Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Kisah Pemberdayaan

Jumrah: “Saya Jadi Bisa Baca Tulis”

Jumrah, Ketua Ikhtiar Swadaya Mitra Desa Sukawijaya, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi sejak tahun 2004. Isteri Mukri ini cukup teruji dengan berbagai hambatan yang tak jarang datangnya justru dari para mitra anggotanya. Tapi, ia mengaku tak putus asa kalau menghadapi di antaranya kemacetan pembayaran para mitra. Kalau ada setoran macet, Bu Jumrah berusaha menyambangi mitra. Tak kurang-kurang, di rapat induk, pertemuan tiap kelompok mitra, ia juga memberikan dorongan dan terus mengingatkan akan kewajiban angsuran.

Pembiayaan untuk usaha para mitra di Sukawijaya merupakan dana bergulir (revolving fund). Dengan berpegangan pada prinsip dana bergulir, Bu Jumrah tak membiarkan dana macet. ”Tolong usahakan lancar, kalau nggak lancar, kan nanti teman lain nggak bisa pinjam,” begitu ia sering memperingatkan para mitra. Dengan upaya yang keras, hasilnya ada juga yang akhirnya mitra kembali lancar mengangsur. Meski, menurutnya, ada yang gitu-gitu aja. Tak ada perubahan sikap yang berarti dari yang dinasihati. Untuk urusan keaktifan partisipasi dan kedisiplinan kelompok, Bu Jumrah juga suka menanyakan siapa yang tidak hadir di setiap pertemuan induk.

Tantangan yang dihadapi tampaknya tidak ringan. Namun, wanita yang tidak lulus Madrasah Ibtidaiyah itu merasa bersyukur dengan bergabungnya dengan MM, jadi punya banyak teman. Berarti jadi tambah pergaulan dan wawasan. ”Dulu saya nggak bisa baca tulis, alhamdulillah sekarang jadi bisa,” ucap perempuan yang namanya identik dengan prosesi ibadah haji di Mina. Bukan apa-apa, nama Jumrah memang terkait dengan keinginan kedua orang tuanya yang sangat kuat untuk menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Kala itu, Bu Jumrah masih dalam kandungan. Alhamdulillah, sang ayah akhirnya bisa mewujudkan impiannya.

Wanita berumur 45 tahun ini sehari-hari menjalankan usaha pakaian keliling. Ia membawa dagangannya berupa kerudung dan pakaian anak-anak dari kampung ke kampung di sekitar Sukawijaya. Di rumahnya yang sederhana, telah tersedia sebuah mesin jahit. Karena itu, ia pun melayani pesanan pakaian untuk dijahit. Usaha pakaian di daerahnya sangat tergantung dari musim. Kalau musim panen padi, Bu Jumrah turut panen penjualan pakaian. Sebaliknya, saat sawah mengalami paceklik, ia memperoleh pemasukan sekadarnya. Berbeda lagi dengan waktu lebaran tahun tiba. Penghasilannya terbilang cukup lumayan.

Sebagai mitra, Bu Jumrah pernah mendapatkan pembiayaan sebanyak tiga kali sebesar Rp150 ribu, disusul Rp 300 ribu serta Rp 500 ribu. Tiga tahap pembiayaan (skim) ini digunakan untuk mengembangkan usaha berjualan pakaian. Dengan usaha yang dijalankan, ia hanya bisa berharap sanggup menunjang penghasilan suaminya yang menjadi buruh tani sawah. Seperti banyak warga Sukawijaya, Pak Mukri terbilang memperoleh pendapatan sekadarnya dari pekerjaan sebagai buruh di sawah orang lain. Sawah di desa itu memang luas-luas, tapi tak sedikit milik orang luar desa. Hasilnya pun hanya sebagian kecil yang bisa dinikmati orang Sukawijaya, termasuk keluarga Mukri. ”Ya, cukup nggak cukup,” kata Bu Jumrah menggambarkan kondisi ekonominya.

Bersama sang suami, ia kini tengah membesarkan enam anak. Kebanyakan masih membutuhkan biaya sekolah. Menghadapi kebutuhan keluarga, banyak hal pernah dicoba. Suaminya pernah mencoba membuat telur asin, namun peternak bebek di desanya pada macet. Beberapa mitra peternak bebek di Sukawijaya banyak menghadapi masalah dengan telurnya yang kecil-kecil. Itu akibat bibit bebeknya jelek.

Bu Jumrah suka berbagi dengan Pak Mukri, suaminya. Dalam pengelolaan ISM, tak segan-segan ia minta pendapat kalau ada kesulitan. Bahkan Pak Mukri pernah terlibat juga pada pembinaan keagamaan di lingkungan mitra, selain ikut pelatihan yang diadakan oleh MM.

{fcomment}

Ketimbang Berebut Tulang di Seberang

Sebulan sebelumnya, Sutrisno meninggalkan desa. Menuju tanah seberang, Sumatera. Banyak hal yang ia tinggalkan. Di antaranya, tumpukan tugas sebagai bendahara kelompok pembuat gula kelapa di Wora-wari Kebonagung Pacitan. Lebih dari itu, ia tinggalkan anak dan isteri yang tengah hamil tua. Kepergian Sutrisno tak lain rangkaian ritme berulang dalam tembang kegetiran desanya.

“Kami ini kayak manuk. Di mana ada makanan, di situlah kita nemplok. Meski harus mengundi nasib di negeri seberang,” ucap Sutrisno, setengah bangga, setengah getir. Hampir semua orang-orang yang masih bertenaga pernah ke Sumatera, Kalimantan atau bahkan Malaysia. Mereka menjadi buruh perkebunan, perusahaan pemotongan kayu atau tambang emas.

