Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Kisah Pemberdayaan

Mursidi: Ini Amanah

Penyebab paceklik udang tak lain adalah limbah yang mencemari laut yang selama ini menjadi ladangnya. Melimpahnya limbah industri secara cepat mampu menyingkirkan populasi udang ke tengah laut. Tentu ini makin menyulitkan para nelayan kecil yang kebanyakan belum memiliki perahu dan peralatan yang memadai.

Namun, rasa prihatin Mursidi cukup terobati dengan perahu yang dimilikinya selama lima tahun belakang. Ia mengambil manfaat dana bergulir dari MM sebesar Rp 500.000,- untuk membeli mesin second seharga Rp 550.000,- . Dengan mesin itu, ia bisa membawa perahu kecilnya ke tengah. Biasanya Mursidi cuma bisa ngoyor, memasang jala di laut dengan bambu-bambu yang dipancang di dasar laut. Jadilah, ia meninggalkan status sebagai “nelayan pinggir”. Dengan perahu itu pula, ia bisa melayani jasa angkut ikan ke Muara Angke, Jakarta Utara.

Kemudian, ayah dua anak ini mengambil pembiayaan lagi dari MM untuk membeli perahu yang lebih besar. Besarannya Rp 2 juta. Perahu lama dijual, lalu Mursidi membeli perahu second (kualitas masih 80 %) dengan nilai Rp 2,5 juta. Dengan perahu berbahan kayu jati itu, Mursidi bisa membuka usaha berupa jasa mengantar para penggemar mancing ikan di Pulau Bidadari. Selain itu, ia bisa mengangkut ke Tempat Pelelangan Ikan di Kamal Jakarta Utara.”Alhamdulillah, pendapatan kami bisa naik, malah lebih dari dua kali dibanding dengan dulu sebelum ambil pembiayaan,” ungkap Ketua Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Muara ini. Manfaat berikutnya tentu bagi keluarga. Dirinya mengaku bisa membangun teras rumah, selain juga menyekolahkan anaknya.

Pembayaranpun sudah impas, baik yang pertama sebesar Rp 500.000,- maupun yang Rp 2 juta. Bahkan pembayaran pertama yang harusnya enam bulan, impas lebih awal dari tenggat waktu, yakni empat bulan.Tak selamanya, Mursidi lempang dalam usaha. Iapun pernah kesandung batu ujian. Wawasan telah terbuka, ia ingin membuka usaha lain di luar nelayan. Peluang itu adalah pengumpulan plastik bekas. Untuk mengawalinya, ia mengambil pembiayaan dari program MM dengan model syirkah, besarnya mencapai Rp 7 juta. Namun, tak disangka-sangka, rekanan usaha yang dipercaya mengurusi operasional usaha, ternyata tak jujur. Rekanan itu disuruhnya membelikan mobil untuk angkutan barang, temyata tak layak pakai. Celakanya lagi, rekanannya menilep barang-barang yang dikumpulkan dlan dijual ke pengumpul lain. Akibatnya, Mursidi belum bisa menutupi sebagian besar pembiayaan ketiga. Tapi, guratan di wajahnya menunjukkan sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa kegagalan adalah sisi lain dari seorang yang mau berusaha. Bahkan, ia tetap bersemangat
dan aktif mengawal ISM.

Banyak sisi positif yang ia nikmati. “Saya dituntut untuk membantu orang lain. Malah, terkadang kita harus mengutamakan pertemuan kelompok mitra, dengan meninggalkan keluarga. Ini amanah,” ungkap Mursidi serius. Mursidi memang cuma lulusan SD, namun ia mengaku suka membaca buku. Ia juga seorang pemuda yang gesit dan bersemangat. Mungkin karena itulah, ia dipercaya para mitra untuk menjadi Ketua ISM dua periode.

{fcomment}

Nenek Halimah Tak Kenal Kata Menyerah

Nenek Halimah namanya. Di usianya yang sepuh, ia masih memiliki lima orang tanggungan keluarga, selain delapan orang cucu. Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang pantang menyerah menghadapi kehidupan yang fana ini. Suaminya sudah tua, dan tidak mampu memberi nafkah untuk keluarga. Samir Fuadi, Pendamping Mandiri dari Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa mengaku bersyukur bisa dekat dengan nenek Halimah. Sehari-harinya, perempuan itu menjalankan usaha Industri Rumah Tangga pembuatan kerupuk ubi atau lebih dikenal dengan Opak.

Samir melihat ada semangat besar sang nenek demi roda perekonomian rumah tangga terus bergulir. Ia adalah mitra dari KM Ingin Jaya di bawah Induk Sumber Rezeki. Dalam kelompok, Nenek Halimah sangat antusias mengikuti program Micro Entreprise Empowerment Program (MEEP) dari Dompet Dhuafa. Pernah suatu ketika, ia menunjukkan kepada pendamping, barang-barang yang sudah dibelikannya untuk keperluan usaha. “Mudah-mudahan jadi berkah untuk keluarga, anak, cucu,” tuturnya lirih.

Belakangan tumbuh ganjalan dalam pikirannya. Ia memikirkan anak bungsunya yang masih menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren di Mudi Mesra, Kabupaten Bireun. Saat ini si bungsu membutuhkan kitab-kitab yang boleh dibilang mahal sesuai dengan jenjang pendidikannya di pesantren. GLah Tujoeh, sudah kelas tujuh, dengan lama pendidikan tujuh tahun.

Nenek Halimah sadar Allah SWT tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya. Kata-kata itu yang selalu tercetus dari bibirnya yang mulai keriput. “Yang Peunteeng, Ibadat Ngoen Hareukat, Haroeh Sabee Na, Ikhtiyeu Wajibon,” ucapnya dengan nada teguh. Yang penting ibadah kepada Allah dan usaha harus selalu ada, dan dalam Islam, berusaha itu wajib.

Dia menyadari bahwa program yang dibawa Samir ini juga anugrah dari Allah untuk dia, anak dan keluarganya. Perolehan dari membuat opak boleh dibilang minim, sementara ia harus memenuhi kebutuhan keluarga yang terlalu besar. Dalam keadaan seperti itu tentu bagi Nenek Halimah, pembiayaan dari MEEP yang didukung PT Arun NGL ini memberikan suatu nilai yang berarti baginya. Ia bisa menambah modal untuk usaha opaknya. Produksi meningkat, Nenek Halimah berharap ada peningkatan pendapatan juga.

