Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Khasanah

Ngos-ngosan

 Gito, Pendamping Mandiri di Pacitan hampir tiap hari dibuat ngos-ngosan. Desa Mantren tempatnya mengabdi, medannya gunung batu. Tidak saja menanjak, kadang juga harus mendaki untuk menuju sebuah tempat. Kelompok warga yang didampingi tersebar di beberapa dusun. Antar dusun dijaraki jalan bebatuan, kebun dan batu raksasa, penuh tanjakan. Semua ditapakinya dengan jalan kaki.

“Sugeng rawuh, Mas Gito. Sekarang sudah tiba giliran Mas Gito bicara,” sambutan mitra dampingan yang memeranjatkan. Namun, segera ia sadar kehadirannya terlambat. Keringat sebesar butir-butir jagung belum kering. Kaku sendi dan urat kaki belum berlalu. Tanjakan demi tanjakan membuat topik materi dampingan di benak, seakan lenyap. Begitulah risiko dalam sehari ada dua pertemuan di dua dusun yang dijaraki lanskap naik-turun-naik. Di tengah bauran penat dan kehilangan topik, ia mampu mengingat ajaran “Kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas”.

Anggap saja ritme rutin pendakian sebagai bentuk kerja keras. Ajaran tua ini tentu masih cukup berarti sebagai modal kerja. Termasuk kerja pemberdayaan komunitas petani gula kelapa di Mantren. Bersama tim Masyarakat Mandiri, tantangan pekerjaan dan konstruksi masalah di daerah dampingan – tentu membutuhkan lebih dari sekadar kerja keras. Modal kedua – kerja cerdas, kiranya yang menjadi bobot tertinggi dalam proses pemberdayaan. Kerja cerdas menjadi kunci proses menuntaskan misi.

Para pemanjat kelapa tentu pantas disebut pekerja keras. Di ketinggian 7-25 meter, mereka nderes, menyadap nira kelapa. Memanjat dan nderes bagi orang-orang yang didampingi Gito adalah pekerjaan warisan. Karena warisan, mereka hanya berkutat pada pola yang tak berkembang. Sekali penderes tetap penderes. Dan, berhenti sebagai pembuat gula merah Pacitan yang terkenal.

Pendampingan adalah proses transformasi. Kerja cerdas menjadi hajat untuk mengubah. Bagaimana hidup para penderes dan pembuat gula tak tergantung lagi pada para tengkulak. Bagaimana mereka punya posisi tawar, atau mereka bisa mengembangkan pasar sendiri. Tak lupa juga bagaimana menjaga mutu gula merah. Pada gilirannya, gula merah Pacitan selain makin terkenal, juga laku keras.

Para petani kelapa punya modal yang termat berharga: modal sosial berupa kebiasaan berkelompok. Dus, keras cerdas tak lagi monopoli pendamping. Melalui kelompok, mitra dampingan menghidupkan kecerdasan-kecerdasan warisan yang dikombinasikan dengan hal-hal baru. Sepanjang pengalaman pendampingan bertahun-tahun yang dilakukan oleh MM, tampaklah nyata orang-orang desa cukup terbuka akan perubahan. Di antara mereka, pastilah muncul orang-orang yang menonjol, kelak menjadi penyambung gerak.

Terakhir, kerja ikhlas. Keikhlasan adalah investasi jangka panjang. Ikhlas menjadi penuntun kerja keras dan kerja cerdas. Begitulah yang dipegang Gito dan kawan-kawan sepengabdian. Keikhlasan pada mitra tak sulit untuk digali, sebab ia bagian dari kearifan orang desa secara pribadi maupun kolektif. Orang desa tak identik dengan melulu kerja keras, apalagi yang serba ngos-ngosan. Dengan memadukan tiga model kerja tadi, membuat seorang pemberdaya semacam Gito dalam proses pemberdayaan, juga tidak bakal ngos-ngosan.