Wora-wari, desa tertinggal peringkat satu di Kecamatan Kebonagung. Tak ada yang disesali petani itu dari ketertinggalan desanya. Sawahnya yang tak seberapa luas belum bisa ditanam akibat mundurnya musim hujan. “Lumayan, beras bisa buat dimakan sendiri. Kadang malah kurang,” ujarnya. Sawah macet, nderes nira juga seret. Akibat panjangnya musim kemarau, nira tak seberapa banyak yang bisa dijadikan gula merah. Trisno sehari paling hanya bisa nderes tiga pohon kelapa. Dalam keadaan normal, sehari seharusnya sampai 15-20 pohon bisa disadap. Dari sekian pohon, sebagian Trisno menyadap nira dengan cara maro. Sepekan sekali niranya buat si empu pohon, sepekan buat dirinya.

Ekonomi lagi seret. Trisno menyambut tawaran seorang agen penyalur tenaga kontrak dari Pacitan untuk kerja di Jambi. Pekerjaan sebagai pemotong kayu menunggunya di sana. Ia lalu berpamitan kepada pendamping, empat bulan ia meninggalkan aktivitas kelompoknya. Tapi, malang tak dapat ditolak. Perusahaan tempatnya menyulap kayu menjadi nasi, ditutup. Pemiliknya kabur. Trisno dan puluhan buruh lainnya hanya bengong dibuatnya. Gajinya yang baru sebulan telah habis untuk membayar utang keberangkatannya dari desa. Iapun pulang ke Jawa ngutang lagi pada penyalur.

Harga dirinya masih menyala. Ia sempat menggagas untuk menuntut keadilan pada perusahaan. Misalkan ia menuntur melalui jalur hukum, tentu perusahaan kalah. Tapi pihak penyalur yang masih tetangga melunakkan niatnya. “Daripada rame-rame di sana, lebih baik ngalah. Ketimbang rebutan balung (tulang) tanpa isi,” tuturnya menirukan si penyalur. Kalau berlama-lama di Jambi, utangnya bisa menumpuk. Iapun memutuskan pulang dengan tangan kosong ke desa bersama 40 orang senasib.

Ia kembali menikmati kegiatannya sebagai petani di sawah dan penderes nira. Sembari menunggui kelahiran anak keduanya, ia menyulam mimpi. Semoga nira di kelapa mengalir lebih deras untuk jaminan masa depan anak-anaknya. “Pokoknya anak-anak harus lebih tinggi sekolahnya dari orang tuanya,” harapnya yakin.

Pengalaman hidup mengajarkannya untuk tetap bertahan dan terus berkembang. Trisno pernah melakoni bakulan, menampung daun cengkeh, jahe, kunir, meski tidak lancar. Juga usaha pemotongan kayu. “Ya begini ini, sekarang balik tani,” ujarnya dengan tawa renyah. Sebagai bendahara Kelompok Mandiri Mekar Sari, ia memiliki tekad mulia. “Jangan sampai ada penyelewengan dana dalam kelompok. Mari, mana yang kurang benar, kita benahi….”

{fcomment}

Khoirul dan Lompatan Petani Kelapa Pacitan

Laki-laki itu jangkung. Tapi ia tak sejangkung pohon kelapa yang dipanjatnya. Dia memanjatnya begitu cepat hingga mencapai rumpun pelepah, lalu mengunduh air nira. Laki-laki lain di desanya juga dikenal sebagai pemanjat kelapa yang cepat. Namun, sayang perbaikan nasib mereka tak secepat ketrampilan mereka menggapai pangkal manggar, tempat air nira berawal.

Laki-laki jangkung itu namanya Khoirul Huda. Perantau dari Lampung berdarah Jawa ini tinggal dan menetap di Pacitan, Jawa Timur. Sampai hari ini, Khoirul masih setia memesrai belasan batang kelapa yang tingginya antara 15 sampai 20 meter. Saban pagi dan sore, ia mengunduh bumbung-bumbung yang telah terisi sadapan nira, sekaligus memasang bumbung-bumbung kosong untuk menampung nira dan diunduh keesokan harinya. Kecepatan memanjatnya mirip beruk pemetik kelapa di tanah kelahirannya, Sumatera. Keterampilan itu ternyata dimiliki juga warga pria lain di Desa Mantren, turun-temurun.

Keterampilan memanjat batang kelapa yang tinggi selalu menggenapi keahlian para petani kelapa yang sekaligus menjadi pembuat gula kelapa di Desa di Mantren. Begitupun warga desa-desa lain di wilayah kelahiran Presiden SBY itu. Secara turun-temurun mereka membuat gula kelapa sampai sekarang. Gula kelapa Pacitan pun dikenal sampai luar wilayah Pacitan. Para produsen makanan berbasis gula kelapa di antaranya mengambil gula dari daerah yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah itu. Sayangnya, potensi kelapa itu tidak otomatis menyokong kesejahteraan warga desa, khususnya petani kelapa.

Petani kelapa tidak menjadi tuan rumah di kampung sendiri. Mereka hanya menyadap nira dan membuat gula, lalu dijual kepada para penampung yang menjadi tuan penentu harga gula. Margin keuntungan yang diperoleh petani seperti Khoirul, praktis tipis. Pemberdayaan petani kelapa oleh Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa beranjak dari sini. Dari masalah posisi tawar para petani kelapa yang rendah.

Selama tiga tahun, dua orang pendamping ditanam di Desa Mantren dan Wora-wari, Kecamatan Kebon Agung. Mereka ‘dipaksa’ hidup bersama komunitas petani desa. Mereka membina, mendampingi, dan mengevaluasi day to day, dengan tujuan program benar-benar membawa manfaat bagi petani. Para pendamping rela naik-turun gunung di wilayah dua desa itu untuk memastikan ikhtiar pemberdayaan yang dibawanya, tak sia-sia. Dan, mereka memastikan, dana sosial yang disalurkan dari Dompet Dhuafa, benar-benar memberdayakan.