Usia tua identik dengan ketidakberdayaan. Melihat etos tak kenal menyerah di balik wajah tua Nenek Halimah, tua bukanlah suatu yang harus diprihatinkan. Tetapi bagaimana kita mencoba bangkit dengan berdo’a kepada Allah dan terus berusaha untuk bangkit dan mendapatkan hari esok yang lebih baik.

Hery D. Kurniawan/Samir Fuadi (Aceh)

{fcomment}

Nikmatnya Berkelompok

Begitu bergabung, ia langsung dipercaya menjadi Ketua Unit ekonomi lembaga lokal ISM yang dibentuk pada bulan yang sama. Sebelumnya Suhadi hanya pedagang kecil. Begitu menjadi mitra ia beralih profesi menjadi peternak itik, profesi jamak di Sepatan. Suhadi memperoleh modal 50 ekor itik. Karena, cepat belajar, Suhadi pun cepat berkembang. Ia bahkan yang menjadi salah satu pelopor usaha telur asin. Mitra umumnya mengembangkan telur segar.

Pengalaman sebagai pedagang, menjadi modal Wadih – panggilan akrab Suhadi, untuk mengembangkan pasar telur asin ISM. Dengan timnya, ia bisa menembus pasar seperti sebuah pabrik sepatu di Tangerang. Lembaganya sanggup mensuplai sedikitnya 4.000 butir telur untuk kebutuhan katering pabrik. Di lembaga lokal Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) dan kelompok, ia mengaku amat menikmati.

“Kalau ada perkembangan baru, selalu kita bahas. Misalnya ada kesulitan anggota, kita bicarakan. Terasa sekali persaudaraannya gitu… nggak dipikirin sendiri aja. Kalau dipikirin sendirian kan pusing,” ungkapnya. Di kelompok, ia menemukan Ikrar Mitra. Suhadi mengaku ikrar itu bagus, mendorong orang untuk terus berusaha. Dampaknya, para mitra rajin datang rapat. Tingkat kehadiran rapat para mitra di kelompoknya memang cukup tinggi, sekitar 80%.

Untuk menjaga tingkat kehadiran, Suhadi bersama kawan-kawannya memiliki cara unik untuk memberi sanksi mereka yang bolos pertemuan. Tidak masuk satu kali, rapat berikutnya disuruh menyumbang kopi. Tidak masuk dua kali rapat, ‘disita’ telur itiknya. “Nggak datang tiga kali… bebek disita!” ujarnya sambil senyum.

Mitra-mitra peternak diakuinya termasuk suka berkumpul. Walaupun dari kecamatan yang beda, kalau sudah ada rapat ISM, tutur ayah dua anak itu, pasti dibelain-belain kumpul sampai malam.

Pengalaman berkelompok, alias berorganisasi membuatnya berubah. Sebelum menjadi mitra MM, banyak tetangga yang bilang ‘buat apa sih kumpul-kumpul bareng?’. Toh, pandangan tetangga akhirnya berubah. Kadang-kadang, untuk berbagi ilmu, tetangga suka bertanya kepadanya tentang masalah bebek. Namanya juga ilmu, katanya, yang diajarkan MM (melalui program pemberdayaan), memang harus disebarkan. “Gini-gini jadi orang terkenal juga… kata tetangga sekarang saya banyak dihubungin orang-orang terkenal dari MM. Dari perusahaan juga, yang mau ngorder telor asin…,” katanya sambil tertawa.

Melalui pendampingan, Suhadi belajar juga tentang pembukuan usaha. Di sisi pribadi, ia memperoleh peningkatan pendapatan dibandingkan saat berdagang. Sebenarnya ia pernah menjadi peternak itik. Karena belum tahu pengaturan keuangannya, Suhadi bangkrut kena tipu. Selebihnya, ia mengaku kini lebih memiliki kebebasan mencipta. Dan, sisi mencipta alias kreatif inilah yang ditunggu-tunggu untuk kemajuan kelompoknya.

Achi Hoashi/Hery DK

{fcomment}

Onteng dan Keberlanjutan

Dalam salah satu cerita tutur Betawi tersebut kisah Si Ayub dari Teluk Naga. Cerita herois bernuansa kepahlawanan lokal di masa Kolonial. Spirit kisah ini diwarisi orang Betawi dalam bentuk nilai-nilai pengabdian dan kepedulian di era kekinian. Tak terkecuali bagi Mursidi “Onteng”. Seorang warga Desa Muara Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.

Dulu lelaki ini berprofesi sebagai nelayan. Tepatnya nelayan pantai utara yang melaut tak jauh dari pantai. Mursidi yang sehari-hari dipanggil Onteng ini menjadi cerminan nelayan kecil pantai utara yang tak mudah menemukan keadaan sejahtera, namun masih terus berharap pada laut. Ia cukup beruntung dengan perahu mungil dengan sebuah motor sederhana yang membawanya melaut ke beberapa kilometer dari arah pantai. Masih banyak warga Muara yang kurang beruntung menjadi nelayan di sekitar muara dan aliran sungai menuju muara. Kesejahteraan bagi mereka bak jauh api dari panggang.

Pemuda belum genap menduduki bangku SD itu termasuk pribadi yang gelisah dengan keadaan warga di desanya. Dari awal ikhtiar pemberdayaan Dompet Dhuafa tahun 2000, Mursidi dikenal sebagai pemuda yang dinamis dan menyukai tantangan. Pendamping Masyarakat Mandiri dengan program pendampingan mengajak warga Muara mencari kader yang akan mengawal ikhtiar pemberdayaan berbasis kelompok. Mursidilah kemudian dipercaya warga lain menjadi tonggak keberlangsungan kelompok dampingan.

Masalah derajat pendidikan formal bukan menjadi masalah untuk memimpin sebuah forum yang menaungi mitra dampingan program Masyarakat Mandiri. Tantangan demi tantangan dalam menjalankan kelembagaan warga memicu Mursidi makin penasaran membesarkan lembaga lokal. Forum kemudian diubah warga Muara menjadi Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Muara. Walhasil beberapa kelompok berhasil dibentuk untuk mengefektifkan program-program pemberdayaan social ekonomi berbasis dana zakat.

