Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Kisah Pemberdayaan

Lailis dan Tekad Mandiri

     Mandiri menjadi kata yang ‘diimpikan’ oleh setiap orang. Mandiri membuat harkat dan martabat seseorang menjadi lebih tinggi. Mandiri tidak hanya dilihat dari kelimpahan harta semata, namun dari sikap yang tidak mau bergantung dan berharap belas kasihankepada orang lain.

     Ini diperlihatkan oleh Lailis, ibu satu anak. Lailis adalah mitra penerima manfaat program klaster mandiri yang dilaksanakan oleh Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa. Lailis tinggal bersama ibunya yang sudah renta. Status janda ia sandang ketika masih berumur 25 tahun. Lailis adalah sosok yang mengalami pahit getir hidup, namun ia mampu bertahan dengan kekuatan tekadnya.

     Menjadi single parent membuatnya mencoba berbagai macam usaha untuk membesarkan dan menyekolahkan anak, ditambah kondisi ekonominya yang masih kekurangan. Tapi ia tidak menyerah, tekat untuk tidak membebani orang tua membuatnya menjelma perempuan tangguh. Apapun ia lakukan,  mulai dari membuat tempe, marning sampe gorengan yang dititipkan ke warung-warung. Namun hasilnya belum memuaskan, sampai akhirnya ia beralih membuat kerupuk ketoprak. Usaha terakhir ini yang bertahan hingga sekarang sampai ia mampu menyekolahkan anak semata wayangnya di pondok pesantren.

     Prinsip kebermanfaatan yang ia pegang, membuatnya menyeburkan diri menjadi ‘pengabdi’ masyarakat di lingkungannya. Setiap sore ia mengajar baca tulis untuk ibu-ibu yang masih buta huruf, selain itu ia juga menjadi pengurus ranting Fatayat NU.

     Dengan menjadi mitra penerima manfaat Program Klaster Mandiri,  Berharap bisa meningkatkan usaha kerupuknya sebagai tabungan masa depan anaknya. Usianya yang memasuki angka 45 tahun tidak membuatnya lelah dan berhenti mengabdi. Mitra penerima manfaat mendaulatnya menjadi ketua ISM AL Hidayah yang beranggotakan 77 mitra. Mitra sudah melihat kiprah Lailis selama ini, mereka percaya bahwa Lailis mampu menahkodai ISM sehingga mampu menjadi lembaga yang mandiri.

     Sosok inspiratif yang menggabungkan antara tekad yang kuat,  pengabdian dan  keikhlasan.

{fcomment}

 

 

 

Mbak Asti, Inspirasi Difabel Mandiri

     

     Asti Handayani nama lengkapnya, perempuan asli Sukabumi ini memang tidak seperti orang pada umumnya. Lumpuh yang di deritanya sejak lahir, membuat ruang geraknya terbatas. Kemana-kemana ia menggunakan kursi roda kesayangannya. Keinginan untuk tidak menjadi beban membuatnya berusaha keras untuk mencari pekerjaan. Beruntung, ada perusahaan percetakan yang mau menerimanya, ia di tempatkan dibagian bagian setting. Dengan hasil kerjanya ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. ”Dulu sebelum menjahit saya bekerja sebagai tukang setting di percetakan. Lumayan lah bisa untuk sehari-hari” ujar wanita 35 tahun ini.

    Namun pekerjaan yang penghasilan lumayan tidak mampu menahan mimpinya  untuk menjadi pengusaha sukses. Setelah keluar dari pekerjaanya, ia mengikuti  pelatihan menjahit di Cipayung, Depok. Setelah pelatihan ia tidak langsung memulai usahanya, karena tidak ada modal.  Ia tinggal bersama keluarganya di Jati Bening Bekasi, kemudian ia diperkenalkan temannya pada bu Paini. Sejak  perkenalan itu, ia memutuskan bergabung dengan kelompok Usaha Bersama Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Rawa Lumbu Berkarya yang semua  anggotanya adalah para penyandang difabel.

    Setelah bergabung ia memmilih untuk hidup mandiri dengan mengontrak rumah yang sekaligus dijadikan sebagai tempat usaha. Ia tinggal bersama Neneng sesama penyandang diffabilitas, yang sudah lebih dahulu bergabung dengan usaha bersama.

    Setahun sudah ia bergabung dengan  kelompok usaha ini, sejak itu pula ia pindah ke Rawa Lumbu Bekasi untuk memulai usahanya. Karena punya keahlian menjahit yang didapat dari pelatihan, ia memutuskan menekuni usaha jahit baju dewasa dan anak. Order menjahit ia dapatkan dari warga sekitar , namun ada juga orderan dari baju anak dari tangerang yang rutin tiap bulan. Dengan usahanya ini ia bisa mengantongi panghasilan bersih Rp. 500.000/bulan. “Usaha kecil-kecilan lah mas.  Jahit baju untuk orang dewasa. Ada juga baju anak. lumayan lah, karena kan disini masih kampung jadi harganya juga gak bisa tinggi. Kalo orang jual gamis diluar bisa 160.000/potong, disini gak bisa paling Rp. 70.000-80.000” Ujar Asti.

    Sejak bergabung dengan ISM, tidak hanya keuntungan secara finansial yang ia dapatkan. Beberapa kali ikut kegiatan seperti pameran, wawasannya pun bertambah banyak. Ia tidak lagi menggantungkan hidup pada orang lain. dia membuktikan bahwa kondisinya yang terbatas tidak menghalangi mimpinya untuk maju dan mandiri.

   Asti merupakan salah mitra program pemberdayaan difabel wilayah Rawa Lumbu Kota bekasi. Secara keseluruhan Penerima manfaat program ini berjumlah 37 mitra yang semuanya adalah penyandang difabel. Program ini memberikan modal usaha, pelatihan dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan. Program yang dilakukan dengan metode pendampingan intensif yang berarti pendampingan dilakukan dari mulai membuat perencanaan usaha hingga pemasaran. Program yang diinisiasi oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang difabel secara ekonomi sehinhgga mereka mampu berdiri sama tinggi dan tidak lagi didiskriminasikan. {fcomment}

 

 

 

Kader Lokal From Zero to Hero


     Seperti biasa Mursidi setiap pagi melakukan aktivitas rutin pergi ke bubu untuk mengambil hasil tangkapan udang. Ia mulai beraktivitas dari mulai sehabis sholat subuh, mengingat jauhnya jarak antar rumah dengan tempat bubunya cukup jauh. Rutinitas ini dilakukan oleh hampir seluruh warga di Kampung Garapan, Desa Muara, Kabupaten Tangerang.