Pendampingan membuat para petani kelapa sekaligus menjadi trader kolektif, istilah lokalnya Bakul. Lima tahun lalu sampai hari ini mereka telah berubah status, tak sekadar petani dan pembuat gula biasa, namun mereka menjadi penentu harga gula. Mereka menjadi tuan rumah di kampung sendiri. “Sekarang fokus kita memperbanyak penampung-penampung gula. Gula dari para anggota koperasi dan warga lain pembuat gula. Dengan cara ini, mitra pembuat gula memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan gula. Alhamdulillah, tidak seperti dulu, tipis sekali keuntungan dari tiap kilo gula, ” ungkap Khoirul.

Selain koperasi, Khoirul dan ratusan petani membangun sebuah griya industry gula kelapa pada masa pendampingan Masyarakat Mandiri. Griya ini berfungsi sebagai kantor koperasi, produksi gula, standarisasi mutu gula dan berbagai kegiatan pembuat gula. Kemandirian komunitas ini bukan sekadar teori pemberdayaan. Keyakinan yang berhasil ditumbuhkan pada para kader lokal beriringan dengan berbagai langkah penguatan kapasitas selama masa pendampingan menjadi modal mereka berkembang. Bahkan, Khoirul dan kawan-kawan tengah melakukan lompatan dalam pencapaian kelembagaan yang mereka kelola.

Koperasi ISM Manggarsari, lembaga yang dipimpin Khoirul, menjangkau batas-batas desa dan kecamatan. Koperasi ini menjadi koperasi terbaik kedua di Kabupaten Pacitan, sekaligus dianggap sebagai koperasi yang memiliki anggota aktif para petani, peternak dan usaha mikro. Koperasi ini juga memiliki usaha yang konkret di antaranya trading gula. Di sela-sela momen Pelatihan Gula Semut di Pacitan, Khoirul pada 4 Maret 2010 dipanggil pihak Pemda di Pendopo Kabupaten. Tak disangka-sangka, hari itu ia bertemu Menteri Koperasi dan UKM RI Syarif Hassan. Sang Menteri menyerahkan secara simbolik sejumlah dana hibah bagi koperasi yang dipimpin Khoirul. Dengan dana itu, pemerintah mempercayakan Koperasi ISM Manggarsari mengkoordinir pengembangan gula semut khususnya di wilayah Kecamatan Kebon Agung. Di wilayah ini, potensi kelapa cukup besar selain tenaga terampil para pembuat gula kelapa.

Kebutuhan pasar gula semut menurut Khoirul cukup besar. Dari pelatihan yang pernah diikutinya di Jogja, diperoleh informasi, gula semut yang dihasilkan industri di Jogja kewalahan memenuhi permintaan ekspor. Pacitan prospektif menjadi produsen gula semut untuk memenuhi kebutuhan pasar termasuk untuk dijual ke mancanegara. Gula semut menjadi bagian dari bahan pangan yang dibutuhkan di era pangan organik di berbagai negara.

Khoirul dan kawan-kawan tengah menuai kepercayaan dari kerja keras dan kerja ikhlas pengabdian mereka. Di belakang mereka ada hampir 200 orang menjadi mitra atau anggota koperasi. Mereka terdiri pembuat gula, usaha mikro dan peternak. Karena sokongan semangat dan amanah dari anggota ini juga, Khoirul dan kawan-kawan selalu memiliki energi untuk maju. Dulu mereka sama-sama pada posisi ‘zero’ sebagai petani kelapa biasa. Lompatan yang mereka capai dengan berbagai kepercayaan yang datang sekarang tak lain merupakan hasil kerja keras yang dilandasi jiwa gotong-royong yang masih terawat secara baik selama ini.

{fcomment}

Komariyah, Pengasong Nasi Jagung Memimpin 155 Mitra

Sehari-hari Siti Komariyah mengasong nasi jagung di sekitar Jalan Tol Tanjung Perak, Surabaya. Nasi jagung memang menjadi salah satu makanan khas warga Surabaya. Ia memilih waktu pagi dan sore untuk menjajakan nasi jagung dari rumahnya di Tambak Asri, Krembangan lalu berkeliling. Dari gang ke gang ia menyunggi tampah di atas kepala, sekaligus menggendong tenggok nasi jagung dan lauknya, semua demi keluarga.

Di antara dua waktu menjual nasi, ia masih merasa memiliki waktu dan tenaga lebih. Siang hari ia manfaatkan untuk menjual pakaian kreditan. Profesi yang cukup lama ia jalani sebelum akhirnya ia memilih lebih banyak mengurusi nasi jagung.

Komariyah adalah sosok istri yang taat pada suami meskipun sang suami belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga secara utuh karena sempat kerja serabutan. Di sisi lain, ia seorang ibu yang sangat perhatian terhadap lima anaknya. Di sela kesibukannya sekali waktu, Komariyah menyambangi anaknya ngaji, menyempatkan waktu untuk menanyakan perkembangan anak-anak ke guru ngaji dan wali kelas di sekolah. Tidak heran jika anak pertamanya kemarin mendapat danem tinggi dan dapat masuk sebuah SMK negeri.

Beberapa waktu yang lalu, Komariyah juga menyekolahkan anak yang lain di SMP Muhammadiyah yang terkenal bagus dan mahal. Komariyah yakin dapat membiayainya walaupun dengan mengangsur dan bekerja sambilan sebagai tukang setrika di beberapa tempat.

