Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Khasanah

Potensi Zakat Gairahkan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat

Kita mencoba mengingat ke masa lalu sejak 67 tahun negara ini merdeka, dan  seiring pula dimulainya kegiatan pembangunan nasional awal tahun 1970-an, masyarakat di Indonesia belum juga dapat merasakan kehidupan yang layak sebagai bangsa  yang sejahtera. Kemiskinan dari dulu sepertinya menjadi masalah akut hingga kini dan terus berlanjut hingga sekarang dan tidak tahu pasti kapan masalah ini dapat teratasi.                                                      

Bank Dunia melaporkan pada tahun 2012, bahwa kurang lebih 47% dari jumlah penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Bagaimana pun angka kemiskinan tersebut merupakan salah satu masalah besar  di negeri ini. Tentu, kenyataan bahwa masih besar tingkat kemiskinan di negeri ini sungguh sangat disayangkan terjadi di negeri yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ini.                                                                                        

Sebagai salah satu pilar syari’at Islam, zakat tentunya memiliki kaitan dengan permasalahan tersebut. Zakat sendiri merupakan ibadah dalam Islam yang memiliki dimensi sosial-ekonomi.  Dalam Islam, pelaksanaan zakat merupakan sebuah perintah Allah SWT yang memiliki pesan sebagai sebuah kewajiban yang mutlak harus dilakukan oleh setiap orang yang mengaku dirinya beriman.                                                                                                            

Zakat secara bahasa berarti suci, tumbuh dan berkembang, keberkahan, dan baik. Sedangkan dalamfiqh, zakat diartikan sebagai sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu. Dari sumber dana sosial kaum muslimin yang ada, zakat merupakan elemen yang sangat penting. Pertama, zakat merupakan perintah yang diwajibkan kepada kaum muslimin yang mampu. Perintah ini terdapat dalam ayat Qur’an surat At-Taubah ayat 103. Tentu dalam konteks sebagai perintah, dana zakat memungkinkan untuk ditarik dari para muzakki. Sehingga akan memungkinkan dana zakat ini menjadi sumber utama dari dana sosial kaum muslimin.                     

Dalam dimensi pembangunan masyarakat, zakat merupakan salah satu instrument pemerataan pendapatan. Dengan pengelolaan zakat yang baik, sangat dimungkinkan membangun suatu  pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan pada saat yang bersamaan.

Jika melihat dalam kondisi riil, disadari bahwa tidak semua pelaku ekonomi dalam mekanisme tersebut akan memperoleh keberuntungan yang sama. Oleh karenanya, zakat menjadi instrument penting dalam rangka melakukan redistribusi untuk meminimalisasikan perbedaan kesejahteraan yang merupakan efek dari aktifitas pasar. Melalui mekanisme ini, secara tidak langsung, pilar ukhuwah umat muslim tengah terbangun, melalui solidaritas sosial dalam zakat.

Selain itu, banyak kaum dhuafa yang sulit mendapatkan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan tentunya sosial ekonomi tadi. Lemahnya fasilitas ini akan sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum termarjinal. Kesehatan dan pendidikan merupakan modal dasar agar sumber daya masyarakat yang dimiliki oleh suatu negara berkualitas tinggi. Peran dana zakat sebagai sumber dana pembangunan fasilitas kaum dhuafa akan mendorong pembangunan ekonomi jangka panjang. dengan peningkatan kesehatan dan pendidikan diharapkan akan memutus siklus kemiskinan antar generasi.                                          

Tantangan terbesar dari optimalisasi zakat adalah bagaimana mendayagunakan dana zakat menjadi tepat guna dan tepat sasaran. Tepat guna berkaitan dengan program pendayagunaan yang mampu menjadi solusi terhadap problem kemiskinan. Sedangkan tepat sasaran berkaitan dengan mustahik penerima dana zakat.                                                     

Sayangnya program pengentasan kemiskinan yang ada kebanyakan masih bersifat karitatif (bagi-bagi habis) dan konsumtif. Program belum mengarah kepada program yang lebih produktif dan memberdayakan. persoalan pengentasan kemiskinan adalah bagaimana program ditujukan untuk menangani sampai akar permasalahan bukan gejalanya saja.                        

Beberapa solusi yang harus dilakukan baiknya menciptakan sistem ekonomi yang lebih berpihak pada rakyat kecil (usaha kecil). Apabila ekonomi rakyat kuat maka ekonomi nasional juga menjadi kuat. (sumber : dompetdhuafa.org)

{fcomment}

 

 

 

Pemberdayaan dan Momentum Amal Kebajikan

Demi masa. Sungguh manusia itu berada dalam kerugian. Begitulah Allah SWT dalam firman-Nya Surat Al-Ashr ayat 1-2 menggambarkan kondisi manusia di dunia berada dalam keadaan merugi.

Allah memberikan waktu untuk seluruh manusia dengan durasi dan kesempatan yang sama. Allah memberikan kita waktu 24 jam yang sama, berarti kita mempunyai kesempatan yang sama pula. Kalau seperti itu, lalu bagaimana dengan orang yang Allah janjikan surga dan neraka? Beruntung atau merugi? Bahagia atau susah?

Padahal kita mempunyai waktu dan kesempatan yang sama. Sebenarnya jawabannya cukup mudah, hal itu tergantung bagaimana orang itu dapat menggunakan waktu yang telah Allah berikan dengan sebaik-baiknya dan kemauan untuk mengambil setiap kesempatan.

Salah satu cara implementasi dari penggunaan waktu dan kesempatan itu adalah beramal sholeh. Demikianlah Allah telah memberikan kesempatan untuk menjadi orang yang tidak merugi. Oleh karena itu, setiap orang dengan berbagai kondisi dalam kehidupannya mempunyai potensi untuk melakukan amal sholeh.

Begitupun bagi para pegiat zakat yang melakukan pemberdayaan, ia rela menelusuri jalan sampai ke perkampungan yang notabene masyarakatnya adalah fakir dan miskin, rela meluangkan waktu untuk berpikir menyusun strategi penyaluran dana zakat supaya tepat sasaran, sesungguhnya apa yang sedang dilakukannya adalah dalam rangka implementasi penggunaan waktu dengan sebaik-baiknya untuk amal kebajikan.

