Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Kisah Pemberdayaan

Abun, Pelestari Es Kueh di Tepi Zaman

Asbun Alfiali, Mitra Dampingan Program KPMS di Cipinang

Pedagang itu tidak boleh marah, begitu pesan Asbun Alfiali (42). Asbun tak asal ucap. Pria yang karib disapa Abun itu punya dasarnya, termasuk berangkat dari pengalaman pribadinya sewaktu jual es kueh.

Begini ceritanya. Hari itu Abun dagang es kueh di sebelah gerbang sekolah. Beberapa menit setelah bel istirahat dibunyikan, puluhan siswa siswi kontan berhamburan menyerbu dagangan Abun. Abun melayani satu persatu pembelinya.

Usai murid-murid meninggalkan gerobak es Abun, Abun melihat seorang siswa duduk menyendiri. Siswa itu tak membeli es kuehnya. Abun menduganya sedang tak memiliki uang jajan. Spontan Abun menghampirinya seraya memberikan sebuah es kueh gratis. Bocah itu menerimanya dengan senang hati.

Tak sampai lima menit, ibu siswa itu datang. Tiba-tiba si ibu menghampiri Abun dengan langkah tergesa-gesa dan memasang muka judes, lalu memarahinya. Karuan saja Abun bingung.

“Kamu pikir saya ini nggak sanggup beli es daganganmu yang murahan ini, heh?!? Saya tersinggung! Neh, es yang tadi kamu berikan ke anak saya, saya balikin lagi. Makan tuh!” Abun menirukan caci maki ibu itu kepada dirinya. “ibu itu melempar es kueh ke tubuh saya, lalu tangannya menggebrak gerobak es. Saya diam saja, sama sekali tak marah,” lanjut Abun.

Abun memegang petuah lama bahwa pembeli adalah raja, dan kadar kesalahan raja sangat sedikit. Maka, apapun yang dilakukan pembeli (raja) kepada penjualnya, harus diterima dengan lapang dada.

“Meskipun penjual ditendang atau dipukuli oleh pembeli, emosinya tak boleh naik,” Abun menegaskan. Prinsip tersebut yang bertahun-tahun telah dicamkan betul dalam sanubari Abun, sejak mulai menjual es kueh keliling hingga kini menjadi pemilik usaha Es Kuehhh Uenaak Beneerrr Nusa Sari. Prinsip itu juga digetoktularkan kepada sebelas karyawannya yang setiap hari menjajakan es kueh di sekolah-sekolah.

Pria asal Sukabumi, Jawa Barat, itu menyusuri jalan panjang untuk menjadi bos es kueh. Usai menamatkan pendidikan Aliyah di Pesantren Syamsul Ulum, Sukabumi, Abun berkeinginan merantau ke Jakarta, mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu bikin es kueh.

“Untuk ongkos ke Jakarta, saya jadi kuli bangunan dulu,” kenang Abun.

Selama delapan bulan Abun memasarkan es kueh milik kakaknya sambil belajar meracik bahan-bahannya. Setelah menikah dengan Komariah (34), Abun bertekad ingin punya usaha sendiri. Ia membangun usaha bersama istrinya dengan bekal uang pinjaman dan peralatan sewa.

“Awal-awal saya punya tiga karyawan. Sehari, setiap karyawan bisa menjual 300 es kueh. Alhamdulillah…bagi saya, itu sudah luar biasa,” ujarnya.

Usaha Asbun lamat-lamat kian berkembang. Saat pasar memintanya untuk meningkatkan produksi, Asbun malah tak memenuhinya. Maklum, alasan klasik menjadi penghalangnya: kendala modal.

“Saya memang tak terlalu mencari untung dari jualan es kueh. Sejak awal niat saya ingin menolong orang-orang yang nggak punya pekerjaan. Saya sadar, saya lahir dari keluarga kurang mampu dan sering dibantu orang lain,” bebernya.

Abun pernah mendengar adanya Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa (DD). Ia lantas bergabung dengan ISM dan memperoleh bantuan modal. Usahanya pun mendapat stempel Usaha Makanan Jajanan Sehat dan Halal dampingan MM dan DD. Tak sampai setahun, produksi dan pendapatannya dari es kueh sudah mampu menyaingi usaha kakaknya.

Es kueh buatan Abun tersedia dalam empat rasa: melon, duren, stroberi, dan anggur. Harga satuannya cukup terjangkau uang saku anak-anak, Rp. 500.

“Saya jual perbiji ke karyawan Rp. 200. Kalau sama bos es kueh lainnya, saya denger perbijinya dijual Rp. 300-Rp. 400. Biarin saya ngambil untungnya sedikit, asal keluarga saya bisa makan,” cetus ayah dari Neni (14), Fitri (11), Rizky (6), Rasyad (4,5), dan Basith (2).

Selain dagang es kueh, Abun memiliki usaha lain: penyewaan odong-odong. Ia memiliki delapan unit. Mainan anak-anak yang dibuat dan dirakit sendiri itu disewakan kepada remaja putus sekolah yang ingin bekerja.

“Dari dulu saya senang anak-anak. Makanya dua bisnis saya ada kaitannya dengan dunia anak,” tandasnya.

Es Kueh di mata tim redaksi sebuah stasiun TV swasta merupakan jajanan langka. Dulu es jenis itu sempat marak di tahun 80-an. Nah, Abun boleh jadi dianggap sebagai pelestari dari jajanan yang sudah tak banyak lagi orang menjualnya itu. Pantaslah ia menjadi sosok menarik dalam sebuah mata acara berjuluk “Tepi Jaman” di TV One.