Tanggungan banyak membuat Komariyah merasa tak punya banyak pilihan. Sering penghasilannya buat makan pun kurang. Sewaktu berjualan pakaian keliling, keuntungan tak jelas. Uang habis entah ke mana karena modalnya tak lain dari ‘belas-kasih’ rentenir. Artinya ada keuntungan banyak buat bayar pinjaman dan bunganya. Belum lagi ada sanak saudara yang suka meminjam uang. Di sisi lain, ia bersyukur bisa memperhatikan sekolah anak-anaknya. Anak yang lulus SMP memperoleh bantuan sebuah lembaga untuk masuk sekokah.

Rasanya baru kemarin ‘sesak ekonomi’ itu dirasakan Komariyah. Ia seperti membuka lembaran baru. Kini, ia lebih fokus berjualan nasi yang dirasa lebih banyak keuntungan yang ia dapat. Namun ia terbatas modal. Di saat ia membutuhkan modal, Program Kelompok Pedagang Makanan Sehat (KPMS) Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa tengah digulirkan di Surabaya. Komariyahpun bergabung.

Program pendampingan KPMS tentu berbasis kelompok dengan penggerak para kader lokal. Dalam proses penentuan kader-kader lokal, tampaklah di antaranya Siti Komariyah. Seorang mitra perempuan yang cukup aktif. Ia dikenal tepat waktu dan suka menyambangi anggota mitra lain yang absen pertemuan kelompok.

Wilayah KPMS menjangkau Kelurahan Bangun Rejo dan Tambak Asri. Untuk mendukung keberlangsungan pendampingan, dibentuklah lembaga local Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM). Banyak pedagang kecil makanan Bangun Rejo terlibat di program ini. Komariyah tinggal ngontrak di Tambak Asri dan belum banyak mitra dampingan di daerah ini. Namun, melewati pemilihan ketua ISM, justru Komariyah yang terpilih. Mereka bersepakat menamai lembaganya dengan nama ISM Makmur Bersama.

Para mitra dampingan mengenal Komariyah sebagai pribadi yang mampu memimpin, berwawasan, dan jujur. Sampai kini, ISM Makmur Bersama menaungi 155 orang mitra dampingan yang memiliki profesi pedagang makanan yang beraneka ragam.

{fcomment}

Kreasi Turunan Teri Para Ibu Hebat

Mereka para ibu hebat. Tak mau tinggal diam karena para suami tak berpenghasilan tetap, mereka membuat mata penghidupan baru. Lima perempuan penghuni Pulau Pasaran Bandar Lampung ini membuat usaha bersama turunan ikan teri. Gagasan produknya terhitung benar-benar baru mengingat selama ini pulau tersebut hanya menghasilkan produk teri untuk dijual.

Rolinah adalah satu di antara mereka berlima. Seperti yang lainnya, Rolinah menjadi tulang punggung keluarga. Rumahnya sangat sederhana, ditinggal Rolinah bersama dengan suami dan tiga anaknya yang masih sekolah. Dengan segala keterbatasannya sebagai wanita biasa ia berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari karena suaminya yang memang tidak memiliki penghasilan tetap.

Setelah masuknya program kerjasama Masyarakat Mandiri dengan Kantor Bank Indonesia Bandar Lampung di Pulau Pasaran, Rolinah bergabung bersama rekan-rekannya. Mereka mengikuti Latihan Wajib Kelompok dan mengikuti penjelasan pendamping bahwa kelompok akan diberikan bantuan modal kerja sebesar Rp 500.000,- untuk membuat dan memunculkan produk makanan ringan berbahan baku teri. Pendamping juga menjelaskan rencana berbagai kegiatan pendampingan yang jalankan.

Gayung pun bersambut Rolinah dan teman-teman bersedia bergabung dan akhirnya terbentuk Kelompok Mandiri Melati Bahari. Rolinah menjajal produk perdananya: teri berbalut tepung. Mereka menyebutnya Teri Kriuk. Teri Pulau Pasaran terkenal gurih. Polesan kriuk para perempuan pulau itu membuat teri makin bercita rasa. Kerjasama tim mendorong kelompok ini mencari gagasan produk-produk baru dan mencoba membuatnya.

Awal-awal saya bertemu, Rolinah ini kesannya pendiam dan tidak banyak omong. Tapi, kini menjadi mitra yang rajin, ulet, dan aktif bertanya. Setiap pendampingan, saya mendorongnya agar berani menyampaikan pendapat dan bertanya jika tidak tahu. Alhamdulillah, Rolinah sekarang cukup aktif, bahkan bila ada yang ingin ia sampaikan kepada Pendamping atau stakeholder terkait. Hingga sekarang Rolinah dan para ibu hebat lainnya menghasilkan delapan jenis produk makanan berbahan baku teri.

“Saya sangat senang dan bersyukur dengan adanya program ini, saya jadi mempunyai kegiatan yang bisa menambah pengetahuan. Ada pelatihan-pelatihan yang diberikan tiap bulan oleh Masyarakat Mandiri dan DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung). Sedikit demi sedikit bisa mendapatkan uang tambahan setiap bulannya dari bagi hasil usaha kelompok,” ungkap Rolinah.

Harapan ke depan sederhana seperti kebanyakan ibu pada umumnya. Semoga usaha yang telah dibangun ini dapat terus dilanjutkan hingga anak-anaknya kelak, pun bisa memberikan manfaat yang terus mengalir bagi masa depan anak dan cucunya.

{fcomment}

Lilis Ijali Sahidah: Berawal Dari Kremes

Usai menamatkan SMEA, Lilis Ijali Sahidah berangkat ke Jakarta dengan satu tujuan: bekerja. Ia menemui kawannya yang sudah lebih dulu kerja di sebuah pabrik ampelas. Kebetulan saat itu ada lowongan untuk bagian quality control. Lilis memasukan surat lamaran. Tak sampai seminggu, ada panggilan interview. Ia diterima.

“Duh…seneng banget bisa kerja. Padahal, kalau saya baca dikoran dan liat ditelevisi, banyak sarjana yang nganggur, sulit cari kerja,” Lilis berceloteh.

