Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Kisah Pemberdayaan

Sisi Lain Pemberdayaan 2 : “Belajar tentang Demokrasi Sederhana”

Setelah 2 tahun, kini terpampang jelas papan nama di sebuah ruko yang terletak dipinggir jalan raya Parung-Bogor. Papan nama bertuliskan ISM (Ikhtiar Swadaya Mitra) Sumber Rejeki yang disertai berlogo bunga anggrek dan padi,  sungguh tak terbayang sebelumnya sebuah ISM akan menempati ruko dan mengelola usaha bersama berupa sembako dan kebutuhan lainnya.

Bukan tanpa perjuangan dan semangat yang sungguh-sungguh untuk bisa mendirikan ISM bersama mitra rata-rata pendidikan SD dan SMP sedangkan yang berpendidikan SMA sangat minim sekali. Rintisan itu bermula pada tahun 2011 tepatnya bulan maret, Penulis diberi amanah oleh Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa untuk menjalankan program Klaster Mandiri wilayah Zona Madina yang meliputi 5 desa 3 Kecamatan.

Sebelum terjun kelapangan penulis mendapatkan gambaran potensi yang ada diwilayah tersebut dari hasil survey sebelumnya, dari hasil survey itu digambarkan potensi yang ada tidak begitu banyak, sementara untuk masyarakatnya terbilang masyarakat yang memiliki karakter yang keras dan individualis. Dengan berbekal gambaran hasil survey strategi diatur untuk bisa masuk ke wilayah tersebut dan diterima masyarakat agar program bisa berjalan dengan baik, langkah pertama yang dilakukan adalah survey pendalaman dengan mengunjungi beberapa titik desa untuk coba menggali lagi potensi yang bisa dikembangkan sekaligus mencari calon mitra yang memiliki persamaan visi dengan program yang akan dijalankan, dalam kurun waktu 4 bulan terekrut mitra sebanyak 48 orang yang terdiri dari 7 kelompok..

Pada tahun pertama pendampingan, mitra yang tergabung dalam program  sudah mencapai 120 orang, ditahun itulah saya sudah benar-benar bisa melihat calon kader yang nantinya akan menjadi pengurus di ISM, ada 4 orang saat itu yang bisa dijadikan kader, adapun pertimbangan menentukan kader tersebut dilihat dari 1. Kesungguhan dalam menjalankan program 2. Memilki tujuan jangka panjang untuk kelompok dan masayarakat disekitarnya 3. Track record dimasyarakat cukup baik 4. Selalu semangat dan jarang mengeluh bila menghadapi permasalahan. Setelah yakin dengan calon kader tersebut maka dilakukan pembinaan secara rutin, menyaring kembali siapa yang terbaik. Pada tahap bertujuan untuk memahami karakter dan jiwa kepemimpinan masing-masing kader, karena mereka yang nantinya akan memimpin seluruh mitra.

Dalam proses pemilihan calon pengurus ISM sema diberikan kesempatan yang sama kepada seluruh mitra yang akan mencalonkan diri menjadi pengurus. Kemudian dilakukan uji kelayakan kepada calon pengurus, dengan memberikan soal-soal seputar program yang dijalankan serta visi misi calon ketua untuk seluruh mitra program klaster mandiri wilayah zona madina. Uji kelayakan dilakukan secara terbuka dihadapan seluruh mitra, sehingga pemilihan ketua dan pengurus ISM benar-benar terbuka dan tidak ada rekayasa, dari hasil tersebut maka mitra akan menentukan siapa yang berhak untuk menjadi ketua ISM, acara pemilihan pengurus ISM berlangsung secara meriah dan baik, hal ini juga merupakan pembelajaran organisasi kepada seluruh mitra dan musyawarah secara baik jujur dan terbuka, akhirnya ketua ISM terpilih sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan.

Pengkaderan calon pengurus menghasilkan pengurus yang bertanggungjawab dan bisa memimpin ISM untuk menjadi mandiri. “Sumber Rejeki” nama yang dipilih oleh para pengurus untuk ISM, mereka berharap dengan nama Sumber Rejeki, ISM yang menaungi seluruh mitra benar-benar menjadi sumber rejeki bagi para mitra khususnya dan masyarakat disekitarnya.

Kemandirian itu sudah mulai tampak sebagaimana tujuan akhir dari pemberdayaan adalah terwujudnya “kemandirian” di wilayah dampingan program.

 {fcomment}

 

 

Sisi Lain Pemberdayaan: “Susahnya Membangun Kepercayaan”

Community development, sebuah kata yang tak asing bagi saya. Ya, semasa duduk di bangku perkuliahan saya mempelajari teorinya. Terlibat di dunia comdev sebagai pendamping masyarakat yang terjun langsung di daerah seakan menjadi ‘pelengkap’ atas ilmu yang telah diperoleh sebelumnya. Naik satu level, dari sebatas teori ke aplikasi. Kenyataannya, berjuang sebagai pendamping masyarakat bukanlah hal mudah. Jiwa kreatif, inovatif, dan bersemangat agaknya masih belum cukup untuk mensukseskan program comdev. Perlu keseimbangan antara pendamping masyarakat dengan internal individu, komunitas, maupun masyarakat  itu sendiri.