Belum lama ini, kesibukan Abun bertambah setelah ia menduduki kursi ketua KPMS (Kelompok Pengusaha Makanan Sehat) dan menjabat wakil ketua Koperasi ISM Cipinang.

“Sekarang aktivitas nambah satu lagi. Saya dipercaya MM untuk mengelola bakso rudal. Dana dan peralatannya sudah disediakan MM. Saya cuma pengelolanya, dengan dibantu satu karyawan. Sistemnya bagi hasil,” ucapnya penuh syukur.
(LHZ)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Jurnal Nasional dan Situs www.eramuslim.com, pada situs ini telah diubahsuai.

{fcomment}

Adi Rusadi, Memilih Berkarya di Desa

Bertahun-tahun mencari penghidupan di kota, akhirnya balik kampung. Dan, Adi Rusadipun memilih berkarya di desa. Bersama teman-temannya, ia mulai mengenal dan menggeluti pengembangan budidaya sereh dan penyulingan minyak sereh wangi.

Mengubah pekerjaan yang digeluti bertahun-tahun bagi sebagian orang tidak mudah. Tapi, itu tampaknya yang ingin dibuktikan oleh Adi Rusadi, seorang petani sereh wangi di Desa Suka Rapih, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan. Pernah ia menjadi pemborong kecil-kecilan di Tangerang. Begitu balik ke desa, ia segera menyesuaikan diri menjadi petani. Ia turut mengolah alam Kuningan yang banyak menawarkan kekayaan yang banyak ditinggalkan warga Kuningan merantau ke kota.

Saat ini, Adi belajar mengenali budi daya sereh wangi yang menghasilkan minyak sereh wangi yang merupakan salah satu jenis minyak Atsiri. di lingkungan Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Wana Rapih, ia memegang posisi sekretaris. Timnya mempercayakan Adi menjadi duta bagi lembaganya untuk mengenalkan keberadaan lembaga dan mengakses pengetahuan dan informasi mengenai Atsiri. Belum lama ini, Adi mengikuti pertemuan rutin Dewan Atsiri Nasional di Bandung.

Mengapa Adi merasa perlu belajar mengenal sereh wangi? Ya, seperti puluhan petani sereh di Suka Rapih, sereh wangi merupakan tanaman yang baru mereka kenal. Mereka hanya menanam padi dan palawija. Adi sendiri menanam padi, kacang tanah, kacang panjang dan ketimun. Sereh baru dikenalkan oleh Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa setahun yang lalu melalui sebuah program pemberdayaan.

Program yang dikawal seorang pendamping itu di antaranya, berupaya menghubungkan warga dengan berbagai pihak. Pihak Perhutanpun memberikan lahan hutan untuk dimanfaatkan sebagai lahan menanam sereh. Di tahap awal, setidaknya 10 hektar lahan kering dipercayakan pada komunitas dampingan Masyarakat Mandiri untuk dikelola. Sebelumnya, lahan kering kurang banyak termanfaatkan kecuali beberapa jenis tanaman yang bisa hidup di tanah kering di sela-sela tanaman hutan. Sedangkan sereh wangi bisa hidup di tanah seperti ini.

“Bagi saya dan teman-teman di sini, ini sebuah tantangan. Menangani budidaya dan pengelolaan kelompok petani sereh harus tekun, sabar, dan kerja keras,” ucap ayah empat anak ini.

Ketekunan dan kerja keras Adi dan anggota komunitas petani memperoleh tambahan tanggung jawab sekaligus tantangan baru lagi. Sebuah griya penyulingan minyak sereh wangi telah didirikan di Desa Suka Rapih. Griya penyulingan ini melengkapi program pemberdayaan yang memiliki konsep terpadu. Warga memperoleh pendampingan, modal budidaya sereh, penguatan kapasitas, dan terakhir media produksi berupa griya penyulingan.

Ade bersyukur sebagaimana warga Suka Rapih. Hari itu, Kamis 4 November 2010 mereka berkumpul. Beberapa pejabat daerah ngariyung dengan warga di sebuah tenda yang terpasang di jalan desa. Di sisi jalan tampak bangunan dua lantai yang di tengah-tengahnya terpasang sebuah tabung besar. Asap mengepul dari sebuah cerobong yang terhubung dengan pembakaran di bawah tabung besar. Hari itu mereka berkumpul, bertasyakuran dan meresmikan sebuah pabrik minyak sereh wangi. Malam sebelumnya, mereka adakan pengajian yang dihadiri tidak sedikit warga Suka Rapih.

Ade mengaku, inilah saat warga seperti dirinya memulai sesuatu yang baru. Warga dulu mengabaikan lahan kering, kini mereka mulai merasakan berkahnya. Dulu, mereka hanya kenal palawija, sekarang mereka telah tanam jenis tanaman bernilai jual lebih. Warga dulu tak mengenal sereh menjadi minyak yang pasarnya mendunia, kini mereka malah punya pabriknya. Karena alasan itu pula, Adi memilih berkarya di desa.

{fcomment}

Agus, Peternak Itik yang Mau Belajar

Lepas tarawih bagi Agus tetap menjadi waktu bermakna. Membuat batu bata menjadi pilihan pekerjaan tambahan saat musim kemarau tiba. Sebab, pagi dan sore ia membesarkan itik-itik yang mempersembahkan telur buat diuangkan. Dari itik, Agus bisa memberi nafkah isteri dan dua putranya. Meski syaum, Agus biasa ‘keluyuran’ mencari makanan untuk itik, seperti eceng gondok yang ternyata bisa menjadi pilihan murah pakan itik. Buat peternak, pakan bebek paling sering menjadi problem tersendiri, terlebih pakan bermerek.