Hari ini Onteng memilih memusatkan perhatiannya pada koperasi. Waktu telah membuktikan pengabdian dan kesungguhannya mengawal sebuah koperasi. Tahun 2005 Onteng dan warga membentuk Koperasi ISM Muara. Lembaga berbadan hukum ini menjadi pilihan untuk melanjutkan upaya mendorong kesejahteraan warga.

Pada perkembangannya, kepercayaan warga melebihi jangkauan formal kerja koperasi pimpinannya. Selain warga yang menjadi anggota resmi, tak sedikit warga berinisiatif yang menitipkan dananya untuk dikelola koperasi. Sebuah kepercayaan yang sungguh sulit dibangun tanpa iming-iming apapun, tentu bukan seperti beberapa kasus penipuan yang mengatasnamakan koperasi yang marak belakangan ini.

Kepercayaan orang melampaui status pendidikan formalnya. Orang tak lagi memandang bahwa ia SD saja tak lulus. Buktinya Onteng dipercaya mengajar pada program pemberantasan buta aksara. Merasa masih punya waktu untuk menuntut ilmu, Onteng memilih menyelesaikan Paket B (setara SMP). Diam-diam kini ia memendam cita-cita ingin merengkuh gelar sarjana. Cita-cita ini sepadan dengan keinginannya membesarkan koperasi yang bisa menunjang kesejahteraan warga di Muara.

Kepercayaan pada Mursidi meningkat pada tingkat yang lebih luas. Pada acara Temu Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Nasional III di akhir Juli kemarin, Mursidi dipilih para peserta sebagai Ketua Forum ISM Indonesia, forum lembaga-lembaga ekonomi warga berbasis syariah. Salah satu gagasan yang melatari dibentuknya forum ini adalah konsep keberlanjutan. Dalam ikhtiar pemberdayaan, isu keberlanjutan merupakan inti. Kemandirian komunitas dampingan berarti kesinambungan mata penghidupan dan keberlanjutan upaya pengembangan masyarakat secara terus-menerus melalui wahana lembaga lokal.

Forum ditujukan untuk menjaga semangat para kader lembaga local untuk terus menjaga keberlangsungan ikhtiar pemberdayaan. Karena pada prinsipnya, mereka adalah pelanjut program pendampingan bagi masyarakatnya sendiri. Melalui forum, para kader local diharapkan akan memiliki peluang yang lebih dalam hal pengembangan masing-masing lembaganya, jaringan pasar, dan akses ekonomi di luar wilayah mereka selama ini.

Onteng dipercaya 18 ISM yang hadir pada acara Temu ISM. Maknanya, onteng memikul amanah menghidupkan komunikasi dan kerjasama antar ISM. Namun, lebih dari itu, Onteng juga dipercaya menjadi lokomotif gerbong ISM yang masing-masing memiliki banyak penumpang. Penumpang ini tak hanya anggota ISM, namun juga warga sekitar ISM beraktivitas. Tak sedikit ISM berbentuk koperasi yang memiliki jangkauan luas melampaui batas desa atau kelurahan dan kecamatan, dengan anggota sampai ratusan orang.

Dalam ikhtiar pendayagunaan dana zakat, Onteng adalah representasi keberlanjutan pendayagunaan dana zakat. Ia menjadi symbol orang kecil yang diberdayakan dengan dana zakat tahun 2000-2005. Lima tahun kemudian, ia telah dipercaya menjadi penganyam komunikasi sejumlah 45 ISM yang adalah lembaga-lembaga yang mayoritas dibentuk dalam program-program pemberdayaan berbasis dana zakat.

{fcomment}

Orang Gunung Bikin Cashflow

”Senangnya, saya bisa ketemu orang kampung lain,” ucap Bu Yuyun membuka perbincangan. Baginya, bertemu dengan tetangga di luar kampungnya Cibeureum, bahkan terasa asing. ”Alhamdulillah, dengan menjadi pengurus ISM, saya belajar banyak, lalu jadi kenal banyak orang.”

”Dukanya, kalau ada mitra lain memojokkan saya,” ucapnya datar.

Di mata sebagian mitra, sebagai seorang pengurus ISM, seolah ia punya segalanya. Sosok seperti dirinya tak lain adalah bagian dari proses pembentukan lembaga lokal yang telah berjalan lebih dari lima tahun. Tak bisa dipungkiri, Bu Yuyun termasuk bagian dari orang-orang yang berpeluh. Menyisihkan sebagian waktu untuk lembaga, sembari ’meninggalkan’ rumah dan usahanya. Ketika ditemui, ia sedang mengikuti pertemuan kecil dengan Pendamping Mandiri. Di pangkuannya, si kecil tengah pulas. Suaminya sedang sibuk menyelesaikan urusan dapur, sambil menunggui warungnya. ”Suami saya mah sangat pengertian,” komentar ibu tiga anak itu, singkat.

Bu Yuyun lalu melanjutkan perbincangan. Sebagai pengurus ISM, kata-kata yang memojokkan dari para mitra yang belum mengerti, sudah akrab di telinga. Selalu ia berusaha menjelaskan, kalau kemampuan dirinya terbatas. Tukang nyampein, begitu predikat yang pas, menurutnya. Kalau pendamping pesan begini, ya disampaikan begini. Nah, sebagian mitra bisa salah pemahaman terhadap sesuatu hal. Akan halnya dengan mitra yang mengerti, justru mereka dukung dirinya.

Posisinya sebagai Kepala Unit Mitra Pembiayaan, menuntutnya menguasai banyak hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Sesuatu yang asing baginya, sebagai urang gunung, apa itu bikin proposal, cashflow, segala macam. ”Daripada tidak sama sekali, saya lakukan.” Perkataannya renyah, matanya berbinar. Ada semangat dan ketangguhan tersirat di sana.

Bu Yuyun memang asyik dengan yang dijalaninya. Istilah dia, banyak yang menyenangkan. Lalu, seperti ia berjanji pada diri sendiri, ”Dengan sekuat tenaga, saya ingin banget kembangkan ISM.” Naga-naganya, ucapan itu cermin dari buncahan semangat yang kuat dan ketulusan. Kalau saya tak mampu, biarlah orang lain…, begitu Bu Yuyun merendah. Dalam perjalanan kiprah ISM, tak sedikit juga para tetangga yang belum tergabung sebagai mitra memberinya dukungan. Tentu saja dukungan itu baginya sebagai cambuk guna lebih mempersiapkan diri atau menjaga semangat. Ia merasa banyak belajar dari para Pendamping Mandiri yang tinggal di desanya. Dari mereka, ia mendapat banyak masukan dan nasehat. Yang tadinya tidak mengerti sama sekali jadi tahu. Dari sanalah, lahirnya semangat untuk tetap menjaga perputaran roda ISM.