Saya sebagai pendamping masyarakat yang ditugaskan di wilayah pesisir, Indramayu tepatnya, dengan sasaran program adalah perempuan wirausaha olahan turunan ikan. Seperti biasa, diawal program, yang terpenting adalah rekruting calon mitra yang tepat untuk dikelompokkan nantinya. Sesuai dengan sasaran, maka kunjungan ke pengolah maupun kuli ikan sudah menjadi keseharian.

 

Malam itu ba’da Isya, yang entah kapan saya lupa tanggalnya, berbekal daftar nama dan bertanya alamat, saya bermaksud melakukan studi kelayakan mitra (SKM) di salah satu kuli ikan gesek (olahan ikan asin maupun tawar). Rumah tersebut tidak sulit untuk ditemukan. Diawali dengan perkenalan lalu dilanjutkan dengan penjelasan tujuan, setelah bermenit-menit berbincang akhirnya ibu muda dua anak tersebut memahami maksud kunjungan saya. Pendekatan dengan kuli memang harus berbeda dan butuh waktu yang lebih lama. “Pinjaman modal”, itu yang ditangkap pikirannya.

“Bagaimana Bu, bersedia gabung dengan program kita untuk berwirausaha? Ini kesempatan loh buat ibu….”

“Sebenarnya pengen, tapi usaha apa ya?”

“Ya… yang penting olahan ikan, bisa bakso, nugget, otak-otak, atau apalah yang ibu bisa, kalau tidak bisa, yang penting ada niat wirausaha dulu nanti dari kita ada pelatihannya. Silakan ibu izin ke suami dulu”

“Iya mbak, takutnya gak diizinin sama suami.”

“Maka dari itu Bu, kalau mau gabung di kita, izin ke suami itu harus. Suami ibu kemana?”

“Lagi ngebenerin perahu mbak, sebentar lagi juga pulang”

“Baiklah saya tunggu”

Sembari menunggu suami ibu tersebut pulang, percakapan menyangkut keseharian kuli didapat, data SKM pun terlengkapi (lumayan meskipun hanya nambah satu calon mitra yang belum jelas juga kesediaannya untuk digabung ke kelompok). Tak hanya itu, percakapan persoalan anak, rumah tangga, pendidikan mengalir dengan sendirinya. “Terkadang, otak pendamping masyarakat memang disiapkan untuk menampung cerita berbagai hal”, itu pikirku.

Setelah obrolan yang dirasa sudah cukup lama, akhirnya datang juga sang suami. Melihat ada orang asing di rumahnya, si bapak berbisik pada istri “itu siapa?”. Saya yang kebetulan mendengar pertanyaan tersebut lalu memperkenalkan diri sekaligus menjelaskan maksud kedatangan saya. Artinya, saya harus rela menjelaskan ulang lagi apa yang telah saya ungkapkan sebelumnya kepada bapak tersebut (*sabarrr). Pesan tersampaikan. Berbagai pertanyaan soal produk, besar pinjaman, angsuran diajukan. Nampaknya tak ada kebingungan dari si bapak, jawaban atas berbagai pertanyaan diterima.

 “Nah, terus begini Pak, ibu minat berwirausaha. Di izinin gak Pak?”

“Memangnya mau wirausaha apa sih bu?” Tanya suami ke istri.

“Ya apa aja, pengin dagangan warung jajanan”

“Aduh bu, jangan warung jajanan, usaha olahan ikan saja ya? Ibu punya ketrampilan mengolah ikan gesek kan?” Saran sekaligus tanyaku.

“Iya”

“Ibu udah punya langganan kerupuk kulit?”

“Punya”

“Nah, itu saja. Usahanya ikan asin, nanti ngejualnya di langgan kerupuk kulit ibu, barangkali langgan ibu itu mau. Kesempatan loh bu, supaya ibu bisa mandiri,  gak nguli lagi. Apa ibu gak mau jadi bos untuk diri sendiri? ayo bu, coba deh wirausaha”. (*tembakan persuasi bertubi-tubi)

“Iya sih mbak, dulu adik saya juga kuli, sekarang sudah usaha ikan gesek sendiri”

“Nah, ibu mau gak nyusul adik jadi bos ikan gesek? Nanti kalau ibu wirausaha sendiri statusnya udah gak kuli lagi loh, berubah jadi bos meskipun hanya untuk diri sendiri”.

***

Singkat cerita, akhirnya ibu tersebut bersedia gabung dengan program. Sampailah pada tahap Latihan Wajib Kelompok (LWK) gabung dengan tujuh orang lainnya. Hari pertama dan kedua lancar. Hari ketiga, sudah dua puluh menit dari kesepakatan jadwal, ada satu orang belum datang. Ibu muda itu, yang beberapa waktu lalu saya kunjungi dirumahnya hampir satu jam untuk SKM dan gembelengan semangat wirausaha, Erilah namanya, dia belum datang. Lalu, salah satu calon mitra lain bersedia menjemputnya.

 

“Ya, dia datang, LWK sepertinya akan lancar hingga akhir”, batinku.

“Maaf mbak, saya gak jadi ikut kelompokan, sudah dipinjami modal sama saudara saya”.

“Iya, gakpapa” (*sambil lemes).