Selama 20 tahun, Agus menggarap lahan sebagai seorang transmigran di Sumatera Selatan. Boleh dibilang, ia terhitung transmigran yang sukses. Pendatang dari Tangerang ini menggeluti pekerjaan bercocok tanam. Karena ketekunannya, aparat setempat memberinya kepercayaan sebagai pengawas setingkat mandor di area transmigrasinya.

Sukses Agus di bidang pertanian membuatnya cukup diperhitungkan. Ia dianggap memiliki pengaruh di lingkungannya. Lembaga dunia Unicef menunjuknya sebagai kader lokal untuk bidang kesehatan anak. Kendati begitu, ia memiliki pengalaman pribadi yang tak membahagiakan tentang kesehatan anak-anaknya. Bahkan, pengalaman itu menjadi goresan yang pedih untuk dikenangkan. Enam anaknya meninggal secara berurutan. “Beberapa anak saya mungkin kena jantung. Tubuhnya membiru,” tuturnya masih merasakan keperihan.

Tiba saatnya, isteri tercinta hamil ke tujuh. Pasangan itu memilih kelahiran si bayi di Tangerang.. Saat ini, jabang bayi telah tumbuh menjadi seorang remaja. Singkat cerita, Agus membawa anak dan isterinya kembali tinggal di tanah trans. Tetapi, tak berapa lama kemudian, bundanya di Suka Diri Tangerang memanggilnya pulang. Sang ayah telah wafat. Agus diminta tak kembali lagi ke Tanah Seberang. “Saya dihadapkan pada dua pilihan, antara harus tetap tinggal di Sumatera atau berbakti pada ibu,” ucapnya bergetar. Mana yang ia pilih?

Agus menentukan pilihan kedua. Dan, yang mencengangkan sanak-kerabatnya, ia meninggalkan hampir semua asetnya di daerah trans. Ia sengaja tak menjual rumah, lahan sampai peralatan mesin pertanian. Agus memutuskan untuk memulai usaha dari nol ketika sampai di kampungnya, Desa Pekayon. Ia mengawalinya dengan usaha ternak itik.

Agus termasuk mitra yang berani mencoba-coba sesuatu yang baru agar maju. Tampaknya, ia sudah terbiasa dengan pola pikir “mau belajar” saat menjadi transmigran. Belajar untuk maju. Ia tak segan-segan bertanya pada ahlinya. Tak malas pula untuk mengeja buku atau media rujukan, khususnya seputar pengembangan itik. Program Klaster Itik Terpadu (KIT) yang dibawa oleh MM menghantarkan Agus menjadi ketua kelompok, yaitu Blok Begog. Satu blok di klaster itik terdiri 15 orang mitra.

MM memberikan pembiayaan 100 ekor itik, kandang dan pakan kepadanya. Tak jauh beda dengan mitra lainnya. Kini ia menambah lagi itik yang harus ia pelihara. Agus tinggal dengan keluarganya di sebuah rumah bilik kecil di Pekayon.

Selain dengan isteri dan seorang anak kandungnya, pria 40 tahun ini juga merawat bocah tiga tahun. Dalam segala keterbatasan ekonomi Agus, bocah itu dipungutnya sejak jabang bayi karena ditinggal mati ibunya. Sementara, ayah bayi meninggalkannya sebatang kara. Si kecilpun kini memanggilnya “Abah”, karena yang ia tahu Aguslah sang ayah.

Bilik-bilik bambu yang jebol di sana-sini menaunginya sehari-hari bersama isteri dan anak-anak. Menaungi gairahnya yang terus ingin maju bersama kawan seiring. Para peternak itik.

{fcomment}

Ali: Pedagang Kecil Harus Bangun Kekuatan

Sepekan sebelum Ramadhan, Ali menanam buah kesabaran. Lapak baksonya di Pasar Ciputat digusur. Pemicunya tak lain kerena Ali menolak kontrak baru yang dibuat mendadak ‘ oleh penguasa keamanan’. Padahal ia sudah bayar uang muka, iuran bulanan, bahkan harian. Sebagai pedagang kecil yang tak punya lapak resmi, Ali memang tak bisa mengelak dari ‘hukum’ yang terjadi di pasar, siapa kuat dia bisa bayar lapak.

Ali memilih berdagang keliling di jalanan sekitar Ciputat. Dari gang ke gang ia tawarkan lezatnya bakso buatannya sendiri. Pantang ia bersandang malu, karena wilayah pasarnya tak lain dekat dengan kampus almamaterya, UIN Jakarta. Sebaliknya ia bangga dengan pilihannya menjadi tukang bakso keliling. “Nggak mau jadi beban negara saja,” ungkapnya tampak serius, sedikit bercanda.

Ali berterus terang, berdagang itu pilihan hidup. Keinginan hidup mandiri, tanpa menjadi beban orang lain, juga beban negara. Bahkan sejak semester dua kuliah di Fakultas Dirasat Islamiyah Jurusan Kajian Keislaman, ia sudah mulai jualan. “Kuliah tak ditanggung orang tua. Dan, saya memang tak mau manja pada orang tua,” kata Ali yang didampingi isterinya yang tengah mengandung calon buah hatinya.

Di semester dua, ia pernah usaha mie ayam dengan temannya. Dari mie ayam ia beralih jualan pecel lele tapi gulung tikar. Di luar jualan makanan, Ali pernah berdagang peci di Masjid Istiqlal tiap hari Jum’at. Selain buat bayar uang kuliah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, berdagang memang ia pilih untuk mengasah jiwa mandiri berusaha.

