Berikut ini adalah artikel yang termasuk kategori Kisah Pemberdayaan

Twin Cake, Kue Akar Kelapa dari Warakas

Bu Cucu kebagian rizki tak ternilai bagi usaha kecil-kecilannya. Kue khas Betawi Akar Kelapa dengan merek Twin Cake beroleh sertifikat halal dari LP POM MUI secara gratis. Betapa bungah Bu Cucu dengan sertifikat itu. Sertifikat untuk pelaku usaha kecil tentu menjadi modal berharga bagi usaha kue yang dibuatnya di rumah di sebuah gang sempit di Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu.

Suami Cucu lepas dari sebuah perusahaan fotografi. Ekonomi keluarga sempat guncang, sementara empat anaknya butuh biaya untuk sekolah. Dari situlah, Cucu berpikir membuat usaha. Iseng-iseng ia membuat kue akar kelapa saat lebaran. Perkenalan perempuan dari Bandung dengan kue akar kelapa itu saat bibi dari suaminya yang asli Betawi suka membuat kue yang mirip akar kelapa itu. Sesudah mencoba-coba, berceritalah Bu Cucu kepada tetangga. Dari situlah orang mulai memesan, sedikit demi sedikit, makin lama orang makin mengenalnya sebagai pembuat kue akar kelapa, selain kue-kue lainnya.

Anak ke-3 dan ke-4-nya kebetulan kembar. Mereka ini menjadi inspirasi bagi merek produknya. Maka, dipilihlah merek TWIN CAKE. “Alhamdulillah. Dengan mengantongi sertifikat halal, kita lebih enak, bisa memasarkan ke mana saja. Tak takut diragukan orang. Orang kadang kan ragu pada kehalalan produk makanan. Ke depan ingin lebih maju, lebih banyak konsumen.”

{fcomment}

Yuyum, Perempuan Pemborong Kayu

Hari itu sang suami memang sedang ada borongan memotong kayu di hutan karet. Pemilik perkembunan karet sebentar lagi menjual tanahnya ke orang lain. Karenanya, sebelum tanah dijual, pephonan karet ditebang terlebih dahulu. Di situlah rizki keluarga Yuyum. ”Yang njalanin atawa mengelola,” tutur ibu dua anak itu.

Untuk urusan jual beli memang urusan Bu Yuyum. Baru untuk urusan teknis pemotongan dijalankan suaminya yang dibantu beberapa buruh. Untuk yang memegang mesin saja ada empat orang. Tenaga pemikul kayu bisa 10-20 orang tenaga.

Dia salah satu perempuan gunung yang ulet. Sama seperti kebanyakan perempuan. Di tangannya, usaha pemborong kayu berjalan lempang. Mulai dijalaninya sejak tahun 1988, bersama suami dengan gergaji potong biasa. Sepuluh tahun lebih, usaha kayu dijalankan dengan cara sederhana. Alam Cibeureum teramat mendukungnya. Banyak hutan rakyat yang hasil alamnya bisa dikelola untuk keperluan pembuatan rumah seperti kaso. Di sana tersedia kayu karet, jenjeng, jengkol, duren dan lain-lain.

Masyarakat Mandiri masuk Buanajaya tahun 2000, perempuan beranak dua itu termasuk salah satu warga Cibeureum yang ditawari bergabung menjadi mitra. ”Saat itu saya menanyakan, kalau pinjaman untuk usaha, ada bunganya nggak? Karena tidak ada bunga, saya pun ikut dan suami langsung mendukung,” kenang Bu Yuyum. Masyarakat Buanajaya dalam soal bunga memang sudah akrab, terutama stelah mereka berkenalan dengan para bank kuriling, alias bank keliling.

Sebagai mitra, biasanya di awal-awal sudah diberitahu kewajiban ikut LWK, Latihan Wajib Kelompok, juga rapat-rapat pengurus mitra. Bu Yuyum oke-oke saja, malah didukung suami. Ketika ditemui, Bu Yuyum sedang rapat dengan beberapa pengurus ISM dan Pendamping Mandiri membahas soal persiapan penyelenggaraan Koperasi Jasa Syariah. Selama lebih dari dua jam, Bu Yuyum harus meninggalkan kesibukannya sebagai pemborong kayu. Bersyukur, sang suami merelakannya aktif mengurus ISM. Karena toh pekerjaan pemotongan kayu di hutan bisa ia tangani sendiri.

Bergabung dirinya dengan MM, memberi peluang untuk memajukan usaha. Perempuan asal Purwokerto itu mendapatkan pinjaman (qardhul hasan) untuk membeli mesin potong. Hingga kini ia memiliki mesin potong sebanyak empat unit. Dengan modal tambahan mesin, usahanya makin produktif. Beberapa pinjaman diajukan untuk menutupi gaji karyawan, bahan bakar juga tenaga panggul.

“Alhamdulillah sekarang kami punya rumah, hasil dari usaha itu. Sebelumnya belum ada rumah,” ungkap nenek muda satu orang cucu ini. Begitulah manfaat yang bisa dipetik dari usaha pemborongan kayu. Kini usahanya makin cerah. Begitu memotong di hutan, langsung ada yang membeli. Bahkan, sering kekurangan suplai untuk beberapa pelanggannya, termasuk dari Cianjur.

Bu Yuyum merasa senang bisa turut serta dalam pelatihan mitra di Bogor. ”Senang punya pengalaman, tadinya SD saja saya nggak lulus,” ucapnya. Kini, Yuyum menjadi salah seorang pengurus Koperasi Serba Usaha ISM Buanajaya.