    Mursidi merupakan salah satu kader lokal program pemberdayaan yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD). Program pemberdayaan nelayan Desa Muara yang dilaksanakan pada tahun 2000-2005. Sosok Mursidi muncul bukan secara tiba-tiba namun merupakan hasil pengkaderan yang dilakukan selama pelaksanaan program.

   Mursidi, pemuda yang tidak tamat SD menjelma dari sosok pemuda biasa menjadi sosok yang diperhitungkan di desanya. Jabatannya sebagai ketua koperasi yang membawahi ratusan mitra dianggap mempunyai peran strategis. Perjuangannya dalam mempertahankan keberlanjutan program sungguh luar biasa. Sampai hari ini koperasi yang ia gawangi masih berjalan dengan baik.

    Lelaki yang biasa dipanggil onteng ini dikenal sebagai orang yang jujur, tidak heran ia dipercaya oleh masyarakat. Ketika ada event pemilihan kepala desa ia dipilih menjadi bendahara panitia PILKADES walaupun ia bukan anggota BPD. Keinginan untuk berubah dan merubah lingkungannya telah merubah mindsetnya. Ia terus berusaha mengembangkan diri, ia menempuh pendidikan non formal untuk mewujudkan cita-citanya bahkan sekarang ia sedang menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Terbuka. Semangat belajarnya ia dapatkan selama berinteraksi dengan pendamping program.

   Lain lagi dengan Khoirul, pemuda kelahiran Bandar Lampung ini awalnya adalah pendatang di Desa Mantren, Kecamatan Kebon Agung, Pacitan. Ia merantau ke Jawa sebenarnya untuk belajar di sebuah pesantren di daerah Jenes Ponorogo. Pernikahannya dengan pemudi Desa Mantren yang membuat ia ‘hijrah’ mengikuti sang istri. Dengan kemampuan seadanya ia belajar nderes kepada bapak mertuanya sambil beternak sapi dan kambing sampai ia dipertemukan dengan program.

  Tahun 2006 tepatnya bulan Juli Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa melakukan program pemberdayaan petani gula kelapa di Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Lokasi pemberdayaan dilakukan di dua desa sasaran yaitu Desa Mantren dan Desa Worawari. Bermula dari ketidak sengajaan namun berakhir dengan kesuksesan. Khoirul yang awalnya hanya seorang penderes biasa menjelma menjadi ketua koperasi yang membawahi 200 mitra. Jatuh bangun ia mengelola koperasi tidak membuatnya kapok, nemun ia belajar dari pengalaman yang ia alami.  Sekarang ia dikenal, sebagai salah satu tokoh dibidang industri gula di Pacitan Jawa Timur. Ia sering diundang menjadi narasumber untuk memberikan pelatihan tentang peningkatan mutu gula kelapa dan tata cara pembuatan gula semut serta sharing pengalaman pemberdayaan oleh Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur.

    Sekelumit kisah diatas merupakan sedikit dari sekian banyak tokoh lokal yang lahir dari proses pemberdayaan yang terencana dan berkesinambungan. Pemberdayaan membutuhkan karakter kuat seorang kader lokal untuk meneruskan estafet program dari pendamping. Kader-kader lokal inilah yang nantinya akan menentukan keberlanjutan program setelah program selesai atau exit program

    Masih banyak kader lokal yang menjadi ‘Hero’ di daerahnya sebut saja Itoh (Program Recovery Tsunami Pantai Selatan), Samidi (Program Recovery Situ Gintung), dan Kadarisman (Program Klaster Mandiri Kulon Progo)

     Semoga lahirnya kader lokal hasil pemberdayaan memberikan kontribusi nyata perubahan untuk masyarakat sekaligus menjadi #inspirasiuntuknegeri

*Bubu; alat penangkap udang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bulat.

*nderes; proses mengambil nira kelapa

 {fcomment}

 

 

 

 

Mbah Kasmi, Master Gedog dari Tuban

Gedog, kain khas Tuban yang belum banyak dikenal orang. Kain gedog mempunyai arti dan sejarah tersediri bagi orang Tuban. Sentra pembuatan kain gedog salah satunya adalah di kecamatan Kerek yang berjarak 25 KM dari pusat kota Tuban.

Tidak semua orang bisa membuat kain gedog, selain diperlukan keahlian khusus, proses pembuatannyapun memakan waktu yang cukup lama. Di kecamatan Kerek hanya ada beberapa orang saja yang bisa membuat kain gedog, salah satunya adalah Mbah Kasmi, begitu orang memanggilnya. Ia tinggal di Desa Gaji, Kecamatan Kerek.

Melihat sosok Mbah Kasmi, orang tidak akan langsung mengetahui bahwa ia adalah salah satu ‘master’ kain gedog di Tuban. Penampilan sederhana khas perempuan jawa dengan kebaya dan jarik. Ia tinggal sendiri di rumah bilik berlantai tanah. Tidak ada yang istimewa dirumahnya, hanya ada perabot sederhana dan ‘pusaka’ alat gedog yang ia punya.

Selain membuat kain gedog ia juga sering diminta tetangganya untuk membantu di ladang “yen ten tegil nggih upahe mboten kathah sing penting cekap kangge tumbas beras (klo kerja di ladang upahnya nggak banyak, yang penting cukup untuk beli beras)” ujarnya dengan bahasa jawa kromo inggil.

Kesahajaan dan keluasan ilmunya yang membedakannya dari yang lain. Ia juga tidak sungkan membagi ilmunya kepada siapapun yang mau belajar. Keamahannya terlihat dari tuturkata dalam menyambut tamu yang berkunjung kerumahnya.