Manis getir berdagang ia berusaha nikmati. Selain bakso, ia buka warung nasi goreng di belakang Masjid UIN. Pernah Ali harus repot-repot gotongan tabung gas dan berbagai perkakas dari rumah ke tempat usaha. Gara-garanya, ia cuma punya satu unit tabung. Tetapi, Ali tetap semangat karena ia dibantu gotongan oleh isteri tercintanya. Ceritanya, dulu ia punya dua tabung. Seorang teman membutuhkan gas, Ali lantas pinjamkan salah satunya. Namun, karena tak amanah, sang teman malah menjual tabung elpiji yang Ali pinjamkan.

Di rumah petak kontrakannya yang sederhana, Ali menyimpan banyak rencana dan mimpi. Karena ia suka tahu petis, ia berencana jualan tahu petis, sebagaimana halnya ia berjualan bakso dan nasi goreng. Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa menjalankan program Yang Muda Yang Mandiri di antaranya di lingkar Kantor Dompet Dhuafa di Ciputat. Di sini, Ali dipercaya beberapa pedagang menjadi Ketua Kelompok Makmur Mandiri.

“Yang penting bagi saya pada program pemberdayaan semacam ini tak lain ya wahana sosialisasi. Ngumpul-ngumpul. Itung-itung berbagi energi, mengasah sesama pedagang kecil bisa berorganisasi,” paparnya santai.

“Saya punya obsesi dari dulu, bagaimana para pedagang kecil yang sebenarnya gigih namun tersisih ini punya kekuatan,” cerita Ali di ruang tamunya yang sederhana. Di lantai ruang tamu, bertumpuk berbagai buku sosial, sejarah, budaya, agama dan beragam bacaan lainnya. Salah satu sumber sejarah yang menginspirasi obsesinya adalah keberadaan organisasi Sarikat Dagang Islam (SDI) di awal abad 20.

“Persaingan dagang yang dimulai para pedagang Cina di masa kolonial dijawab oleh para pedagang Islam dengan berorganisasi. SDI itu menjadi jawaban pribumi kala itu. Nah, saya punya obsesi bikin koperasi. Ikhtiar pemberdayaan pedagang kecil yang tepat menurut saya ya koperasi ini,” pungkasnya.

Tulisan ini juga dimuat di Lembar Deras Republika (20/8) dan Republika Online (20/8).

{fcomment}

Capek Kucing-kucingan dengan Petugas

Jae, panggilan Jaenal. Pemuda 23 tahun ini menikmati mudanya dengan hidup mandiri, meski harus melewati masa-masa pahit. Benih mandiri disemainya semenjak masa kecil.

Di desanya di daerah Cilacap, Jawa Tengah, Jae menikmati masa sekolah dasar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Sembari belajar, di waktu istirahat Jae berjualan es lilin. Salah seorang gurunya sempat melarangnya dikarenakan pekerjaan berjualan bisa menganggu belajarnya. Tapi, Jae kecil tetap kukuh berjualan es lilin pada teman-temannya.

Kegemaran main jangkrik merangsang ‘otak bisnis’ Si Kecil Jae. Diapun lantas berjualan jangkrik. Tampaknya memang sepele. Tapi itulah yang mengantarkan jiwa Jae terpupuk untuk memilih dunia niaga di fase usia dewasanya.

Di masa remaja, Jae sempat tak karuan hidupnya. Akibat pergaulan, ia suka bolos sekolah. Jadilah, Jae melewatkan pendidikan hanya sampai kelas 2 SMA. Karena tak mau terpuruk dan keterusan berantakan hidupnya, ia memutuskan merantau ke Jakarta tahun 2008.

Jae bekerja pada seorang penjual es tebu. Seringnya ia mangkal di Pasar Minggu, menawarkan kesegaran es tebu pada pelanggan yang mencari minuman segar yang unik. Akan tetapi, kesegaran es tebu tak sebanding dengan nasib usahanya. Bersama pemilik dagangan, Jae harus pontang-panting ‘dikerjain’ petugas Satpol PP. Pedagang dengan motor beroda empat tak punya lapak resmi seperti bosnya tentu dianggap melanggar peraturan.

“Saya ikut capek dikerjain petugas. Dagangan memang laku, tapi harus terus kucing-kucingan dengan Satpol PP,” kenang Jae. Selain itu, ikut kerja pada orang membuatnya merasa tak berkembang. Sudah capek, ia tak menemukan kepuasan batin. Tekad untuk lebih mandiri pun dibulatkan. Tekad inilah yang memicu Jae untuk berhijrah.

Sesudah melewati berbagai ujian, Jae akhirnya menemukan jalan rizkinya. Dengan tabungan yang dimiliki ia membeli sebuah kios kecil di belakang masjid UIN Jakarta di Ciputat. Kebetulan seorang pemilik toko kelontong tak bisa urus kiosnya. Jae membeli isi kios dan meneruskan sewa kios.

Program Yang Muda Yang Mandiri dari Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa memberikan dampingan pada para pemuda yang potensial di lingkar Kantor Dompet Dhuafa sekitar Ciputat. Dari program ini, Jae di antaranya bisa beroleh pembiayaan untuk penambahan modal untuk menambah barang dagangan berupa galon air minum dan beras. Untuk melengkapi kios, ia juga menyewa kulkas untuk display minuman segar pada seorang kawan.

“Pendampingan itu membuat saya banyak teman, memperluas silaturahmi, bisa kenal ora-orang penting. Pendampingan juga bisa saling berbagi pengalaman dan belajar mengembangkan usaha.”