{fcomment}

Orang-orang Kecil Berbagi Energi

Semangat saling belajar dan saling berbagi menjadi investasi mahal bagi orang-orang kecil. Ilmu dan pengalaman mereka kumpulkan melalui proses belajar dan kehidupan, lalu mereka tularkan kepada yang lain sehingga mereka memiliki energi untuk tumbuh dan berkembang.

Sepanjang rentang pengalaman pemberdayaan Masyarakat Mandiri, tampak di mata kami, para mitra dampingan yang berkembang adalah yang mau berubah. di banyak komunitas, ada saja sosok-sosok yang memiliki kemauan belajar. Ada yang haus ilmu, ada yang ingin menguasai suatu keterampilan, atau bersemangat belajar bicara di depan umum. Pendampingan memfasilitasi semangat belajar ini.

Dalam ikhtiar pengembangan masyarakat, penyebaran semangat belajar tak hanya dikhususkan bagi para kader lokal yang menjadi motor penggerak masyarakat. Semangat belajar ini dihidup-hidupkan bagi seluruh mitra dampingan yang tergabung dalam kelompok-kelompok. Secara alamiah akan terseleksi, siapa yang cepat belajarnya, dia akan dipercaya anggota kelompok untuk menjadi penggerak di kelompoknya. Selanjutnya di lingkungan masyarakat dampingan, mereka melembagakan kelompok-kelompok dalam kesatuan koordinasi yang lazim disebut Ikhtiar Swadaya Mitra. Di lingkungan yang lebih besar ini, tentu tuntutan belajar makin tinggi dikarenakan tantangan komunitas makin besar juga. Pendampingan lantas mengajak mereka membuka pemikiran dan wawasan yang lebih luas dengan cara belajar pada mereka yang lebih dulu berpengalaman.

Ketika mereka bertemu dan saling belajar, sesungguhnya antar mereka tak hanya saling berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman, namun mereka juga berbagi energi. Mereka yang belajar menerima ilmu, pengalaman dan juga inspirasi pada tempat mereka berguru. Ilmu, pengalaman dan inspirasi tentu menjadi energi dan modal berharga untuk memajukan lembaga dan masyarakat di daerahnya.

Sebaliknya, ‘para guru’ juga beroleh energi baru, oleh sebab mereka memberikan ilmu dan pengalaman pada sesama. Berbagi atau sedekah ilmu adalah pekerjaan menebar energi positif yang dampaknya juga akan kembali pada mereka sendiri. Memanen energi positif juga, alias menuai kebaikan. Kebaikan itu bisa berupa kebahagiaan hidup pada masing-masing pribadi, makin dicintai dan dipercaya orang lain, mendapatkan kebaikan dan kemuliaan hidup, meraih kemudahan dan keberhasilan dalam berusaha, dan berbagai kemudahan hidup lainnya.

{fcomment}

Tak Mudah Menemukan Mutiara

Bila ia dibilang mutiara, ia tak mudah menemukannya. Bila ia dibilang kader handal, harus diakui tak gampang membentuknya. Itulah yang dihadapi para pendamping Masyarakat Mandiri.

“Kadang mencari kader lokal itu tak seindah penampilan di awalnya,” pendapat Leni Marlina, Koordinator Wilayah Urban Masyarakat Mandiri. Mencari kader-kader lokal yang akan menjadi kunci kemajuan komunitas jangka panjang, kadang ‘indah’ di awal. Ia mencontohkan, ketika pendamping menemukan seorang mitra dampingan di wilayah perkotaan pintar bicara dan pandai memimpin. Dalam proses pendampingan, biasanya ada sisi lain yang kadang kurang memadai untuk diangkat sebagai kader lokal.

Dalam program pembiayaan usaha, dana biasanya dikelola oleh kelompok-kelompok mitra. “Nah, dalam soal pengelolaan keuangan kelompok, kadang kita temui mitra yang kurang transparan dan kurang amanah. Padahal mitra lain memiliki pandangan positif padanya,” papar Leni.