Dan ketika ia niatkan ikhlas karena Allah, maka ia telah mengambil kesempatan terbaiknya dari waktu yang telah Allah sediakan.

Momentum amal sholeh bagi orang-orang yang diberikan harta berlebih adalah kewajibanya membayar zakat, karena harta itulah yang menjadi ujian. Bagi orang-orang yang berkekurangan harta terdapat momentum amal sholeh untuk bersabar dan ikhtiar, karena kesulitan hidupnyalah menjadi ujian. Begitu pula bagi para pegiat zakat sebagai mediasi antara si miskin dan si kaya terdapat momentum amal sholeh dengan melakukan penyaluran zakat, karena amanah yang dipikulnya adalah ujian.

Penting kita perhatikan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih cukup besar. Indonesia dalam hitungan angka kemiskinan versi World Bank meski mengalami penurunan tingkat kemiskinan, tapi tingkat penurunannya terus melambat hanya 0.7 persen untuk tahun 2012-2013, tingkat penurunan terkecil dalam satu dekade terakhir.

Ketimpangan juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir yang berpotensi menciptakan konflik sosial. Hal ini akan  mengurangi manfaat dari tingginya pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir,  pertumbuhan yang pada dasarnya mengurangi tingkat kemiskinan menjadi 11,3%  pada tahun 2014, dibandingkan dengan 24% pada tahun 1999.  Sekitar 68 juta penduduk Indonesia tetap rentan untuk jatuh miskin. Pendapatan mereka hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga miskin.  Guncangan ekonomi seperti jatuh sakit, bencana atau kehilangan pekerjaan, dengan mudah dapat membuat mereka kembali jatuh miskin (Sumber : World Bank).

Potret kemiskinan di Indonesia tersebut menjadi sebuah “Pekerjaan Rumah” yang serius dan menjadi mega proyek pemerintah dalam pengentasan kemiskinan. Setidaknya problematika kemiskinan ini akan bisa terkurangi ketika diperhatikan dengan action yang nyata bukan hanya sebatas wacana.

Ada momentum amal kebajikan bagi orang-orang yang tidak mau menyia-nyiakannya, karena Indonesia adalah negara dengan umat muslim terbanyak di dunia, berarti harus ada harapan kebangkitan ekonomi syariah di negeri ini.

Menurut Irfan Syauqi Beik, Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB berpendapat, bahwa perekonomian syariah akan berkembang ketika tiga pilar yang menopangnya ikut berkembang. Ketiganya adalah sektor riil, sektor keuangan dan sektor ZISWAF (zakat, infak, sedekah dan wakaf).

Salah satu pilar yang menopang perekonomian adalah zakat, instrumen yang berperan menciptakan keadilan distribusi, pemerataan pembangunan, dan sekaligus menjadi alat pemberdayaan sosial ekonomi kelompok miskin serta kelompok termarjinalkan lainnya.

Kalau kita liat perkembangan potensi zakat dengan target nasional penghimpunan zakat yang telah ditetapkan BAZNAS, yaitu Rp 4,2 trilyun pada 2015. Ada peningkatan target penghimpunan zakat dari tahun sebelumnya sekitar Rp3,2 triliun. Angka itu masih kecil dibanding potensi zakat Indonesia berdasarkan riset Baznas bersama IPB dan Islamic Development Bank (IDB) yang bisa mencapai  Rp217 triliun tiap tahun (Sumber : BAZNAS).

Dari data potensi zakat di atas sebenarnya kita masih punya harapan untuk kebangkitan ekonomi Indonesia. Allah SWT berfirman : “Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu” (QS. Al-Hasyr : 7). Oleh karena itu, ketika berbicara tentang zakat dan pemberdayaan ekonomi, maka disana ada momentum untuk ikut berkontribusi membangun bangsa. Setidaknya ikut membantu mengangkat derajat kaum dhuafa.

Target program penyaluran zakat tidak lagi hanya sebatas bantuan sosial, tetapi jauh ke depan harus mampu merubah mindset orang-orang fakir miskin dari pola pikir sebatas bertahan hidup (konsumtif) menjadi berfikir dapat hidup produktif.

{fcomment}

 

 

 

Tolok Ukur Kemandirian Komunitas

     Program Klaster Mandiri yang dilaksanakan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa di lima wilayah yaitu Kulon Progo, Lebak, Blora, Bantaeng dan Zona Madina telah berakhir. Kurang lebih tiga tahun program tersebut digulirkan. Cukup lama program berjalan namun terasa sangat singkat bagi mitra pemetik manfaat program.

   Isu kemiskinan masyarakat kelas termarjinalkan (klaster) menjadi pekerjaan utama yang harus dicari solusinya. Pekerjaan berat namun menjadi tantangan tersendiri bagi Masyarakat Mandiri khususnya bagi para pendamping program di lapangan. Kemandirian komunitas menjadi impian akhir dari program ini. Terutama kemandirian dari aspek intelektual dan spiritual, aspek manajerial dan aspek finansial.

      Selama tiga tahun program berjalan pekerjaan berat yaitu mengentaskan mitra dari jurang kemiskinan belum berhasil. Banyak faktor menjadi penyebab. Minimnya pembiayaan, karakter usaha mitra yang sulit berkembang, minimnya akses dan jaringan pemasaran, minimnya dukungan dan kontribusi berbagai pihak dan banyak lainnya. Namun bukan berarti program tersebut gagal. Karena masalah kemiskinan telah menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai di negeri ini. Butuh banyak sumberdana, sumberdaya, waktu dan peran serta kepedulian dari semua pihak.