Kios kecil di gang belakang masjid UIN memang tak begitu ramai dibanding took-toko kelontong di pinggir jalan besar. Untuk sementara, penghasilannya masih pas-pasan, “Untuk sementara bisa buat makan saja sudah Alhamdulillah.”

Namun, dari yang kecil itu, Jae memupuk impian dan rencana-rencana. Diam-diam Jae menginginkan kios yang nantinya besar. Menjamurnya mini market membuatnya merenung. ‘Apa iya mereka yang bermodal besar saja yang bisa bikin toko-toko seperti itu?’

“Orang kecil seperti saya juga ingin punya toko sekelas mini market,” ucapnya serius. Jae juga menginginkan kelak bisa mempunyai sebuah toko di kampung halaman sana. Di desanya. Tempat ia pernah memupuk jiwa mandiri kala masih kecil. Kala Jae kecil berjualan es lilin dan jangkrik.

{fcomment}

Dan, Lilikpun Membuat Bangga Ibunya

Catatan Pendamping Blora, Sujad

Seorang ibu dari mitra yang saya dampingi suatu hari curhat tentang anaknya. Lilik namanya. Pemuda pengangguran yang ‘lupa rumah’. “Anak kulo meniko sak derenge mlebet wonten Masyarakat Mandiri penggaweane kluyuran mawon mas, nek saking kidul bablas ngalor, nek saking lor bablas ngidul, nggriyo meniko mong diingeti mawon, ngantos tonggo podo celuluk yen Lilik lewat “Cung, omahmu kene lho, ndak wis lali to?”.

Si ibu menceritakan tentang Lilik anaknya yang sekarang mau bergabung dalam kelompok dampingan Masyarakat Mandiri (MM). Sebelum bergabung dengan kelompok, pekerjaannya keluyuran. Rumah orang tuanya cuma dilihat saja. Tetangga suka menyeletuk, “Nak, itu rumahmu, masak lupa?”

Si ibu merasa bersyukur, anaknya tidak suka keluyuran lagi. Ia ingat masa Lilik masih menganggur. Bila pulang ke rumah paling cuma tidur di kamar, siangnya sudah tidak tahu kemana pergilnya Lilik. Sampai tidak bisa dipegang ekornya,” ucap perempuan itu sembari membuat perumpaan. Pekerjaannyam siang nongkrong di warung kopi dengan teman-temannya. Untuk membeli kopipun, ia masih menengadah pada orang tuanya yang membikin ibunya kadang pusing memikirkanya.

Pernah anaknya kerja dibengkel, tapi tidak bertahan lama. Pindah kerja di tempat lain, tak betah, menganggur lagi. Sebagai orang tua, ibu kadang khawatir, bagaimana kalau menikah, apa ada gadis yang mau pada lelaki tak bepekerjaan.

Tapi ibu itu bersyukur, ada sisi lain yang patut dibanggakan pada diri Lilik. Anaknya punya kelebihan bisa memasak, bahkan diakuinya enak masakannya. Saudaranya senang kalau Lilik yang memasak makanan untuk bersama-sama. Mungkin sudah ada bakatnya, pikir ibu. Tampaknya ibunya tidak salah dalam melihat potensi putranya. Lilik kini bergabung bersama teman-temannya dalam kelompok usaha pembuatan kerupuk rambak bernama Kelompok Mandiri (KM) Mathoa di Desa Brumbung Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Tak hanya senang karena anaknya telah memiliki kegiatan dalam kelompok dampingan binaan Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa ini, ibunya senang karena Lilik banyak di rumah. Bersama kelompoknya, produksi kerupuk rambak di rumah. Kalau produksinya sedikit, mereka bekerja pada pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Kalau pesanan sudah banyak, bisa sampai menjelang Maghrib. KM Mathoa telah mampu memasarkan sekitar 3000 buah krupuk tiap hari.

Lilik potret mitra muda yang sangat bersemangat dalam mengelola produksinya, walau sampai saat ini kelompoknya belum bisa merasakan untung yang berarti. Namun, setidaknya anak-anak muda jadi memiliki kegiatan yang berarti bagi hari-hari dan masa depan mereka. Menariknya, KM Mathoa terbentuk dari seorang pemuda yang prihatin pada nasib teman-temannya. Dia adalah Sugeng Santoso. Seorang sales obat freeland berpenghasilan pas-pasan. Sugeng merangkul teman-temanya untuk membentuk kelompok usaha yang bisa mengangkat perekonomian mereka. Akhirnya terkumpullah enam orang. Lahirlah gagasan mengembangkan usaha kerupuk rambak itu.

Diposting oleh Sujad, Hery

{fcomment}

Gimin, BBM, dan Empati

Kebakaran menghanguskan rumah-rumah di pemukiman padat di kawasan Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Rabu (18/6). Korban tak bisa mengelak dari kerugian pada kejadian hampir rutin di Jakarta itu. Kepedihan makin menumpuk.

Di tengah kesibukannya di penggilingan bakso di Pasar Inpres Cipinang, Gimin hanya bisa menekuri kejadian itu. Ia merasakan sekali betapa para tetangga dan teman-temannya korban kebakaran kian perih. Deraan kenaikan harga BBM belum surut. Pemukian tak jauh dari Pasar Gembrong itu mengguratkan pilu di antara membumbungnya harga-harga segala macam barang dan jasa. Sama pilunya ketika dihadiahi kebijakan Pemerintah yang membuat orang kecil makin susah makan. Sudah pilu, semua lidah jadi kelu. Tak bisa berkata-kata lagi.