Bila menemui kasus mitra seperti yang disebutkan, Leni tentu memilih cara paling bijak. Prinsip yang ia pegang, manusia pasti punya dua sisi, kelebihan dan kelemahan. Pendampingan menurutnya merupakan wahana mengasah sisi lebih seorang kader lokal.

Di tempat lain, untuk menemukan seorang pemimpin kelompok saja tidak mudah. Pengalaman Lesmana Pendamping di Jakarta menjelaskan hal ini. Seseorang mitra dengan usaha pribadi yang maju belum tentu bisa memimpin kelompok. Padahal mereka yang memiliki usaha maju memiliki modal berupa motivasi yang bisa ditularkan kepada orang lain. Keberhasilan usahanya bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi mitra lain.

Pengalaman sebaliknya menyebutkan, kadang penilaian pada seorang mitra di awalnya tidak masuk ‘hitungan’. Namun, beberapa dari mereka malah jadi kader-kader handal meski tak ada lagi pendampingan.

Ery, Pendamping di wilayah pascatsunami di Ciamis merasa bersyukur menemukan kader bernama Masitoh. Bolehlah ia hanya tamat SD, namun perempuan muda ini mampu menjadi lokomotif Koperasi Syariah ISM Bangkut Bersatu di Desa Legok Jawa, Kecamatan Cimerak. Tak hanya dari masyarakat terdekatnya ia panen kepercayaan. Pemda Kabupaten Ciamis juga memasukkannya sebagai orang yang patut diperhitungkan. Koperasinya memperoleh hibah sapi senilai ratusan juta rupiah.

Tiap ikhtiar pendampingan menemui tantangan berbeda-beda memperoleh kader-kader lokal. Suksesnya membentuk kader lokal akan menjadi inspirasi pendampingan di tempat lain. Sebaliknya, bila kesulitan membentuk kader lokal di sebuah daerah akan menjadi pelajaran berharga pada program di tempat lain. Kami berusaha selalu belajar.

{fcomment}

”Pendayagunaan Zakat Masih Cenderung Charity-Konsumtif”

Zakat bisa digunakan untuk banyak hal dalam mengatasi masalah umat. Namun, belum banyak yang melirik pendayagunaan zakat bernilai produktif-jangka panjang bagi penerima manfaatnya.

Di Indonesia, hampir dua dasawarsa terakhir, zakat bisa digunakan untuk mendanai berbagai keperluan bantuan kemanusiaan dan ibadah. Model penyaluran bantuan semakin variatif. Dana umat dari zakat maal, selain infak dan shodaqoh, disalurkan menjadi layanan kesehatan gratis, bantuan mustahik langsung, pendidikan, yatim piatu, dan berbagai varian model pendayagunaan zakat lainnya.

Di antara kemajuan program optimalisasi zakat, umumnya masih mencirikan bantuan langsung dan cenderung konsumtif. Artinya manfaat zakat hanya bisa dirasakan sesaat oleh penerimanya. “Secara umum, kemampuan lembaga zakat dalam program-programnya masih berkutat pada model charity dan konsumtif. Tidak bisa dinafikan, kalau sebagaian aktifis zakat kalau berbicara masalah pendayagunaan zakat, masih seputar charity dan konsumtif atau tidak berdampak produktif bagi penerima manfaat zakat. Dalam pemberdayaan masih kurang dapat perhatian. Ini tentu tantangan,” kata Ir. Nana Mintarti, Advisor Masyarakat Mandiri, pada acara Seminar Sehari ”Pemberdayaan yang Memandirikan” yang diadakan oleh Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa Republika, di Jakarta Kamis (16/7).

”Lembaga seperti Masyarakat Mandiri (MM) harus istiqomah, kerja cerdas dan inovatif dalam jalankan misi program pemberdayaan masyarakat berbasis zakat,” ungkap Nana Mintarti lagi. Selama ini toh zakat bisa dioptimalkan untuk menghidupkan program peningkatan kesejahteraan beragam masyarakat berkatagori mustahik di berbagai daerah dan kondisi. Menurut Nana, program zakat untuk pengembangan masyarakat efektif untuk daerah-daerah di perkotaan, perdesaan, daerah kantong keluarga TKW, juga pascabencana.