Keahliannya membuat kain gedog, menjadi sebuah karunia. Sudah puluhan kain gedog yang ia hasilkan dari tangan cekatannya. Proses yang lama tidak membuatnya putus asa dan berpindah profesi.

“Membuat kain gedog dari memintal kapas sampai jadi kain gedog itu butuh waktu 1 minggu paling cepat ” jelasnya.

Pemahaman dalam dunia prosuksi kain gedog, membuatnya mampu menjelaskan proses pembuatan kain gedog dengan fasih sambil praktek dengan peralatan sederhana yang ada dirumahnya tanpa harus melihat catatan.

“Dalam membuat gedog proses pertama kali nguter (memintal kapas), biasanya butuh waktu seharian” ungkap perempuan 56 tahun ini. “Dari nguter jadilah lawe (benang kapas), setelah itu di ublug (direbus). Kalo mau di kasih warna baiknya dilakukan saat proses ublug supaya hasilnya maksimal” ia menjelaskan sambil menata benang hasil nguter.

Dengan sabar beliau merapihkan benang-benang supaya tidak ‘ruwet’. “Setelah di ublug kemudian di ulur dengan ini (menunjukkan alat yang terbuat dari kayu dan bilah bambu). Supaya benangnya terpisah dengan dengan sempurna sehingga waktu di tenun lebih mudah” jelasnya dengan sabar.

Sebelum di tenun kain benang harus diatur sesuai motif warna kain yang akan dibuat “Sebelum dtenun dimanih dulu (pengaturan benang) supaya nanti hasil dan warnannya sesuai yang diingikan” terangnya. “Klo sudah siap baru di tenun, ini alatnya (sambul menunjukan alat tenun yang terbuat dari kayu. Orang menyebutnya gedog, karena kalo lagi nenun bunyinya dok..dok…dok” lanjutnya. “Itu juga yang membuat kainnya juga disebut kain gedog” ia mengakhiri penjelasannya.

Para pemesan banyak yang puas dengan kain karyanya. Keterbatasan ekonomi membuat keahliannya ‘terabaikan’. Keahliannya dimanfaatkan oleh orang lain dengan upah yang sangat minim. Upah untuk membuat satu kain berukuran 3 m sebesar 70 rb. Itu tidak sebanding dengan kerumitan dan waktu pembuatannya. Padahal kalo sudah masuk ke pasar harga bisa mencapai Rp. 800.000, bahkan salah satu Mall di Jakarta harganya mencapai Rp.  1.000.000/potong

Mbah Kasmi merupakan salah satu mitra program klaster mandiri yang digulirkan oleh masyarakat mandiri dompet dhuafa. Sekarang ia sudah mampu membuat kain sendiri. Ia mendapatkan penghasilan 2 kali lipat dari yang upah yang ia dapatkan dari ‘ngeburuh’ kain gedog.ia bisa menjual kain gedog buatannya sendiri degan harga mulai 100 ribu – 200 ribu bergantung pada ukuran dan warna kain.

Dari segi pemasaran juga dibantu oleh Griyo Batik, yang merupakan unit usaha ISM Al Hidayah yang di bentuk secara swadaya oleh mitra program.

Kekurangannya tidak menjadikan ia mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia berusaha mencukupi kebtuhan hidup dg jerih payah sendiri.

{fcomment}

 

 

 

Bubar Sebelum Mekar

 

20 Agustus 2014

     Dinginnya pagi, membuatku menunda untuk mandi. Ku duduk sambil ngopi menyiapkan materi Latihan Wajib Kelompok Mitra (LWK). Bahagia rasanya, usaha yang kulakukan selama sosialisasi sebulan ini akhirnya membuahkan hasil. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi, aku bergegas mandi untuk memulai aktivitas.

     Selesai mandi, terdengar ringtone handphoneku berdering, buru-buru datangi sumber suara. Private number yang terbaca di layar handphone. “siapa ya?”, gumamku. “Assalamu’alaykum”, Terdengar suara ibu-ibu mengucapkan salam. ‘Wa’alaykumsalam”, jawabku. “Mas rois,  LWK jadinya hari senin malam bukan malam senin ya”,  lanjut suara di ujung telepon tanpa memperkenalkan diri. “Ini mbak Rianti bukan?” tanyaku, sok tau. “Iya mas”, jawabnya. Rianti adalah Sekretaris KM Barokah Kelompok Pertama yang melakukan LWK.

     Rianti mengklarifikasi sms yang ia kirim, bahwa ibu-ibu bisa ikut LWK senin malam bukan malam senin “Salah ketik” katanya. “Mbak, maaf kalo bisa jangan terlalu lama, supaya akhir agustus ini LWK selesai dan bisa melanjutkan proses pengajuan” jelasku. “Iya mas tapi saya bilang dulu sama yang lain, kebetulan beberapa ibu-ibu masih dipasar”, responnya.

Sambil menunggu kabar dari Rianti, aku membaca-baca lagi materi-materi LWK. Tidak lama kemudian terdengar ringtone Handphone ku kembali berbunyi. Ternayata  Short Mesagge dari  Rianti ‘mas, rois LWKnya nanti malam ba’dha magrib di rumah ibu Maninten ya. Terimakasih’.  ‘iya. insyaAlloh nanti saya kesana’, balasku.   

                                                            ­­——————————————-

   Adzan magrib berkumandang, bergegas kutunaikan kewajibanku di mushola dekat kostan. selesai sholat aku bergegas kerumah ibu Maninten, yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku.

    “Monggo mas rois, sebentar nggih kulo pel dulu lantainya” sapa bu Maninten dengan wajah sumringah menyambutku. Sambil ngobrol aku duduk di teras menunggu ibu-ibu yang lain yang belum satupun hadir.

     Satu persatu ibu-ibu calon mitra berdatangan, aku tunggu sampai lengkap 10 orang baru aku mulai LWKnya. Waktu berjalan, 10 menit kemudian ibu calon mitra terakhir datang. Akupun mulai LWK dengan penuh semangat. Ibu-ibu juga terlihat antusias mendengar kan materi pertama LWK tentang gambaran umum program. saking asiknya dan semangatnya, tidak terasa sudah 50 menit aku memberikan materi.

