Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Perkotaan: Kerjasama dengan Yayasan Pesona Mitra

Pada umumnya, akses dan  peran serta perempuan dalam konteks sosio-kultural di Indonesia kerapkali masih terbatas. Hal ini diketahui misalnya dari sistem nilai yang berlaku, bahwa perempuan yang baik adalah mereka yang berkewajiban mengelola urusan domestik (rumah tangga) saja. Sedangkan kaum lelaki memiliki keleluasaan dan posisi tawar yang tinggi dalam perekonomian rumah tangga dengan berkiprah di wilayah publik. Fakta sosial ini kemudian semakin meneguhkan kedudukan lelaki sebagai satu-satunya pihak yang berwenang dalam setiap pengambilan keputusan strategis persoalan ekonomi rumah tangga, termasuk menyikapi problematika kemiskinan yang dialaminya dan upaya mewujudkan kesejahteraan.

Pendekatan penanggulangan kemiskinan perkotaan yang diinisiasi Masyarakat Mandiri – Dompet Dhuafa bersinergi dengan Yayasan Pesona Mitra, mulai memperhatikan serta membuka seluas-luasnya partisipasi perempuan dalam mengelola peningkatan perekonomian rumah tangga sekaligus mengurangi kemiskinan yang ada.

Program pemberdayaan ekonomi perempuan di wilayah perkotaan ini berfokus pada upaya; akses pembiayaan, pendampingan hingga training peningkatan kapasitas mitra dan  lembaga lokal.

TUJUAN
Terberdayakannnya kaum perempuan pelaku usaha mikro/pedagang dalam turut meningkatkan pendapatan  dan kesejahteraan  rumah tangga di perkotaan – Jakarta Pusat.

PEMETIK MANFAAT
Perempuan pelaku usaha mikro/pedagang Kelurahan Tanahtinggi – Kecamatan Joharbaru – Jakarta Pusat.

{fcomment}

Modal Sosial bagi Dhuafa

Ramadhan. Bulan penuh berkah dan bulan penuh amalan. Di manapun, di daerah yang semula hingar-bingar, menjelang Ramadhan menjadi lebih sedikit ’adem’. Meski kadang masih perlu berhitung, golongan kaya mulai berderma dan yang miskin tidak mau ketinggalan. Mereka mengorbankan apapun yang dia miliki, meski kadang tidak pernah berpikir untuk esok harinya. Si kaya dan si miskin berharap hanya untuk mendaptkan kebaikan.

Dalam konteks pemberdayaan, aktivitas seperti di atas dapat dinamakan modal sosial. Yakni perasaan kebersamaan, keinginan saling berbagi, nuansa ingin saling menjaga. Suasana di mana tidak ada lagi batas kemiskinan dan kekayaan. Mereka berusaha datang pada barisan awal saat tarawih hari pertama hingga kesepuluh. Yang berbeda hanya besarnya rupiah yang beredar mengelilingi barisan. Yang berbeda hanyalah model pakaian.

Kita sebenarnya berharap, semua bulan memiliki suasana seperti bulan Ramadhan. Bulan yang paling tepat untuk meningkatkan modal sosial. Coba kita lihat. Dari sisi dana, lembaga sosial hampir seluruhnya mengalami peningkatan pendapatan dana 100 %. Bahkan, di bulan ini semua elemen berlomba-lomba membuat simpati untuk mendapatkan ’dana cash’. Dari aspek non fisik, semua orang mulai menjaga dari perbuatan yang tidak baik, dari lisan dan perbuatan.

Coba kita lihat negeri ini. Empati begitu mahal, barisan relawan masih susah dicari, Rakyat miskin semakin melimpah sedang yang kaya bergelimang harta. Penguasa negeri cukup kewalahan mengatur strategi yang tak kunjung menujukkan hasil. Konon dibulan Ramadhan, semua menjadi peduli.

Yang perla kita pikirkan adalah bagimana moment bulan ini, tidak pudar pada bulan-bulan berikutnya. Harga diri orang miskin terjaga dengan tidak meminta-minta, orang kaya datang dengan ikhlas mencari siapa yang layak mendapat santunan dari ’sisa’ harta mereka. Lantas modal sosial seharusnya dimiliki siapa? Bagi para pemberdaya masyarakat, masihkah kita berharap kepada masyarakat yang lemah, miskin untuk memiliki modal sosial yang berlimpah? Sedang di sisi lain, mereka ‘bertarung dengan hidup’. Memang sebaiknya modal sosial dimiliki oleh siapa saja. Lantas, bagaimana dengan orang yang telah diberi kelebihan dari mereka? Seharusnya mereka mampu mengajarkan cara menamkan modal sosial di ’gurun’ kemiskian. Semua masih perlu waktu.

{fcomment}

Pemetaan Sosial

Masyarakat Mandiri (MM) sebagai sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat selalu melakukan kegiatan pemetaan wilayah dalam setiap perencanaan pelaksanaan kegiatan program. Tulisan berikut akan menggambarkan secara umum salah satu tahapan dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat yaitu tahap pemetaan sosial. Pemetaan sosial sangat penting dilakukan untuk memberikan gambaran awal tentang kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat dalam suatu wilayah yang akan menjadi sasaran program.