Tujuan pemberdayaan masyarakat menurut Nana Mintarti yang juga pegiat The Indonesia Magnificence Zakat (IMZ) ini, tak hanya kemandirian masyarakat secara materiil. Justru stressing point-nya itu kemandirian spiritual. Menyalurkan zakat di sini sekaligus ikhtiar membangun paradigma dan etos kerja. ”Kita ingat nilai zakat itu hakekatnya tidak sekadar soal makmur dan sejahtera materiil, namun juga menumbuhkan pemberi zakat menjadi kaya hati dan penuh empati pada sesama,” ungkap Nana di hadapan peserta yang berasal dari berbagai kalangan, Lembaga Amil Zakat, LSM, corporate, kalangan akademik, serta masyarakat umum.

{fcomment}

Prof. Isbandi Rukminto Adi: ”Ada Salah Kaprah Community Development”

Jakarta – Pemerintah, swasta dan lembaga nirlaba bisa menjalankan program-program pengembangan masyarakat. Namun, di Indonesia acapkali ada salah kaprah pemahaman antara Community Development dengan Community Service.

Melalui makalahnya, Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Dr. Ir. Sujana Royat, DEA, menjelaskan pemerintah dengan PNPM Mandiri menjalankan program-program penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja berbasis “pemberdayaan masyarakat”. Model ini memiliki ciri-ciri pendekatan partisipasi masyarakat, penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat, dan pelaksanaan program dilakukan secara swakelola oleh masyarakat.

Demikian salah satu kutipan makalah pembicara pada Seminar Sehari”Pemberdayaan yang Memandirikan”, pada Kamis, 16 Juli 2009 pukul 09.00-13.30 WIB, bertempat di Jakarta Design Center, Lt. 6. Ruang Lotus 1, Jl. Gatot Subroto. Kav. 53, Slipi, Jakarta Pusat. Seminar bertujuan memperkenalkan program-program pemberdayaan yang telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun pihak lain (NGO, LAZ) dan evaluasi di dalamnya (lesson learn),serta mengenal setting kegiatan pemberdayaan yang ideal.

Ir Nana Mintarti, Advisor Masyarakat Mandiri menjelaskan, lembaga nirlaba terbukti bisa mengimplementasikan community development melalui pendayagunaan zakat. Artinya zakat untuk perubahan sosial, kendati ini belum banyak dilirik para pegiat zakat. Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat dijalankan untuk tujuan efektifitas dampak perubahan sosial yang diinginkan. Karena, pemberdayaan berintikan perubahan ke arah yang lebih baik dalam suatu komunitas atau masyarakat.

”Pemberdayaan dilakukan karena ada kondisi yang tidak menyenangkan menjadi kondisi yang diinginkan. Jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah bahkan hingga krisis,” kata Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi M. Kes, PhD. FISIP UI yang menjadi pembicara pada acara seminar. Pengembangan masyarakat menurutnya merupakan suatu gerakan yang dirancang guna meningkatkan taraf hidup keseluruhan masyarakat melalui partisipasi aktif dan inisiatif dari masyarakat

Di bagian lain, Isbandi menyoroti adanya salah kaprah pemberdayaan masyarakat (community development) dengan Community Service yang banyak dilakukan perusahaan maupun lembaga sosial di Indonesia. Isbandi menyoroti, Community Service di Indonesia sama dengan Comdev, namun hakikatnya berbeda dalam hal partisipatif masyarakat. Program yang dijalankan oleh Community Service biasanya pihak luar hanya menawarkan program.

Kalau program community service seperti bantuan beasiswa, sunatan massal dan sejenisnya tak memerlukan pendampingan intensif, karena hanya program sementara. Lain halnya community development yang meniscayakan pendampingan. Program model terakhir ini biasanya merupakan kerja yang cukup kompleks dan memerlukan totalitas menanganinya. Program pemberdayaan lebih efektif kalau ditangani dengan gaya social entrepreneurship, bentuk wirausaha yang memiliki produk layanan sosial.