Terjaganya etos Bu Yuyun tidak lepas juga dari faktor para mitra aktif. Ia mengaku sangat bersyukur, pembayaran di desa Buanajaya cukup lancar. Termasuk induk binaan Bu Yuyun sendiri, Dusun Cibeureum dan Cigulingan. Sebenarnya di lingkungan binaannya, banyak juga mitra yang mundur. Tetapi mereka tidak nunggak, alias mau melunasi pinjaman.

Dia sendiri secara ekonomi juga turut memetik manfaat. Ia bisa membuka usaha warung kelontong ia dirikan bersama suaminya di sebelah kiri rumah. Usaha lain adalah jual beli pisang dari petani. Ia dan suaminya mengambil pisang dari kebun petani, yang dibelinya kontan. Jika barangnya tidak banyak, cukup ia menjual di depan rumah. Para pedagang dari luar kampung menjemput barangnya. Kalau pisangnya banyak, kadang suami memasarkan ke pasar di Serang, Cibarusah. Saking banyaknya, acapkali, tumpukan tandan pisang melebihi bak mobil. Bu Yuyun punya langganan tak tanggung-tanggung, sebanyak 35 petani pemilik kebun pisang yang tiap hari menyuplai pisang. Ia menjualnya setidaknya dua kali dalam seminggu, Selasa dan Jumat.

Terhitung sampai sekarang, ia pernah mendapatkan skim sebanyak tujuh kali. Awalnya dengan bagi hasil untuk pengembangan usaha pisang. Sebelum bergabung sebagai mitra, usahanya bukannya berkembang, ia mengaku malah sering terlibat utang. Malah harus menjual barang-barang untuk menutup utang. ”Kenapa dulu hampir bangkrut?” sebuah pertanyaan pada diri sendiri yang memantiknya mengambil pelajaran. Kebangkrutan justru karena dirinya seperti banyak warga sekitar yang tergoda jasa bank keliling. Pinjam Rp 100 ribu dapat Rp 80 ribu, padahal belum tentu modal balik. Penyebab bangkrut lain karena tak adanya pengalaman tentang usaha. Begitu menjadi mitra, Bu Yuyun jadi tahu bagaimana mengelola usaha, uang bergulir lancar, mampu memperhitungkan segala macam. Dulunya, jatuh bangun dengan modal bank keliling. Ia pun menyayangkan sebagian mitra yang telah mundur justru memilih kembali bank keliling.

Di luar dua usaha utama, Bu Yuyun dan suami memiliki usaha tambahan. Sebagaian warga Cibeureum membuat gula terbuat dari nira. Terkadang ia menerapkan model barter. Kalau ada tetangga tak punya uang, hendak membeli kebutuhan harian yang bisa diperoleh dari warung Bu Yuyun, gula merah si tetangga jadi alat tukar. Bu Yuyun juga membeli biji kopi atau cengkeh untuk kemudian dijual. Dari jual beli dua jenis komoditas itu, ia mendapatkan untung lumayan besar.

Bu Yuyun seperti berkaca pada masa lalu. Ia ingat di masa-masa susah. Mendengarkan siaran radio di rumah bilik berbentuk panggung itu. Di radio, orang kota sering digambarkan gampang sekali menabung. Gimana usahanya, ya? Pikirnya. Boro-boro menabung, asas gali lubang tutup lubang tak bisa dihindari. Sekarang, ia bisa mewujudkan apa yang bisa ’dilakukan’ orang kota. Ternyata menabung itu tidak usah punya usaha banyak-banyak atau ada pekerjaan tetap. ”Tapi memang harus menyisihkan uang untuk masa depan kita. Alhamdulillah bisa beli teve, bayar KWH, segala macam,” ucapnya dengan mata berbinar.

Eh ya, Bu Yuyun kini suka juga lho berpidato. Ya, setidaknya di forum-forum kecil yang diadakan di lingkungan lembaga ISM yang terus dikawalnya. Sukses deh!

{fcomment}

Sukhayati: Potret Jernih di Kawasan Remang-Remang

Di Surabaya ada Gang Dolly. Tak perlu dijelaskan, orang pastilah mengenal daerah apa ini. Selain Dolly, ada Bangun Sari. Tak perlu pula dijelaskan daerah apa ini. Kata kunci memasuki daerah ini adalah kata wisma. Kata ini popular untuk menyebut tempat karaoke dan panti pijat remang-remang. Suasana ‘remang’ bisa ditangkap dari tampilan ibu-ibu atau mbak-mbak yang pada duduk depan wisma, berdadan menor, sembari menghisap rokok.

Melihat daerah ini pasti kita akan menuntun kita pada satu persepsi yang sama. Daerah pelacuran. Wajar. Sepuluh tahun lalu, Bangun Sari dan Bangun Rejo sempat menjadi arena prostitusi kondang dan termasuk terbesar di Surabaya. Namun Bangun Rejo lebih dulu bersih dari praktik prostitusi. Banyak warga di daerah ini menjadi mitra dampingan program pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Dompet Dhuafa. Lebih dari 150 orang rata-rata perempuan pelaku usaha mikro menjadi pemetik manfaat program.

Sebagian mitra dampingan Masyarakat Mandiri berdomisili di Bangun Sari, daerah di mana wewangian aneh menguar di malam hari, berbaur liarnya asap rokok. Sebagian wilayah Bangun sari sudah berubah. Wisma-wisma banyak yang tutup berkat usaha masyarakat dan pemerintah membina para “Wanita Harapan”, begitu Dinsos memberi label pada mereka. Mereka sering diberi penyuluhan tentang Aids/HIV. Mereka diberi pembekalan berbagai ketrampilan agar kembali ke daerah asal dan membuka usaha, sehingga meninggalkan pekerjaan menjadi pelayan para om-om hidung belang.