    “Pripun ibu-ibu sampun mengertos nggih (gimana ibu-ibu sudah mengerti ya)”, tanyaku. “Benjing saged LWK maleh nggih. Yen saget tigang dinten berturut-turut. Pripun? (besok bisa pertemuan LKW lagi ya. Kalo bisa 3 hari berturut-turut)”, Tanyaku. ”Langsung tigang dinten mawon mas (langsung 3 hari aja mas)”, sahut bu Maninten, yang juga Ketua kelompok. Lega rasanya LWK pertamaku sukses. Akupun minta ijin pulang duluan kepada ibu-ibu. Ibu masih asyik ngobrol waktu ku tinggalkan, tidak ada yang aneh dengan mereka.

     Dijalan sudah terbayang besok ngisi LWK lagi, bertemu dengan ibu-ibu yang semangat dan kompak. Berharap nanti, kelompok ini akan menjadi contoh untuk kelompok-kelompok berikutnya.

21 Agustus 2014

     Setelah selesai menunaikan sholat magrib berjamaah di mushola, aku bersiap berangkat kerumah bu Maninten. Dengan penuh semangat ku langkahkan kaki tanpa ragu. Sampai dirumah bu Maninten, kok sepi, pintu tertutup rapat. Ku ketuk pintu tapi tidak ada jawaban. “kutungguin ajalah, mungkin lagi keluar”, kataku dalam hati. ”Mas Rois” terdengar suara dari dalam rumah. “lho nggak ada yang ngasih tau tho”, tanya bu Maninten. “Kasih tau apa bu?”, tanyaku balik. “Mas rois nggak dikasih tau Rianti, kalo kelompok kita (KM Barokah) sudah bubar tadi malam”, ungkap ibu Maninten. “Kok bisa begitu, bu “ tanya ku kaget dan bingung. “ Iya mas kata ibu-ibu semalem, jumlah pembiayaan terlalu kecil dan belum tentu jumlah yang diajukan bisa 100 % cair” jelasnya. Setelah menerima penjelasan tersebut, ku coba klarifikasi ke Rianti, sekretaris kelompok, namun tidak ada. “Rianti, ten griyane morosepuhe mas (Rianti lagi dirumah mertuanya mas)”, jelas orang tua Rianti.

    Dengan langkah gontai dan kecewa aku melangkahkan kaki beranjak pulang. Nggak habis pikir, kelompok yang terlihat kompak dan semangat harus bubar sebelum mekar menjadi kelompok yang menjadi contoh kelompok lainnya. Tapi aku aku tidak boleh larut, masih ada kelompok-lain yang alhamdulillah sudah terbentuk. Berharap kelompok-kelompok lainnya tidak ‘bernasib’ sama dengan KM Barokah.

     Sebulan berlalu, Walapun masih heran dengan kejadian KM barokah, namun semua telah terobati karena saat ini sudah ada 3 kelompok yang berhasil sampai tahap pengajuan dan pengajuan mereka diluluskan 100%. Total mitra ada 26 orang, malahan dari sejumlah mitra tersebut menyepakati untuk membentuk semacam paguyuban dengan nama Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Mandiri Amanah Sejahtera yang dimotori oleh ibu Shofiyatun. (kisah KM Barokah, Program KPMS Semarang)

{fcomment}

 

 

 

Berjalan 5 Jam Karena Senang Ikut Program

Pria bertubuh gempal ini sudah berdagang bakso sudah ia mulai sejak tahun 90-an. Awalnya ikut saudara namun kini ia mampu berdagang secara mandiri. Paimin biasa ia dipanggil, biasanya dia mangkal di daerah jati padang mulai pukul 16.00 – 21.00. Ia berkisah tentang bagaimana awal memulai usaha, banyak kendala yang dihadapi. Pernah kejadian gerobaknya terbakar karena jatuh waktu berangkat berjualan

“Pada awal jualan dulu, sedih. Gerobak saya pernah terbakar, awal jualan memang belum pernah pengalaman jadi waktu itu karena jalan rame mobil dibelakang nglakson saya kaget. Saya minggir ternyata jarak antara tanah dan aspal agak tinggi. Gerobak saya guling, waktu itu masih pake minyak tanah minyak nya tumpah langsung ngebakar gerobak” ia mengisahkan. Suatu kali ia juga pernah tersenggol truk sehingga gerobaknya rusah parah, ia mendapat ganti rugi dan diganti uang Rp. 30.000. waktu itu harga gerobak masih Rp. 20.000 sehingga sisanya bisa buat modal lagi.

Sejak Sepember 2013 ia bersama 100 pedagang bakso se Jakarta Selatan bergabung dengan program pedagang tangguh miwon yang merupakan kegiatan pemberdayaan pedagang bakso yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa bekerja sama dengan PT Miwon Indonesia. Program ini memberikan bantuan peralatan berjualan bakso berupa gerobak, kompor, tabung gas dan peralatan makan.

Bahagia terlihat diraut mukanya ketika bapak dua anak itu mengetahui ia menjadi mitra program. sebagai wujud syukur dan rasa senangnya ia berjalan kaki lima jam sambil mendorong gerobak barunya. “Saking senangnya dapet gerobak saya dan temen-temen dorong gerobak dari kantor miwon di Pulauggadung, Jakarta Timur  sampai Pejaten Jakarta Selatan. berangkat jam 11.00 sampe rumah jam 16.00 WIB. Dijalan ada yang teriak lagi pawai ya…saya senyum aja” ujar bapak asal Karanganyar ini.

Semangat itulah yang mendorong untuk berusaha lebih baik. Lambat laun usahanya semakin berkembang “ Dulu omzet sehari 100-200 ribu, alhamdulillah sekarang menjadi 500-700 ribu per hari. Itu mulai dari jam 4 sore mas, istri saya juga jualan dirumah” ungkap nya dengan semangat. Istrinya berjualn bakso dirumah memanfaatkan gerobak yang lama.