{fcomment}

Menebar Cinta di Empat Pulau

Bismilahirrahmanirrahiem,
Le’ba anjari tugasakku anyyomba mae ri Alla taala
Attoje toje a’boya dale
Appakamaju usaha
Naapapasikola ana’ – ana’
Naamminawang riaturanna kelompoka
Alla taala anjari sassi risikonjo kupauwwa nakugaukanga

Bait di atas bukanlah japa mantra. Tapi, itu adalah kalimah ‘sakti’ pendampingan. Larik-larik kalimat bagian dari Ikrar Mitra yang dibacakan secara bersama-sama para mitra dampingan Dompet Dhuafa di Gedung Pertemuan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, beberapa waktu yang lalu. Kandungan makna yang menggugah, rupanya mengundang Bupati Bantaeng Prof. HM Nurdin Abdullah dan pejabat daerah lainnya tergerak ikut melafalkannya. Ya, Ikrar Mitra lazim dilafalkan secara bersama-sama di setiap pertemuan kelompok mitra dampingan jejaring ekonomi Dompet Dhuafa.

Bupati begitu hangat menyambut program Klaster Mandiri yang digulirkan di wilayahnya. Sasaran garap program ini menjangkau tiga kecamatan. Kecamatan Bantaeng-Bissappu (Program UMKM), Kecamatan Eremerasa (Program Pertanian), dan Kecamatan Pajukukang (Program Peternakan). Ketiga wilayah tersebut memiliki potensi yang lebih baik dari wilayah lain serta memiliki jumlah penduduk miskin yang cukup tinggi. Klaster Mandiri di wilayah ini dijalankan sebagai bentuk kontribusi pada pengembangan masyarakat di beberapa bidang ekonomi yang dijalankan oleh Masyarakat Mandiri, Lembaga Pertanian Sehat dan Kampoeng Ternak yang merupakan jejaring Dompet Dhuafa.

Sepenuh hati adalah kata kunci. Kesepenuhhatian dalam pendampingan menjadi komitmen Masyarakat Mandiri (MM) dalam setiap program yg dijalankan. Itulah cinta yang menjadi intisari ikhtiar MM memberdayakan komunitas-komunitas agar menemukan keswadayaan. Saat ini, program-program MM menjangkau empat pulau , Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Lombok dalam waktu bersamaan.

Kepedulian pada ketersediaan makanan bergizi dan keterlibatan pada upaya menanggulangi kekurangan gizi pada anak-anak, menggerakkan Dompet Dhuafa bersama PT Sari Husada mengembangkan program Warung Anak Sehat (WAS) di Pulau Lombok. Ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sekarang dilaksanakan di daerah Sukabumi dan Jakarta. Lombok dan Lebak Banten menjadi sasaran baru program, mengingat wilayah ini rentan pemenuhan gizi pada anak-anak. Program WAS menyajikan warung alternatif berbentuk kios dan gerobak yang menyediakan produk-produk bergizi dan sekaligus menjadi tempat konsultasi gizi bagi ibu-ibu. Agar dekat dengan kebutuhan anak-anak, WAS merekrut Ibu Warung Anak Sehat yang terdiri dari para kader Posyandu setempat.

Di Pulau Sumatera, bersama Bank Indonesia Lampung, MM mendampingi para pengolah ikan kering di Pulau Pasaran, Bandar Lampung. Para pengolah teri tradisional memperoleh pembiayaan dan peningkatan kapasitas, diharapkan komunitas ini menjadi sebuah klaster modern olahan ikan kering terutama ikan teri. Di wilayah Lampung Timur, tepatnya di Desa Tambah Subur, Way Bungur, MM tengah menjalankan program ketahanan pangan melalui pemberdayaan petani singkong.