“Mbak, boleh saya minta fotokopi KTP sama KKnya?”

“Insyaallah kapan-kapan saya titipin, atau kalau gak saya antar deh ke rumah ibu”.

Kehilangan satu calon mitra yang telah didapatkan dengan susah payah, rasanya sesuatuu….. Maklumlah, bukan pekerjaan mudah mengajak kuli untuk mau berwirausaha. Apalagi calon mitra tersebut terlihat semangatnya, dia potensial. Benar saja, ketika saya berkunjung ke rumahnya, usaha ikan geseknya sudah dimulai. Itu artinya, empat hari setelah LWK hari terakhir dia sudah tidak lagi berstatus sebagai kuli. Dia mandiri.meskipun usaha olahannya dimulai dari dua puluh kilogram ikan basah, jumlah yang sangat kecil tentunya bila dibanding dengan yang lainnya. Perjuangan kuli yang berubah sebagai bos bagi diri sendiri yang saya sebut sebagai metamorfosis ini tak  mudah. Ibu muda itu harus merasakan rendahnya pendapatan di awal, belum ada keuntungan besar, ya begitulah memulai wirausaha, harus bersedia berjuang. Ditambah lagi, si ibu harus menerima perlakuan sewot dari mantan bos nya karena keluar sebagai kuli ditempatnya. Namun, bukankah hidup adalah pilihan yang harus diperjuangkan?

Begitupun dengan pendamping masyarakat. Motivasi dan persuasi adalah dua bagian kecil dari kegiatan comdev yang harus diperjuangkan. Saya menyadari betul betapa motivasi dan persuasi segigih apapun tidak akan berarti bila tidak ada kesadaran diri dari individu untuk maju. Tapi ketika kesadaran untuk mandiri dan maju sudah tertanam, serta diiringi niat baik dihati, dengan sedikit motivasi dan persuasi, kuli bisa mandiri!

Saatnya metamorfosis hai para kuli, tetap semangat berjuang dan jadilah bos bagi diri sendiri.

{fcomment}

 

 

 

Menjadi mitra MM Dompet Dhuafa adalah jawaban atas do’a-do’a kami

      Pekerjaan bukanlah semata-mata soal profesi melainkan pengabdian. Secara tidak sengaja saya menyempatkan mampir ke warung kecilnya untuk bebelanja makanan cemilan. Saya selalu heran ketika menjumpai warung-warung kecil yang menjajakan makanan jaraknya hampir berdekatan. Selang satu rumah bisa ditemui warung yang hampir menjajakan makanan yang mirip. Perlahan mengingat perkataan ‘rezeki memang sudah di atur dan setiap orang tidak mungkin ketuker rezekinya’.

      Warung itu sangat sederhana, dan sepertinya tidak tampak seperti warung. Hanya ada satu meja dan terpal penutup sebagai atap yang perlahan mulai bolong. Yang mencerminkan sebuah warung adalah adanya aktifitas jual-beli yang saya dapati ketika melewati tempat tersebut. Letaknya persis disamping warung yang permanen dan berjualan barang yang lengkap.

      Pertama saya mengucap salam, memperkenalkan diri, menanyakan keadaan dan bertanya seputar aktifitas jualannya. Namanya Ibu Rumiyati, Ibu satu anak ini berjualan sejak suaminya berhenti bekerja dan tidak berpenghasilan. Sempat mengalami cobaan sakit, semua anggota keluarga dan tidak memiliki uang untuk sekedar membeli beras RASKIN sebagai jatah dari Ketua RT setempat. Sejak itu, jiwanya terguncang, putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.

      Maka sisi keimanan yang menjadi penolongnya, Ibu Rumiyati bercerita, bahwa sejak saat itu beliau sering merutinkan untuk solat tahajud dan menyempatkan solat dhuha sebelum beraktifitas, tentunya setelah solat fardu dikerjakan dengan sempurna 5 waktu. Berjualan menjadi aktifitas pilihanya untuk menjemput rezeki. Walaupun banyak di tentang oleh kelurganya untuk berjualan, karena Ibu Rumiyati berjualan persis di samping warung permanen milik mertuanya. Ibu Rumiyati mensiasati untuk barang yang dijual adalah barang yang tidak ada di warung Ibu mertunya, maka dipilihlan jualan Pop Ice, mie rebus, dan berbagai minuman dingin.

     Saya tawarkan progran Ibu Warung Anak Sehat untuk Alfamart Raya Puspitek, alhamdulillah Ibu Rumiyati berminat karena rumahnya dekat deng lokasi Alfamart. Penolakan datang dari mertuanya, karena khawatir tidak bisa mengembalikan modal. Saya di anggap sebagai marketing dari bank atau koperasi yang menawarkan jasa pinjaman. setelah saya jelaskan kelebihan dari program Ibu Warung Anak Sehat tidak sekedar pinjam uang, maka perlahan mertuanya mengijinkan.