”Biarlah semua harga naik, karena BBM naik, asalkan kita masih bisa makan,” itu kata seorang ustadz kesohor di sebuah demo pascakenaikan BBM beberapa pekan yang lewat. Waduh, kata ”kita” itu mewakili siapa? Memang Pak Ustad dengan pakaian putih bersih, kaca mata mahal, ’mustahil’ susah makan. Setidaknya tiga kali sehari, 4 Sehat 5 Sempurna. Tapi, mbokyao bicara itu pakai empati, apalagi disorot wartawan. Rakyat kita, (mad’u-mu, Ya Ustadz!), nyatanya makin susah makan. Pemandangan ini sekadar memperkaya ironisme bangsa kita.

Di panggung demo yang sama, di menit yang berbeda, Gimin, Si Tukang Bakso, juga berorasi. ”Kami pedagang menolak kenaikan BBM ini!” Di matanya, tentu kenaikan BBM bermasalah. Namun, ia juga jeli sebagaimana pengamat yang pandai berwacana. ”Mampu nggak pemerintah memberi subsidi pada usaha gurem seperti kami?!” Logika yang dia kembangkan cukup solutif, sekaligus meragukan , juga menggugat Pemerintahnya.

Di lain hari, penjual bakso dan vegemie di dekat Kampus Empu Tantular itu menuturkan keluhan teman-temannya sesama penjual bakso dan mie ayam. Dengan harga minyak yang bisa mencapai Rp 6.000 – Rp 7.000 di pasaran, membuat mereka tak imbang modal dengan pendapatan. Modal lebih besar, pendapatan sama dengan sebelum kenaikan BBM.

Kalau bakso dinaikkan , para pedagang mikir-mikir, kasihan juga konsumen. Sekarang konsumen bakso dan mie ayam makin turun. Kalau dulu orang beli mie ayam hari ini, besoknya mampu beli lagi. Sekarang belum tentu seperti itu. Jadinya serba salah, kata Sekretaris Koperasi ISM Cipinang itu.”Harga dinaikkan, konsumen kabur. Sebaliknya, kalau tidak dinaikkan, kita yang bisa kalang-kabut.”

Gimin, sosok yang memelihara empati. Tak hanya saat berunjuk rasa. Sehari-hari ketika jualan bakso, ia tetap berempati. Seperti beberapa kawannya, ia tak mengubah patokan harga mengingat daya beli konsumen makin turun. Patokan dia cuma satu, ”Pokoknya konsumen senang.” Selain empati, ia juga punya trik agar pelanggan tak meninggalkannya.

Triknya itu cukup sederhana, dan bisa Anda gunakan. Humor. Ya, cuma humor. Atau setidaknya murah senyum. Bapak empat anak itu memang suka melawak. Katanya, kalau pembeli senang duluan karena disenangkan sang penjual, mereka mau beli berapapun harganya. Boleh jadi, humor tukang bakso ini cerminan rasa empati pada pelanggannya yang bernasib sama: menghadapi keadaan ekonomi yang bikin pengap, sesak. Bisa juga, itulah formula orang kecil untuk tetap bertahan: senyum dan membuat orang lain bahagia.

Dan, silahkan mampir ke warung Bakso dan Vegemie Idola di sebelah Kampus Mpe Tantular Jakarta Timur. Bersiaplah diberi kejutan saat bertemu Mas Gimin ini!

{fcomment}

Haji Udin Bangkit Lagi

Pabrik kecil berupa bangunan papan beratap daun kirai tak seberapa luas, kini hidup lagi. Tepatnya saung konveksi. Mesin-mesin jahit berderet, bekerja siang-malam. Di belakang mesin, beberapa buruh serius menekuni pekerjaannya. Usaha itu menemukan nyawanya lagi sesudah melampaui sekian gelombang naik dan surut. Dulu usaha konveksi itu dirintis dari nol, lalu menjadi besar, tetapi lantas jatuh tak terkira dalamnya.

Belum lama ini, Haji Udin dipercaya sebuah perusahaan kantong buah berskala ekspor. Ia melibatkan bebrapa karyawan untuk memproduksi kantong. Siang hari ia bisa melibatkan 8-10 orang, malamnya ia mengajak lembur 5 orang. Orang-orang desa Rancalabuh, Kecamatan Kemiri Kabupaten Tangerang turut menikmati lapangan pekerjaan yang dibuat Udin.

Saung itu satu-satunya bangunan miliknya. Sebuah rumah saung di sebelahnya telah ia jual kepada orang lain. Ia menjadi saksi terakhir fase kebangkrutannya. Rumah dijual menyusul mesin-mesin jahit yang terlebih dulu dijual. Haji Udin dan keluarganya tinggal di saung konveksi. Keputusan besar itu tak bisa dihindari mengingat ia harus bisa menghidupi keluarganya, sementara usaha mandeg total. Semua itu bermula dari musibah kebakaran di Pasar konveksi Cipulir. Barang turut kebakar, uang tak mungkin terbayarkan. Ditambah kenaikan harga BBM yang menghempaskan banyak pelaku usaha.

Menganggur sempat membuatnya gelisah. Ia mencari-cari harmoni hidup dengan dekat orang-orang shaleh. Udinpun sempat menjauh dari urusan duniawi. Namun, ia menyadari juga harus menghidupi isteri dan empat anaknya. Karena itu ia terus berusaha bangkit mencari jalan keluar. Sebuah pelajaran penting didapatnya dari Munipah, Pendamping Mandiri dari Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa Republika di tahun 2000. Munipah pernah menyampaikan tips tentang kecerdasan hidup yang tak hanya mengandalkan otak dan emosi, namun juga sisi spiritual. Kebahagiaan hidup akan tercapai dengan kerja keras, kerja cerdas, sekaligus menyandarkan segalanya pada Sang Khalik.