Masyarakat makin sadar bahwa keswadayaan bisa mereka bangun sendiri. Program pemberdayaan makin diterima sebagai bagian dari upaya menyokong kesadaran akan keswadayaan itu. Di pihak lain, MM sebagai kreator program pemberdayaan dituntut makin kreatif mengembangkan program-program sesuai kebutuhan dan karakter masyarakat. Maka, tumbuhlah beberapa program yang beragam sebagaimana yang dijalankan di Pulau Jawa. Saat ini saja terdapat 20 unit program beragam wilayah Pulau Jawa, ada yang berbasis perdesaan, perkotaan, dan pascabencana. Secara umum, saat ini program menggarap bidang usaha mikro, ketahanan pangan, keamanan pangan, pertanian, dan peternakan.

Setiap program satu pendamping. Pendamping berperan secara harfiah: mendampingi komunitas. Mereka benar-benar tinggal di tengah komunitas. Para pendamping setiap saat menyediakan diri memfasilitasi komunitas dengan rangkaian kegiatan pemberdayaan. Itulah bagian dari kesepenuhhatian mendampingi.

Kesepenuhhatian ini diwujudkan dalam semangat dan kinerja para pendamping di lapangan. Mereka tak saja membawa beban tugas dalam kerangka target program, namun mereka dituntut menjaga program agar berkualitas, benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.

{fcomment}

Modal Sosial bagi Dhuafa

Ramadhan. Bulan penuh berkah dan bulan penuh amalan. Di manapun, di daerah yang semula hingar-bingar, menjelang Ramadhan menjadi lebih sedikit ’adem’. Meski kadang masih perlu berhitung, golongan kaya mulai berderma dan yang miskin tidak mau ketinggalan. Mereka mengorbankan apapun yang dia miliki, meski kadang tidak pernah berpikir untuk esok harinya. Si kaya dan si miskin berharap hanya untuk mendaptkan kebaikan.

Dalam konteks pemberdayaan, aktivitas seperti di atas dapat dinamakan modal sosial. Yakni perasaan kebersamaan, keinginan saling berbagi, nuansa ingin saling menjaga. Suasana di mana tidak ada lagi batas kemiskinan dan kekayaan. Mereka berusaha datang pada barisan awal saat tarawih hari pertama hingga kesepuluh. Yang berbeda hanya besarnya rupiah yang beredar mengelilingi barisan. Yang berbeda hanyalah model pakaian.

Kita sebenarnya berharap, semua bulan memiliki suasana seperti bulan Ramadhan. Bulan yang paling tepat untuk meningkatkan modal sosial. Coba kita lihat. Dari sisi dana, lembaga sosial hampir seluruhnya mengalami peningkatan pendapatan dana 100 %. Bahkan, di bulan ini semua elemen berlomba-lomba membuat simpati untuk mendapatkan ’dana cash’. Dari aspek non fisik, semua orang mulai menjaga dari perbuatan yang tidak baik, dari lisan dan perbuatan.

Coba kita lihat negeri ini. Empati begitu mahal, barisan relawan masih susah dicari, Rakyat miskin semakin melimpah sedang yang kaya bergelimang harta. Penguasa negeri cukup kewalahan mengatur strategi yang tak kunjung menujukkan hasil. Konon dibulan Ramadhan, semua menjadi peduli.

Yang perla kita pikirkan adalah bagimana moment bulan ini, tidak pudar pada bulan-bulan berikutnya. Harga diri orang miskin terjaga dengan tidak meminta-minta, orang kaya datang dengan ikhlas mencari siapa yang layak mendapat santunan dari ’sisa’ harta mereka. Lantas modal sosial seharusnya dimiliki siapa? Bagi para pemberdaya masyarakat, masihkah kita berharap kepada masyarakat yang lemah, miskin untuk memiliki modal sosial yang berlimpah? Sedang di sisi lain, mereka ‘bertarung dengan hidup’. Memang sebaiknya modal sosial dimiliki oleh siapa saja. Lantas, bagaimana dengan orang yang telah diberi kelebihan dari mereka? Seharusnya mereka mampu mengajarkan cara menamkan modal sosial di ’gurun’ kemiskian. Semua masih perlu waktu.