     Penolakan kedua datang dari suaminya, yang belum yakin dengan program IWAS ini. Saya mengundang Ibu Rumiyati pada Pelatihan IWAS selama tiga hari di RST DD, dan alhamdulillah Ibu Rumiyati bersedia hadir plus diantar oleh suaminya. Setelah pelatihan Ibu Rumiyati semakin semangat untuk menjadi Ibu Warung Anak Sehat karena bisa bertemu dengan IWAS yang lain dan berbagi pengalaman. Bahkan Ibu Rumiyati berencana belajar masak dari Ibu Ida (IWAS Alfamart Cabe Raya-penjual lauk mateng) dan minta difasilitasi oleh pendamping. Alhamdulillah setelah pelatihan suaminya juga melunak dan mengijinkan Ibu Rumiyati ikut program IWAS.

     Pada kunjungan ke-2, Ibu Rumiyati berkeyakinan bahwa menjadi mitra di Masyarakat Mandiri dalam program Ibu Warung Anak Sehat Sehat adalah apa yang selama ini ia minta pada Allah SWT. Melalui program ini Ibu Rumiyati ingin maju dan bisa menghidupi kelurganya. Tidak lama berselang ternyata Allah mengabulkan do’a Ibu Rumiyati yang lain, yaitu suaminya sudah mulai bekerja di tempat Loundri.

     Saya menjumpai sedikitnya 3 orang yang merasa bahwa menjadi mitra di MM-Dompet Dhuafa adalah jawaban Allah atas do’a-do’a mereka. Ini adalah langkah kecil yang merupakan bagian dari pengabdian kita untuk membuat orang jadi berdaya. 

Rentenir yang Kian Terpinggir

Kalimat inilah yang sering diucapkan Wasti (50th) dan diiyakan oleh semua anggotanya ketika ia menyampaikan sambutan saat pertemuan rutin kelompok.  “bank keliling alhamdulillah disini udah berkurang, anggota kita sudah tidak ada yang pinjem ke bank keliling, boleh di cek,”. Wasti telah 1 (satu) tahun menahkodai lembaga lokal yang mereka beri nama ISM Sinar Abadi. ISM ini berada di wilayah Kasemen Kota Serang Banten. ISM ini menaungi anggota Nelayan kerang hijau dan pengupas kerang.

Supini sebagai anggota ISM juga mengomentari saat pertemuan berlangsung “buat apa kami pinjem ke rentenir, lebih baik pinjam di koperasi (red; ISM), tanpa bunga, persyaratanpun gampang”. Mereka berharap ISM ini bisa berlegal hukum koperasi nantinya.

Lain lagi Kesih, beliau dengan tegas mengatakan kepada mitra yang lain “ belum ada lembaga keuangan seperti ini, yang mengajarkan kami menabung dan berinfaq, Kami bisa menabung dan mengambilnya saat kami butuh, jika ada rezeki lebih, kami berinfaq semampunya

Ada lagi Nasra, beliau sebelumnya memiliki bagan di laut hanya 1 unit dan itupun ukurannya kecil, “kini saya punya 2 bagan, tabungan yang saya simpan di koperasi nanti mau saya buatkan 1 bagan lagi”. Cetusnya optimis

Ditambah lagi Lalang yang kesehariannya hanya memperoleh upah dari merebus kerang, ia tak menyangka bisa mendapat tambahan penghasilan dari bagan yang ia kelola, bagan tersebut ia peroleh dari pembiayaan di ISM “saya bersyukur sekali” katanya haru.

Itulah apresiasi kebahagiaan yang mereka utarakan saat program pemberdayaan hampir berakhir, banyak manfaat yang mereka dapatkan. Mulai dari penghasilannya nambah, fasilitas pembiayaan yang mudah di akses, sampai rentenir yang mulai terpinggirkan.

{fcomment}

Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut ke Pantai

      Bekerja dan Mendampingi masyarakat bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, dimana sebelumnya saya belum pernah bekerja dibidang pemberdayaan masyarakat, apalagi mendampingi di daerah yang sebagian penduduknya masih mempertahankan budaya dengan karakter watak manusia yang agak keras serta agak sulit bagi saya untuk mengubah pola pikirnya,  akan tetapi hal inilah yang mendorong keinginan saya untuk bersedia mendampingi masyarakat.

      Seiring berjalannya waktu, program rumput laut telah berjalan di Bantaeng, ada 5 kelompok yang telah kami bentuk dengan jumlah mitra 40 orang mitra, walau sedikit mitra namun ada banyak tantangan yang dihadapi selama mendampingi masyarakat, salah satu dari tantangan itu adalah perubahan pola pikir masyarakat dan masih kentalnya budaya yang melanggar hukum islam, pernah salah satu mitra berkata kepada saya bahwa “karakter dan sifat orang bantaeng memang keras pak, janganlah bapak mau seenaknya datang merubah pola pikir dan budaya yang sudah tanamkan oleh nenek moyang kami, Bapak orang baru kemarin datang kesini”.   Waktu itu sempat saya berpikir, mengapa saya harus bersusah-susah untuk mengubah karakter manusia yang tak mau di ubah, padahal niat saya tulus membantu mereka, inikah tantangan itu? Beginikah susahnya mencari nafkah di pemberdayaan?

      Tapi tidak sampai disini harapan itu, ada kakek tua melayangkan kalimatnya kepadaku “Sekali Layar Terkembang, Pantang Biduk Surut ke Pantai”, inilah kalimat yang senantiasa menyemangati hari-hari dilokasi dampingan, Alhamdulillah, sekarang para mitra telah terubah pola pikirnya yang dibuktikan oleh telah berjalannya beberapa unit usaha dan bertambahnya penghasilan para mitra yang telah mengikuti Program Klaster Rumput Laut di Bantaeng.