Sehari-hari, tugas Lilis memastikan kualitas barang-barang yang akan dibawa keluar (baca dijual) sudah sesuai standar pabrik. Tak jauh dari tempat kerjanya, ada sebuah pabrik kaleng. Saban hari, para karyawan dua pabrik itu kerap bersua. Sesekali, antara gadis dan bujangannya saling bercuri pandang atau ledek-ledekan.

Ketika itu, ada seorang pria bernama Sahrudin yang selalu memperhatikan Lilis. Diam-diam Sahrudin menaruh hati. Rupanya Lilis pun menyambut, meski terkesan masih malu-malu kucing. Jadilah keduanya berkenalan, sering jalan berdua, lalu sepakat memadu kasih. Lilis jadi lebih semangat jika bekerja. Sedikit demi sedikit ia mulai rajin menabung.

“Buat nikah, biar nanti nggak terlalu membebani orang tua,” cetusnya tersenyum.

Singkat cerita, Lilis akhirnya menikah dengan Sahrudin, pria yang usianya lebih tua tujuh tahun. Tak lama kemudian, tempat kerja Lilis bangkrut gara-gara krisis moneter. Selanjutnya Lilis lebih banyak menghabiskan waktunya di kontrakan sembari menanti kelahiran jabang bayi.

Anak pertama Lilis lahir. Sahrudin memberinya nama Fitasari Nurazizah. Sayang, kebahagiaan rumah tangga muda ini harus terganggu dengan tutupnya pabrik kaleng. Sahrudin jadi pengangguran. Mereka makan dengan mengandalkan uang pesangon yang tak cukup sampai setahun. Berkali-kali Sahrudin melamar kerja, hasilnya selalu berujung penolakan.

”Mungkin karena ijazah saya cuma SMP,” Sahrudin angkat bicara.

Setiap hari kebutuhan hidup Lilis terus meningkat. Apalagi Fitasari mulai doyan jajan. Sementara pemasukannya nol. Lilis dan Sahrudin sama-sama nganggur. Lilis kembali bekerja, jadi pelayan warteg. Sahrudin yang bosan melamar kerja, akhirnya jadi marbot masjid. Sedangkan Fitasari, dibawa pulang ke Garut, diasuh neneknya, daripada tinggal di kontrakan tapi tidak diberi susu.

Lama-lama fisik Lilis tak kuat lantaran setiap hari harus kerja dari pagi hingga malam. Ia memilih keluar, kemudian jadi SPG (sales promotion girl) aksesoris di sebuah pusat perbelanjaan. Itu pun tidak bertahan lama.

”Saya capek, kerjanya berdiri terus, takut kaki varises,” Lilis beralasan.

Beberapa hari Lilis menganggur di kontrakannya di daerah Warakas, Jakarta Utara. Seorang tetangga yang memiliki usaha kue brownies, menawarkan pekerjaan sebagai sales. Lilis yang menyadari dirinya pernah belajar ilmu pemasaran sewaktu sekolah, kontan menerima tawaran itu. Ia butuh uang untuk makan dan bayar kontrakan. Apalagi, saat itu ia tengah mengandung anak keduanya.

Usai menjajakan kue brownies ke warung-warung dengan mengendarai sepeda mini, Lilis terkadang mampir ke tempat kakaknya yang punya usaha makanan kremes. Dari situ ia mulai belajar bikin kremes. Ia memperhatikan kakaknya memarut ubi putih sampai halus, lalu menggoreng dan mencampurkan gula merah. Setelah itu, kremes dicetak pakai tutup botol berbentuk bulat.

”Saya lihat kok bikinnya gampang, yah. Kata kakak, keuntungannya juga lumayan,” gumam Lilis.

Di rumah, Lilis mempraktekkan bikin kremes sendiri, dengan modal dari hasil jualan kue brownies. Mula-mula ia membuat satu toples. Isinya 25 biji. Kremes itu dititipkan di warung sebelah kontrakannya. Tak sampai seminggu, ternyata kremes habis terjual. Esok hari, ia bikin dua toples. Satu toples ditaruh di warung sebelah kontrakan, satu toples lagi dititipkan di warung belakang kontrakannya. Semuanya laku.

Hari berikutnya, Lilis memberanikan diri menjajakan kremes sembari memasarkan kue brownies. Rupanya makanan buatan Lilis mendapat respon cukup baik. Permintaan dari pemilik warung kian bertambah. Namun, ia tak sanggup memenuhi permintaan itu lantaran keterbatasan modal. Melalui kelompok dampingan Program Yang Muda Yang Mandiri di Warakas, Lilis memperoleh modal. Lilis menggunakannya buat beli bahan baku dan toples dua losin.

”Sekadang bisa memproduksi 16 toples kremes perminggu. Suami sudah ikut masarin. Alhamdulillah, keuntungan jualan kremes bisa saya kirim ke kampung dan cukup untuk jajan anak kedua saya (Mayafiona Sari),” tukasnya menutup perbincangan. (LHZ)

{fcomment}

Mardiono, Lontong Sayur Pembawa Berkah

Badai moneter 1998 memporakporandakan perekonomian Indonesia. Imbasnya, banyak perusahaan dan pabrik yang mendadak bangkrut. Ratusan karyawan terkena pemutusan hubungan kerja. Mardiono salah satunya. Pria yang sudah tujuh tahun bekerja di perusahaan ekspor impor buah itu, harus kehilangan mata pencahariannya.

“Saat itu saya panik. Saya tidak punya sumber keuangan lain, kecuali mengandalkan gaji bulanan. Ingin buka usaha sendiri, nggak punya kemampuan. Maklum, saya lulusan SMP,” kenang Mardi, panggilan akrabnya.