{fcomment}

Pemetaan Sosial

Masyarakat Mandiri (MM) sebagai sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat selalu melakukan kegiatan pemetaan wilayah dalam setiap perencanaan pelaksanaan kegiatan program. Tulisan berikut akan menggambarkan secara umum salah satu tahapan dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat yaitu tahap pemetaan sosial. Pemetaan sosial sangat penting dilakukan untuk memberikan gambaran awal tentang kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dalam suatu wilayah yang akan menjadi sasaran program.

Apa itu Pemetaan Sosial ?
Pemetaan sosial (social mapping) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menemukenali tentang kondisi sosial budaya masyarakat pada wilayah tertentu yang akan dijadikan sebagai wilayah sasaran program. Pemetaan sosial juga dapat didefinisikan sebagai proses identifkasi karakteristik masyarakat melalui pengumpulan data dan informasi baik sekunder maupun langsung (primer) mengenai kondisi masyarakat dalam satu wilayah tertentu.
Hal yang perlu diketahui juga bahwa tidak ada aturan dan bahkan metode tunggal yang secara sistematik dianggap paling unggul dalam melakukan pemetaan sosial. Prinsip utama bagi para pekerja sosial (social worker) dalam melakukan pemetaan sosial adalah bahwa ia dapat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dalam suatu wilayah tertentu secara spesifik yang dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat keputusan dalam rencana pelaksanaan program pengembangan masyarakat.

Tujuan Pemetaan Sosial
Kegiatan pemetaan sosial lazimnya memiliki beberapa tujuan, 1. sebagai langkah awal untuk mengetahui wilayah calon sasaran program; 2. untuk mengetahui kondisi atau karakteristik masyarakat calon sasaran program serta; 3. sebagai dasar dalam penyusunan matrik perencanaan kegiatan program sesuai dengan potensi serta permasalahan yang ada pada wilayah calon sasaran program.

Output yang Diharapkan
Pemetaan sosial diharapkan dapat menghasilkan data dan informasi tentang :

  • Data geografi yang terdiri dari letak wilayah, topografi, aksesibilitas lokasi, dan lain-lain
  • Data demografi yan terdiri dari jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut usia-jenis kelamin-mata pencaharian-agama-pendidikan, jumlah penduduk miskin (pra sejahtera dan sejahtera 1) dan lainnya.
  • Data lainnya yang berhubungan dengan kondisi sosial-budaya, kearifan lokal (local wishdom), adat istiadat, karakteristik masyarakat, pola hubungan antar masyarakat, kekuatan sosial yang berpengaruh, dan lainnya.

Obyek Pemetaan Sosial
Beberapa obyek yang dipetakan dalam kegiatan pemetaan sosial antara lain :

  • Letak geografis wilayah calon sasaran program
  • Sarana dan prasarana umum wilayah
  • Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian-usia-jenis kelamin-agama-pendidikan
  • Penyebaran atau konsentrasi masyarakat miskin
  • Kelompok-kelompok sosial masyarakat serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan
  • Hubungan sosial antar kelompok masyarakat (relasi sosial)
  • Jenis-jenis profesi atau mata pencaharian masyarakat
  • Penggolongan masyarakat berdasarkan status kepemilikan harta (kaya, menengah, miskin)
  • Tanggapan masyarakat terhadap program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah atau non pemerintah
  • Keterlibatan masyarakat dala pelaksanaan program baik dari pemerintah maupun non pemerintah
  • Penyelesaian permasalahan baik masalah sosial kemasyarakatan, ekonomi, budaya serta proses pengambilan keputusan dalam masyarakat.

Dede Sukiaji/Nurhayati
Sumber : Dr Edi Suharto, Msc, dan berbagai sumber lainnya.

{fcomment}