskinan spiritual turun 1,6 persen, kemiskinan material turun 49,6 persen, kemiskinan absolut turun 12,3 persen.

”Secara keseluruhan pembinaan spiritual dan pemberdayaan ekonomi, didapati ada peningkatan kesejahteraan hingga 63,7 persen,” kata Irfan.

Ia menilai, salah satu kelemahan pengentasan kemiskinan adalah pendekatan proyek sekali jalan. Secara administrasi bisa dipertanggungjawabkan, tapi tidak mengubah esensi dan tidak bersifat mendasar. Jika tidak diiringi pendampingan spiritual kontinyu, program pengentasan kemiskinan yang sementara khawatir justru merusak.

Menggunakan pendekatan dis-agregasi human development index (HDI), peneliti ekonomi syariah FEB UI, M Soleh Nurzaman mencoba membandingkan dampak pemberian zakat terhadap HDI di skala rumah tangga dan membandingkan efek pemberian dana zakat dan non zakat (dana komersil) dengan indikator kesejateraan, pendidikan dan tingkat harapan hidup.

Di tahun pertama ia meneliti 133 penerima zakat dengan total 585 anggota dan kelompok kontrol penerima non zakat 30 rumah tangga dengan 155 anggota keluarga. Di tahun ke dua, dari 133 rumah tangga penerima zakat, hanya 90 yang bisa ditemui kembali, sementara penerima non zakat tidak berlanjut karena pemberian dana komersil dihentikan.

Hasilnya, secara umum, HDI tahun ke dua meningkat dari tahun pertama, dari 60 persen di tahun pertama menjadi 69 persen di tahun ke dua.

”Tahun pertama mendapat intervensi zakat, pendidikan mustahik membaik. Tapi tingkat harapan hidup memburuk dan pendapatan masih. Tahun ke dua pendapatan naik, kesehatan serta harapan hidup turun dari 66 ke 62,” ungkap Soleh.

Dari uji lanjutan, HDI rumah tangga mustahik penerima zakat dari penerima non zakat, tidak berbeda. ”Setelah diverifikasi, bagi mustahik, tidak penting dana yang diterima ini zakat atau non zakat, yang penting dapat dana meski ada margin yang harus dibayar,” tutur Soleh.

Bagi para responden, lanjut Soleh, pendapatan adalah segalanya. Kalau sakit, sepanjang tidak parah dan masih bisa bekerja, tidak masalah.

Tapi dalam perspektif islam, tentu tidak sederhana ini. Karena itu disarankan ada program komplemen dan isolasi berupa kampung madani yang dibangun Dompet Dhuafa. Karena ada juga yang pendampingan, tapi tidak khusus dan spesifik.

{fcomment}

 

 

 

 

Klaster Mandiri, Ikhtiar Mengentasan Kemiskinan

Dalam upaya menumbuhkan ekonomi komunitas, Dompet Dhuafa meluncurkan program Klaster Mandiri sebagai ikhtiar untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat. Klaster Mandiri diharapkan mampu membangun penguatan likuiditas permodalan, penguatan faktor Produksi dan penguatan perdagangan. Mandegnya perekonomian di desa banyak disebabkan karena kurangnya likuiditas dan permodalan untuk membangkitkan transaksi ekonomi. Rakyat miskin di desa tak dapat mengaskses permodalan melalui permodalan dengan mudah. Perlu adanya terobosan untuk memberikan akses permodalan ini buat sektor produktif di desa. Dengan demikian tak ada orang desa yang terjerat riba.

Penguatan faktor produksi di desa seperti pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan, usaha kecil dan lannya diperkuat melalui seperangkat program pendampingan dan penguatan. Tantangannya sangat besar karena saat ini sektor produksi sangat lemah. Masyarakat telah didera mental konsumtif dengan didukung kebijakan impor Negara terhadap sektor yang diproduksi desa.

Permodalan dan sektor produksi juga harus disambungkan dengan sistem perdagangan yang sehat dan adil. Penguataan perdagangan akan mendorong ekonomi yang sehat yang menumbuhkan sektor industri desa dan sekaligus menjamin distribusi kebutuhan hidup yang lancar. Penguatan perdagangan dilakukan dengan mendorong kekuatan pemasaran para petani, peternak nelayan dan industri kecil dengan pelatihan dan pendampingan mengenai kualitas produksi, sertifikasi, kemasan, dan penguatan marketing board (jaringan pemasaran).