Mardi menuturkan, Lamini, istrinya, tak bekerja. Sejak Fitriani, anak pertama lahir, Mardi memang memintanya fokus dengan urusan rumah tangga. Mardi sudah pasang badan untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab penuh sebagai kepala keluarga.

Setelah lama jadi pengangguran dengan mengandalkan hidup dari uang pesangon, Mardi mengambil langkah. Ia memulangkan istri dan anaknya ke Cilacap, Jawa Tengah, kampung halamannya.

“Biaya hidup di Jakarta sangat besar. Setiap hari uang belanja dan jajan anak tak cukup lima belas ribu. Kontrakan mesti dibayar tiap bulan. Sedangkan saya nggak punya pemasukan sama sekali. Nah, kalau di kampung, makan pake sayur dari hasil kebun aja udah cukup,” beber Mardi.

Beberapa bulan Mardi di kampung. Namun, lama-lama rupanya bosan juga menganggur. Ia memilih kembali ke Jakarta, tanpa ditemani istri dan anak semata wayangnya. Hanya saja, sebelum berangkat, ia berjanji, dirinya akan berusaha sebulan sekali pulang kampung.

Di ibukota, kehidupan baru mulai ditata. Mardi numpang hidup di tempat kakaknya yang menjual lontong sayur. Saban hari membantu kakaknya. Ia terlibat semenjak bikin lontong, memasak kuah hingga menjualnya. Lambat laun, Mardi jadi paham proses pembuatan lontong sayur.

Kakaknya lantas memberikan pinjaman modal. Mardi bersyukur mendapat kepercayaan itu. Beberapa peralatan dagang lontong sayur sudah disediakan sang kakak.

“Rata-rata peralatannya bekas kakak. Kalau uang pinjaman saya pake buat belanja bahan-bahan, seperti beras, tahu, telor, dan lainnya,” sebut Mardi.

Usai shalat Subuh, Mardi mulai menyiapkan perkakas dagangan. Satu persatu dicek. Tak sampai satu jam, semuanya beres. Mardi lalu mendorong gerobaknya. Tangannya memukul-mukul piring dan sesekali berteriak, “lontong sayur…lontong sayur…” Ia berkeliling dari Bidaracina, Jatinegara hingga Cawang. Menjelang Dhuhur, lelaki kelahiran 1970 itu baru pulang ke kontrakan.

Tak terasa, kurang lebih setahun Mardi menjalani rutinitas tersebut. Setiap hari, dua liter beras yang dibuat jadi tiga puluh lontong laku terjual. Penghasilan bersihnya tiap kali jualan sekira Rp. 30.000-Rp. 40.000. Hati kecilnya berkata, jika uang itu dipakai bersama istri dan anaknya, maka akan terasa keberkahannya. Mardi kemudian memboyong kembali istri dan anaknya ke Jakarta.

Kehadiran Lamini meringankan beban kerja Mardi. Setidaknya, untuk urusan meracik bumbu atau mengolah kuah, Mardi menyerahkan kepada istrinya. Sementara itu, Mardi yang mulai memiliki waktu senggang, berusaha mencari pangkalan lontong sayur yang tepat dan ramai.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ketika itu, Mardi belum juga menemukan tempat dagang yang sreg. Ia malah berjumpa Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Masyarakat Mandiri (MM) Dompet Dhuafa. MM mengajaknya berorganisasi. Beberapa program dijelaskan MM, seperti pendampingan usaha, pelatihan dan bantuan. Mardi tertarik, lalu bergabung. Ia mengikuti setiap acara yang digagas MM. Semangat belajarnya memang tinggi.

“MM memberikan pinjaman modal. Saya langsung pake uang itu untuk beli dandang baru, memperbaiki gerobak, beli velk dan ban luar. Alhamdulillah…gerobak saya jadi seperti baru, deh…” Mardi tersenyum.

Sepertinya gerobak ‘baru’ membawa bertumpuk berkah. Mardi mendapat pangkalan dagang strategis di Jalan MT Haryono, depan Gedung Nindya Karya. Pelanggan setianya orang-orang kantoran. Keuntungan meningkat jadi Rp. 70.000-Rp. 90.000.

“Alhamdulillah…kenaikan pemasukan berbarengan dengan kelahiran anak kedua saya, Rahmat Subekti,” tukasnya.

Tak lama berselang, Mardi dan istrinya dipercaya MM untuk mengelola Gerai Sembako Mandiri (GSM). Dari situlah ia mendapat tempat tinggal gratis dan gaji bulanan. Selain itu, Mardi ditunjuk sebagai bendahara koperasi ISM Bidaracina, binaan MM.

“Pak Mardi orang yang disiplin. Pagi hingga jam 11.00 jualan lontong. Lepas Dhuhur ngurus GSM, gantian sama istrinya. Menjelang tidur, ia rutin menulis pembukuan GSM,” seorang pendamping dari MM, Leni, angkat bicara. (LHZ)

Tulisan ini oleh tim media Dompet Dhuafa pernah dimuat di Harian Jurnal Nasional dan Situs www.eramuslim.com.

{fcomment}

Menyekolahkan Anak dengan Telur Bebek

Di depan rumah, bebek-bebek di kandang menyanyikan lagu rampak. Tiap pagi, beberapa ekor mempersembahkan telur-telur pada tuannya, Muntaha. Lelaki berumur 35 tahun itu memang hobi beternak bebek sejak kecil. ”Makanya, saya tertarik bergabung menjadi mitra ngembangin bebek,” tutur ayah 3 anak itu.

Ia di tahun 2004 bergabung menjadi mitra. Awalnya dimodali 100 ekor bebek usia bebaya. Dua bulan kemudian sudah menampakkan hasil, bertelur. Pada perkembangannya, bebeknya berkurang menjadi 84 ekor, karena mati kena penyakit. ”Alhamdulillah, saya bisa sekolahkan anak. Penghasilan pokok ya dari bebek ini,” ungkapnya sembari mengangkat seekor bebek, untuk dipotret.