    Namun jika ditelisik lebih dalam, banyak hal positif yang bisa diambil dari program klaster mandiri. Diantaranya peran dan kontribusi pendamping dalam memberikan warna, menanamkan nilai dan membangun sistem bagi mitra dan masyarakat di wilayah dampingannya. Sebutlah Widi Hartanto, pendamping klaster mandiri di Kulon Progo. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana membangun dan mengembangkan usaha namun ia juga menanamkan jiwa kewirausahaan, nilai tanggungjawab dan keikhlasan kepada mitra. Hasilnya muncullah kader lokal seperti Pak Kadarisman, Bu Sukis, Pak Riyanto yang ikhlas menjalankan tugasnya sebagai pengurus koperasi tanpa digaji.

    Atau seperti yang dilakukan Tomy Dwi Hendrawan pendamping klaster mandiri Blora yang mengajarkan kepada mitra pentingnya menjalin hubungan dengan dinas. Hasilnya Dinas Koperasi Blora telah memberikan pendampingan dan bantuan modal dan aset untuk pengembangan usaha keset kain perca. Demikian halnya yang dilakukan oleh Syefanil Fariton pendamping klaster mandiri Lebak yang bisa menguatkan mental usaha mitra pembuat batu bata sehingga beberapa diantara mereka telah terbebas hutang dari dunungan (bos). Atau peran-peran pendamping lainnya di Zona Madina dan di Bantaeng yang tak kalah hebatnya.

      Para pendamping tersebut mungkin tidak bisa mengentaskan mitra dari jurang kemiskinan. Namun mereka telah menanamkan nilai-nilai dan meletakkan pondasi sistem sebagai modal sosial bagi mitra. Bagaimana bisa mandiri dan tidak tergantung pada siapapun. Bagaimana menjalankan usaha dengan baik, bagaimana memiliki jiwa, mental dan semangat kewirausahaan. Bagaimana membangun jaringan dan akses pasar. Bagaimana mengelola administrasi dan keuangan lembaga dengan manajemen yang baik. Bagaimana berlaku jujur, tanggungjawab dan ikhlas. Bagaimana peduli dengan sesama. Hingga bagaimana mitra bisa menjalankan kewajibannya sebagai hamba, sebagai anggota keluarga dan sebagai sesama manusia. Itulah nilai-nilai positif yang mereka tanamkan kepada mitra. Tidak semua mitra bisa menjalankan. Namun setidaknya nilai-nilai tersebut telah dijalankan oleh sebagian mitra sebagai modal bagi mereka untuk mandiri. Secara intelektual, spiritual, manajerial dan finansial.

     Dari hal tersebut jelas bahwa tolok ukur kemandirian komunitas tidak hanya diukur dari miskin atau tidak miskin saat program berakhir. Namun lebih dari itu yaitu bagaimana mitra atau komunitas memiliki kemampuan untuk bisa menjalankan kegiatan usahanya, bisa mengelola lembaga lokalnya, bisa mengakses sumberdana, bisa membuka akses dan jaringan pasar serta menjalin hubungan dengan berbagai stakeholders secara mandiri. Bisa tetap eksis setelah ditinggalkan pendampingnya. Meskipun di akhir program mereka belum terlepas dari jurang kemiskinan. Namun setidaknya mereka memiliki peluang dan harapan manjadi lebih sejahtera dimasa depan dengaan tekad dan semangat kemandirian yang mereka dapatkan.

 {fcomment}

 

 

 

Pendamping Multifungsi

    “Bu, terasinya masih kasar. Pernah coba pakai penggilingan bu. Biar hasilnya bagus” ujar Slamet. “Kalo pake penggilingan rasanya nggak enak pak” jawab Goniah.  “Masak bu, tapikan hasilnya lebih bagus dan lebih lembut” tanya slamet. “Ya klo yang namanya udang rebon kayak gini, kalo lembut digoreng hancur. Terasi disini bisa di pake buat lauk. Lagian harganya (alat) mahal nggak ada modalnya” jelas ibu 2 anak. “Lho, kalo ibu mau saya kasih gratis” ujar Slamet . “Nggak mau ah. Gini aja laku pak, nanti kalo digiling malah nggak laku” tolaknya

   Sekelumit pengalaman pendampingan di Desa Tanjung Pasir Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang. Hal yang mencerminkan betapa tidak mudah melakukan perubahan di dalam sebuah komunitas. Pola fikir yang terbentuk lama membutuhkan waktu yang lama pula untuk mengubahnya. Tidak hanya di Tanjung Pasir namun juga hampir diseluruh Indonesia. Apa yang kita lihat kurang namun sudah sempurna bagi mereka. Pemberdayaan yang asal-asalan yang hanya melihat komunitas dari luar biasanya tidak akan berjalan efektif. Banyak bantuan alat produksi namun tidak memperhatikan tingkat kemampuan dan kebutuhan akhirnya berkhir di tukang loak.

    Diperlukan pendekatan intensif untuk mengubah pola fikir mereka. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan olah Masyarakat Mandiri menekankan pendekatan intensif dengan menempatkan satu orang field officer atau pendamping di lokasi program pemberdayaan (based on community). Dengan pola seperti ini diharapkan pendamping bisa terima dan hidup berbaur ditengah masyarakat. Seorang pendamping tidak hanya sekedar menjadi tangan panjang program namun mampu menjadi agen perubah ditengah masyarakat.

     Tugas pendamping menjadi berat karena harus mampu mengkomunikasikan program kepada sebuah komunitas yang secara karakter, pola fikir mungkin berbeda dan bahkan tidak sedikit pula yang menolak. Karakter kuat dibutuhkan seorang pendamping untuk mampu mengatasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda.

   Pendamping selain menjalan tugasnya, ia juga mempunyai fungsi lain ditengah masyarakat. Ketokohannya dimata mitra membuat peran pendamping sangat krusial. Diantara fungsi-fungsi pendamping antara lain, sebagai pelaksana lapangan program. Ini jelas karena pendamping menjadi matab tombak sebuag program. Membangun komunikasi dengan masyarakat, tokoh dan stakeholder terkait dari proses sosialisasi sampai proses pelaksanaan. Dalam proses perekrutan mitra, pendamping harus mampu memilih dan memilah calon penerima manfaat sesuai dengan kriteria apalagi jika dana yang digunakan adalah dana zakat. Pendamping haruslah amanah, menyalurkan dana program dengan jumlah ratusanjuta cukup menggoda jika tidak kuat iman.