Tinggal di Jakarta dengan beragam permasalahan tidak membuatnya surut semangat. Wilayah  tempat tinggal yang sekarang nya merupakan salah satu wilayah langganan banjir karena letaknya sebelah sungai. Ia menceritakan “Dulu waktu tinggal di kulon (sebelah barat) kalo banjir sampai setinggi gerobak, jadi nggak bisa jualan. Sekarang pindah di wetan (sebelah timur) kalo banjir paling hanya se roda gerobak karena posisinya lebih tinggi. Kalo lagi banjir saya berangkat dibantu istri, karna harus di lewat gang konblok yang disisinya ada got. Jadi istri saya didepan mencari jalan, gerobak saya miringkan kedepan (300 ) supaya tabung sama kompornya tidak terendam” ungkap bapak dua anak ini.

Masih ada keinginan yang ia pendam untuk memiliki kios bakso sendiri. Ia ingin mengajak kedua menantunya untuk patungan modal memulai usahanya.

{fcomment}

 

 

 

 

Untold Story : “Ditolak Karena Nggak Berbunga”

Dering handphone membuatku kaget “assalamu’alaykum” aku menyapa. “wa’alaykumsalam” suara diujung telpon membalas salamku. “mas slamet ini munip (manager program), mas slamet nanti jadi pendamping di Tanjung Pasir ya”, ia melanjutkan obrolan. Kaget memang, karena waktu itu masih menjadi pendamping program di sukabumi dan harus pindah lokasi yang lagi-lagi tidak ku kenal. Memang sudah menjadi konsekuensi pendamping untuk di pindah ke lokasi pendampingan.

Tanjung pasir, negeri antah berantah di ujung utara tangerang yang berbatasan langsung dengan laut jawa. Desa kecil yang terkenal karena sering mendapat kunjungan pejabat negeri ini, setidaknya itulah gambaran yang aku dapatkan ketika menelisik di internet tentang calon tempat tinggal baru ku. Setelah berpikir akhirnya aku menerima tantangan tersebut, walaupun aku tidak tau persis seperti apa lokasinya.

Tepatnya tanggal 20 September 2012, waktunya telah tiba untuk memulai program di Desa Tanjung Pasir. Berangkat dari Bogor berbekal surat pemberitahuan yang ditujukan kepada pemerintah setempat dan Nomor handphone kontak disana yang dierikan oleh Tim Survey yang ditugaskan mensurvey kelayakan wilayah Desa Tanjung pasir sebelum program dilaksanakan. “Mas, nanti sampai sana hubungi bang agus ini nomornya” papar Dhani, Anggota tim survey. Bang agus ini dulu yang bantuin, waktu survey”, lanjutnya.

Berbekal informasi dari google maps dan dibantu plang penunjuk arah, ku susuri jalanan Bogor-Tangerang yang terkenal rawan macet. Tidak terasa 2 jam telah ku lalui di atas motor kesayangan di bawah teriknya matahari siang itu. Akhirnya ku lihat penunjuk arah bertuliskan Tanjung pasir, lega rasanya.

Sampai di Desa Tanjung Pasir istirahat untuk membeli minuman, lokasi dipinggir pantai membuat kulit trasa terbakar. Efek pantulan panas dari air laut menyebabkan suhu udara menjadi duakli lebih panas dari daerah lainnya. Belum hilang rasa lelah, ku coba menghubungi bang agus, ‘alhamdulillah, nyambung nih “, kata ku.

“hallo” terdengar suara dari ujung telpon.

‘Asslamu’alaykum bang, saya slamet dari MM temannya mas dani”, jawabku.

“oh iya, mas lagi dimana” jawabAagus.

“saya udah di Tanjung Pasir di depan minimart. lagi sibuk nggak?bisa ketemu” tanya ku

“nggak mas, bisa ketemu di bawah tower aja mas, dekat minimarket” jawab Agus

Nunggu agak lama, muncul sosok pemuda berbadan kurus memakai baju kotak-kotak.

“Itu bukan ya?kok kecil gini” pikirku

Ragu-ragu aku pun bertanya, “bang agus?”

“Mas Slamet”? jawabnya. Ketawa dalam hati jadi terfikir kayak film india aja.

Muda, idealis dan visioner kesan pertama bertemu dengan bang agus. Ia lah yang membantuku untuk beradaptasi dengan wilayah baru yang akhirnya nanti ia menggantikan ku menjadi pendamping di desa kelahirannya.

Memulai program di Tanjung Pasir tidak mudah, tidak seperti wilayah dampingan sebelumnya dimana pemerintahan setempat menyambut baik program.

“Mas kalo mau  ke Desa besok pagi aja antara jam 08.00-09.00. Selain jam-jam itu tutup. Tau tuh aparatnya” kata Agus dengan nada kesal. Ia bercerita panjang lebar tentang lingkungan dan kondisi desanya, membuatku mengerti kenapa ia kesal dengan kondisi desanya. Semangatnya untuk memperbaiki desanya sungguh luar biasa, cara berfikir yang berbeda dengan pemuda-pemuda seumurannya. Jadi pantas tim survey memberikan rekomendasi untuk menemui beliau sebelum memulai program. Dia juga yang menemaniku berkeliling menemui tokoh-tokoh desa.

Sebulan sudah aku memulai program, namun belum satupun warga yang bisa ku ajak menjadi mitra program. yang membuat ku bingung alasan yang ku anggap tidak masuk akal, hanya karena pembiayaan yang diberikan program tidak ada ‘bunganya’. Program menggunakan sistem syariah yang tidak mengenal istilah bunga. Program yang sifatnya membantu menggunakan akad qordhul hasan (pinjaman kebaikan) yang memang tidak membebankan bunga, karena sasaran program adalah para dhuafa. Harapannya dengan pembiayaan ini masyarakat dhufa mampu meningkat secara ekonominya dengan berjalannya usaha tanpa harus memikirkan ‘bunga’ pembiayaan yang harus di bayar.

Pernah waktu melakukan sosialisasi di kp. Garapan, masih termasuk Desa Tanjung pasir ketika saya menjelaskan tentang program dan jenis pembiayaan, ada yang heran.