Jpreet! Pria itu tersenyum pada bebeknya. Setelah dipotret, ia kembali menaruh bebek di kandang, dan terus bercerita. Setiap tiga hari sekali, ia menjual telur-telur mentah ke tengkulak. Untuk pakan bebek, ia harus menyediakan sebanyak 25 kg dedak untuk sehari, pagi dan sore. Seperti peternak lain, bila musim panen padi tiba, ia bisa berhemat. Bahkan, bebek bertelur lebih cepat dari pada dikurung di kandang. Kalau dikurung, sebulan, Muntaha harus membeli makanan itik bermerek, dedak, ikan petek, atau ikan tembang. Kalau dikurung, penghasilan sebulan dapat mencapai Rp 500 ribu, tapi belum bersih. Sebalinya, kalau dikepar atau diumbar di sawah saat panen padi, Muntaha bisa mengantongi Rp 500 ribu bersih. Karenanya, musim panen padi adalah berkah baginya.

Panen padi di desanya bisa dua kali dalam setahun. Pengaruh ke bebek juga bagus, jadi gemuk. Datangnya musim panen tidak bertahan terus-menerus, membuatnya harus kreatif mencarikan pakan. Caranya dengan menggiring bebek ke rawa. Kalau lagi musim, banyak keong mas yang bisa menjadi santapan bebek. Hanya tubuh bebek lebih kurus dibanding dengan makan gabah di sawah.

Rata-rata, dalam seminggu, Muntaha bisa dua kali menjual telur masing-masing 150 telur sekali jual. Perolehannya Rp 75 ribu sampai Rp 200 ribu seminggunya. Hanya saja, kendala yang paling banyak ditemui peternak itik seperti Muntaha adalah soal pakan. Jika persediaan modal membeli empan (pakan) mepet, berpengaruh juga pada keuangan keluarga.

”Saya bayangkan kalau tiga anak sekolah semua, tentu repot…,” ucap Muntaha setengah menekuri ekonominya. Namun, ia bersyukur dengan kondisi sekarang, ternyata ia bisa menyekolahkan anak sulungnya di SD. Dari penjualan telur, ia juga bisa menghidupi keluarga, selain memberi uang jajan anaknya yang sekolah.

Ia hanya mengandalkan telur? Ternyata tidak. Ia juga seorang petani penggarap sawah. Ia meminta seorang warga pemilik sepetak sawah lalu ia garap, hasilnya di-paro. Memang, hasilnya tak seberapa yang diperoleh Muntaha dari menggarap sawah. Ia telah memiliki pengalaman sebagai buruh tani, sebelum mengembangkan bebek.

Pria itu tersenyum melihat anak laki-laki nomor duanya sedang main-main tanah. ”Anak saya itu belum berani sekolah,” ucapnya dengan wajah yang menyiratkan keinginan kuat agar anak-anaknya tetap bersekolah.

Bebek-bebek di kandang ber-kwek-kwek, seolah turut memberi semangat tuannya.

{fcomment}

Mereka Rela Tidak Digaji

Suyatno ditemani seorang teknisi mesin sejak ba’da Shubuh, Rabu (2/5), bergelut dengan diesel dan penggilngan. Beberapa baskom plastik bahan dan bumbu bakso berjajar di di bangku. Beberapa pelanggan juga mulai antre meja layanan daging yang berjarak semeter dari mesin giling. Ghofar sibuk memotong-potong daging sesuai pesanan.

Dua mitra dampingan juga membantu merapikan sekitar mesin, freezer dan kios bahan. Di kios yang dikontrak berseberangan dengan kios penggilingan itu, tampak Giman yang mulai sibuk melayani pelanggan penggilingan yang tak lain juga tukang bakso. Di kios ukuran 3 x 5 meter itu, penuh tumpukan tepung, mie kering, kecap dan beberapa produk bumbu yang digantung di sisi depan.

Sebuah papan nama kuning bertuliskan Gerai BasoCip Penggilingan dan Bahan Bakso dipampang di depan kios. Dari namanya, tampak jelas, usaha para mitra dampingan MM Dompet Dhuafa itu bergerak pada usaha penggilingan bakso sekaligus penyediaan bahan membuat bakso. Ditilik dari profesi masing-masing, para pengelola penggilingan itu semuanya penjual bakso. Dengan usaha gerai penggilingan bakso, mereka berharap bisa melayani para tukang bakso di sekitar Cipinang yang selama ini harus menggiling daging ke Pasar Mester Jatinegara.

Gairah usaha bersama patut diacungi jempol. Problema keterpurukan akibat kasus formalin, menurut Giman, sedikit banyak membuat mereka menoleh arti pentingnya kebersamaan. Giman mencontohkan seratusan lebih tukang di blok kontrakan padat tak jauh dari petak yang disewanya kini tak sampai separo.

Giman. Dalam diri pria asal Sukoharjo, Jawa Tengah itu, mengalir jiwa kepedulian. ”Mungkin tukang bakso bisa berguyub, lalu maju bersama. Saya yang tua ini, hanya bisa mendorong keguyuban ini. Biarlah teman-teman bisa memetik buahnya kelak,” tutur Giman setahun lewat. Giman memang orangnya total. Tak hanya mendorong terbentuknya usaha bersama. Bapak dua anak itu turut berkeringat untuk tetap berputarnya gerai penggilingan dan kios.

Jam menunjukkan angka delapan. Mata Giman mulai kuyu. Sembari membuat bungkusan-bungkusan garam, ia bercerita, kalau mitra-mitra pengelola gerai dan kios sementara tak ada gaji. Namun, ia dan kawan-kawan sangat yakin bahwa usahanya itu akan semakin berkembang. Sejak dibuka di Maret 2007, omset semakin meningkat. Semakin banyak tukang bakso yang tertarik menggiling dan berbelanja bahan baku di kios.