     Selain itu, Pendamping juga menjalankan fungsi edukasi kepada mitra pada komunitas yang didampingi. Contoh percakapan di atas merupakan gambaran betapa mitra yang dihadapi belum tentu sesuai dengan harapan. Betapa sederhananya cara berfikir masyarakat, betapa pengalaman menjadi patokan hidup mereka. Betapa pola fikir ‘kolot’ tertanam dengan kuat. Perubahan pola fikir dan pembentukan karakter harus dilakukan terus menerus selama program. Pertemuan pertemuan rutin dijadikan ‘sekolah ‘ bagi mitra untuk diberikan materi pembinaan baik secara agama maupun secara usaha.

    Ada juga pendamping juga mengisi waktu senggangnya dengan membuka les privat gratis dan Taman Pendidikan Al-Quran bagi anak. Mengajari baca tulis bagi mitra yang buta huruf. Ini menjadi bagian tak terpisahkan dari seorang pendamping.

     Menjadi konsultan usaha menjadi fungsi lain seorang pendamping mengingat yang didampingi adalah para pengusaha mikro. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa karena banyak yang menganggap pendamping adalah orang pintar sehingga masyarakat menganggap pendamping serba tahu.tidak sekedar konsultasi usaha ada juga yang curhat tentang kondisi desa sampai konsultasi rumah tangga.

   Tidak jarang juga pendamping menjadi berperan sebagai pelayan masyarakat. Pernah pengalaman ada mitra sedang sakit namun bingung untuk berobat karena tidak terdaftar jamkesmas. Mencoba mendaftarkan, ternayata tidak mudah. Banyak birokrasi yang dilewati. Dengan usaha akhirnya bisa juga keluar jamkesmas itu juga dibantu Puskemas setempat.

   Fungsi yang terakhir adalah pendamping sebagai marketing produk mitra. Produk usaha mitra rata-rata belum mempunyai pasar yang luas, masih terbatas pada pasar lokal. Tugas pendamping untuk membranding produk dan membuka akses pasar yang lebih luas. Dengan terbukanya akses maka peluang untuk majunya usaha mitra sangat besar. Majunya usaha mitra akan berbanding lurus dengan tingkat pendapatan mitra.

   Beginilah pendamping bekerja. Mendampingi dengan hati menjadi moto. Apa yang bisa bermanfaat bagi masyarakat akan diberikan tanpa meminta imbalan balik dari masyarakat. Semoga kerja-kerja pendamping bisa menjadi #inspirasiuntuknegeri. 

 {fcomment}

 

 

Palestina di Gempur, Saatnya Membuka Mata Hati

Palestina kembali berduka. Ratusan warga Palestina menjadi korban atas gempuran membabi buta militer zionis Israel sejak awal Ramadhan lalu. Puluhan nyawa tak berdosa, mayoritas anak-anak dan wanita serta lansia, terenggut.

Kekhusyukan warga Palestina dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan pun tercabik. Menurut laporan Abdillah Onim, relawan Indonesia yang menetap di Gaza, Palestina, hingga Senin (7/7) lalu zionis Israel telah meluncurkan lebih dari 300 roket ke Gaza.

“Waktu yang menjadi langganan Israel untuk menyerang Gaza dengan roket melalui pesawat jet F16 adalah pada saat warga Gaza buka puasa dan pada saat santap sahur, itu benar-benar di serang habis-habisan,” demikian ungkap Abdillah melalui surat elektronik yang diterima Dompet Dhuafa.

Abdillah menambahkan, kondisi tersebut kian diperparah dengan masih diblokadenya perbatasan antara Gaza dan Mesir. Dengan demikian, segala bantuan sulit untuk masuk Gaza, terutama bantuan bahan makanan.

Tak hanya di Gaza, wilayah Tepi Barat pun mendapat serangan bertubi-buti. Sasaran utamanya tidak lain adalah pemukiman warga sebagaimana di Gaza. “Saat ini, pemuda Palestina di Tepi Barat harus berhadapan dengan militer Israel, korban luka-luka serta tewas kian bertambah, bahkan Masjid Al Aqsa kiblat pertama umat Islam hingga saat ini benar-benar dikuasai oleh Israel. Muslim Palestina di Al Quds pun sangat sulit untuk salat di dalamnya,” jelas Abdillah.

Kondisi mengenaskan saudara-saudara kita di Palestina telah memanggil sisi kemanusiaan kita. Menyusul kondisi Palestina yang kian mengenaskan tersebut, Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan menyerukan masyarakat Indonesia peduli terhadap warga Palestina.

“Sungguh memilukan nasib masyarakat Palestina. Kita, semua masyarakat yang memiliki hati nurani harus membantu masyarakat Palestina,” ungkap Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Rabu (9/7).

Ahmad pun berharap lembaga-lembaga internasional turut bertindak untuk menghentikan kekejaman zionis Israel dan membantu warga Palestina. Pasalnya, pembantaian dan penindasan di Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir oleh hukum internasional.

Warga Palestina tengah berduka. Mereka menanti kepedulian kita. Ya, kepedulian dari segenap elemen masyarakat dunia, khususnya di Indonesia tengah dinantikan. Semoga kita termasuk golongan orang yang disebut Rasulallah shallallahu alaihi wasallam dalam hadisnya, “Seseorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR. Bukhari). (gie)

Bagi sahabat yang ingin berdonasi untuk warga Palestina, donasi dapat disalurkan melalui rekening Bank Muamalat 340.0000.482 dan BCA 237.7878.783 atas nama Yayasan Dompet Dhuafa Republika. (Sumber: www.dompetdhuafa.org)

{fcomment}

 

 

 

Membangun Basis Ekonomi baru

 Masih segar dalam ingatan, ketika ekonomi negeri ini ambruk diterjang badai krisis moneter pada tahun 1998. Ekonomi indonesia pada waktu itu berada pada titik terendah, ditambah lagi muncul kekisruhan sosial yang membuat investor meninggalkan indonesia. Kejadian ini melanda hampir di seluruh kota-kota besar yang mempunyai peran strategis terhadap perkembangan ekonomi indonesia pada waktu itu terutama jakarta.