‘lho bapak untung dari mana?’ tanya sorang ibu-ibu yang akhirnya ku ketahui namanya Boni

Kaget, bingung tapi gak pake bengong.  Tapi coba saya jelaskan tentang program serta mengajak ibu-ibu untuk menjadi mitra. Ternyata pertanyaan itu berulang-ulang ditanyakan di setiap tempat dilakukannya sosialisasi. Baru aku faham kenapa mereka seperti itu setelah banyak berdiskusi dengan agus dan Pak budi. Pak Budi, anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut berpangkat Sersan Mayor yang belakangan menjadi ‘lawan’ diskusi tentang kondisi desa dan sejarah desa.

Menjamurnya rentenir dan pinjaman/pembiayaan dari lembaga yang membebani dengan bunga 15-25% ternyata telah menanamkan mindset minjem ‘harus’ berbunga. Pernah ketika diskusi dengan sekretaris desa, ia menyebutkan lembaga-lembaga simpan-pinjam yang masuk ke desa tanjung pasir, iseng-iseng ku hitung ada 7 lembaga belum lagi bank keliling, Yang membuat aku kaget, katanya satu orang bisa mempunyai 3-4 pinjaman ke lembaga yang berbeda.  Keadaan  dan budaya yang membuat mereka melakukan hal tersebut.

Mata pencaharian sebagai nelayan tidak bisa menjamin meraka dalam satu tahun bisa melaut tiap hari. Istilah mereka musim barat adalah waktu dimana meraka libur melaut. Kondisi ini yang membuat mereka meminjam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena tidak melaut berarti tidak ada pendapatan. Budaya konsumerisme yang cukup tinggi memperburuk keadaan, dalam budaya msyarakat ada istilah biar tekor asal ke sohor. Sikap tidak mau menabung juga menjadi budaya, bagi mereka rejeki hari ini ya untuk hari ini, rejeki besok sudah ada yang mengatur. ‘siapa dulu ya pertama kali mengajari mereka seperti ini”gumamku dalam hati.

Semakin hari semakin jelas tantangan yang harus dilewati untuk melaksanakan program. jadi berfikir ‘gimana caranya mengajak masyarakat untuk mengikut program”….

{fcomment}

 

 

 

Tekad Mursalim menyekolahkan anak-anak mitra dengan gula

Dalam proses pendampingan ada saja kisah yang unik dan inspiratif. Kali ini kisah dari pulau seberang Sulawesi tepatnya Jeneponto,Sulawesi Selatan. Berikut adalah kisah Mursalim dalam mendampingi masyarakat.

Kisah perjalanan saya dalam  pendampingan di awal program hingga sekarang baik yang di Taba maupun yang di Parang Lambere dimana pemahaman masyarakat sebelum program berjalan dan disaat awal program masih sangat minim dan gampang dikendalikan oleh seseorang yang punya modal atau di sebut  saja tengkulak.

Pada saat awal program saya selalu diliputi rasa cemas karena saking banyaknya  issu bahwa para tengkulak tidak setuju adanya program pemberdayaan masyarakat di Taba. Mereka  merasa usaha mereka bisa turun, ketika  saya mulai mengadakan pertemuan-pertemuan baik dari pertemuan saat pembentukan kelompok mitra maupun Latihan Wajib Kelompok dan pembentukan Induk  selalu ada orang yang mengikuti saya dan bertanya dengan maksud ingin melemahkan  program.

Saya masih ingat ketika salah satu tengkulak bilang dengan gaya bahasa di kampung yaitu “kenapa kita mau kasihki uang itu pemasak gula na saya ada tonji uangku untuk kasihki, Biar berapana minta ku kasih kanji (kenapa kamu ngasih-ngasih uang ke pembuat gula. Saya ada banyak uang untuk dikasihkan, berapapun minta saya kasih)” bentaknya dengan nada tinggi.

Saya jelaskan bahwa program bertujuan untuk mengurangi beban ibu dan bapak karena kami tidak mengambil semua gulanya namun hanya untuk beberapa biji untuk angsuran mitra saja  dan selain dari itu semua tetap di berikan kepada ibu dan bapak. Program mangajak bapak dan ibu untuk kerja sama untuk membantu mitra Taba agar mitra bisa menyekolahkan anak-anak mereka dan bisa membeli kebutuhan hidup mereka. Sampai sekarang pun mereka (tengkulak) masih berusaha melemahkan program dan memprovokasi mitra untuk tidak mengikuti program. ada saja mitra yang dapat dipengaruhinya sehingga tidak mengikuti aturan kelompoknya..

Selama saya mendampingi mitra Taba dan Parang Lambere suka dan duka memang tidak lepas dari pekerjaan sebagai pendamping di mana mitra kebanyakan hanya lulusan SD bahkan ada juga yg tidak pernah sekolah sama sekali, sehingga ada yang cepat paham dan ada juga yang sangat susah menerima apa yang disampaikan. Ada mitra juga yang kurang bisa mendengar (tuna rungu), ada yang tidak bisa membaca dan menulis dan ada juga yang tidak mengerti bahasa indonesia.

Aturan-aturan yang menggunakan bahasa lokal termasuk dalam pembacaan ikrar mitra saja sudah diubah dengan memakai bahasa daerah. Itupun masih ada yang kesulitan untuk menghafalnya. tapi, ada yang membuat bahagia ketika bertemu mitra dalam setiap pertemuan sering bercanda layaknya sebuah keluarga jauh yang lama tidak bertemu, senang rasanya melihat mereka tersenyum dan ketawa bersama dan melupakan sejenak problem-problem yang ada dalam keluarga mereka.

Ada juga keunikan mitra kita di Taba yang membuat saya kagum dengan keseriusan mitra tersebut, yaitu seorang mitra yang penglihatan tidak normal. Setiap hari ia memanjat puluhan pohon lontar untuk mengambil air nira, istrinya membantu memasak gula. Pernah suatu ketika ia jatuh dari pohon saat mengambil nira sampai harus dirawat, setelah sembuh dia tetap melakukan profesinya sebagai pemasak gula. Tanggung jawab sebagai kepala keluargalah yang membuat ia tidak pernah menyerah, untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.