{fcomment}

Rejeki Tak Disangka

     Selasa, 16 April 2013, Parni Hadi Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa beserta Manager Program Pengembangan Ekonomi  Tendi Satrio mengunjungi mitra Masyarakat Mandiri di Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Kondisi jalan yang rusak menuju lokasi tidak menjadi halangan dalam kunjungan tersebut. Sekitar pukul 15.30 WIB rombongan sampai di lokasi. Di sebuah rumah yang sangat sederhana milik salah satu mitra kunjungan itu dilaksanakan. Di Desa Singonegoro ini terdapat 20 mitra Program Masyarakat Mandiri yang menjalankan usaha pembuatan keset kain perca.

     Acara berjalan biasa seperti saat dilaksanakan pertemuan kelompok. Dimulai dengan pembukaan, ikrar mitra, membaca Al-Quran dan kultum yang semuanya dilaksanakan secara mandiri oleh mitra. Parni Hadi sangat mengapresiasi apa yang sudah dilaksanakan oleh mitra. “Dua Jempol untuk ibu-ibu sekalian”, ucapnya. Hal ini didasari atas kemandirian ibu-ibu dalam kegiatan kelompok. Ini menunjukkan bahwa Program Masyarakat Mandiri tidak hanya meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat dhuafa, tetapi juga ada peningkatan secara kapasitas sosial yang kemudian beliau sebut ini sebagai manfaat berkelompok. Kemudian beliau juga menanyakan kondisi usaha dan kesulitan yang dihadapi. Di sinilah kemudian terjadi dialog yang sangat cair sehingga suasana menjadi bertambah akrab. Terkait permasalahan yang dihadapi mitra, langsung dikoordinasikan dengan pendamping program dan pengurus ISM untuk kemudian bisa difasilitasi.

    Cerita ternyata tidak berhenti sampai kunjungan tersebut saja. Pengalaman yang berkesan bagi Parni Hadi, kemudian diceritakan secara luas melalui tulisan di majalah Swaracinta sehingga menimbulkan rasa empati dari pembaca. Dari tulisan itu pula, seorang bernama Corry Iriani bersedia menjadi donator dengan menyumbangkan uang tunai sejumlah dua juta rupiah. Uang ini kemudian dibelikan dua unit mesin jahit dan telah diserahkan kepada kelompok mandiri di Desa Singonegoro tersebut. Mitra merasa sangat bersyukur dan berterima kasih atas apresiasi dari berbagai pihak. Mudah-mudahan mesin jahit pemberian donator bisa dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produksi keset kain perca yang sudah berjalan.

{fcomment}

Mimpi Seorang Perempuan Pulau Pasaran

     Ada hal yang menarik di program penguatan kelembagaan Pulau Pasaran ini yaitu dengan adanya 1 kelompok yang benar-benar “baru” yang terdiri dari 5 orang ibu-ibu karena kelompok ini terbentuk setelah MM masuk ke wilayah program pada tahun 2010 lalu, dan hampir semua mitra merupakan seorang istri dan juga seorang ibu –extraordinary -,kenapa luar biasa? karena hampir semua anggotanya turut berperan serta sebagai tulang punggung keluarga karena suami-suam mereka yang tidak punya penghasilan tetap. Saya perkenalkan salah satu mitra tersebut Ibu Rolinah namanya, di rumahnya yang sangat sederhana sekali ibu Rolinah hidup bersama dengan suami dan 3 anaknya yang masih sekolah.   Dengan segala keterbatasannya sebagai wanita biasa ia berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari karena suaminya yang memang tidak memiliki penghasilan tetap. 

    Setelah program MM kerjasama dengan BI Lampung hadir ia bergabung bersama dengan 4 rekan rekannya, setelah sebelumnya diadakan  LWK dan sekaligus memberikan penjelasan kepada kelompok bahwa kelompok akan diberikan bantuan modal kerja sebesar Rp 500.000,- untuk membuat dan memunculkan produk makanan ringan berbahan baku teri, dan juga akan ada pertemuan kelompok sebagai sarana bertukar pikiran dan pengetahuan setiap dua pekannya.  Gayung pun bersambut Ibu Rolinah dan teman-teman bersedia bergabung tanpa banyak pertanyaan-pertanyaan dan akhirnya  terbentuk KM MELATI BAHARI yang akan menjadi cikal bakal merek produk turunan pula di masa mendatang.  Produk perdana yang dibuat yaitu berupa teri berbalut tepung yang diberi nama TERI”Kriuk”.   Hingga sekarang sudah 8 jenis produk makanan berbahan baku teri yang telah dibuat.  Awal-awal kesan pendiam dan tidak banyak omong merupakan ciri khas nya, akan tetapi seiring berjalannya waktu dia bertransformasi menjadi mitra yang rajin, ulet, dan aktif bertanya.  Ketika saya tanya Hal tersebut tidak lain karena setiap kali pertemuan rutin saya selalu mendorong agar berani menyampaikan pendapat dan bertanya jika tidak tahu, karena dorongan tersebutlah sekarang ia menjelma menjadi orang yang mulai berani menyampaikan pendapat dan bertanya jika tidak tahu baik kepada Pendamping dan juga kepada stakeholder terkait.