Masyarakat kini mulai bernafas lega. Orang bisa membedakan komunitas ‘remang’ dengan warga umumnya dari identitas. Mungkin hanya di daerah Bangun Sari orang melakukan hal ini. Warga yang tidak terlibat dalam urusan prostitusi memasangi rumahnya dengan tulisan “RUMAH TANGGA”. Tujuannya tentu agar orang-orang bisa membedakan mana wisma dan rumah tangga.

Seperti ibarat ikan di air laut belum tentu asin rasanya. Adalah Sukhayati, seorang mitra dampingan Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa. Rumahnya dekat dengan wisma-wisma remang. Namun subhanallah, pergaulan yang ada tidak mempengaruhi perilaku dirinya dan anak-anaknya. Miris juga sebenarnya, anak-anak harus tumbuh dekat dengan lingkungan seperti itu. Keluarga itu menjadi potret jernih di antara potret buram di sekitarnya. Mereka tetap bertahan dengan kehidupan yang berbeda dari di lingkungan sekitarnya. Anak-anak perempuannya memakai jilbab semua. Mereka tidak keluar rumah tanpa ada keperluan. Anak-anak laki-lakinya pun sholeh-sholeh senang membantu orang tuanya usaha warungan.

Rumah Sukhayati sekarang dihuni oleh anak-anaknya dan beberapa cucu-cucunya. Seorang anaknya memiliki usaha susu kedelai yang dititipkan ke beberapa warung dan toko. Sukhayati menanamkan arti kerja keras dan kebersahajaan. Sukhayati juga berusaha menancapkan kokoh pondasi agama dalam keluarga agar tidak terwarnai lingkungannya. Beberapa meter dari warungnya berdiri sebuah wisma panti pijat. Akan tetapi, ia mampu pagari keluarganya dari pengaruh buruk lingkungan. Ia pagari juga diri dengan ibadah. Sembari menunggu pelanggan nasi jualannya, ia selalu memanfaatkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Sehari bisa melahap rata-rata tiga juz. “Saya membaca 1 juz lebih dalam 1 jam,” cerita Sukhayati. Seandainya semua orang di sela kesibukannya seperti Sukhayati yang suka menghidupkan Al-Qur’an di manapun.

Perempuan shalihah ini juga memiliki semangat kuat menyekolahkan anak-anaknya. Tanpa suami di sisinya lagi, ia bisa mengantarkan anak-anaknya bersekolah sampai SMA. Dengan segala keterbatasan, Sukhayati mampu menyekolahkan anak keempatnya di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Bersyukur ia memiliki anak-anak patuh dan rajin. Sejak remaja, mereka membantu orang tua di warung. Anaknya yang kini kuliah berusaha menambah pemasukan dengan memberikan les privat pada anak-anak sekolah.

Ulul Awaliani

{fcomment}

Sukismiyati, Menggairahkan IRT di Kulon Progo

Tak gampang membangun usaha industri rumah tangga (IRT) di wilayah Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo, DI Jogjakarta. Tapi itulah pilihan yang diambil Sukismiyati, warga Desa Kalirejo Kokap. Kendala kondisi geografis dan pasar menjadi tantangan tersendiri untuk bisa merangsang kebangkitan pelaku IRT yang cukup potensial di desa-desa sekitar Kecamatan Kokap.

Sukismi menjadi sosok yang cukup menonjol di antara para perempuan di desa Kalirejo. Komunitas yang menjadi dampingan program Klaster Mandiri Dompet Dhuafa mempercayakan dia memimpin lembaga lokal yang mereka bangun. Pada 29 Desember 2011, mereka membentuk ISM Gempita Mandiri. Kata “Gempita” sendiri merupakan akronim dari kalimat “Gerakan Membangun Perekonomian untuk Kesejahteraan”. Kalimat ini memiliki makna yang cukup kuat mewakili semangat mereka untuk maju secara ekonomi di tengah keterbatasan berbagai sumberdaya.

Tidak serta merta Sukismi memimpin lembaga lokal yang kini berhimpun 106 orang yang tergabung dalam 13 Kelompok Mandiri. Awalnya dia memimpin Kelompok Maju sejahtera. Sebuah kelompok yang dipersyaratkan dalam program Klaster Mandiri Dompet Dhuafa. Kelompok-kelompok ini menjadi mekanisme inti penyelenggaraan program pemberdayaan masyarakat.

“Dulu warga yang tak mempunyai kegiatan, jadi ada kegiatan. Pendampingan yang dilakukan oleh Pendamping memunculkan kreativitas. Kita diajak bisa menambah penghasilan. Selain itu, kelompok-kelompok yang kami bentuk menjadi ajang silaturahmi antar warga,” papar Sukismi.

Proses pembentukan kelompok sampai akhir semester pertama tahun kedua program Klaster Mandiri masih terus berlangsung. Bila pada akhir tahun pertama (Maret 2011-Februari 2012) terdapat 8 kelompok yang terbentuk dengan jumlah mitra pemetik manfaat sebanyak 68 orang, maka pada semester pertama tahun kedua (Maret-Agustus 2012) telah terbentuk 5 kelompok baru dengan jumlah mitra 38 orang. Sehingga sampai saat ini pemetik manfaat program di wilayah Kulon Progo berjumlah 106 orang yang tergabung dalam 13 Kelompok Mandiri. Pada tahun pertama kelompok-kelompok yang terbentuk tersebut baru tersebar pada dua wilayah yaitu Desa Kalirejo dan Desa Hargo Rejo Kecamatan Kokap. Sedangkan pada pertengahan tahun kedua telah menyebar pada satu desa lainnya yaitu Desa Hargo Wilis. Adapun bantuan pembiayaan yang diberikan pada pemetik manfaat program digunakan untuk kegiatan usaha aneka makanan ringan dan pembuatan kerajinan batu bata.

Sukismi cukup berhasil mendinamisasi lembaga lokal yang ia pimpin. Perkembangan lembaga lokal ISM Gempita Mandiri secara umum cukup baik dan pengurus telah memahami peran dan fungsi ISM sebagai lembaga lokal yang mengayomi mitra-mitranya. Terlihat dengan adanya peran yang aktif yang dilakukan ISM baik dalam manajemen organisasi, pencatatan keuangan, monitoring usaha dan kelompok serta pemasaran produk. Pengurus ISM juga telah berperan aktif dalam kegiatan program, diantaranya mengelola unit usaha ISM, menghadiri pertemuan kelompok, melakukan sosialisasi dan survey pada warga calon untuk menjadi mitra dampingan baru.