Selama program berjalan masih ada beberapa mitra yang masih kadang tidak mengikuti aturan ada juga dia mengikuti aturan tapi terkesan bandel karena membayar angsuran dengan ukuran gulanya sengaja di perkecil. Setiap pertemuan selalu disampaikan ke mitra agar  menstandarkan ukuran gula lontar. Besarnya pengaruh tengkulak ke mitra yang  seakan-akan mereka tidak ingin pemasak gula lontar bisa dari jeratan piutang agar tengkulak tetap bisa mengendalikan harga semaunya dengan mendapatkan keuntungan yang besar, dan pengaruh itu masih berjalan  hingga saat ini.

Dalam mendampingi mitra Taba dan Parang lambere saya punya kebijakan tersendiri untuk tidak mengekang mitra agar para tengkulak bisa menyadari bahwa program hadir bukan untuk mempersulit mitra tapi untuk membantu memandirikan atau menopang ekonomi mereka sehingga bisa mandiri.

Masyarakat Taba sudah semakin percaya akan program Masyarakat Mandiri dan Dompet Dhuafa. Beberapa bantuan telah diberikan untuk meningkatkan produksi dan pemasaran gula lontar, diantaranya telah diberikan berupa kendaraan roda 3 sebagai alat pengangkut gula lontar, pembatas wajang, bambu untuk tangga pohon. Tempat produksi di perbaiki agar lebih higienis untuk meningkatkan gula lontar Mitra Taba.  Masyarakat  berharap agar MM dan DD selalu hadir untuk membantu masyarakat Jeneponto dengan program-program untuk pemberdayakan masyarakat golongan bawah(miskin). Mereka bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi sehingga bisa membawa perubahan bagi masyarakat Jeneponto.

{fcomment}

 

 

 

 

 

 

 

Kabar dari Pacitan : “Asa itu Masih Ada”

Menuju Desa Mantren dari Kota Pacitan membutuhkan waktu tempuh 45 menit. Letak Desa Mantren di lereng pegunungan, perjalanan yang ditempuh menanjak dan menurun. Letak antar rumah warga berjauhan dan biasanya berkelompok. Satu kelompok 2-5 rumah ada juga juga satu rumah. Jarak antar kelompok rumah ± 20 meter.  Kondisi jalan sudah baik, sudah dilakukan pengaspalan dan pengecoran. Ini berbeda ketika 8 tahun yang lalu ketika Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa memulai program pemberdayaan petani gula kelapa. “Dulu jalannya nggak seperti ini, masih batu-batu makadaman. Pernah ke Desa Mantren naik motor win jatuh saking jeleknya jalan” ungkap Rudi, mantan Pendamping Program Pemberdayaan Petani Gula Kelapa Pacitan. Ia juga mengatakan bahwa telah banyak perkembangan dibanding ketika dulu dia dan Gito (pendamping program) tinggal selama tiga tahun disana.

Obrolan terhenti ketika kendaraan yang penulis tumpangi berhenti di halaman sebuah rumah bercat hijau. Baru membuka helm, terdengar sapaan “lho pak rudi, pripun kabare. Anake mboten di jak” suara perempuan setengah baya menyapa Rudi. Mereka ngobrol akrab seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu. “pak rudi, pripun kabare”, seorang laki-laki masih muda, berjenggot umurnya kira-kira 38 tahun. Dialah Khoirul Huda yang akrap disapa Pak Irul, kader lokal sekaligus ketua Koperasi ISM Manggar Sari, koperasi yang di inisiasi oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa dalam Program Pemberdayaan Petani Gula Kelapa Pacitan.

Obrolan mengalir deras di antara keduanya, ikatan yang dulu telah terjalin selama 3 tahun membuat keduanya seperti saudara. “ Alhamdulillah pertemuan kelompok, pertemuan induk masih jalan. Tapi ada kelompok yang bermasalah, pertemuan kelompok sudah tidak ada lagi ” papar Khoirul, menjelaskan tentang perkembangan program. “ Sekarang malah beberapa kelompok tidak hanya sekedar pertemuan tapi juga mengadakan yasinan kelompok ” lanjutnya.

Ia mengungkapkan susah senangnya menjalankan koperasi. Karena memang tidak mudah dalam mejalankan koperasi apalagi ini berhubungan dengan orang banyak. Ada juga mitra yang tidak mau menjual gula ke koperasi dengan selisih yang hanya 200 rupiah, ada juga mitra yang tidak mau meningkatkan kualitasnya sehingga terkendala masalah pemasaran. Ia tetap berharap bahwa mereka mau berubah, ia ingin koperasi ini menjadi wadah penjualan gula sehinga mempunyai posisi tawar yang tinggi teradap pedagang besar maupun perusahaan.

Semangat tidak patah arah untuk membantu masyarakat. Usahanya untuk membuka akses pasar gula sudah teruji sampai ke Trenggalek, Temanggung dan Waleri bahkan Kulon Progo. Walaupun tidak selalu untung, kadang malah merugi. Keinginanannya agar para pembuat gula bisa meningkat pendapatnya yang membuat ia terus bertahan. “  Kalo nggak ingin memajukan masyarakat saya sudah mundur dari koperasi. Mendingan usaha sendiri. Sebenarnya saya cuma ingin supaya para penderes tidak mengeluh pendapatannya minim karena harga gula yang rendah “ ujarnya.

Beberapa yayasan dan perusahaan yang ingin mengembangkan gula kelapa di Pacitan bisa dipastikan diarahkan ke Koperasi ISM Manggar Sari. Disatu sisi dia terbantu, di sisi lain muncul masalah baru. “ Pernah ada yayasan yang ingin mengembangkan gula kelapa di Pacitan. Awalnya lewat saya, saya yang melakukan pendataan semua petani. Tapi akhirnya bermasalah juga terkait tranparansi. Dulu dari perusahaan exportir ingin memberikan bantuan untuk membuat rumah produksi higienis ke Koperasi Mangar Sari. Namun lewat yayasan tersebut dialihkan ke desa yang lain. Perusahaan kaget, saya juga bingung akhirnya saya dan kelompok memutuskan keluar dari keanggotaan program itu. Makanya setiap orang yang kesini yang mau melakukan pendampingan selalu saya sampikan bahwa pendampingan yang benar-benar pendampingan adalah yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri. Kalo ingin melakukan pendampingan saya sarankan konsultasi ato kerjasama dengan MM saja “ ujar tokoh pemuda Desa Mantren ini. Saat ini koperasi sedang manjajagi kerjasama dengan perusahaan exportir di Kulon Progo untuk mengembangkan gula cetak dan gula semut organik.