Secercah harapan kebangkitan ekonomi muncul, ketika kenyataan bahwa usaha mikro yang sebelumnya kurang dilirik ternyata mampu bertahan dari badai krisis. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, usaha mikro tetap berputar dengan konstan dan cenderung meningkat pasca krisis. Dari 36.813.578 unit usaha mikro di tahun 1998 menjadi 56.534.592 unit di tahun 2012 (Data Kementrian Koperasi dan UKM), ada peningkatan 19.721.014 unit atau 34.88%. ini menjadi angin segar bagi perekonomian nasional.

 Kejadian yang seharusnya menjadi perhatian dan pelajaran, untuk menjadikan usaha mikro menjadi prioritas dalam pembangunan ekonomi negeri. Ketangguhannya mampu mengembalikan hegemoni ekonomi negeri. Perlu kebijakan-kebijakan yang memihak dan mendorong pelaku usaha mikro agar mampu berkembang.

Koperasi menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang dimiliki indonesia, yang mampu mendorong tumbuhnya perekonomian tingkat mikro. Slogan bahwa koperasi adalah sokoguru ekonomi bukanlah isapan jempol. Koperasi mampu menggerakkan usaha mikro sampai tingkat paling bawah (grass root). Dulu di kenal hanya koperasi unit desa yang dibentuk oleh pemerintah, namun sekarang banyak berdiri koperasi yang memang lahir dari keinginan masyarakat. Koperasi-koperasi mampu mentransformasi diri menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Eksistensinya mulai diakui oleh masyarakat yang langsung merasakan manfaat secara ekonomi.

Kulewasan koperasi ini menjadi salah satu hal yang diminati oleh masyarakat. Koperasi mampu menempatkan sesuai bidan dan kebutuhan, misalnya koperai petani, koperasi nelayan, koperasi pedagang pasar dan koperasi jasa keuangan. Tidak heran jika bermunculan koperasi dengan berbagai bidang usaha. Data kementerian koperasi tahun 2013 jumlah koperasi 203.701 dengan pertumbuhan rata-rata 4,7 %/tahun sejak tahun 2000.

Pesatnya pertumbuhan koperasi bukan tanpa masalah, karena ternyata tidak semua koperasi aktif. Koperasi yang tidak aktif kebanyakan dirikan karena sekedar keinginan punya koperasi bukan didasarkan kemampuan dan kebutuhan. Idealnya pembentukan sebuah koperasi harus mempunyai fondasi yang kuat, baik secara keanggotaan, kepengurusan, administrasi dan kepercayaan. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah dengan bimbingan dan pendampingan yang intensif. Model lembaga pendahuluan sebelum menjadi lembaga berbadan hukum koperasi bisa manjadi langkah awal. Lembaga pendahuluan ini menerapkan sistem seperti koperasi, baik kepengurusan maupun administrasinya. Lembaga pendahuluan ini menjadi ‘sekolah’ bagi pengurus sebelum menjadi lembaga berbadan hukum koperasi.

Lembaga-lembaga pemberdayaan telah melakukan penguatan ekonomi dengan model tersebut. Awalnya dengan memberikan pembiayaan modal usaha kepada masyarakat dengan berkelompok. Dari dua  atau lebih kelompok dalam satu lokasi dibentuk Induk sebagai lembaga yang mengelola kelompok-kelompok usaha. yang kepengurusannya di pilih dari anggota-anggota kelompok yang potensial. Kemudian dari dua atau lebih induk bentuk lembaga yang menaungi semua kelompok. Lembaga ini dikenal sebagai Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM), lembaga ini yang menjadi lembaga pendahuluan. Sistem yang dibangun menggunakan sistem koperasi. Semua pengurus diambil dari anggota kelompok atau pengurus induk yang telah dilakukan proses seleksi. Dengan model seperti ini akan diperoleh kepengurusan yang solid dan siap untuk membawa koperasi kearah yang lebih baik.

Kalaupun tidak sampai terbentuk lembaga berbadan hukum koperasi, level ISM pun bisa mengelola walaupun dengan jumlah yang terbatas.  

Dengan semangat untuk menggapai manfaat bersama, koperasi yang terbentuk melalui proses pemberdayaan yang intensif akan menjelma menjadi penggerak ekonomi yang mampu melahirkan basis-basis ekonomi baru. Basis ekonomi yang terbentuk karena bukan karena monopoli pemilik koperasi yang menimbulkan kesenjangan sosial baru, namun basis ekonomi ‘kerakyatan’ yang benar-benar membantu masyarakat semua lapisan.

 {fcomment}

 

 

 

Ingin Indonesia Berdaulat Gula

     Negeri yang sejahtera adalah negeri yang mandiri mampu memenuhi kebutuhannya tanpa bergantung pada pada negar lain. Kemandirian bangsa ini telah rintis sejak dulu, hasilnya adalah indonesia mampu swasembada beras pada tahun 1984. Walaupun tidak lama merasakan swasembada namun usaha itu terus di coba dan sejarah itu berulang pada tahun 2008 ketika indonesia mampu swasembada

    Ketidakmampuan dalam mencukupi kebutuhan nasional membuat, terlalu banyaknya barang impor yang merajalela di negeri ini membuat. ironinya masyarakat lebih bangga memakai barang ataupun mengkonsumsi makanan yang ‘berbau’ import. Padahal produk dalam negeri tidak kalah kualitasnya, bahkan malah disukai di luarnegeri. Salah satu produk yang kurang populer dimasyarakat namun sangat di sukai di luarnegeri adalah gula kelapa. Ditengah maraknya gula rafinasi impor yang sangat disukai oleh masyarakkat, peran gula kelapa seolah oleh terlupakan. Padahal dilihat dari segi manfaat, Gula kelapa mempunyai banyak manfaat karena selain bahan alami juga mengandung  kalori yang tinggi, Mengandung mineral, Kandungan gula (sukrosa) lebih kecil, Mengandung Thiamine, Riboflavin, Nicotinic Acid, Ascorbic Acid, protein dan vitamin C, Untuk terapi asma, kurang darah/anemia, lepra/kusta, dan untuk mempercepat pertumbuhan anak, Salah satu manfaat gula kelapa adalah untuk meringankan batuk yang disertai demam. Baik untuk makanan awal bagi penderita penyakit typhus, Baik untuk diet, mengurangi panas pankreas, menguatkan jantung, membantu pertumbuhan gigi sehingga kuat.