”Sungguh, motivasi dari Mbak Munipah itu tak bisa diganti dengan uang. Ini yang membuat saya tak mau berdiam diri,” tuturnya bersemangat. Selain itu ada pelajaran berharga lain yang digalinya kembali, di antaranya membuat neraca keuangan dan proposal usaha. Ilmu memang tak kan lekang dimakan waktu, selagi manusia menghidupkannya.

Dengan modal berapa Haji Udin bisa bangkit?

”Usaha saya berawal dari dua puluh ribu rupiah!” matanya berbinar-binar. Dengan Rp 20 ribu, ia berjualan snack kemasan di sebuah perhelatan kampanye calon bupati di desanya. Beberapa orang juga menitipkan dagangannya. Rizki memang tak bisa disangka datangnya, Haji Udin hari itu bisa mengantongi Rp 500 ribu. Uang sebesar itu dibelikan sebuah mesin jahit. Tawaran produksi kantong buah datang. Beberapa teman turut meminjamkan modal yang mengantarkan Udin jadi bisa memiliki beberapa mesin jahit.

Tampaknya ia seperti mengulang kebangkitannya di masa lalu. Meski ia bergelar haji, ia tak punya harta dan pekerjaan tetap, kecuali guru ngaji. Gelar hajianya diperoleh saat masa remaja diajak orang tuanya berhaji atas fasilitas sebuah BUMN. Saking tak ada penghasilan tetap, istrinya sampai mau minta cerai. Bersyukur, Udin mampu menjaga bahtera keluarga agar tak oleng.

Tahun 2000 program pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa masuk Rancalabuh. Udin awalnya tak percaya dengan tawaran modal mikro tanpa bunga. Namun, ia segera percaya dan bergabung. Ia meminjam Rp 500 ribu untuk berdagang pakaian pas menjelang lebaran. Ia meraup dua juta rupiah yang di antaranya ia bisa membangun rumah biliknya.

Udinpun cepat melunasi pinjaman, dan segera ia memperoleh tambahan pinjaman dengan mekanisme kelompok dampingan. Tak butuh waktu lama, usahanya melesat. Ia membesarkan usaha konveksi dengan beberapa mesin. Nilainya kira-kira Rp 50 juta. Udin juga memiliki sebuah mobil untuk menunjang usahanya.

Begitulah cerita perjuangan Haji Udin. Ia sempat di atas sebelum akhirnya jatuh. Dan, bangkit lagi.

{fcomment}

Hesti: Ini Hadiah Terindah dari Allah

“Islam mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam keadaan sulit dan sempit sekali pun. Kita harus meyakini bahwa Allah tidak pernah dzalim kepada hambanya dan tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan orang yang ditimpa cobaan tersebut.”Demikian pegangan Sri Sugesti (39). Wanita yang akrab dipanggil Hesti ini mengaku pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya.

Bekerja sebagai tukang kredit keliling, Hesti harus berangkat pagi-pagi buta guna mengambil stok barang ke rumah seorang teman yang cukup jauh dari kediamannya. Hesti pun melanjutkan perjalanannya ke kampung-kampung untuk menawarkan barang dagangan milik temannya tersebut. Hesti hanya mengambil untung Rp2000 dari setiap potong pakaian yang laku terjual. Setiap bulan, tidak lebih dari Rp500 ribu yang dikumpulkan Hesti.

Setali tiga uang, Sang suami, Uung (50) yang bekerja sebagai supir angkot juga memiliki penghasilan yang pas-pasan. Penghasilan yang diterima Hesti dan Uung tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Terlebih mereka juga harus membiayai sekolah dua putranya dan membantu pengobatan ibu kandung Hesti, Saini Husniawati yang menderita kanker serviks. Dengansangat terpaksa dan menahan rasa malu, terkadang Hesti dan Uung cari pinjaman sana-sini.

Alhamdulillah, di akhir 2010, Hesti mendapat tawar an untuk menjadi anggota mitra Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa. Hesti pun merasa tertarik, dan tanpa pikir panjang, wanita yang kini menjabat ketua ISM (Ikhtiar Swadaya Mitra) ini langsung menerima tawaran tersebut. Dengan tekun Hesti menjalani masa pelatihan dan penyuluhan yang diberikan oleh tim Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa.

Sekarang Ibu yang tinggal di Desa Jampang Bogor ini telah merasakan hasilnya, ia menjadi salah satu pedagang di Kantin Sehat Zona Madina yang terletak di halaman Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa Jl. Raya Parung- Bogor km 42 Desa Jampang Parung-Bogor. Awalnya Hesti sempat bingung untuk menentukan usaha apa yang akan ditekuninya. Namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya Hesti memilih membuka warung nasi uduk dan pecel lele di kantin tersebut.

Bersama 11 orang mitra Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa lainnya, Hesti membuka warung dari jam 08:00 WIB sampai pukul 17:00 WIB. Menu yang disajikan di warung miliknya pun sangat murah meriah. Cukup merogoh kocek sebesar 10 ribu rupiah kita sudah bisa menikmati nasi uduk, ayam/lele goreng, tahu, tempe, dan lalap sambal. Di samping itu Hesti juga masih menggeluti pekerjaan lamanya. “Mungkin ini hadiah terbesar dari Allah setelah saya mengurus orang tua serta jawaban atas semua do’a dan usaha yang telah saya lakukan,” ucapnya.