ISM dalam yang dikelola Sukismi dan kawan-kawannya kini bahkan mulai menumbuhkan beberapa usaha bersama. Dari usaha kios sembako, pembiayaan usaha batu bata, pembiayaan warung kelompok, jual beli cengkeh, usaha pengemukan kambing sampai penjualan gula semut. Perhatian kepada mitra pemilik IRT bahkan sudah pada upaya standarisasi mutu dan pemasaran. Faktanya, mereka mulai membuka akses pasar beberapa produk kelompok di antaranya gula kelapa, gula semut, kue nastar dan lain-lain. Mereka telah menjalin kerjasama kemitraan antara kelompok-kelompok dampingan dengan beberapa pengusaha di antaranya pengusaha gula kelapa dan gula semut dan koperasi di Kabupaten Kulon progo. Kerjasama ini difokuskan untuk pengembangan pemasaran aneka makanan ringan.

Yang menarik, dengan berbagai keterbatasan sumberdaya, ISM didukung oleh Tim Program berhasil mendorong IRT makanan bisa memperoleh sertifikat PIRT. Capaian ini didukung beberapa langkah yang diambil sebelumnya. ISM dan Pendamping mendorong penguatan usaha IRT berbasis kelompok, pelatihan-pelatihan usaha dan keamanan pangan yang melibatkan dinas-dinas terkait. Beberapa kelompok usaha yang berhasil mengantongi sertifikat PIRT di antaranya usaha kripik talas, geplak, kripik tempe, kripik bawang, rempeyek dan nastar.

Menggairahkan IRT khususnya makanan di daerah Kokap memang tidak bisa dikatakan ringan. Kendala dalam proses produksi saat ini adalah mahalnya harga bahan baku. Tak pelak, banyak mitra dan kelompok yang mengurangi kapasitas produksi bahkan beberapa kelompok menghentikan proses produksi. Akses transportasi yang sangat minim juga menyebabkan akses pasar menjadi rendah sehingga pemasaran produk sedikit terhambat.

“Kami punya mimpi IRT di sini bisa besar, produksi banyak. Tapi kendala kami dalam soal pemasaran. Kendaraan umum menuju pasar atau kota sedikit. Masing-masing anggota kita juga hanya sedikit yang bisa menggunakan motor. Mereka yang bertugas memasarkan produk, ada yang terpaksa jalan kaki menuju pasar sembari gendong anaknya padahal jalannya naik turun,” cerita Sukismi.

Menjelajahi wilayah Kokap memang membuat kita bisa memahami, betapa beratnya mengembangkan pasar IRT terutama makanan. Secara geografis, wilayah ini terdiri dari perbukitan. Fasilitas kendaraan umum memang sangat terbatas untuk menghubungkan dusun-dusun di mana kelompok-kelompok dampingan Klaster Mandiri berdomisili, dengan pasar atau kota. Sementara, produk makanan yang mereka hasilkan memiliki peluang besar bisa dijual di toko-toko di sekitar pasar kecamatan atau kota kabupaten.
 
Bagi Sukismi, membuka pasar bagi IRT ini memang banyak tantangan. Namun, demi kemajuan warga, apapun ikhtiar akan dia tempuh bersama kawan-kawannya.

{fcomment}

Sumarsih dan Inovasi Tiwul Instan

Alam desa Tambah Subur di wilayah Kecamatan Way Bungur Lampung Timur senantiasa mengajak warganya mengolah apa yang dimilikinya dari alam. Singkong menjadi primadona pertanian warga desa sejak tahun 1955. Lebih dari setengah abad silam, orang tua Sumarsih babat alas, membuka lahan untuk kemudian ditanami singkong.

Singkong menjadi makanan sehari-hari warga Jawa yang transmigrasi di wilayah Lampung Timur seperti orang tua Sumarsih. Singkong diolah menjadi gaplek lalu diubah menjadi tiwul yang menjadi makanan pokok keluarga seperti di Wonogiri atau Trenggalek di Jawa. Nasi mulai mereka kenal lagi setelah pemerintahan Presiden Soeharto mengajak warga menanam padi dan mulai menjadi nasi sebagai makanan pokok.

Generasi berganti, sampai pada Sumarsih dan kakak-kakaknya tetap menikmati tiwul. Di keluarganya, tiwul bergantian dengan nasi. Terkadang berbarengan makan nasi dan tiwul, dan tentu sayur dan lauk-pauk yang menemani sekadarnya.

Sumarsih dan keluarga besarnya sehari-hari bercocok tanam singkong atau ubi kayu, sama halnya dengan warga Tambah Subur umumnya. Singkong benar-benar menjadi andalan keluarga. Dari singkong pula, Sumarsih membuat makanan berbahan singkong semacam cenil di pasar pagi buka yang buka Cuma satu jam dalam sehari. Penganan cenil ini lazim dikenal di masyarakat Jawa.

Beberapa perempuan tetangga Sumarsih juga menjual penganan lain berbahan singkong seperti getuk. Program pendampingan oleh Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa mengajak potensi para perempuan ini dengan menggali sumber daya local yang mereka miliki. Kelompok Jaya Makmur yang beranggotakan perempuan memiliki ide mengembangkan tiwul agar bisa dikonsumsi pembeli yang rumahnya jauh sekalipun. Gagasan mereka juga didorong karena semakin langkanya tiwul.

“Boleh dibilang, sekarang tiwul mulai punah. Kita mikir bikin tiwul instan, biar orang yang butuh mudah mencari. Alhamdulillah, orang-orang yang beli datang dari jauh. Orang mulai kenal dan mencari ke sini. Orang sekarang kan pilih enaknya,” ujar Sumarsih.

Ya, tiwul instan. Selama ini orang belum ada yang sengaja menjual tiwul yang bisa diproduksi secara instan. Kelompok pimpinan Sumarsih memang belum memasarkan ke luar desa. Tapi, orang yang butuh mendatangi rumah kakaknya yang dijadi tempat produksi tiwul instan tak jauh dari rumah Sumarsih. Para peminat tiwul instan ini di antaranya para penderita diabetes, karena kadar gula tiwul tergolong cukup rendah.

“Kami inginnya sih bisa memasarkan tiwul instan ke mana-mana. Di desa Tambah Subur ini saja mulai jarang yang membuat tiwul karena sudah ada nasi,” tambah Sumarsih.