Program klaster mandiri dalam pelaksanaannya di bagi menjadi tiga bidang yang meliputi UMKM, Pertanian dan Peternakan. Bidang UMKM adalah bidang yang dilaksanakan oleh Masyarakat Mandiri. Bidang UMKM sendiri dilakukan di tujuh propinsi dan tujuh kabupaten. Ketujuh lokasi tersebut adalah kabupaten Lebak-Banten, Kabupaten Bogor-Jawa Barat, Kabupetan Kulon Progo-DI Yogyakarta, Kabupaten Blora-Jawa Tengah, Kabupaten Tuban- Jawa Timur, Kabupaten Bantaeng-Sulawesi Selatan dan Kabupaten Rote nDao-Nusa Tenggara Timur.

Program klaster mandiri dilaksanakan selama tiga tahun sejak 2011. Tiga tahun program berjalan sudah banyak masyarakat yang merasakan manfaat program. Jumlah penerima manfaat program klaster mandiri mencapai 956 KK dengan dana yang sudah terserap mencapai 2.4 Milyar. Dana dipergunakan untuk bantuan modal usaha pribadi, modal usaha bersama (ISM), penguatan kapasitas mitra dan pendampingan intensif selam program.

Program pemberdayaan yang dilakukan oleh MM-DD memang memiliki keunggulan yaitu adanya pendampingan intensif dengan menempatkan seorang field officer (pendamping) yang tinggal di komunitas dampingan (live in community).

Dengan mewajibkan pendamping tinggal di komunitas dampingan akan lebih mudah mengontrol penyaluran, mempermudah dalam proses pendampingan, cepat memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi dikomunitas dan mempercepat perubahan mindset masyarakat.

Aspek perubahan mindset memang akan menjadi pendukung utama kemajuan usaha. Karakter yang sudah lama tertanam turun temurun membutuhkan waktu untuk merubahnya. Karakter yang puas dengan keadaan (nrimo ing pandum), karakter susah untuk menerima perubahan menjadi tantangan tersendiri. Dengan adanya pendamping, hal-hal tersebut bisa di kikis sedikit demi sedikit. Perubahan itu yang membuat usaha mitra bertambah maju dan hampir di setiap tempat dampingan mempunyai usaha yang menghasilkan produk-produk unggulan.

Salah satu aspek penentu kesuksesan usaha yang paling utama adalah pemasaran. Hal tersebut sangat penting karena kelancaran pemasaran akan mempengaruhi tingkat pendapatan, kapasitas produksi dan keberlanjutan usaha. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam hal ini adalah perluasan akses pasar baik melalui penjualan produk langsung ke pasar lokal maupun luar daerah dengan sistem jual lepas, konsinyasi maupun melalui sales. Selain itu kerjasama pemasaran dengan pengusaha lokal dan luar daerah juga dilakukan dengan model kemitraan yang diharapkan dapat menjamin kontinyuitas pemasaran produk. Kegiatan promosi melalui media, pembuatan katalog dan mengikuti kegiatan pameran produk juga menjadi komponen penting dalam sistem dan strategi pemasaran.

Mitra sudah mampu menghasilkan produk-produk unggulan, yang mampu bersaing dipasar. Produk-produk tersebut antara lain seperti batu bata, dompet handmade, ikan hias, keset kain perca dan gula semut. Khusu produk gula semut secara kualitas, sudah sesuai spesifikasi produk ekspor, dan dilakukan program pengambangannya.. Produk-produk unggulan diharapkan mampu menjadi ikon di setiap wilayah yang berimplikasi pada peningkatan pendapatan mitra dampingan.

Program Klaster Mandiri sebagai program pemberdayaan masyarakat (mustahik) melalui pengembangan ekonomi secara umum telah memberikan dampak yang positif pada peningkatan kesejahteraan mustahik khususnya pemetik manfaat langsung. Setelah proses pendampingan program selama lebih dari 2 tahun terjadi peningkatan pendapatan pemetik manfaat program rata-rata sebesar 11,16,  menurunnya tingkat kesenjangan dan keparahan kemiskinan pada wilayah sasaran program. Namun demikian keberhasilan program dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tentu akan tetap dipengaruhi oleh kondisi perekonomian secara makro yang mungkin kurang mendukung iklim usaha komunitas sasaran dan mungkin akan mempengaruhi pencapaian saat ini.  (MM)

{fcomment}