     Selama program berjalan, baik ketika pertemuan pekanan maupun pertemuan personal dengan beliau, Bu Rolinah sangat senang dan bersyukur dengan adanya program ini setidaknya dia mempunyai kegiatan lain yang bisa menambah pengetahuan dengan adanya pelatihan-pelatihan yang diberikan tiap bulan oleh Masayarakat Mandiri dan oleh DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung) serta instansi terkait lainnya dan tentunya sedikit demi sedikit bisa mendapatkan uang tambahan setiap bulannya (bagi hasil usaha) setelah kegiatan berjalan hampir 3 tahun lebih lamanya.  Harapan kedepan sederhana seperti kebanyakan ibu pada umumnya yaitu semoga usaha yang telah dibangun ini dapat terus dilanjutkan hingga kedepannya oleh anak-anaknay kelak dan bisa memberikan manfaat yang terus mengalir bagi masa depan anak dan cucunya.

{fcomment}

 

 

 

Balada Para Janda

      Hari ketiga Ramadhan adalah awal saya memulai tugas sebagai Pendamping Masyarakat Mandiri. Penempatannya adalah di Ujung Timur Pulau Lombok tepatnya di Kampung Nelayan Seruni Mumbul. Seruni Mumbul adalah gabungan dari nama Raja dan Putri. Raja Mumbul dan Putri Seruni. Konon ceritanya, Putri Seruni yang cantik jelita adalah istri dari Raja Sandubaya. Walaupun sudah bersuami tidak menyurutkan niat Raja Mumbul untuk mendapatkan Putri Seruni. Berbagai carapun dilakukan, Membunuh Raja Sandubaya adalah salah satu gagasannya. Suatu hari Raja Mumbul menjebak Raja Sandubaya dengan berpura pura mengajaknya berburu. Di tengah hutan itulah Raja Sandubaya di Kudeta (hehe) dan Akhirnya Raja Sandubaya tewas dan Putri Seruni sekarang berstatus Janda.

      Beberapa hal saya temui di tempat tinggal saya yang baru. Hal baru yang lebih banyak saya amati adalah pada komposisi penduduknya. Yang lebih menarik perhatian saya adalah keberadaan para janda. Setiap kali saya melakukan Study kelayakan mitra ada saja terjaring dua sampai tiga orang janda di setiap RT dan penyebab mereka menjanda adalah bukan semata ditinggal mati tapi tidak sedikit yang ditinggal cerai.

      Di kampung tempat saya bertugas setiap ada yang meninggal dunia maka akan diumumkan lewat corong masjid atau mushola terdekat. Sudah beberapa hari berturut turut dari hasil pengumumam itu kebanyakan warga yang meninggal adalah laki-laki, alias bapak-bapak. Saya akan maklum bahwa dengan meninggalnya mereka tentu saja menambah daftar janda di kampung ini.

     Teringat ceramahnya Almarhum KH. Zainuddin MZ disebutkan bahwa masih banyak orang yang perlu bantuan di sekitar kita “janda-janda tua, orang-orang jompo yang tidak mampu”. Pemilihan kata janda tua, bukan duda, bukan nenek mungkin karena profil seorang janda memperlihatkan sosok yang, maaf, menyedihkan. Tapi, di kampung ini walaupun mereka berstatus janda, produktivitas mereka luar biasa.

      Meskipun di dalam keramaian, tetap ada kesepian di hati para janda itu. Para janda itu telah hidup puluhan tahun bersama suaminya, kehilangan tentu tidaklah mudah bagi mereka. Meskipun tidak semua kenangan adalah indah, kehilangan tetaplah menyakitkan.

      Corong kembali membahana (hehe) mengumumkan warga yang meninggal. Dari cerita yang saya dengar kabarnya yang meninggal adalah salah satu warga yang beberapa tahun terakhir kena stroke akhirnya meninggal. Kejadiannya tiba-tiba, awalnya karena tersedak, lalu kehilangan nafas. Sempat tertolong karena makanan yang menyumbat jalan napasnya berhasil dikeluarkan. Tapi setelah itu napasnya yang sudah kembali akhirnya pergi juga untuk selamanya. Keluarganya sempat histeris dan akhirnya satu janda bertambah lagi di kampung ini.

       Budaya mudahnya jatuh talaq suami terhadap istri di Lombok membuat seorang suami begitu tinggi posisinya. Sering saya lihat suami dzholim sama keluarga. Banyak saya lihat suami tidak memberi nafkah yang layak tapi tidak menyempurnakan ikhtiarnya. Bahkan sudah tidak memberi uang memukul pula. Saya lihat contohnya tidak hanya satu atau dua. Herannya para istri masih saja mau mendampingi lelaki macam begini. Si istri banting tulang, berdagang kesana kemari untuk menghidupi keluarga, sementara suami ongkang-ongkang kaki di rumah sambil merokok pula. Tapi lihatlah ketika tiba-tiba si istri menjanda, gurat kesedihan terus menempel di wajahnya. Maka jangankan suami idola, yang bajinganpun akan ditangisi juga.