     Besarnya manfaat gula kelapa seharusnya menjadi perhatian untuk mengembangkan gula kelapa sebagai pengganti gula rafinasi. Jika tidak maka banyak anggaran yang akan dipake untuk impor gula, karena produksi gula rafinasi tidak mencukupi kebutuhan nasional. Prediksi Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Total kebutuhan gula nasional tahun 2014 sebesar 5,7 juta ton, terdiri dari 2,96 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 2,74 juta ton untuk keperluan industri.  Produksi gula nasional 2,6 juta ton, sehingga pemerintah melakukan ekspor 3,1 juta ton.

Situasi seperti ini perlu dilakukan upaya-upaya untuk merubah ketergantungan kepada gula rafinasi dengan mulai mebudayakan untuk menggantinya dengan gula kelapa atau gula aren. Perlu dorongan untuk mengembangkan dan mempopulerkan gula sebagai produk lokal yang banyak manfaat pangganti gula rafinasi. Stimulasi perlu dilakukan untuk membuat petani meningkatkan produksinya. Kondisi sekarang, antara harga jual petani yang tidak sebanding dengan proses produksi, sehingga para petani hanya menjadikan produksi gula menjadi usaha sambilan selain berladang.

     Perusahaan swasta telah bergerak cepat karena melihat potensi gula kelapa dan produk turunannya. Bentuk upaya mereka untuk bisa meraup keuntungan dari ptoduk lokal ini adalah memberikan pendampingan dan Quality control sehingga masyarakat ‘terikat’ terhadap perusahaan dan menjual produk gulanya kepada perusahaan. Keseriusan perusahaan sampai pada tahap mendorong petani untuk memproduksi gula organik dengan memberikan harga lebih mahal diatas harga pasaran. Semua proses ‘pengorganikan’ dari hulu-hilir dibantu dan didampingi. Lahan-lahan juga diberikan sertifikasi organik dari luar negeri.

     Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa sebagai lembaga pemberdayaan tergerak untuk membantu para petani gula dengan menggulirkan program pengembangan gula kelapa di Pacitan dan Kulon Progo. Program-program tersebut mampu meningkatkan produksi dan kualitas, sehingga produk mitra dilirik oleh perusahaan dengan nilai tawar lebih tinggi di banding petani lain. Mitra juga mampu memasarkan gula secara mandiri. Kemampuan produksi gula mitra mencapai 85 ton Gula pertahun.

     Indonesia mempunyai potensi untuk mampu mandiri dari segala hal, negari kaya raya namun belum mampu mengelola dengan baik. mimpi kami sederhana ingin mewujudkan kedaulatan pangan, dengan kedaulatan gula. {fcomment}

 

 

 

Melawan ketidakberdayaan

“Mudah-mudahan jadi berkah untuk keluarga, anak, cucu,” tutur Halimah, saat menunjukkan barang-barang modal usaha yang ia dapat dari program. Di usianya yang sepuh, ia masih memiliki lima orang tanggungan keluarga, selain delapan orang cucu.

Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang pantang menyerah menghadapi kehidupan yang fana ini. Suaminya sudah tua, dan tidak mampu memberi nafkah untuk keluarga. Usia tua identik dengan ketidakberdayaan. Melihat etos tak kenal menyerah di balik wajah tua Nenek Halimah, tua bukanlah suatu yang harus diprihatinkan.

Adalagi Yuyun, perempuan asal Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, lima tahun lebih ia membidani dan membesarkan untuk kepentingan perekonomian warga desanya. Sifat telaten, selalu semangat dan bertanggung jawab rupanya yang menjadi modal perempuan lulusan SD itu seperti tak kenal lelah mengelola koperasi. Secara pribadi, Yuyun telah berhasil mengubah nasibnya yang dulu hanya seorang buruh di kebun orang kini bahkan mampu membantu ekonomi warga lain.

Beda lagi dengan Lilis yang dulunya bekerja sebagai karyawan pabrik. Krisis moneter ‘98 membuat ia dan suaminya di PHK. Kehidupan pas pasan kondisi penghasilan nol mamaksa lilis berfikir untuk mencoba bangkit berusaha dengan membuat kremes, Ilmu yang ia pelajari dari kakaknya. Mula-mula ia membuat satu toples. Isinya 25 biji. Kremes itu dititipkan di warung sebelah kontrakannya. Tak sampai seminggu, ternyata kremes habis terjual. Esok hari, ia bikin dua toples. Satu toples ditaruh di warung sebelah kontrakan, satu toples lagi dititipkan di warung belakang kontrakannya.

Rupanya makanan buatan Lilis mendapat respon cukup baik. Permintaan dari pemilik warung kian bertambah. Namun, ia tak sanggup memenuhi permintaan itu lantaran keterbatasan modal. Melalui kelompok dampingan Program Yang Muda Yang Mandiri di Warakas, Lilis memperoleh modal. Lilis menggunakannya buat beli bahan baku dan toples dua losin. ”Sekadang bisa memproduksi 16 toples kremes perminggu. Suami sudah ikut masarin. Alhamdulillah, keuntungan jualan kremes bisa saya kirim ke kampung dan cukup untuk jajan anak kedua saya (Mayafiona Sari),” tukasnya .