Delapan orang yang bekerja pekerja, yang semuanya mitra, rela mengurangi jatah tidurnya untuk membantu jalannya gerai. Ada yang sebagai tukang giling, tukang cuci daging, tukang mencatat, bahkan tukang potong ayam. Semua rela tidak dibayar demi kelancaran usaha. Sebut saja Giman sendiri, Gofar, Yatno, Itang, dan empat orang mitra lainnya.

”Ini bakso yang digiling dari Bakso Cip, pengenyalnya juga pakai Karagenan…,” ujar Giman sambil menunjukkan hasil Bakso yang sudah matang dengan memakai pengeras yang aman, yaitu karagenan, yang terbuat dari rumput laut. Gerai, menurut Giman dalam bulan April 2007 saja berani mentargetkan sekitar 50% dari sasaran pelanggan yang dibidik.

Mentari makin meninggi. Optimismisme masih bergayut di kelopak mata Giman yang makin kuyu karena kantuk. Mungkin juga belum sempat sarapan karena lupa atau tak sempat akibat banyak pelanggan. Ternyata benar, Giman belum sarapan, kecuali segelas teh manis.

Hery DK, Achi Hoashi

{fcomment}

Mimpi Besar Orang Desa Pesisir

Bahkan, mereka bangkit, lebih tegak. Dulu warga mendulang rizki hanya bersifat individual. Kini, mereka berusaha bersama-sama, terorganisir, dan memiliki sebuah koperasi syari’ah. Ketuanya seorang perempuan dinamis, yang dari mula pascabencana sudah menunjukkan pengabdiannya. Untuk kemanusiaan, untuk desanya. Dialah Titoh, 34 tahun.

Pada acara Temu Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) – sebuah lembaga lokal hasil pendampingan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa, ia begitu bersemangat mengikuti sesi-sesi pengembangan kapasitas sebagai pengelola ISM. Ia mengaku sempat terharu mendengarkan kisah-kisah bermuatan motivasi dari trainer M. Jamil Azzaini. Titoh lalu merefleksikan dengan liku-likunya meretas lembaga lokal yang mengorganisir warga di desanya, ISM. Ia harus berpeluh dan berolah sabar oleh sebab hambatan luar biasa di depan mata. Ternyata mengajak orang memperbaiki kondisi ekonomi secara babarengan tak segampang membalik uang logam. Warga Desa Legokjawa menjadi korban bencana tsunami. Kebersamaan sebagai sesama korban bencana tak otomatis mengikatkan pada gairah untuk bersama-sama memperbaiki penghidupan. Ada sisi-sisi individualisme yang tak mudah dikikis Titoh dan beberapa mitranya yang juga giat mengajak warga lain bangkit.

Namun, ia menyadari betul ada modal yang musti dipupuk, apalagi kalau bukan ketekunan. Pendamping dari MM Eri Sugiyanto yang ’ditanam’ 1,5 tahun di desanya terus memberi dukungan. ”Kalau Ibu mampu, maju terus.”

Titoh juga menemukan daya dalam dirinya. Dalam tempo hanya beberapa bulan, upaya bersama mitra lain menampakkan hasil. Buah dari tekun. Sebuah koperasi dibentuk, namanya Koperasi Syari’ah ISM Bangkit Bersatu. ”Kalau saya tidak menekuni dari awal, mungkin sudah ambruk. Malah, mungkin tak bisa membuat koperasi. Apalagi ini urusannya dengan masyarakat banyak,” katanya dengan mata berbinar-binar.

Di awal pembentukan lembaga lokal, Titoh kembali mengisahkan, untuk mencari mitra begitu susah. Titoh dan beberapa pengurus ISM Legokjawa sudah mengurusi kantor ISM beserta aset ekonomi traktor, perontok padi dan lain-lain bantuan Dompet Dhuafa. Alat produksi disewakan pada para petani dengan model bagi hasil. Selain, pertanian, lembaga ISM di awal pembentukan juga menggarap mitra nelayan.

Nah, sekarang sudah kelihatan hasil berupa koperasi, orang-orang tampak menyesal, kenapa tidak dari dulu bergabung. Tapi, sekarang sebagian warga ikut menjadi anggota layanan koperasi pimpinannya. Beberapa kelompok di bawah ISM dibentuk menaungi beberapa jenis pekerjaan, seperti petani, nelayan, peternak, dan aneka usaha. Mereka tersebar di empat dusun di wilayah Legokjawa. Peternakan mengembangkan ternak sapi dan kambing. Aneka usaha, para ibu dibimbing untuk mengembangkan komoditas lokal seperti pisang untuk dibuat sale dan keripik berbagai varian.

Titoh suka merendah ketika ditanya tentang jenjang pendidikannya.”Ada yang lucu. Saya pernah bilang ke Pendamping, ini tidak nyambung. Kenapa saya cuma SD, sedangkan Sekretaris Koperasi saja PNS, lalu Bendahara seorang sarjana, malah.”

Pengalaman didampingi, termasuk turut dalam pelatihan, membuat Titoh mampu membangun mimpi lebih besar. Meski hanya berijazah SD, ia yakin dengan mimpinya yang bisa lebih tinggi. Ia ingin koperasinya sanggup menjangkau pasar kecamatan, bahkan kabupaten, di tahun 2012. Mimpi orang desa pesisir ini begitu terukur.

Titoh juga menetapkan syarat untuk mewujudkan mimpinya. Syaratnya ada kasumangatan (spirit) dan dukungan yang lain. Mimpi itu juga bukan buat dirinya seorang, namun teruntuk desanya. Berjaya koperasinya, makmur masyarakatnya, mandiri ekonominya.

{fcomment}