Apa itu Pemetaan Sosial ?
Pemetaan sosial (social mapping) adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menemukenali tentang kondisi sosial budaya masyarakat pada wilayah tertentu yang akan dijadikan sebagai wilayah sasaran program. Pemetaan sosial juga dapat didefinisikan sebagai proses identifkasi karakteristik masyarakat melalui pengumpulan data dan informasi baik sekunder maupun langsung (primer) mengenai kondisi masyarakat dalam satu wilayah tertentu.
Hal yang perlu diketahui juga bahwa tidak ada aturan dan bahkan metode tunggal yang secara sistematik dianggap paling unggul dalam melakukan pemetaan sosial. Prinsip utama bagi para pekerja sosial (social worker) dalam melakukan pemetaan sosial adalah bahwa ia dapat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dalam suatu wilayah tertentu secara spesifik yang dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat keputusan dalam rencana pelaksanaan program pengembangan masyarakat.

Tujuan Pemetaan Sosial
Kegiatan pemetaan sosial lazimnya memiliki beberapa tujuan, 1. sebagai langkah awal untuk mengetahui wilayah calon sasaran program; 2. untuk mengetahui kondisi atau karakteristik masyarakat calon sasaran program serta; 3. sebagai dasar dalam penyusunan matrik perencanaan kegiatan program sesuai dengan potensi serta permasalahan yang ada pada wilayah calon sasaran program.

Output yang Diharapkan
Pemetaan sosial diharapkan dapat menghasilkan data dan informasi tentang :

  • Data geografi yang terdiri dari letak wilayah, topografi, aksesibilitas lokasi, dan lain-lain
  • Data demografi yan terdiri dari jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut usia-jenis kelamin-mata pencaharian-agama-pendidikan, jumlah penduduk miskin (pra sejahtera dan sejahtera 1) dan lainnya.
  • Data lainnya yang berhubungan dengan kondisi sosial-budaya, kearifan lokal (local wishdom), adat istiadat, karakteristik masyarakat, pola hubungan antar masyarakat, kekuatan sosial yang berpengaruh, dan lainnya.

Obyek Pemetaan Sosial
Beberapa obyek yang dipetakan dalam kegiatan pemetaan sosial antara lain :

  • Letak geografis wilayah calon sasaran program
  • Sarana dan prasarana umum wilayah
  • Komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian-usia-jenis kelamin-agama-pendidikan
  • Penyebaran atau konsentrasi masyarakat miskin
  • Kelompok-kelompok sosial masyarakat serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan
  • Hubungan sosial antar kelompok masyarakat (relasi sosial)
  • Jenis-jenis profesi atau mata pencaharian masyarakat
  • Penggolongan masyarakat berdasarkan status kepemilikan harta (kaya, menengah, miskin)
  • Tanggapan masyarakat terhadap program-program yang dilaksanakan oleh pemerintah atau non pemerintah
  • Keterlibatan masyarakat dala pelaksanaan program baik dari pemerintah maupun non pemerintah
  • Penyelesaian permasalahan baik masalah sosial kemasyarakatan, ekonomi, budaya serta proses pengambilan keputusan dalam masyarakat.

Dede Sukiaji/Nurhayati
Sumber : Dr Edi Suharto, Msc, dan berbagai sumber lainnya.

{fcomment}

Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Nelayan Pasca Tsunami Kebumen

Tsunami 17 Juli 2006 melibas pesisir selatan Kebumen. Wilayah terdampak paling parah di antaranya Kecamatan Ayah. Pendampingan diberikan, karena korban tsunami yang rata-rata nelayan membutuhkan keberlangsungan penghidupan.

Tsunami hampir membawa keterpurukan bagi warga. Kapal-kapal hancur akibat gelombang besar setinggi 4 meter saat itu. Para nelayan dan warga sekitar pantai juga kehilangan alat tangkap, mesin dan alat produksi lainnya. Pendampingan berusaha memupuk keberdayaan dengan berbagai penguatan kapasitas komunitas sehingga mereka memiliki kemandirian.

Tujuan:

  • Menumbuhkan kembali aktivitas ekonomi komunitas nelayan dan warga di Desa Srati dan Pasir korban tsunami.
  • Menumbuhkan kelembagaan lokal yang mampu meningkatkan pertumbuhan perkonomian warga korban tsunami.

Periode Program:
1428-1429 H / 2007-2008 M

Lokasi:
Desa Srati dan Pasir Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen

Pemetik Manfaat:
91 KK 455 Jiwa

Capaian Program:

  • Selain nelayan dan perempuan nelayan, program juga menjangkau pemetik manfaat lain yaitu pemilik usaha penggemukan sapi/kambing, usaha turunan laut, aneka usaha, gula kelapa, dll.
  • Lembaga lokal telah memiliki koperasi bernama Koperasi ISM Duta Mitra Samudera.
  • Tumbuh usaha-usaha bersama seperti produk turunan hasil laut berupa kerupuk ikan.

 

{fcomment}