Sekelumit kisah inspiratif dari mitra dampingan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa menjadi cerminan lain dari bangsa ini. Kemiskinan bukanlah akhir segalanya dan harus diratapi. Kekurangan tidak membuatnya menggadaikan kehormatannya dengan mengharap belas kasihan orang lain. Kisah-kisah tersebut menjadi sebuah anti tesis di negeri ini. Masih ingat berita di media massa tentang sebuah desa yang terkenal sebagai desa pengemis padahal kalo dilihat dari kondisinya masyarakat tergolong mampu. Atau kisah pengemis yang ditangkap di Jakarta namun membawa uang 25 juta.

Masih banyak kisah-kisah lain yang mampu menginspirasi kita. Kisah-kisah yang dihasilkan dari sebuah program pemberdayaan yang kontinyu. Pemberdayaan yang tidaknya hanya sekedar menghabiskan anggaran atau pencitraan,  namun pemberdayaan dengan yang dilakukan hati……

 {fcomment}

Kesengsem Kasemen

Jam menunjukkan pukul 12.30 WIB, ketika memasuki kota di ujung pulau Jawa yang juga merupakan ibukota Propinsi Banten. Itulah kota serang yang akhir-akhir ini populer di media negeri ini. Kota serang mempunyai luas wilayah  266.77 Km2  dengan jumlah penduduk 672,833 Jiwa.

Hari itu kami menuju komunitas pengupas kerang hijau di Desa Rujak Beling, Kecamatan Kasemen  yang masih masuk daerah administrasi Kota Serang. Jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota kurang lebih 30 menit. Jalan menuju kasemen relatif baik kecuali jalan menuju Desa Rujak Beling banyak berlubang tetapi masih relatif baik.

Tak terbayangkan sebelumnya ketika melihat lokasi tempat pengupasan kerang hijau. Memasuki Desa Rujak Beling sudah tercium aroma khas ‘amis’ kerang hijau. Bangunan-bangunan yang terlihat kumuh dari papan, atap bolong sepertinya sudah lama tidak diperbaiki. Kulit kerang ‘sampah’ produksi berserakan dimana-mana, WC umum yang berjajar di pinggir sungai yang jauh dari kata sehat. Ada yang mengagumkan dan membuat bangga, di bangunan itu terpampang plang Koperasi ISM Sinar Abadi. Koperasi yang baru diresmikan beberapa waktu yang lalu.  Koperasi seolah-olah menadi simbol bahwa dengan segala macam keterbatasan yang mereka miliki, mareka mempunyai harapan, mempunyai keinginan untuk maju.

Koperasi ISM Sinar Abadi merupakan lembaga yang terbentuk dalam proses pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa. Tahun 2012, Dompet Dhuafa bekerja sama dengan Keluarga Muslim Citybank meluncurkan program Pemberdayaan Nelayan Kerang Hijau di wilayah Kasemen, Kota Serang. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan membantu masyarakat untuk keluar dari jeratan rentenir. Selam 13 bulan progam berjalan, jumlah mitra yang bergabung dalam koperasi ada 50 orang yang terdiri dari ibu-ibu pengupas kerang hijau dan 3 kelompok nelayan.

Sebelumnya tidak menyangka bahwa akan ada program seperti ini, karena sebelumnya banyak dari instansi datang ke komunitas ini dengan banyak janji yang tidak ada realisinya. Salah satunya adalah janji tentang pembuatan sumur bor oleh Intansi setempat. “kita kesulitan air bersih, salah satunya caranya ya membuat sumur bor, tapikan mahal. Dulu ada dari dinas pernah kesini. Katanya akan dibuatkan Sumur bor, tapi mana?belum sampai sekarang. Yang kita berbaik sangka saja, mungkin belum dapat tanda tangan” Ungkap Iskandar, Anggota Kelompok Nelayan.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, membuat komunitas ini tidak bisa langsung mempercayai instansi/lembaga yang datang untuk memberikan bantuan. Tapi setiap lambaga yang datang tetap mereka sambut dengan baik. Surprise bagi komunitas ini, ketika Dompet-Dhuafa seirus ingin membantu mereka, “Awalnya  tahun 2012 ada survey dari pak hery. Habis itu lama lagi tuh, saya kirain yang gak jadi. Tiba-tiba dateng pak Livson (pendamping), njelasin tentang program dan alhamdulillah berlanjut sampai sekarang terbentuk koperasi”, kata Wasti (50), ketua koperasi ISM Sinar Abadi

Tenaga pengupas kerang kebanyakan perempuan, untuk tambahan penghasilan katanya. Ibu-ibu ada yang bekerja sambil ‘momong anak’ yang masih balita. Hasil yang mereka dapatkan tidaklah banyak, dengan harga sekilo kerang kupas Rp. 2000, sehari paling banyak satu orang bisa mengupas 8 kg kerang yang berarti pendapatan mereka hanya 16.000. Sekarang kerang sedang kurang karena bagang tempat ‘menanam’ kerang hijau yang mereka miliki tinggal 6 yang bisa dipanen dari 18 bagang karena rubuh terkena angin. “Biasanya kerang nya banyak pak, tapi lagi kena musibah. Kami punya bagang 18, tapi 12 rusak kena angin. Tapi mo gimana, itukan bukan kehendak kita, kita pasrah aja lah. Sekarang mulai memperbaiki bagang yang rubuh, baru jadi 2 rancangan tinggal dibawa ke laut aja” ujar Iskandar, sambil mencatat hasil timbangan kerang.

Walaupun terlihat kebingungan dengan kondisi tersebut, namun rasa optimis masih tetap ada seperti dikatakan wasti, “Kasihan juga ibu-ibu kalo kondisinya seperti ini. Paling sehari mereka cuman dapet 2 kg, 4 kg paling banyak. Tapikan ini karena alam, saya coba mengusahakan supaya tetap bisa mendapat penghasilan walaupun tidak banyak. Mereka memang dari dulu kerjaannya cuman ngupas kerang, saya sendiri ngupas dari sejak punya anak segede itu (sambil menunjuk seorang anak, kira-kira seumuran anak SD kelas 6).