Dengan inovasi produksi makanan berbahan singkong ini, Sumarsih dan rekan-rekannya ingin meningkat dari sisi perolehan pendapatan. Ia berharap keadaan ekonomi yang pas-pasan bisa mulai membaik. Baru tahun kemarin, ia sempat menelan pil pahit. Anaknya yang lulus SMP tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMA. Si bocah harus mengalah pada adiknya yang baru masuk SD. Sumarsih dan suaminya tak sanggup mengeluarkan biaya buat sekolah dua anak secara bersamaan.

Sumarsih dan petani singkong umumnya di Desa Tambah Subur mencintai dunia pertanian yang diretas oleh para orang tua mereka. Kelompok-kelompok yang menyokong pengembangan pertanian dan pengolahan turunan singkong dibentuk untuk membuka peluang-peluang dan harapan baru yang lebih baik.

{fcomment}

Tiga Perempuan Kondang dari Warung Kondang

Ibu selalu mengisi dunia dengan beribu makna. Dalam dimensi sosial, kaum ibu banyak memberi warna. Tak sedikit jejak kiprah para ibu tak sekadar memiliki arti bagi keluarga. Ini cerita tiga perempuan sederhana yang memberikan waktu, tenaga dan pikirannya bagi komunitas di desanya. Barangkali tak banyak perempuan seberuntung Ai, Lilis dan Nani dalam soal kepercayaan. Ketiga wanita desa itu dipercaya menjadi pengendali koperasi yang diisi barisan perempuan.

Adalah Ayi Siti Zulaikha, Lilis Mulyanah dan Nani Suryani, tiga perempuan dari Desa Cisarandi, Kecamatan Warung Kondang, Cianjur. Ketiganya menganggap diri mereka dahulunya bukan siapa-siapa. Wanita desa yang memilih menjadi pedagang di kampung sendiri, di saat perempuan lain berduyun-duyun menjadi TKW ke luar negeri. Kepercayaan orang membuat ketiga perempuan itu kini cukup kondang melampaui wilayah Warung Kondang.

Boleh dibilang, Ai, Lilis, dan Nani tengah memetik kepercayaan. Warga cukup akrab dengan tiga perempuan ‘koperasi’ itu. Ya, warga menyebut mereka dengan sebutan ‘orang koperasi’. Dulu mereka hanya mengenal mereka sebagai pedagang ‘kriditan barang’.

Sejak dulu, ketiganya memang memiliki pekerjaan menjual bermacam barang dengan cara kredit. Sampai kinipun, pekerjaan itu masih dijalani, meski mereka memiliki tugas baru sebagai pengurus Koperasi Wanita Syariah UMMI (Usaha Migran Mandiri) Cianjur. Kurang dari setahun, koperasi bisa memiliki mitra 80 orang. Para anggota tersebar di tiga kecamatan: Warung Kondang, Cianjur, dan Gekbrong. Praktis, mereka sudah kondang tak hanya di wilayah Warung Kondang. Capaian-capaian ini membuat ketiga perempuan ini terus bergiat, meski mereka merasa masih minim pengetahuan.

“Saya takut kalau dikejar-kejar wartawan, takut salah ngomong,” begitu pengakuan polos ketua koperasi, Ayi Siti Zulaikha yang ditemui redaksi belum lama ini. Ayi paling takut kalau bertemu WTS, kepanjangan dari Wartawan Tanpa Surat kabar – ia sudah fasih menyebut istilah itu. Menurut ibu dua anak ini, WTS sering mencari-cari kesalahan. Nani yang sekretaris menambahkan, “Kami ini takut ngomong pada wartawan karena keterbatasan ilmu. Apa yang kita omongkan kan harus bisa dipertanggungjawabkan.”

Betapapun kini mereka sudah memanen kepercayaan, menurut Ayi, urusan keluarga tetap yang harus diutamakan. Sejak dulu dirinya sudah berdagang barang kreditan seperti alat elektronik, pakaian dan alat-alat rumah tangga. Pilihan itu tentu berangkat dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk menyekolahkan anak-anak.

“Sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan ngurus koperasi asalnya terasa repot, kini mulai bisa membagi waktu. Sering capek, tapi ada keinginan maju, ya jadi capek itu hilang sendiri,” kata Ayi. Bagaimanapun, kata Ayi, ada banyak hikmah dari pekerjaan mengelola koperasi. Menurutnya, jadi banyak kesempatan silaturahmi dan bisa menambah wawasan.

Lilis ikut urun pendapat. Bagi dia dan teman-temannya, ada beberapa kepuasan mengurus koperasi. Semua anggota dan mitra layanan adalah perempuan, kebanyakan adalah eks-TKI dan keluarga TKI. Perempuan di daerahnya memang banyak memilih bekerja, dengan beragam usaha. Mengapa mereka bergabung dengan koperasi UMMI? “Kata mereka sih, koperasi kami menawarkan pinjaman dengan proses mudah, tidak mencekik seperti bank atau koperasi lain, dan menggunakan model kelompok,” jawab ibu yang tengah mengandung anak kedua ini.

Selama ini, Koperasi Wanita Syariah UMMI sudah melayani simpan dan pinjaman menggunakan sistem syariah dengan akad murabahah dan mudharabah. Sistem ini bagi mereka memudahkan dan berkah. Tak sedikit yang ikut menikmati modal bergulir itu. Mitra mereka terdiri perajin rajutan peci, barang pedagang kreditan, jagung manis, dan aneka usaha. Ayi mengaku sangat puas dengan capaian dalam mengurus lembaga ekonominya, terutama soal angsuran pinjaman pembiayaan yang hampir tak ada yang macet. “Hanya 2% macet, itupun mereka hanya menunda angsuran lantaran pergi lagi ke Arab Saudi jadi TKW,” tutur Ayi bungah.

Kecilnya kemacetan tak lepas dari faktor sisi perempuan para anggota. Perempuan suka ngerumpi. Perempuan juga cenderung malu kalau punya utang, apalagi kalau sampai rahasia utang bocor saat ngerumpi. Hal itu tentu saja menguntungkan Ayi dan teman-temannya, dampak positifnya mereka lancar angsuran. Sebagai pengelola, ketiganya tergolong cerdas, di antaranya mampu menutup peluang ‘penyakit’ satu kelompok agar tak menular pada kelompok yang lain.

Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa Republika selama tiga tahun mengenalkan model kelompok dalam pengadaan lembaga ekonomi di wilayah kantong asal pekerja migran itu. Lilis menuturkan, model kelompok memperkecil kesulitan. Kalau ada masalah, tinggal menunjuk ketua kelompok. Karenanya, mereka mencari anggota yang cukup bertanggung jawab, yang bisa dipercaya. Bila pembiayaan dari koperasi dicairkan, kelompok diterapkan sistem tanggung-renteng. Kalau angsuran mitra wajib (AMW) tak lunas, kelompok tak dibiayai lagi untuk permohonan peminjaman berikutnya.

Kemajuan ekonomi di daerahnya menjadi impian mereka. Kini mereka menanam angan-angan kuat membuat usaha yang bisa memberdayakan masyarakat banyak, produk dibutuhkan orang terus-menerus, dan juga tak banyak saingan. Tentu saja itu angan-angan mulia dari para perempuan desa yang masih langka. Namun, sangat tampak di sinar mata mereka, keyakinan itu begitu kuat. Ayi, Lilis dan Nani melangkah dengan energi dan semangat untuk kemandirian banyak orang. Ayi berucap sungguh-sungguh, “Sekarang maju mundur koperasi tergantung kita.”

{fcomment}

Tukang Sayur Jadi Ketua Koperasi

Tiap pagi sampai matahari hampir tegak di atas kepala, ia setia melayani para pembeli untuk berbagai kebutuhan dapur. Namun, Sudrajat menemukan nasib yang berbeda dengan tokoh Ju’eng pada sinetron yang digemarinya, Ramadhan kemarin.

Sudrajat dipilih teman-temannya menjadi ketua koperasi. Akankah para pelanggan kebutuhan dapur di kawasan Sempur kehilangan Sudrajat lantaran jadi ’orang penting’? Tentu tidak. Yah dua anak itu tetap melayani warga dengan berbagai kebutuhan bahan makanan sajian harian bagi keluarga mereka. Sudrajat memiliki anggota koperasi dan mitra layanan yang profesinya tak jauh berbeda dengan dirinya. Berjualan sayuran, bakso serta gorengan, mie ayam, jajanan sekolah dan aneka usaha lainnya.

Pengangkatan menjadi ’lurah’ koperasi terjadi tahun kemarin. Rekan-rekan yang semuanya berjumlah 74 mitra dan berkumpul dalam 8 Kelompok Mandiri (KM) mendaulat Sudrajat pada forum pembentukan koperasi yang dihadiri petugas dari Disperindagkop Kota Bogor. Mereka ini merupakan bagian dari komunitas pedagang makanan jajanan yang didampingi Masyarakat Mandiri-Dompet Republika selama dua tahun. Pendampingan dilakukan terhadap komunitas produsen yang rawan bahan tambahan pangan (BTP) berbahaya, dipicu oleh kasus formalin. Akibat kasus formalin, para usaha gurem di jalanan ini turut terpuruk meski faktanya mereka tak menggunakan barang haram itu untuk produknya. Pendampingan memberi penyadaran pada itikad memproduksi jajanan yang sehat, sekaligus halal. Beberapa usaha bersama mitra seputar Jabodetabek kini sudah mengantongi sertifikat halal dan Penyuluhan Industri Rumah Tangga (P-IRT).

”Kami didampingi, manfaat di antaranya saya jadi bisa menyusun proposal pengembangan modal bagi usaha bersama yang telah kami bentuk. Usaha bersama dalam naungan koperasi ini di antaranya pengembangan usaha emas di Pongkor,” ujar Sudrajat. Sejak sebelum koperasi didirikan, kelompoknya yang bernaung dalam Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) menjalankan model simpan-pinjam. Ini sebuah model keuangan mikro yang ditangani oleh mereka sendiri untuk kepentingan komunitas.

Menurut Sudrajat, rekan senasib para produsen gurem nasib usahanya tergantung pada bank keliling yang bunganya mencekik, namun mereka seperti tak ada pilihan lain. Sebagaimana yang ia lihat sampai hari ini, di Pongkor dan di berbagai tempat, praktek rentenir menjadi andalan para pengolah emas. Dengan model keuangan mikro yang dikembangkan, ia memiliki harapan bisa membantu para usahawan mikro yang selama ini hanya dilirik sebelah mata kalangan perbankan, mungkin juga para akademisi dan pengamat. Bersyukur sekali keuangan mikro yang diajarkan Dede Sukiaji, Pendamping Mandiri dari Masyarakat Mandiri berbasis syari’ah. Koperasinya pun menerapkan model murabahah dan mudharabah (bagi hasil).

Pendampingan mendorong mereka memiliki prakarsa untuk kepentingan bersama. Prakarsa itu di antaranya membuat mereka mampu menentukan jenis usaha apa saja yang hendak dijalankan koperasi yang diberi nama Koperasi Serba Usaha Ikhtiar Swadaya Mitra (ISM) Pasir Jaya. Nama ISM mengacu pada sebutan lembaga lokal yang telah terbentuk beberapa bulan sebelumnya. Mereka juga diberdayakan agar memiliki bargaining posisi sebagai usahawan mikro maupun sebagai komunitas. Pemberdayaan semacam inilah yang membuat nama Sudrajat dan kawan-kawan dengan Koperasi ISM Pasirjayanya bisa setara dengan lembaga sejenis di Kota Bogor. Rekan-rekan dampingan di Katulampa yang memproduksi Kalam Mie dengan varian Vegemie (berbahan sayuran) turut bergabung dalam naungan koperasi. Usaha bersama Katulampa ini mengantongi Sertifikat P-IRT dan Sertifikat Halal.

”Saya bisa menyebutkan banyak manfaat dari pendampingan dan kepercayaan rekan-rekan. Kita ingin membantu teman-teman dengan permodalan meski kecil. Selain itu saya memiliki banyak kesempatan silaturahmi, juga ada tantangan. Pendampingan juga memberi saya wawasan dan ilmu, kalau tak dikembangkan kan rugi,” paparnya.

Kepercayaan teman-temannya memimpin lembaga ekonomi, membawa Sudrajat bisa menemukan pembelajaran hidup yang barangkali tak dimiliki orang lain.

{fcomment}