“Dengan usaha yang saya tekuni saat ini, besar harap an saya untuk bisa menyekolahkan anak-anak sampai tingkat perguruan tinggi dan yang menjadi cita-cita saya selama ini yaitu pergi haji ke Tanah Suci Mekkah bisa kesampaian,” pungkas Hesti dengan penuh harap.

{fcomment}

Iswanda, Rintis Sereh Wangi Bersama Warga Desa Hutan

Bentangan alam yang elok di mata. Paduan perbukitan dan hutan membentang panjang. Panorama itulah yang tampak ketika kita menjejaki wilayah Timur Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Tak jauh dari perbatasan dengan propinsi Jawa Tengah, terdapat Desa Suka Rapih yang masuk wilayah Kecamatan Cibeureum. Di sana ada dinamika baru, di tanah rawan ketertinggalan itu, warga merintis sesuatu yang sama sekali baru. Para warga menanam sereh wangi di lahan kering hutan.

Iswanda, sosok yang kini dianggap penting lingkungan Desa Suka Rapih. Dia dipercaya warga menjadi Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan. Kelembagaan ini memiliki arti tersendiri bagi upaya pemanfaatan hutan bagi kesejahteraan warga. Tidak seperti di masa lalu, di mana warga tidak dilibatkan dalam pengelolaan hutan.

“Tahun 2006, pemerintah membuat program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Mulanya di sini, di Kabupaten Kuningan ini, dan sekarang telah menjadi program nasional. Masyarakat ikut bertanggung jawab akan hutan, termasuk kelestarian lingkungan. Dengan hutan diharapkan masyarakat bisa sejahtera,” papar Iswanda bersemangat.

Menurut Iswanda, para petani bekerjasama dengan Perhutani memanfaatkan lahan kering. Masyarakat juga bisa menanam berbagai macam tanaman produktif seperti padi, singkong dan jagung di lahan hutan. “70% warga mengandalkan mata pencaharian dari hutan,” ungkap ayah tiga anak ini.

Meski di pinggir hutan, masyarakat Desa Suka Rapih umumnya cukup terbuka pada sesuatu yang baru. Iswanda menjadi cerminan watak warga yang terbuka. Orangnya cukup supel dan gamblang dalam menerangkan gagasan-gagasan kebaikan bagi warga.

Ketika Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa membawa program pemberdayaan petani di desanya Iswanda, cukup mudah diterima warga. Setelah melalui survey dan need assessment, program yang paling tepat di desa tersebut tak lain budi daya sereh wangi di lahan kering.

“Program ini sangat diterima masyarakat. Sereh wangi sendiri, kami lihat cukup prospektif. Tantangan orang sini kan, ini sesuatu yang baru. Kami belum punya pengalaman tapi kami mencoba terjun budidaya sereh karena kami tertarik sekali. Selama ini petani di sini umumnya mengembangkan minyak nilam. Bagi kami budidaya dan pengembangan sereh itu benar-benar baru,” jabar Iswanda lagi.

Iswanda dan 70 orang warga menjadi mitra dampingan Masyarakat Mandiri untuk budi daya ini. Pada tahap awal budi daya, sereh wangi mulai ditanam di lahan kering milik Perhutani dengan model tumpang sari, alias ditanam di sela-sela tanaman hutan.

Seorang pendamping ditempatkan di Desa Suka Rapih. Ia mendampingi Iswanda dan kelembagaan yang ada untuk berkembang menjadi lembaga yang lebih produktif. Melalui pendampingan, program pemberdayaan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa mampu menjangkau masyarakat desa hutan yang rawan ketertinggalan seperti di daerah Kuningan.

Tak salah Iswanda dipercaya menjadi garda depan program ini. Ia tampak cukup memiliki visi yang baik bagi warga. Lihatlah pandangannya. “Karena gagasan seperti ini benar-benar baru, pastilah butuh modal tak kecil, tenaga dan manajemen bagus , tak ngawur. Ada aturan mengelola sereh. Sementara prospek sereh diakui dunia, dari minyak, campuran premium, sampai obat-obatan.”

Pendampingan mengajak kelembagaan pimpinan Iswanda memiliki energi untuk tampil sebagai lembaga pengembang sereh wangi dengan melibatkan para petani. Modal lahan telah tersedia, setidaknya 9,6 hektar lahan kering milik perhutani yang bisa digarap enam kelompok. Berarti di sini ada kerjasama dengan Perhutani dalam pemanfaatan lahgan. Dulu, lahan kering bagi warga hampir tak menghasilkan apa-apa. Namun, pilihan tanaman sereh wangi membuat Iswanda dan kawan-kawan menjadi berkah. Karena, sereh akan tumbuh di lahan kering sekalipun.

Didik, Pendamping Mandiri dari MM beruntung bertemu dengan Iswanda. Laki-laki berbadan jangkung itu memiliki potensi yang baik untuk menjadi lokomotif warga mengembangkan budi daya yang benar-benar baru bagi warga Suka Rapih. Ke depan, sebuah pabrik kecil dipersiapkan sebagai alat produksi minyak sereh. Sebuah lahan milik seorang warga disiapkan untuk tempat berdirinya pabrik.

Kepercayaan pendamping pada Iswanda semoga tunai. Pria itu memiliki harapan lurus ke depan. “Syukur-syukur para petani di lahan kering hutan di bawah Perhutani ini nantinya punya lembaga seperti koperasi. Koperasi diharapkan bisa mendekatkan antar warga masyarakat . Lebih dari itu, koperasi yang menaungi para petani sereh itu sendiri bisa maju,” pungkasnya.

{fcomment}