{fcomment}

 

 

 

‘Meloncat Selamat’dari Lumpur Panas

Satu di antara ribuan warga Kedung Bendo Sidoarjo ialah Sri Wahyuni (32). Perempuan tiga anak itu mengandalkan penghidupan dari membuat dompet selama 18 tahun bersama Sutoyo suaminya. Bencana lumpur panas turut mengubur kesempatan berusaha yang selama ini ditekuni secara berdikari. Dalam kungkungan psikologi yang rawan, usaha Sri dengan suaminya turut amblas. Citra Tanggulangin yang dikenal pusatnya industri dan belanja tas dan dompet di Surabaya, bahkan nasional ambruk berbulan-bulan. Bencana membuat Tanggulangin sepi dari kunjungan.

Di Tanggulangin ada sekitar 360 show room tas, dompet dan asesoris berbasis kulit/imitasi. Satu showroom bisa melibatkan beberapa perajin. Di luar itu ada para perajin tanpa showroom seperti Sri Wahyuni. Para konsumen tahunya kawasan itu tidak berfungsi lagi karena bencana lumpur. Omset rata-rata perajin pun terjun bebas. “Kami kehilangan pasar, turun 80 %, kami benar-benar menganggur,” kata Sri sembari melem dompet-dompet karyanya.

Saat ditemui, Sri tampak sumringah. Wajahnya menggambarkan keyakinan kuat memandang hari esok. Usahanya telah menggeliat. Perlahan namun pasti pelanggan dari berbagai tempat kembali memborong produknya. Berkebalikan dengan kondisi saat puncak bencana, para pelanggan putus komunikasi. “Saya sempat kehabisan modal setelah ngungsi di Pasar Porong,” tutur Sri.

Dua bulan jadi pengungsi di Pasar Porong, ia dan suaminya membawa 100 lusin dompet yang berhasil diselamatkan dari amukan lumpur, namun hanya laku dua lusin. Itupun keuntungan penjualan habis buat jajan anak-anaknya. “Pulang ngungsi tidak punya modal lagi. Nganggur, makan dikasih sama Pemda. Tapi modal tidak dikasih.”

Rumah tempat berpulang dilahap lumpur yang datangnya tidak pernah disangka seumur hidupnya. Bersyukur Sri bisa menyelamatkan sebagian harta bendanya. Rasa syukur menjelma menjadi kekuatan untuk bertahan dan melawan putus asa. “Dompet Dhuafa Republika lewat MM menawarkan bantuan untuk memulihkan usaha. Sebenarnya sebelum dipinjami sudah jalan meskipun dengan modal mepet dari tabungan,” ungkapnya.

Selama didampingi MM, bersama puluhan mitra lain, Sri Wahyuni juga mendapuk sebuah koperasi yang memiliki ancangan menjadi koperasi yang bisa membantu modal usaha bagi warga atau perajin di daerahnya. Mereka ingin banyak orang menegakkan kembali masa depannya.

Masa-masa penderitaan saat lumpur menghajar Kedung kampungnya Bendo dilewatinya dengan bersusah-payah, sampailah ia dan keluarga menemukan hidupnya kembali. Sri dan keluarga seolah berhasil meloncat selamat menghindari lumpur panas yang datangnya tiba-tiba itu.

{fcomment}

“Lektop” Buat Yuyun

Ini sebuah pencapaian berharga bagi seseorang yang diam di atas sebuah perbukitan yang penuh bebatuan untuk mencapainya. Bupati Bogor memujinya sebagai orang desa di ujung Bogor yang mampu mengalahkan orang-orang kota dalam soal pengabdian dan prestasi. Orang-orang dari berbagai daerah, tak terkecuali sebuah rombongan dari Tanah Rencong menyisihkan waktu belajar pada sosok Yuyun tentang sebuah lembaga perekonomian desa berwujud koperasi.

Yuyun dan semangat mengabdi begitu identik. Sebuah koperasi serba usaha di Desa Buanajaya Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor besar di tangannya. Selama lima tahun lebih ia membidani dan membesarkan untuk kepentingan perekonomian warga desanya. Sifat telaten, selalu semangat dan bertanggung jawab rupanya yang menjadi modal perempuan lulusan SD itu seperti tak kenal lelah mengelola koperasi. Setiap tahun, ia dan timnya selalu mewujudkan pertanggungjawaban publik dengan mengadakan Rapat Akhir Tahun (RAT) Koperasi Serba Usaha Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Buanajaya.

Di tengah giatnya mengawal perjalanan koperasinya, sebuah cobaan menghadang Yuyun. Awal Maret kemarin, isteri Yayan itu diantar Jumali, salah saeorang pengawas koperasi menyebarkan undangan RAT ke sejumlah intansi dan lembaga. Belum sampai di Kantor Dinas Koperasi yang dituju, motor yang dikendarai dipepet sebuah motor yang dikendarai secara sembrono oleh seorang anak muda. Motor Jumali dan yuyun oleng tak terkendali. Sebuah mobil container berjalan perlahan dari arah berlawanan. Orang-orang di pinggir jalan menyaksikan Jumali dan Yuyun terpental ke dua arah yang berbeda. Berselang sekian detik kemudian, orang-orang melihat mereka tergeletak di dekat roda besar mobil container.