Kondisi seperti ini sebenarnya menimbulkan kekhawatiran buat wasti. Kondisi kurangnya penghasilan biasanya dimanfaatkan bank keliling untuk mengeruk keuntungan berlipat dengan memanfaatkan kesulitan orang lain. “Biasanya bank keliling menawarkan pinjaman yang memberatkan, minjem 300 ribu dapetnya 250 ribu, tapi bunganya gedhe. Alhamdulillah sekarangkan sudah ada koperasi jadi ibu-ibu bisa meminjam ke koperasi. Walaupun masih ada yang meminjam ke bank keliling tapi cuman sedikit nggak kayak dulu waktu belum ada koperasi”, ungkap wasti.

Kondisi terbatas, pendapatan juga berkurang tidak membuat ibu-ibu putus asa. Kecewa memang terlihat dari raut wajah mereka karena penghasilannya berkurang, namun mereka tidak menunjukkan sikap mengeluh yang berlebihan. Mereka tetap bercanda, tertawa lepas yang justru memperlihatkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan baik itu sedikit ataupun banyak.

Jadi kesengsem dengan semangat mereka….

{fcomment}

Pemberdayaan Tuna Netra : “Merekapun Bisa Mandiri”

“Bagaimana cara mereka berpergian? Bagaimana cara mereka bisa hidup? Apa yang bisa mereka lakukan? Kenapa mereka hanya bisa mengamen dan mengemis? Kenapa Pemerintah tidak mengurus mereka?”

     Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin sering kita dengar ketika melihat tunanetra, terutama saat dalam perjalanan. Sekilas pertanyaan diatas menunjukkan simpati orang terhadap kehidupan para tunanetra, tetapi disisi lain pertanyaan tersebut juga menunjukkan bahwa kita masih belum mengetahui tentang kehidupan para tunanetra dan tidak memberikan solusi atas kesulitan yang mereka hadapi. Hal ini dikarenakan kita masih sering memandang mereka sebelah mata dan meragukan kemampuan serta potensi diri yang mereka miliki.

     Program “Tunanetra Berdaya” yang digulirkan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dengan melakukan kegiatan pemberdayaan dengan membentuk kelompok-kelompok usaha para tunanetra. Berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh pendamping dalam kegiatan ini, mulai dari koordinasi untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan hingga proses pembahasan yang dilakukan pada saat pertemuan.

     Mengumpulkan para tunanetra bukanlah hal yang mudah, kendala utama yang dihadapi ketika akan mengumpulkan mereka adalah keterbatasan mobilitas dan finansial mereka. Lokasi tempat tinggal yang berjauhan merupakan kendala utama untuk mengumpulkan mereka, karena apabila mereka berpergian biasanya menggunakan angkot dengan waktu tempuh yang lama dan kurang aman atau ojek dengan biaya yang lebih besar. Selain itu, faktor hilangnya pendapatan harian juga menjadi penyebab sulitnya mereka untuk berkumpul. Kendala tersebut dapat diatasi dengan mengadakan pertemuan kelompok sesuai dengan jadwal rutin mereka sehingga mereka tidak perlu banyak melakukan perjalanan yang dapat membebani keuangan dan mengancam keselamatan mereka. Adapun kegiatan pertemuan yang dapat mendatangkan para tunanetra dengan waktu yang bebas biasanya memberikan uang transport untuk mereka sehingga mereka tidak memikirkan biaya untuk berpergian.

      Pertemuan kelompok tidak serta merta akan berjalan lancar setelah mereka berkumpul, tetapi proses pembahasan dapat menjadi tantangan utama bagi pendamping. Pembahasan yang dilakukan ketika pertemuan kelompok tunanetra sedikit berbeda dengan pertemuan kelompok biasanya. Pada pertemuan ini pendamping harus dapat mengarahkan pembahasan agar jelas dan tidak keluar dari bahasan, serta mengajak para tunanetra untuk tetap fokus dalam pembahasan.

      Tunanetra yang mengobrol, berbicara sendiri, atau menerima telepon dan berbicara kencang akan sering ditemui ketika pertemuan kelompok. Bahkan ada cerita dari mereka yang mengatakan setiap pertemuan yang melibatkan banyak tunanetra pembahasan yang dilakukan semalaman tidak menghasilkan apapun. Melihat hal itu, maka dibuatlah sedikit perubahan dalam pelaksanaan pertemuan kelompok. Pembahasan yang biasanya dilakukan bersama-sama diubah dengan membentuk kelompok kecil (biasanya pengurus kelompok) yang membahas terlebih dahulu dengan membuat rancangan apa yang ingin disepakati pada saat pertemuan. Setelah itu, rancangan tersebut kemudian disampaikan ke kelompok pada saat pertemuan kelompok sehingga kelompok hanya bertugas untuk mengoreksi lalu menyepakati rancangan yang ada.

      Kemampuan para tunanetra untuk bekerja ternyata tidak terbatas pada usaha pijat dan berdagang kerupuk. Beberapa dari mereka ada yang memiliki kemampuan untuk membuat suatu kerajinan tangan, seperti keset, anyaman, dan kemoceng. Kemampuan itu biasanya mereka dapatkan ketika “bersekolah” dulu, namun kendala utama mereka adalah tidak adanya modal, akses pemasaran dan persaingan dengan produk-produk lainnya.

      Berinteraksi dengan tunanetra ternyata tidak hanya menantang, tetapi juga menarik. Banyak hal yang diluar dugaan yang dapat saya ketahui mengenai kehidupan mereka, terutama rasa penasaran mengenai bagaimana mereka melakukan perjalanan sendiri, bagaimana mereka dapat berkumpul dan membentuk suatu organisasi sendiri, bagaimana cara mereka menggunakan telepon genggam untuk menghubungi temannya, bagaimana mereka memilih pasangan hidup dan lain sebagainya. Jawaban dari hal-hal tersebut seharusnya dapat membuat kita tidak memandang mereka sebelah mata dan membuka hati agar terus bersyukur karena telah diberikan kesempurnaan fisik. Tunanetra bisa….

{fcomment}