Tekadnya yang kuat  mampu menembus batas-batas cara  berfikir orang di lingkungannya. Ketegasan dan terobosannya menjadikan dia mempunyai posisi tawar lebih bagi mereka yang ingin mengembangkan gula kelapa Pacitan maupun perusahaan yang ingin berkerjasama.

Keteguhan memegang amanah tidak lepas dari ajaran pendidikan pesantren yang melekat pada dirinya. Pergaulannya dengan banyak pihak membuat cara berfikirnya lebih maju. Pengalaman dalam dunia usaha gula sejak terlibat di koperasi membuatnya matang berfikir dan mampu mengukur diri. Tidak mudah menemukan orang-orang seperti Khoirul. Sederhana, agamis dan idealis….yang penulis lihat dari sosoknya.

 {fcomment}

 

 

 

Pendamping Mandiri, Makhluk Anti Mainstream

Dalam proses pemberdayaan yang dilakukan oleh Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD) sudah menjadi aturan lembaga untuk menyediakan pendamping mandiri (PM). PM akan menjalankan fungsi pendampingan langsung di tengah-tengah masyarakat. PM direkrut dengan spesifikasi khusus salah satunya adalah mampu memotivasi, menjadi teladan, agamanya bagus. Karena PM ini akan akan menjadi ‘tokoh’ yang banyak di sorot di masyarakat, apalagi ia harus tinggal bersama-sama masyarakat. Setiap gerak-geriknya menjadi perhatian.

PM yang sudah lolos seleksi akan dilakukan penempatan di lokasi dilaksanakannya program. inilah yang menarik karena PM harus datang ke lokasi dengan hanya membawa diri, bekal baju dan surat-surat ijin/pemberitahuan kepada pemerintah setempat. PM belum tentu tahu lokasi, karakter masyarakat di lokasi nanti. Setiap PM hanya di bekali pemahaman tentang program dan biasanya satu no handphone/telepon tokoh atau kontak masyarakat di lokasi.

Bagaikan ‘diasingkan’ di negeri antah berantah, kalo tidak kuat mental pasti setelah tiga bulan biasanya mengundurkan diri atau menghilang tanpa jejak. Semangat pengabdian yang menjadikan mereka tetap bertahan.

PM menjadi sosok anti manstream. Ketika hari ini lulusan perguruan tinggi berfikir untuk bekerja dikantoran dengan gaji besar menjadi prestise. Hidup di kota dengan update teknologi,suka nongrong di mall, makan di tempat bonafide nan beken menjadi trend. Tapi PM harus tinggal di daerah dampingan yang kebanyakan kantong kemiskinan, kumuh dan pelosok tanah air indonesia. Jangankan mall, toko sembako saja jarang. jangankan cafe, warung makan saja jauh.

Seperti yang dialami Rudi, pendamping program di Pacitan. Ia datang ke sebuah desa yang tidak pernah ia bayangkan. Desa Wora wari kecamatan Kebon agung Kab. Pacitan. Wilayah desa yang berbukit dan susah dilalui kendaraan bermotor. Jarak antar desa berupa hutan, jalan yang becek sinyal Handphone pun susah, kalo ada harus mencari di puncak bukit. “Dulu jalan di sini gak sebagus ini, pernah pake motor win jatuh. Kalo pertemuan mitra harus jalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam dari tempat kostan, yang itu masih satu desa” Rudi, menceritakan proses pendampingan di Pacitan. “klo mau mengirim laporan, lewat SMS karena di sini belum ada internet. Itupun harus ke Bukit (yang orang disini menyeutnya gunung limo) untuk nyari sinyalnya, biasanya janjian dengan Gito (PM Desa Mantren)”, Lanjutnya

Beda lagi dengan Luluk, sosok PM perempuan asli Jombang ini pernah melanglang buana menggawangi program di Wilayah Pesisir Sidoarjo kemudian dipindahkan untuk mendampingi progam klaster mandiri di Kabupaten Tuban. Ia tinggal di desa yang gak ada sinyal HP. Ia tinggal ditengah masyarakat yang jaraknya 30 kilo meter dari Kota Tuban, jauh dari keramaian kota. Tapi ia mampu bertahan dan mendapat jodoh di sana.

Masih banyak PM lain yang mengalami kondisi seperti itu. Semangat pengubah, membuat mereka ikhlas meninggalkan keramaian dan kenyamanan yang mungkin bisa mereka raih. Pilihan yang mereka pilih menjadian mereka lebih mampu survive dan mempunyai rasa empati terhadap kondisi negeri. Mereka ingin merubah kondisi masyarakat menjadi lebih maju. Tidak heran ketika program telah usai, beberapa pendamping memilih untuk tetap tinggal di lokasi menjadi warga setempat. Mereka mengembangkan potensi di wilayah tersebut, untuk kemudian dijadikannya mata pencaharian yang mampu menghidupi kebutuhannya dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga setempat.

Dijaman yang yang harta menjdai tolak ukur keberhasilan, bagi mereka pengadian menjaid prinsip. Mereka bukan pegawai negeri, semangatnya melebihi pegawai negeri dalam mengurusi masyarakat. Mereka pendatang, tekad merubah masyarakat melebihi tekad orang lokal. Pengabdian yang luar bisa, namun mereka tidak pernah menuntut untuk menjadi pegawai negeri, mereka tidak menuntut sertifikasi, mereka tidak pernah meminta bayaran dari masyarakat. Inilah anomali jaman, dijaman ini ternyata masih ada orang-orang yang peduli dan mau mengabdi dengan setulus hati. Mereka memang makhluk pilihan, makhluk anti mainstream.

{fcomment}