Orang-orang tak habis pikir. Sebuah keajaiban terjadi di depan mata mereka. Yuyun sadar penuh. Saat ia diangkat dari bawah mobil raksasa itu, Yuyun meminta mereka menolong Jumali yang belum tahu di mana raganya. Orang-orang dibuat takjub bukan buatan. Jumali berjalan tegak seperti tak terjadi sesuatu. Sementara motor yang dikendarainya ringsek mengganjal sebuah roda container. Subhanallah!

Jumali tak cidera sama sekali. Yuyun cedera tulang punggung. Dalam kondisi lemah, perempuan ini masih sempat menghubungi Dinas Koperasi melalui ponselnya untuk memberitahu bahwa dirinya hari itu tak berhasil membawa undangan RAT ke meja dinas.

Bagi Yuyun dan Jumali, itulah cobaan pengabdiannya. Di sela-sela masa pemulihan, Yuyun masih memperhatikan koperasinya yang dijalankan teman-temannya. Dalam kondisi belum bisa berjalan, ia melayani kedatangan sebuah rombongan tamu dari Aceh. Beberapa lembaga Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) dampingan Dompet Dhuafa kerjasama PT Exxon Mobile belajar tentang pengelolaan koperasi. Yuyun bersemangat dan seperti melupakan rasa sakitnya, menjawab berbagai pertanyaan tetamu mengenai bagaimana caranya memajukan lembaga koperasi di desa seperti di Desa Buanajaya. Yuyun ingin berbagi pengalaman sekaligus berbagi energi pada mereka yang belajar padanya.

Tak hanya tetamu dari Tanah Rencong, berapa kalangan dan kelompok banyak datang belajar atau studi banding pada koperasi Yuyun. Di antaranya antaranya sebuah komunitas pedalaman di Sulawesi dan lembaga besar seerti Amanat Ikhtiar Malaysia. Mereka hampir tak bisa menutupi rasa salutnya pada keuletan Yuyun mengawal koperasi yang kini beranggota lebih dari 105 orang dan mayoritas perempuan. Yuyun berhasil mengubah sebuah lembaga sederhana saat didampingi pada sebuah program pemberdayaan di desanya pada rentang tahun 2000 – 2005. Ibu tiga anak ini mampu menjadikan koperasi sebagai pilihan warga dalam pengadaan simpan pinjam dan sembako.

Secara pribadi, Yuyun telah berhasil mengubah nasibnya yang dulu hanya seorang buruh di kebun orang kini bahkan mampu membantu ekonomi warga lain. Sebagai pengurus, Yuyun dan teman-temannya mendorong anggota koperasi aktif dengan berbagai pembinaan. Mereka yang pinjam modal usaha cukup disiplin dalam mengembalikan pinjaman karena sikap percayanya pada pengurus. Kepercayaan ini meluas hingga luar batas Desa Buanajaya, termasuk warga di desa-desa sekitar wilayah Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor.

Ketika usia Koperasi ISM Buanajaya belum genap setahun, sebuah bank syariah pemerintah pusat pernah memberikan kepercayaan bantuan pinjaman untuk modal koperasi. Besar pinjaman tak kurang dari Rp 50 juta yang kini sudah dilunasi berkat kelancaran angsuran pinjaman para anggota. Kepercayaan memang terus dipanen Yuyun dan kawan-kawan.

Tahun ini Koperasi ISM Buanajaya beroleh kepercayaan kembali. Kemajuan koperasi dan keaktifan Yuyun melaporkan perkembangannya mengundang Bupati Bogor Rahmat Yasin memberikan penghargaan cukup prestisius di kalangan pegiat koperasi. Bupati menganugerahi Koperasi ISM Buanajaya sebagai Juara II Koperasi Berprestasi. Koperasi pimpinan Yuyun berdampingan dengan Juara I yang berhasil digondol sebuah koperasi beraset milyaran, selain harus menyisihkan sekitar 1600 unit koperasi lainnya.

Sebuah komputer berlayar LCD menjadi penggenap penghargaan yang diterima Yuyun dan teman-teman. Saking gembiranya, yuyun berbagi kabar ke teman-teman dan lembaga yang pernah membantunya melalui sebuah pesan pendek, “Koperasi saya dapat penghargaan dari bupati jadi koperasi berprestasi No. 2, dikasih seperangkat lektop. Berkat pidua sadayana.”

Karena masih dalam masa pemulihan, Yuyun tak bisa menerima penghargaan langsung dari Bupati Bogor. Jumali, rekan sejawat Yuyun mewakilinya menemui Bupati saat peringatan Hari Koperasi di Cibinong. Jumali menceritakan sejumlah pujian Bupati Bogor pada koperasi yang dipimpin Yuyun. “Tak disangka koperasi berprestasi malah dipegang orang-orang desa di ujung Bogor yang jauh dari kota,” begitu kira-kira di antara ucapan Bupati Rahmat Yasin yang dikutip Jumali.

Tulisan ini dimuat di Majalah Khalifah Edisi Juli 2010. Yuyun dengan Koperasi ISM Buanajaya merupakan mitra dampingan MM tahun 2000-2005.

{fcomment}